Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Jejak menuju kepastian


__ADS_3

Aisyah mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit. "Halo? Permisi, apakah ini dari ibu Aisyah?" tanya seorang perawat. "Oh, iya! Benar ini saya," ujar Aisyah.


"Ibu yang minta berkas riwayat kelahiran dari delapan tahun yang lalu?" tanya perawat. "Iya saya! Saya memintanya hampir dua bulan yang lalu," ujar Aisyah.


"Mohon maaf sebelumnya, karena rumah sakit asal pernah mengalami kebakaran lima tahun yang lalu, semua berkas harus dipindahkan ke rumah sakit pusat. Kami kebetulan menemukan berkas yang ibu minta, tiga hari ini," ujar perawat itu.


"Wah, Alhamdulillah! Bisakah saya mendapatkan itu sekarang?" tanya Aisyah. "Bisa bu, ibu silahkan menuju ke lobi dan menunjukkan identitas ibu, kami akan memberikan salinannya," ujar perawat.


Aisyah pun merasa senang, ia tidak menyangka pekerjaan suaminya itu dapat dijadikan alasan baginya untuk meminta informasi terkait kelahiran yang delapan tahun yang lalu, tempat di mana ia melahirkan anak kembarnya.


Ia pun meminta Alfa datang ke rumahnya untuk menjaga anak-anak sedangkan ia pergi mengambil berkas-berkas itu di rumah sakit.


Setelah mendapatkan berkas itu, ia merasa puas dan segera kembali ke rumah. "Kakak menyuruhku jaga rumah hanya karena ini? Aneh sekali!" ujar Alfa.


"Kamu nggak tahu apa-apa jadi diam saja," ujar Aisyah. Ia mencoba memeriksa identitas anak-anak yang dilahirkan pada bulan Juli, saat anak-anaknya dilahirkan.


Akhirnya ia menemukan beberapa anak yang lahir pada tanggal yang sama. "Wah! Kenapa banyak sekali? Sepertinya aku harus memeriksa satu persatu!" seru Aisyah bersemangat.


"Apa-apaan kakak ini? Kayak detektif saja!" ujar Alfa. "Mungkin kakak akan menjadi detektif yang handal!" seru Aisyah sambil mencoba menghubungi nomor yang tertera pada berkas-berkas itu.


Karena terlihat membosankan, akhirnya Alfa beranjak dari tempat duduknya. "Aku pulang dulu yah kak! Para Ustadz pasti sedang mencariku ke mana-mana," ujar Alfa.


"Baiklah, hati-hati ya!" ujar Aisyah. Ia terus menelusuri dokumen-dokumen itu dan mendapatkan beberapa petunjuk.


"Sepertinya memang ada yang tidak beres di sini!" seru Aisyah. Ia menemukan bahwa terdapat sepuluh orang ibu yang melahirkan pada waktu itu dan mendapati lima di antaranya bergolongan darah O.


Aisyah semakin yakin ada yang tidak beres ketika mengetahui bahwa bayinya dan bayi para ibu itu diletakkan di ruangan yang sama. Ia sendiri memang tidak sempat melihat bayi-bayinya karena pingsan setelah melahirkan empat anak kembar. Ia diberi tahu bahwa salah satu anaknya meninggal saat ia sadarkan diri.


Akhirnya ia menemukan sebuah foto yang menunjukkan bayi-bayi itu sedang di terbaring di dipan-dipan. Rumah sakit tidak menandai mereka dengan gelang, melainkan hanya menamai dipan tempat mereka terbaring.


Aisyah merasa aneh dengan hal itu, padahal saat melahirkan Syihab dan Zahra, kedua bayi itu selalu dipakaikan gelang penanda.


Akhirnya ia mencoba menghubungi satu persatu ibu bergolongan darah O itu. Ia bahkan meminta bertemu dengan mereka dan anak-anak mereka.


Dari lima orang, ia hanya bisa menghubungi tiga orang, nomor ponsel dua orang lainnya sudah tidak bisa dihubungi.


Setelah bertemu dengan tiga orang lainnya dan berbincang-bincang mengenai anak-anak, Aisyah tidak menemukan satupun petunjuk yang mengarah pada Assalam. Anak-anak dari para ibu ibu itu tampak sehat dan berbeda dari Shahih.


Akhirnya ia mencoba mencaritahu keberadaan dua ibu lainnya dan mendapati salah satunya telah meninggal tepat setelah melahirkan.


Karena merasa tidak akan menemukan apa-apa, ia pun beralih mencari ibu satunya lagi. Setelah menelpon ke sana kemari selama berhari-hari, akhirnya ia dapat berjumpa dengan ibu itu.


Ibu itu datang bersama suami dan anaknya. "Wah! Lengkap sekali! Bahkan suami ibu ikut datang!" seru Aisyah. "Hahaha! Iya, kebetulan kami mau piknik," seru ibu itu. Anaknya pun langsung keluar dari mobil.

