Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Selamat tinggal


__ADS_3

Setelah termenung sejenak, Shahih menuliskan sesuatu pada secarik kertas yang ia tujukan untuk Asyraf.


Karena tidak tahan, ia langsung membuka jendela kamar, lalu kembali menutupnya. Ia bahkan menggunakan kawat pengait agar jendela itu kembali terkunci.


Bersamaan dengan rasa sakit hatinya, hujan pun mulai turun deras. Ia langsung melangkah tanpa peduli meskipun pakaiannya menjadi basah kuyup.


Ghozali terus mencoba mengetuk pintu kamar Shahih, namun tidak ada respon apapun.


"Kenapa nggak dibuka saja?" tanya Aisyah. "Ini dikunci dari dalam loh!" ujar Ghozali. Anak-anak yang lain terbangun dari tidur mereka dan ikut berkumpul di depan kamar Shahih.


"Ada apa ayah? Kenapa semuanya berkumpul di kamar Shahih?" tanya Zahra keheranan, ia masih setengah sadar. "Dia mengunci pintunya!" ujar Ghozali, ia mencoba mengetuk kembali pintu kamarnya.


"Shahih! Buka pintunya!" ujar Ghozali sambil menggedor-gedor pintu itu lebih keras. "Jangan kasar-kasar!" ujar Aisyah.


Meskipun begitu, Ghozali tetap merasa gundah karena tidak mendapatkan respon apapun. "Shahih! Segera buka pintunya atau ayah akan dobrak paksa!" ujar Ghozali tegas, ia merasakan firasat buruk.


"Mungkin nggak dikunci," ujar Asyraf. "Mana mungkin! Aku dari tadi menunggunya di sini dan mencoba membukanya juga!" ujar Ghozali, suaranya semakin keras karena kesal.


Akhirnya Asyraf mencoba membukakan pintu itu. Tepat seperti yang ia katakan, pintu itu tidak terkunci, bahkan tidak ada sesuatu yang mengganjalnya.


"Nggak ada siapa-siapa," ujar Asyraf. "Nggak mungkin! Aku lihat Shahih masuk ke kamar tadi!" ujar Ghozali kemudian masuk ke dalam. "Shahih? Shahih! Kamu di mana! Keluar sekarang juga!" ujar Ghozali, ia membuka satu persatu pintu lemari dengan kasar, namun ia tidak mendapati Shahih di manapun.


"Aish! Di mana anak itu sebenarnya?" tanya Ghozali keheranan. Sembari ia berteriak memanggil nama Shahih, suaranya menjadi tak berarti karena hujan lebat.


"Kayaknya dia nggak ada di rumah," ujar Zahra. "Ayah lihat dia masuk kamar kok! Mana mungkin nggak ada di rumah!" ujar Ghozali. "Ayah sudah cari dia dari tadi loh! Sudah mondar-mandir ke sana kemari! Kalau memang nggak ada, berarti dia emang nggak di rumah!" ujar Zahra. Ia merasa tidak nyaman dengan teriakan ayahnya yang terus memanggil nama Shahih.

__ADS_1


Ghozali tetap terus mencari-cari, bahkan karena saking frustasinya, ia membanting meja yang ada di ruang tamu. Ia benar-benar kesal karena tidak mendapatkan respon apapun dari anak itu.


Akhirnya ia mencoba pergi ke luar rumah, namun Aisyah langsung menghentikannya. "Ini hujan besar mas! Tenang dulu! Bahaya pergi-pergi ke sana!" ujar Aisyah. "Lalu Shahih gimana?" tanya Ghozali.


Selagi suami istri itu sedang ribut, Asyraf kembali ke kamarnya, ia mendapati sepucuk surat yang ditulis Shahih.


"Apa itu? Kamu dapat surat? Itu dari Shahih?" tanya Syihab yang kebetulan memergokinya sedang memegang secarik surat.


Ghozali yang mendengar hal itu langsung pergi ke kamarnya dan merebut secarik kertas itu. Sayangnya ia tidak menemukan apapun selain coret-coretan acak, ia pikir itu hanyalah bekas perhitungan soal yang anak-anaknya kerjakan.


Akhirnya Ghozali kembali ke ruang tamu sambil mengambil jas hujannya. "Nggak usah dicari," ujar Asyraf singkat. "Apa maksudmu? Apanya yang nggak usah dicari?" tanya Shahih.


"Shahih emang hendak pergi dari rumah ini, seperti beberapa tahun yang lalu," ujar Asyraf. "Kamu tahu dari mana? Jaga omonganmu, Asa!" ujar Aisyah.


"Itu yang tertulis di kertas yang ayah pegang! Cuma aku yang bisa baca, dia tahu kalau orang lain juga penasaran jadi dia tulis menggunakan kode yang aku tahu," ujar Asyraf.


