Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Persiapan berangkat


__ADS_3

Tinggal satu hari lagi sebelum anak-anak itu kembali ke pesantren. Sayangnya tidak ada sarupun ingatan yang teringat oleh Asyraf tentang pesantren, dan itu membuatnya resah. Baru beberapa hari sejak ia mengenal kedua orang tuanya setelah hilang ingatan, namun kini ia harus meninggalkan keduanya.


Ia tampak murung di sofa ruang tamu, selain karena masalah pesantren, ada satu hal yang membuatnya terus bertanya-tanya yaitu tentang dirinya yang tidur terpisah dari Shadiq dan Hasan. Ia tidak mengerti kenapa ia tidur di kamar tamu.


Malam pun tiba, Ghozali mendapati anaknya itu sedang murung setelah ia pulang dari pekerjaannya.


"Kenapa, Asa?" tanya Ghozali. "Bu... Bukan apa-apa kok," ujar Asyraf, ia tidak bisa menceritakan kegundahan hatinya itu.


Tentu saja Ghozali merasa khawatir, namun ia tidak ingin terlalu memaksanya untuk memberitahu kegundahannya itu.


Tak lama setelah bersiap-siap untuk tidur, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. "Siapa itu mas?" tanya Aisyah, ia pikir anak-anak sudah tidur.


Ghozali pun membuka pintu dan mendapati Asyraf dengan wajah ketakutan, anak itu tampak membawa bantal dan selimut.


"Kenapa, Asa?" tanya Ghozali. "Aku.... Nggak bisa tidur!" ujar Asyraf panik, kegundahannya membuatnya tidak tenang sehingga tidak bisa tidur.


Akhirnya Ghozali pun menemaninya ke kamar ia duduk di kasur sambil menunggu anaknya tidur. Sesekali juga ia membelai kepala anak itu.


Asyraf merasa bersalah karena membiarkan Ghozali terjaga padahal wajah ayahnya itu tampak pucat karena kelelahan setelah bekerja.


"Ayah, tidur sini," ujar Asyraf dengan suara lirih. Akhirnya Ghozali yang kelelahan pun langsung membaringkan diri di sampingnya.


Asyraf langsung mendekatkan kepalanya pada dada Ghozali layaknya anak yang hendak menyusui.


Ghozali sudah terbiasa dengan kelakuan anak-anaknya yang khas itu. Salah satu tujuan mereka tidur dengannya hanyalah satu, agar bisa mendengar detak jantungnya, ia juga tidak mengerti mengapa anak-anak menjadi tenang setelah mendengar itu.


Karena tidak ingin banyak pikiran, Ghozali pun langsung terlelap, begitu pula Asyraf, ia menjadikan dada ayahnya sebagai bantal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ghozali terbangun dari tidurnya, ia sempat merasa kecewa karena terlelap hingga pagi, padahal ia hendak tidur dengan Aisyah setelah Asyraf terlelap.


Ghozali pun menghadapkan wajahnya ke kiri untuk memeriksa wajah anaknya yang tertidur nyenyak itu, namun ia dikejutkan dengan wajah Syihab.


Secara spontan Ghozali terperanjat hingga jatuh ke lantai. Suaranya yang keras membuat seisi rumah terbangun.


"Ada apa sih? Syihab tampak menguap sambil memerhatikan sekitar. "Ke... Kenapa kamu di situ, Syihab? Mana Asa?" tanya Ghozali.

__ADS_1


"Keknya lagi beres-beres barang, hari ini kan anak-anak berangkat ke pesantren," ujar Syihab, ia menarik-narik lengan Ghozali dan memaksanya untuk tidur kembali.


"Jangan tidur terus! Ini sudah pagi loh!" ujar Ghozali, ia mencoba mengangkat tubuh anaknya yang besar itu.


Seketika itu juga Syihab terkejut, ia tidak menyangka ayahnya begitu kuat untuk mengangkat tubuhnya.


"Seriusan? Ayah ini binaragawan kah? Kuat sekali," ujar Syihab, akhirnya ia mencoba menggenggam kaki meja yang ada di samping kasurnya. "Jangan uji kekuatan dengan ayah, ntar barang-barang di sini rusak lagi. Ayo cepat bangun!" ujar Ghozali, namun Syihab tampak malas, ia pun melemaskan badannya agar terasa lebih berat saat Ghozali mengangkatnya.


