
Shahih tak kunjung membuka mulut setelah beberapa hari berada di rumah sakit. Bahkan ia harus diinfus karena tidak mau makan.
Setiap kali ia memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya, ia langsung memuntahkannya kembali. Sekali ia membuka mulut, ia langsung merasa mual, oleh karena itu dia terus menutup mulutnya, bahkan saat orang-orang mengajaknya berbicara.
Itu berlangsung hingga sepekan lamanya, akhirnya Ghozali membawa Shahih ke tempat Adam. Seperti yang sudah dilakukan sebelumnya, Adam membawanya ke sebuah ruangan yang agak remang-remang.
Entah kenapa Shahih merasa nyaman berada di situ. "Akhirnya kita ketemu lagi dek," ujar Adam.
Ghozali dan Aisyah seperti biasa memperhatikan Shahih dari kejauhan. "Sepertinya temanmu itu keturunan Belanda ya mas? Wajahnya berbeda sekali," ujar Aisyah. Ghozali tidak menjawab, beberapa hari ini ia masih marah dan terus mendiamkan Aisyah seperti itu.
Shahih yang berada di dalam ruangan pun tetap diam, ia bahkan tidak merespon meskipun Adam berkali-kali bertanya.
"Ada apa Shahih? Kenapa diam saja?" tanya Adam. Shahih sempat melirik ke arah kamera CCTV. "Oh, maaf! Paman lupa nggak matiin itu," ujar Adam kemudian pergi ke tempat Ghozali.
"Mau apalagi?" tanya Ghozali keheranan. "Tentu saja mematikan CCTV ini, dia tidak suka diperhatikan," ujar Adam. "Kau bisa pura-pura mematikannya saja, lalu kembali ke dalam," ujar Ghozali. "Dia pasti tahu kalau aku tidak mematikannya, dia lebih cerdas dari yang kau kira," Adam kemudian masuk ke dalam ruangan Shahih. Pada akhirnya Ghozali tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana, ia sempat tidak tahan karena harus diam di dalam ruangan bersama Aisyah.
"Mas! Aku nggak tahan deh! Ngomong sih mas!" Aisyah mulai kesal namun Ghozali tetap diam. Aisyah sampai mencoba memegangi tangannya, namun pria itu segera menyingkirkan tangannya.
Ghozali langsung melipat tangan di dada agar Aisyah tidak memeganginya lagi. "Mas! Jangan begini sih mas! Mas!" Aisyah terus mendesak pria itu agar berbicara, sayangnya Ghozali hanya memasang ekspresi dingin, ia terlihat enggan menatap istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Shahih, lupakan saja apa yang terjadi! Kamu bisa bicara kan?" tanya Adam. Shahih tetap diam, akhirnya Adam memberikan bolpoin dan buku, namun Shahih tetap diam. Akhirnya Adam hanya memberi nasihat-nasihat pendek untuknya agar kuat dan tidak takut lagi dengan hal seperti itu.
Setelah selesai, Adam pun membawa Shahih keluar untuk bertemu dengan Ghozali dan Aisyah. "Kalian berdua kenapa?" tanya Adam keheranan karena melihat tatapan saling benci antara Ghozali dan Aisyah.
"Gimana keadaannya dok? Apakah dia mau bicara?" tanya Aisyah. Adam hanya menggeleng kepala.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja kok, dia masih bisa berinteraksi dengan orang lain melalui ekspresi dan sikapnya. Mungkin sementara waktu dia belum bisa menyampaikan perkataan lewat mulutnya, ia bisa mual jika dipaksa untuk berbicara," ujar Adam.
Aisyah langsung membawa Shahih menjauh dari Ghozali, bahkan saat Ghozali membukakan pintu, Aisyah langsung pergi menghindar.
"Aku naik angkot sama Shahih," ujar Aisyah. Ghozali tampak tidak peduli, dengan wajah dinginnya ia langsung masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan Aisyah dan Shahih.
Ia langsung pergi ke tempat kerjanya karena tidak perlu mengantar Aisyah dan Shahih ke rumah. Sesampainya di ruang kerjanya ia bisa menghela nafas lega.
Tak lama kemudian Mayang datang mengetuk pintunya. "Masuklah," ujar Ghozali. "Ada apa dok? Kenapa dahimu kusut sekali?" tanya Mayang. "Bukan apa-apa, lagian ada perlu apa ke sini?" tanya Ghozali.
"Aku baru saja menyusun beberapa agenda harianmu," ujar Mayang. "Baiklah, letakan saja di meja," ujar Ghozali. Ia sedang ingin menghirup udara segar dengan membuka jendela ruangannya.
"Sepertinya jas itu tampak cocok untukmu," ujar Mayang, ia pun membantu Ghozali melepaskannya. Ghozali merasa tidak nyaman dengan perlakuannya itu.