__ADS_1


Aisyah dapat membandingkan wajah anak dan suami dari ibu itu, mereka tampak sangat mirip, bahkan hidung mereka yang khas terlihat sama. Ia sudah mendapatkan kejelasan bahwa anak itu bukanlah anak yang ia cari.


Setelah pulang dari pertemuan itu, ia langsung berbaring di kasur dengan putus asa. Namun ponselnya tiba-tiba berdering.


"Halo, Assalamualaikum, apakah ini dengan ibu Aisyah?" tanya salah seorang. "Iya benar, mohon maaf, ini dari mana yah?" tanya Aisyah.


"Saya Ardhi, saya dengar anda adalah orang yang mencoba menghubungi ibu Dessy yang sudah meninggal delapan tahun yang lalu," ujar Ardhi.


"Iya benar, apakah ini suami ibu Dessy?" tanya Aisyah. "Bukan, saya adalah orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan suami bu Dessy, ia meninggal saat kecelakaan terjadi. Saya belum menemukan identitas dari kerabat dekat bu Dessy, namun beliau sudah meninggal," ujar Ardhi.


"Tu... tunggu sebentar, kalau ibu Dessy dan suaminya meninggal, lalu siapa mengurus anaknya?" tanya Aisyah.


"Itu saya, Karena tidak ada kerabat yang datang, akhirnya saya yang mengambil anak itu," ujar Ardhi. Aisyah semakin penasaran dengan cerita yang sangat rumit itu.


"Lalu? Lalu gimana kabar anak itu sekarang? Apakah ia baik-baik saja? Bapak memiliki dokumen terkait kelahiran anak itu?" tanya Aisyah penasaran.


"Mohon maaf, saya membawa anak itu ke panti asuhan beserta dokumen-dokumen yang ada. Saya tidak bisa menjaga anak yang baru dilahirkan karena harus bekerja," ujar Ardhi.


"Bapak masih ingat golongan darah anak itu?" tanya Aisyah semakin penasaran, ia sampai menggigit jari.


"Apa? Golongan darah? Hmm, saya tidak yakin, mungkin A atau AB," ujar Ardhi. Tubuh Aisyah semakin lemas, ia sudah memeriksa dokumen terkait Bu Dessy dan suaminya. Sang suami bergolongan darah B sedangkan bu Dessy bergolongan darah O, jelas ada keganjalan di sana. "Bisakah saya meminta kontak panti asuhan itu?" tanya Aisyah, ia berkali-kali meraupi wajahnya karena senang, ia tidak percaya perjuangannya bisa membuahkan hasil. Ia benar-benar tidak menyangka.


"Bentar bu, biar saya carikan," ujar Ardhi. Beberapa menit kemudian ia kembali ke teleponnya.


Ia benar-benar tidak sabar ingin menghubunginya. Setelah telepon ditutup, ia langsung menelpon ke nomor tersebut.


Ternyata itu tidak bisa dilakukan, ponselnya sudah kehabisan pulsa karena terus menelpon orang-orang akhir-akhir ini.


Ia pun jadi bingung hendak minta pulsa ke siapa, ia tidak mungkin memintanya ke Ghozali, pria itu pasti akan mencurigainya berbuat macam-macam, namun ia juga tidak bisa menyampaikan pesannya pada Alfa karena teleponnya kehabisan pulsa.


Akhirnya ia terpaksa menunggu Ghozali pulang, ia memutuskan untuk memberitahu suaminya apa saja yang ia temukan hingga sekarang ini.


Sayangnya Ghozali tak kunjung pulang meskipun Isya telah lewat, padahal biasanya ia pulang sebelum adzan Maghrib tiba.


Ghozali pun datang setelah lewat jam sepuluh malam, meskipun begitu Aisyah langsung menyambutnya dengan riang. "Akhirnya pulang juga!" seru Aisyah, namun pria itu tetap bersikap dingin dan kembali ke kamar karena kelelahan.


"Mas, ada yang ingin kubicarakan," ujar Aisyah. "Aku sudah capek," ujar Ghozali. "Oh, ya sudah. Aku akan bicara besok pagi," ujar Aisyah kemudian melepaskan jas yang dikenakan Ghozali, meskipun menyakitkan karena tidak tahu jas itu berasal dari mana, Aisyah tidak mempedulikannya lagi, ia hampir menemukan petunjuk tentang Assalam.


Aisyah pun keluar kamar dan menggantungkan jas Ghozali di ruang ganti. Ia pun teringat untuk meminta pulsa pada Ghozali.


"Mas!" seru Aisyah sambil membuka pintu kamar, Ghozali tampak langsung mematikan ponselnya.


"Kukira kamu sudah capek, ternyata masih sempat bermain ponsel," ujar Aisyah. "Bukan urusanmu!" ujar Ghozali kemudian membalikkan badannya, membelakangi Aisyah.