Sayangnya hal itu tidak berpengaruh apapun, Ghozali mengangkat tubuhnya lalu meletakkanya di bahu kirinya layaknya seseorang yang sedang membawa batang kayu besar.


"Mending gendong aku kek, ngapain bawa-bawa aku dengan cara seperti ini?" tanya Syihab keheranan. "Kamu ini benar-benar nggak tahu malu!" ujar Ghozali sambil menepuk dahi. Ia pun membawa Syihab keluar kamar, saat itulah Aisyah sudah berada di hadapannya.


"Yah, kamu sudah bangun sayang? Maaf aku ketiduran di kamar Asa," ujar Ghozali. "Gapapa mas, lalu.... Apa yang sedang aku lihat ini?" tanya Aisyah keheranan.


"Anak ini nggak mau bangun, jadi aku angkat dari kasur," jawab Ghozali. "Kenapa dia ada di kamar Asa?" tanya Aisyah. "Nah, itu yang aku ingin tahu! Dia selalu mengambil kesempatan saat aku nggak tidur bersamamu, sayang," ujar Ghozali.


"Hmm, ayah ini! Bukankah aneh panggil-panggil sayang terus? Kami semua udah besar loh. Dengar kalian berdua sayang-sayangan, jadi bikin iri saja," ujar Syihab sambil menunjukkan wajah sebal.


Aisyah langsung menepuk pantat Syihab. "Makanya belajar yang benar! Cepat-cepat lulus! Cepat-cepat dapet pekerjaan! Cepat-cepat menikah!" ujar Aisyah.


"Nah, benar tuh! Udah besar tapi sukanya tinggal di rumah mulu. Kamu itu udah dewasa! Masa ibumu harus mencuci pakaian dalammu juga? Kan malu!" ujar Ghozali, sayangnya Syihab tidak terlalu tertarik mendengar perkataannya, ia malah menguap karena mengantuk kembali.


"Zahra mau kuliah di luar negeri?" tanya Aisyah pada Ghozali. "Be... Begitulah... Kalau nggak dibolehkan, dia ngancam mau langsung nikah setrlah lulus SMA," ujar Ghozali.


"Tuh, kan! Si Zahra aja nggak dibolehin nikah dulu, kalau aku udah disuruh-suruh!" ujar Syihab sebal. Sayangnya Ghozali enggan menanggapinya, ia tetap diam.


"Si Zahra belum bangun?" tanya Ghozali. "Kayaknya belum mas, tadi malam dia banyak persiapan buat berangkat ke pesantren hari ini," ujar Aisyah.


"Syihab, sana bangunin adikmu! Jangan malah tidur terus!" ujar Ghozali, ia langsung menjatuhkan anak itu ke lantai.


"Astaghfirullah mas! Bikin kaget saja! Kalau dia kenapa-kenapa gimana?" Aisyah sempat terkejut saat tubuh Syihab tiba-tiba jatuh ke lantai.


"Tenang saja, dia nggak akan kenapa-kenapa kok kalau jatuh dari ketinggian ini. Badan besar begitu nggak perlu dimanja," ujar Ghozali.


Syihab langsung berdiri dan mencubit lengan ayahnya. Sekilas Ghozali langsung berteriak karena kesakitan. "Duh! Mas ini bikin kaget saja! Syihab juga! Pagi-pagi jangan bercanda kek gitu!" tegur Aisyah. Syihab langsung lari sebelum ayahnya membalas cubitannya.


"Dih! Pak tua itu menyeramkan sekali! Untung nggak kena cubit!" ujar Syihab kemudian mulai membuka pintu kamar Zahra.

__ADS_1


Adiknya itu tampak tidur dengan posisi yang tidak karuan, bahkan pusarnya sampai terlihat. "Kukira perempuan ketika tidur terlihat manisdan imut, tapi lihatlah gadis ini. Imut dan manis dari mananya? Walah, dia sedang mendesah!" seru syihab sambil terus memerhatikan gerak gerik Zahra. Anak itu banyak bergerak meskipun sedang terlelap dalam tidurnya.


Tak lama kemudian Zahra membuka mata, ia mendapati wajah seorang pria di hadapannya. "Ayah? Ayah datang membangunkanku?" rasa kantuk Zahra langsung menghilang seketika karena gembira.