"Jangan dipakai terus seperti ini, ntar malah kotor gara-gara ngurus pasien," ujar Mayang. Ia mencoba memastikan jam tangan yang ia berikan masih melekat di tangan Ghozali, ia pun tersenyum setelahnya lalu menggantungkan jas Ghozali pada hanger di pojok ruangan.
Ia berpura-pura mengutak-atik benda yang ada di meja itu. Ia juga sempat membuat ikat rambutnya terlepas seperti tidak disengaja.
Rambut panjangnya pun terurai saat ia berusaha mengambil ikat rambutnya kembali. "Wah, maaf! Sepertinya aku tidak mengikat rambutku dengan baik," ujar Mayang kemudian pamit untuk keluar ruangan.
Ghozali sempat terdiam setelah melihat wanita itu terurai rambutnya. Daffa dan Andhika pun masuk ke dalam ruangannya setelah menyaksikan hal itu.
Ruangan kerja di tempat itu hanya berlapis kaca sehingga orang-orang dapat melihat ke dalam kecuali jika pemilik ruangan menutup tirainya. Kebetulan saat itu tirai ruangan Ghozali sedikit terbuka, membuat Andhika dan Daffa dapat mengintip apa yang terjadi di dalam.
Andhika pun langsung menutup tirai ruangan Ghozali rapat-rapat. "Wah! Apa itu tadi? Kau berhasil memikatnya? Bukankah jam tangan dan jas itu juga pemberiannya?" tanya Daffa.
"Ghozali tidak peka! Harusnya kau ajak dia berkencan saja!" ujar Andhika. "Kalian gila? Aku sudah punya istri dan anak!" ujar Ghozali.
__ADS_1
"Oh? Jadi kalau tidak ada istri dan anak, kau akan mengencaninya?" tanya Daffa. "Bu... bukan begitu! Kalian salah!" ujar Ghozali salah tingkah, ia tidak bisa menyangkal kalau dirinya terpana saat melihat rambut panjang Mayang, apalagi saat ini ia sedang membenci istrinya sendiri.
"Heh? Apa-apaan reaksi itu? Ayolah! Punya pacar satu atau dua saja tidak masalah! Lagian ini kan bukan di rumahmu! Tidak ada istri dan anak," ujar Daffa.
"Apalagi pacarnya anak direktur..... kalau aku sih langsung terobos saja!" Andhika. "Ka... kalian benar-benar sesat! Jangan mengatakan hal-hal aneh padaku lagi!" ujar Ghozali.
"Hei! Ayolah! Kau tidak bisa membohongi dirimu! Lagian siapa sih yang tidak tertarik dengan kecantikan Mayang? Atau jangan-jangan kau Gay?" tanya Daffa.
"Hahaha! Hati-hati Daffa!" ujar Andhika. "Sudahlah, jujur saja kalau kau suka sama Mayang! Direktur mungkin bakal mendukungmu loh! Kau kan pegawai kesayangannya," ujar Daffa.
Ghozali sudah tidak tahan dengan pembicaraan mereka lalu keluar ruangan. "Mereka kenapa sih? Bikin gila saja!" ujar Ghozali kesal sambil melonggarkan dasinya.
Saat itulah ia langsung berpapasan dengan Mayang. "Ada apa dokter Ghozali? Sepertinya kau tampak kesal," ujar Mayang, ia terus menatap kerah Ghozali yang semakin melonggar, ia berharap bisa melihat hingga ke dalamnya.
"Kamu, kenapa masih melepaskan ikat rambutmu? Pakailah! Itu bisa mengganggu saat bekerja!" ujar Ghozali mengingatkan kemudian malu-malu pergi keluar gedung.
Andhika dan Daffa hanya bisa saling tatap saat menyaksikan hal itu. "Usianya berapa sih? Aku tidak percaya kalau dia punya lima anak," ujar Andhika. "Dia baru 33 tahun," jawab Ade yang tiba-tiba muncul di antara mereka berdua.
"Eh serius? Lebih muda dariku dong?" Andhika. "Yeah memang, aku juga heran karena kau belum menikah di usiamu yang semakin tua ini," ujar Daffa.
"Pantas saja reaksinya masih belum dewasa, dia malu-malu kayak perjaka muda saja," ujar Andhika. "Tapi Kukira dia sudah 40 tahun lebih loh! Lima anak! Memangnya 33 tahun bisa sebanyak itu?" tanya Andhika.
"Anak terakhir kembar tiga, jadi istrinya baru melahirkan tiga kali, wajar saja di usianya yang 30 tahun," ujar Ade.
"Sepertinya istri masih segar juga, 30 tahun! Bayangkan!" ujar Andhika. "Biasa saja, usiaku baru 30 tahun juga biasa saja," ujar Ade.
"Tapi beruntung sekali si Ghozali ini! Sikapnya masih kanak-kanak, pantas saja banyak wanita yang menyukainya. Mereka mungkin tidak sadar kalau dia seorang ayah dengan lima anak," ujar Andhika.
__ADS_1