Anak-anak lain tampak menunjukkan wajah murung saat mendengar pertanyaan Aisyah. "Shahih pulang jam berapa katanya?" tanya Aisyah sekali lagi, ia pun menyadari ekspresi anak-anaknya itu.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Aisyah keheranan, namun tidak ada satupun yang menjawab. "Kenapa kalian diam saja? Kenapa?" tanya Aisyah.


"Dia nggak pergi untuk beberapa jam atau beberapa hari, mungkin bertahun-tahun nggak pulang," ujar Asyraf.


"Bertahun-tahun nggak pulang? Nggak mungkin lah! Rumahnya di sini! Setiap hari makan di sini, kalau nggak pulang bertahun-tahun, terus dia makan di mana?" tanya Aisyah, ia pikir yang Asyraf katakan hanyalah omong kosong, namun wajah anak-anak lainnya tampak serius, mereka memang sudah mengalami hal serupa.


"Ini.. ini bohong kan? Nggak mungkin Shahih pergi begitu saja! Lagian kenapa dia tiba-tiba pergi?" tanya Aisyah, ia berharap hal itu tidak serius. Sekali lagi anak-anaknya tidak ada yang berani menjawab.

__ADS_1


"Itu m mang benar kok, dia bakal pergi lama, dia yang mengatakannya padaku sendiri di kertas itu. Untuk alasannya aku nggak bisa beritahu," ujar Asyraf.


"Kenapa? Beritahu saja! Biarkan kami mengerti!" ujar Ghozali. "Kalau Shahih mau seperti itu, dia nggak akan nulis pakai kode segala, dia bakal tulis dengan tulisan biasa! Kalau perlu mungkin dia akan buat papan pengumuman di rumah ini!" ujar Asyraf.


"Seenggaknya kasih tahu kami dulu! Kenapa dia pergi? Apa yang kurang di sini? Makanannya nggak enak? Ibu nggak pernah masak makanan favoritnya?" tanya Aisyah.


"Itulah yang nggak Shahih sukai dari kalian! Kalian pikir ada anak yang tahan ketika orang tuanya selalu bersikap waspada padanya? Kalian selalu membawa Shahih ke perbincangan serius bahkan menjadikannya alasan untuk memulai pertengkaran! Kalian nggak sadar?" tanya Asyraf, ia benar-benar mengoreksi kehidupan keluarga itu. Ghozali yang sudah memegang jas hujan pun mulai termenung.


"Perlukah aku pergi juga? Dia yang ngajak aku ke sini loh, kayaknya aku nggak dibutuhin lagi," ujar Asa.


"Nggak usah macam-macam!" ujar Ghozali, ia mulai emosi. "Ini bukan macam-macam! Jujur aku juga nggak suka berada di sini! Daripada dibilang keluarga, aku merasa seperti tamu di sini! Aku bisa bertahan karena ada Shahih! Sebenarnya aku juga mau pergi sejak lama! Di panti asuhan lebih baik daripada di sini!" ujar Asyraf, ia mulai bersikap emosional.


"Asa, kalau kamu nggak nyaman tinggal bilang saja ke ibu! Jangan dipendam sendiri!" ujar Aisyah.


"Nggak usah sok bersikap seperti seorang ibu! Lagian dari kemarin, cuma itu aja yang bisa kalian bilang! Bukankah seharusnya orang tua yang mulai bicara? Yang mulai bertanya? Nggak semua anak bisa dengan senang hati mencurahkan isi hatinya. Apalagi baru pertama kali datang ke rumah ini! Bahkan orang tua angkatku pun nggak seperti ini!" ujar Asyraf.


"Kami juga nggak tahu itu nak, kamunya yang nggak ngomong, mana kami tahu!" ujar Aisyah.


"Justru anak yang nggak pernah ngomong sama sekali itu sudah bermasalah, tapi kenapa kalian acuh tak acuh? Anak jaman sekarang dan dulu itu beda! Mereka melakukan beberapa hal untuk mendapatkan perhatian orang tuanya! Kenapa kalian malah bikin aku terlihat seperti orang yang mengemis perhatian gini? Kenapa aku yang harus menyadarkan kalian? Sebenarnya siapa yang paling dewasa di sini? Kalian atau aku?" tanya Asyraf, ia tidak mampu berbicara lebih banyak lagi karena matanya mulai berkaca-kaca. Ia langsung pergi ke kamar dan mencoba beraktivitas yang dapat menahan tangisannya.


Keluarga yang serba salah itu hanya bisa termenung di ruang tamu. Bahkan Ghozali sendiri tampak frustasi.


Karena enggan melihat dan mendengar suara amukan ayahnya, Zahra segera menuju ke kamarnya.


Shadiq dan Hasan yang kebingungan dengan suasana rumah itu langsung menghampiri Aisyah, mereka mencoba menghibur ibu mereka.

__ADS_1


Di sisi lain Syihab terus menggigit jari karena panik, ia bahkan mencoba menelpon Alfa tentang kepergian Shahih dan keributan yang terjadi di rumah itu.


__ADS_2