Sayangnya ia dikecewakan ketika penglihatannya semakin jelas. Pria yang ada di hadapannya itu bukanlah Ghozali, melainkan Syihab.


"Cih! Kenapa kamu di sini?" tanya Zahra kesal, ia langsung menutupi bagian pusarnya yang terlihat. "Hei, Zahra.... Kamu habis ngigau loh tadi," ujar Syihab sambil menunjukkan ekspresi anehnya. "Heh? Ngigau? Ngigau apaan?" tanya Zahra, ia tampak malu-malu.


"Kamu mendesah terus dari tadi..... Jangan-jangan, kamu mimpi hal yang mesum yah?" tanya Syihab, ekspresi berubah layaknya orang mesum.


"Aku nggak tahu kamu ngomong apaan. Yang jelas, nggak kayak yang kamu bayangkan," ujar Zahra tampak dingin, diam-diam tangan kanannya mengambil sesuatu di meja.


Syihab berfirasat buruk, ia langsung beranjak dari posisi duduknya. "Ehm, Zahra.... Karena kamu sudah bangun, sebaiknya kamu keluar dan bantu ibu memasak," ujar Syihab.


"Hmm? Nanti deh, sebelum itu..... Keknya ada sesuatu di pipi kakak loh! Coba sini biar Zahra lihat. Keknya ada nyamuk," ujar Zahra.


Syihab pun langsung lari serelah mengetahui apa yang Zahra pegang, ia segera menutup pintu sedangkan suara keras baru saja terdengar zetelah sesuatu membentur balik pintu itu.


"Syihab!" Aisyah tampak berkacak pinggang. "Hehehe, bukan apa-apa kok bu," ujar Syihab, namun ia terus berusaha menahan gagang pintu kamar Zahra agar tidak bisa dibuka dari dalam.


"Tuh, kan! Pagi-pagi sudah bikin masalah! Kamu ini.... Benar-benar luar biasa!" ujar Ghozali sambil mencubit pinggang Syihab. "Argh! Sakit, ayah! Sakit! Ampun!" teriak Syihab. Suara beratnya menggelegar ke seluruh ruangan.


"Sudahlah mas! Berisik! Suara kalian bersua itu merusak telinga!" ujar Aisyah. Sayangnya saat Ghozali berhenti, tiba-tiba Syihab membalas cubitannya, kali ini Ghozali yang berteriak keras.


Sebelum Syihab sempat kabur, Ghozali langsung memeluk perutnya erat-erat lalu menggelitiknya. Suara Syihab pun membeludak ke segala arah, membuat anak-anak lain terbangun karena kesal.


"Berisik banget sih! Masih pagi kok udah teriak-teriak! Ih!" ujar Hasan kesal, ia langsung kembali ke kamar lagi sambil membanting pintu.


Suasana pun tiba-tiba senyap, Ghozali bahkan berhenti menggelitik Syihab. "Tuh, kan! Dibilangin ngeyel sih!" ujar Aisyah sambil menggeleng kepala.


"Jadi, sebenarnya ada apa? Kenapa kamu tutup kamar Zahra? Kamu nggak usah usil deh!" tegur Aisyah. Zahra pun keluar dengan setrika yang sudah hancur.


"Nah! Perusak barang-barang rumah pun nambah satu orang lagi! Kenapa kamu malah ikut-ikutan kayak mereka berdua? Jangan rusak-rusak barang penting, Zahra!" tegur Aisyah. "Kak Syihab duluan yang bikin gara-gara!" ujar Zahra.


"Apaan sih? Aku cuma bilang dia ngigau mendesah-mendesah gitu, tak kira dia baru saja mimpi basah," ujar Syihab secara blak-blakan.


Zahra menjadi semakin malu karena Ghozali mendengar hal itu. Sama halnya dengan Ghozali, sebelum orang-orang menyadari wajahnya memerah, ia langsung pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


Zahra merasa terpuruk setelah melihat ayahnya pergi begitu saja. Saat itu juga gagang setrika yang ia pegang berderit.


"Dasar cabul! Omong kosong apa yang kau bicarakan pagi-pagi begini?!" ujar Zahra kesal, ia hendak melempar setrika itu pada Syihab. "Eh, buset! Mati aku kalau kena lempar itu!" ujar Syihab, ia mencoba menahan pergelangan tangan Zahra. Pagi itu tampak gaduh karena mereka berdua.


__ADS_2