__ADS_1


"Mas, pulsa ponselku sudah habis," ujar Aisyah. "Lalu? Kau menyuruhku pergi beli pulsa sekarang?" tanya Ghozali dengan ekspresi dinginnya. "Bu... bukan begitu, mas. Besok pagi aja, kamu pasti dah capek," ujar Aisyah kemudian menutup pintu kamar.


Ghozali kembali menyalakan ponselnya, ia tampak sedang mengirim pesan pada Mayang.


"Kamu pulang dengan selamat kan?" tanya Ghozali. "Aku baik-baik saja mas, aku dah sampai di rumah," ujar Mayang, pada pesannya, kali ini ia tidak memanggil Ghozali dokter lagi melainkan 'Mas'.


"Kamu sudah makan malam?" tanya Mayang. "Nggak," jawab Ghozali. "Kasihan sekali, besok aku bawakan bekal yang banyak deh," ujar Mayang. "Aku menantikannya," ujar Ghozali sambil senyum-senyum sendiri.


Esok harinya Ghozali tampak segera bersiap-siap untuk kerja, Aisyah sudah menyadari hal itu, akhirnya ia langsung memberikan kotak bekal pada Ghozali.


"Lama kelamaan kamu makin kurus kalau nggak sarapan mas, makan dulu kalau dah sampai di rumah sakit," ujar Aisyah.


"Oh, iya! Untuk pulsa jangan lupa! Kalau bisa pulang gasik, aku mau bicara," ujar Aisyah. Ghozali langsung membuka dompetnya lalu memberikan Aisyah beberapa lembar uang.


Ia menyodorkannya begitu saja. "Beli pulsa sendiri," ujar Ghozali. Meskipun itu menyakitkan, Aisyah menerima uang itu sambil tersenyum pahit di hadapannya.


Ghozali pun segera pergi sedangkan ia malah meninggalkan bekal yang sudah Aisyah siapkan.


Aisyah tahu suaminya terburu-buru, akhirnya ia pun mengejarnya sampai ke depan rumah, namun suaminya sudah melaju dengan mobil, menghilang dari pandangannya.


Aisyah pun berpikir untuk mengantarkan bekal itu untuk Ghozali, ia sudah membuat yang terbaik hingga bangun pagi-pagi sekali.


Setelah sampai di rumah sakit, Aisyah segera masuk ke dalam gedung dan pergi ke ruang kerja Ghozali, ia pun mengetuk pintu.


"Masuklah," ujar Ghozali tanpa memperhatikan siapa yang datang. Ia benar-benar terkejut karena Aisyah sudah berada di hadapannya dengan bekal di tangannya.


Ghozali berusaha menyembunyikan kotak bekal yang Mayang bawakan untuknya dengan kedua kakinya.


"Kenapa kau ke sini lagi?" tanya Ghozali. "Lain kali jangan lupakan kotak bekalmu, aku nggak mau jadi istri yang serba nggak peduli, jadi aku datang ke sini," ujar Aisyah, ia masih diam di tempat.


"Apalagi?" tanya Ghozali. "Aku mau bicara sesuatu mas! Ini tentang Assalam," ujar Aisyah.


"Kau tidak lihat aku sedang sibuk?" tanya Ghozali, kali ini caranya berbicara dengan Aisyah seperti orang asing.


"Baiklah, maaf mengganggu," ujar Aisyah kemudian pamit untuk pergi. Ia pun keluar dari gedung rumah sakit dengan perasaan lega. Sebenarnya melihat isi ruangan Ghozali semakin membuatnya sakit hati.


"Hei, bukankah itu istri Ghozali? Kenapa ia datang ke sini? Jangan-jangan dia tahu hubungan Ghozali dengan anak direktur?" bisik Daffa. "Hei, mana mungkin, lihatlah dia sedang tersenyum manis di sana sambil menatap langit. Ia pasti tidak sadar kalau suaminya melirik anak direktur," ujar Ade.


"Cerita panas ini memang benar-benar menarik, aku tidak sabar dengan kelanjutannya!" seru Andhika, ia pun mengajak Ade dan Daffa masuk ke dalam gedung. Mereka langsung masuk ke ruangan Ghozali.


"Ada apa lagi ini?" tanya Ghozali keheranan. "Aku tadi lihat istrimu sedang menghirup udara segar di teras, sepertinya ia merasa senang setelah bertemu denganmu," ujar Daffa.


"Oh? Apakah istrimu yang membawakan bekal ini?" tanya Andhika penasaran. "Kalian mau? Makan saja sana, aku sudah makan tadi," ujar Ghozali. "Eh serius? Mari kita rasakan masakan cinta yang dibuat oleh istri Ghozali," ujar Daffa.

__ADS_1


__ADS_2