
"Akhirnya SMA juga! Nggak kerasa kita sudah dewasa," ujar Naila. "Makin lama Zahra kayak preman saja. Kenapa kamu pakai celana panjang di balik rokmu? Lagian rok apaan ini? Kayaknya cuma lembaran kain yang digulung mengitari pinggangmu, nggak ada jahitannya," ujar Intan.
"Kalau dijahit, nanti aku nggak bisa lari dong, nggak bebas menggerakkan kakiku," ujar Zahra sambil mengayunkan kakinya tanpa ragu. Ia meletakkan kaki kanannya di atas anak tangga. "Hei, kalau ada kakak pengurus yang lihat, ntar dimarahin loh!" ujar Naila mengingatkan.
"Ngapain takut? Terus kenapa kita harus pakai rok sempit begitu? Kalau tersandung, kan repot! Kalian nggak sadar kalau pakaian kalian membuat kelemahan kalian semakin banyak? Memang menggunakan rok panjang bertujuan untuk menutupi aurat, tapi kalau sampai dijahit hingga bawah, kalian nggak bisa melangkah dengan cepat, ini seperti kita dibiarkan tak berdaya, dibiarkan tak bisa membela diri," ujar Zahra.
"Itu bukan rok sempit, Zahra! Kita harus memakai rok panjang dan longgar, agar menutupi aurat," ujar Zulfa. "Aku juga nggak bilang kalau kita boleh pakai rok pendek. Pakai celana panjang saja urusan dah kelar, toh laki-laki nggak masalah memakai celana," ujar Zahra.
"Itu lain lagi ceritanya, Zahra! Kita juga nggak boleh menunjukkan lekuk tubuh kita," ujar Zulfa.
"Lah? Apa bedanya dengan laki-laki? Bukankah kalau mereka mengenakan celana, lekuk kakinya juga terlihat?" tanya Zahra. Zulfa terdiam, ia tidak punya hal lagi untuk dikatakan.
"Tenang saja, meskipun rasanya nggak adil membandingkan laki-laki dan perempuan, ini adalah bentuk solusi bagiku. Celana panjang yang longgar seperti seragam bela diri, ditambah kain panjang yang mengitarinya, udah menyerupai rok. Aku memakai ini sejak tahun kedua SMP loh, belum ada yang menyadarinya," ujar Zahra sambil tertawa.
Amir pun lewat hendak menuju ke kantor karena ada rapat. Pandangannya langsung tertuju pada Zahra yang meletakkan kaki kanannya di atas anak tangga.
"Kenapa kalian berkumpul di sekitar tangga? Kalau ada orang yang mau lewat bisa kerepotan loh!" tegur Amir. "Orang ini lagi," pikir Zahra dengan perasaan kesal.
Amir tidak bisa berhenti melihat kaki Zahra yang diangkat ke atas anak tangga itu. "Sampai kapan kamu taruh kakimu di situ?" tanya Amir. Zahra pun langsung tersadar dan segera menurunkan kakinya. Ia menjadi salah tingkah.
Amir hanya tersenyum miris di hadapannya dan menggelengkan kepala, ia pun berlalu dari hadapan Zahra.
"Ih! Mengesalkan sekali! Memangnya sehebat apa dia? Sombong sekali!" ujar Zahra kesal.
"Aku baru lihat Zahra bersikap kayak perempuan normal, biasanya kamu bersikap tangguh, bahkan saat kakak pengurus selalu memberimu hukuman. Ternyata di hadapan pria kamu juga tetap cantik, Zahra," ujar Naila.
"Harusnya kamu bersikap seperti itu saat mendapatkan hukuman dari kakak pengurus. Kalau kamu bersikap tangguh, kamu bikin kakak pengurus kesal, mereka pikir kamu nggak akan jera," ujar Intan.
__ADS_1
"Eh, kudengar Ustadz Amir masih perjaka, usianya selisih enam tahun dengan kita loh. Dia baru lulus pesantren saat kita masuk tahun pertama di pesantren ini," ujar Naila.
Setelah Naila mulai membahas hal seperti itu, Zulfa langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Ngapain kamu bicarain tentang orang itu? Aku jadi nggak mood pergi-pergi," ujar Zahra. Ia langsung berlalu, namun malah menabrak Alfa.
"Astaghfirullah! Kamu mengagetkan Ustadz saja! Kalau jalan lihat-lihat!" tegur Alfa. "Aduh, maaf, paman! Eh, Ustadz," ujar Zahra.
"Loh? Ternyata Zahra! Kenapa di tangga, kamu bikin para ustadz nggak bisa lewat loh! Lain kali jangan main-main di tangga yah," ujar Alfa sambil mengusap-usap kepala Zahra kemudian segera menaiki tangga.
"Pamanmu menyeramkan sekali! Kayaknya dia sangat benci dengan perempuan. Kalau kamu bukan Zahra, dia pasti sudah marah-marah karena kamu menabraknya," ujar Naila.
"Memang sih, bukankah sudah jelas dari tegurannya tadi?" tanya Intan. "Kasihan sekali, makanya dia sampai sekarang masih perjaka, dia nggak bisa bersikap baik di depan perempuan," ujar Naila.
"Hari ini cerah sekali, lebih baik aku mencuci baju," ujar Zahra. "Kayaknya hobi banget kamu mencuci baju! Padahal ada jasa laundry di sini, bukankah itu lebih simpel?" tanya Naila.
"Bener-bener si Zahra ini nggak ada bedanya sama laki-laki," ujar Intan. "Hati-hati, Zahra! Kamu bisa bikin mbak-mbak yang ada di sini jatuh cinta padamu," ujar Naila.
"Zahra memang tampak bugar, ia sangat cekatan sekali ketika kita mengadakan lomba futsal. Padahal yang lain hanya bisa lari ke sana kemari mengejar bola sambil tertawa dan bergurau, tapi dia malah bermain serius dan menenangkannya," ujar Intan.
"Aku cuma ingin mengeluarkan keringat saja. Kalau hanya bergurau dan tertawa, aku ada waktu sendiri untuk melakukan itu," ujar Zahra. Ia bahkan langsung melakukan peregangan kemudian pergi ke kamar sambil membawa ember penuh cucian.
"Ikut-ikutan yuk! Jujur, aku belum pernah mencuci baju sendiri," ujar Naila. "Baiklah, aku juga pengin minta diajarin Zahra," seru Intan. Akhirnya mereka berdua mengikuti Zahra ke tempat cucian.
"Kalian mau apa?" tanya Zahra keheranan. "Cuci baju lah, apalagi?" tanya Intan. Ia langsung menuangkan sabun ke dalam bak berisi baju-bajunya.
"Kalian mau mencuci baju dengan pakaian seperti itu?" Zahra menggeleng kepala. Intan tidak mendengarkan tanggapannya, ia langsung menyalakan kran ke dalam bak bersisi bajunya. Tak lama kemudian busa pun menjulang tinggi memenuhi bak.
__ADS_1
"Ya ampun Zahra! Tolong! Tolong! Busanya banyak banget! Duh! Gimana nih? Busanya kemana-mana! Nggak mau hilang!" Intan panik.
"Siapa suruh menuangkan deterjen banyak banyak?" Zahra menepuk jidat. Naila langsung tertawa melihat busa-busa yang beterbangan kesana-kemari.
"Lihat! Itu busanya nyangkut di kepalamu, Intan!" ujar Naila. "Ih! Bajuku basah semua!" ujar Intan kesal.
"Kan sudah kubilang, kenapa pakai baju seperti itu? Sudahlah, biar aku yang cuci bajunya, kalian tunggu saja di situ," ujar Zahra.
Ia pun mulai merendam baju-baju Intan dan Naila. Ia terus berjalan ke sana kemari hingga keringatnya terus bercucuran.
"Zahra, kamu gagah sekali, sayangnya pakai kacamata," ujar Naila. "Benarkah? Aku bisa menjadi laki-laki kalau begini?" tanya Zahra sambil melepas kacamatanya.
"Nggak juga, mukamu terlalu cantik dengan kerudung itu," ujar Intan.
Akhirnya Zahra menyelesaikan cucian mereka dalam waktu sejam. "Ternyata lebih cepat dari yang aku pikirkan," ujar Naila tercengang.
"Gerakan Zahra cepat sekali, aku juga nggak sadar kalau cuciannya sudah selesai," ujar Intan.
"Nah, tinggal diperas dan dijemur," ujar Zahra. Ia mulai memeras pakaiannya.
"Kalau ini biar aku sendiri yang melakukannya," ujar Intan. Ia mencoba memeras bajunya sekuat tenaga, namun yang terjadi adalah tangannya berdarah.
"Duh! Kamu nggak hati-hati sih! Nggak perlu sekuat tenaga juga, nanti sobek," ujar Zahra. "Eh? Emangnya bisa sobek yah?" tanya Intan penasaran.
"Kalau itu tangan laki-laki, mungkin saja sobek. Tangan kita mungkin sudah berdarah duluan sebelum bisa merobeknya," ujar Naila.
"Kata siapa? Aku pernah kok memeras sampai jahitan rokku sobek. Itu juga yang menjadi inspirasiku membuat rok model seperti ini," ujar Zahra sambil menunjukkan rok-celananya.
__ADS_1