
Akhirnya dua tahun berlalu sejak Rofiq membawa anak-anak Ghozali ke rumahnya. Kali ini ia bingung hendak menyekolahkan dua anak kembar itu ke mana. Dua anak itu sebentar lagi lulus SD, tinggal pengumuman kelulusan mereka yang belum dikeluarkan.
Di tengah kebingungan itu, Zahra tiba-tiba menghampiri Rofiq dengan sebuah amplop yang tampak tebal.
"I... ini apa Zahra?" tanya Rofiq keheranan. Lilis juga segera menghampirinya. "Sebentar lagi Shadiq dan Hasan lulus, Zahra pengin dua anak itu bisa masuk pesantren juga," ujar Zahra.
"Terus? Kenapa?" tanya Rofiq. "Ini.... uang jajan yang udah Zahra kumpulin. Terus mulai tahun ajaran baru besok, paman nggak usah bayar uang SPP Zahra lagi, Zahra mau mengabdi dua tahun di pesantren buat ganti bayaran SPP Zahra," ujar Zahra.
Rofiq mencoba memeriksa amplop yang Zahra berikan dan terkejut. "Astaghfirullah, Zahra! Ini uang dari mana? Banyak sekali!" Lilis terkejut.
"Ini uang saku Zahra yang Zahra kumpulin sejak awal masuk pesantren," ujar Zahra sambil tersenyum bangga. Rofiq dan Lilis hanya bisa saling tatap sambil menggelengkan kepala.
"Kami nggak perlu ini, Zahra! Ya ampun, kamu kok sampai susah-susah ngumpulin uangmu sendiri!" ujar Lilis sambil mengembalikan amplop tebal itu pada Zahra.
"Kamu juga nggak perlu mengabdi di pesantrenmu, paman akan bayarkan semuanya untukmu. Kamu nggak perlu habiskan dua tahunmu untuk terus tinggal di sana, kamu juga bisa mencapai impianmu kok," ujar Rofiq.
"Tapi Shadiq dan Hasan gimana?" tanya Zahra dengan wajah khawatir. "Tenang saja, kami juga akan bayarkan! Kamu fokus sekolah aja! Biar cepat pintar!" seru Lilis.
Entah kenapa Zahra merasa terharu dengan wajah tulus mereka itu, ia pun langsung menangis. "Duh, kenapa menangis Zahra?" tanya Rofiq keheranan sedangkan Lilis langsung memeluknya.
"Tenang saja, Zahra. Kamu sudah kayak anak tante kok, nggak perlu sungkan. Kita keluarga, bukan orang asing," ujar Lilis.
Tak lama kemudian bel rumah berbunyi, Rofiq segera menuju ke depan rumah dan mendapati Alfa sedang berdiri di balik pintu.
"Oh, Alfa! Selamat datang," ujar Rofiq dengan sikap ramahnya, ia tidak menyangka Alfa akan datang ke rumahnya.
__ADS_1
"Kita bicara di luar saja, aku nggak mau di dalam, sempit," ujar Alfa, perkataannya sangat menusuk di hati Rofiq, ia pun langsung mengabaikannya. Ia mengajak Alfa ke jalanan dekat sungai irigasi.
"Gimana kemajuannya? Mereka sudah menemukan Shahih?" tanya Alfa. "Belum," ujar Rofiq dengan wajah murung.
"Sebaiknya hentikan saja pencarianmu, polisi nggak bisa membantu apa-apa, kau hanya akan menghabiskan uangmu dengan sia-sia," ujar Alfa.
"Apa maksudmu?" tanya Rofiq keheranan. Alfa langsung menyerahkan sebuah amplop berisi uang pada Rofiq.
"Untuk masalah Shahih, biar aku saja yang mengatasinya. Biar aku yang cari. Lalu, untuk uang itu..... itu adalah ganti dari biaya SPP Zahra dan Syihab yang kau bayarkan juga uang saku yang kau berikan, untuk SPP Shadiq dan Hasan biar aku saja yang bayar," ujar Alfa. Rofiq hanya menggelengkan kepalanya sambil mengembalikan amplop itu.
"Kenapa hari ini banyak sekali orang yang memberikan amplop berisi uang padaku? Aku mungkin akan dipenjara karena kasus penyuapan," ujar Rofiq sambil tertawa. Kali ini ia memasukkan kedua tangannya ke saku agar Alfa tidak bisa memberikan amplop itu kepadanya secara paksa. "Ini bukan berarti aku menyuapmu!" ujar Alfa.
"Sepertinya yang Rava katakan ada benarnya. Kau masih belum dewasa nak, kau pikir mengurus anak adalah masalah uang? Kok pikiranmu masih polos kayak Zahra sih? Anak-anak Ghozali sudah seperti anakku sendiri! Selama dua tahun ini aku yang membesarkan mereka dan mungkin akan terus bersama mereka hingga mereka besar nanti," ujar Rofiq.
"Aku tidak peduli! Mau sesulit apapun itu, sekalipun aku harus memiliki dua pekerjaan atau tiga pekerjaan, aku yang akan menanggung semuanya! Kau tidak akan mengerti tekad kuat dari orang tua seperti kami, kau belum berkeluarga! Aku tidak akan biarkan seorang pun menyentuh anak-anak adikku! Seharusnya kau masih bersyukur karena aku tidak mengungkit-ungkit masalah cerai mati ataupun hak asuh anak karena kakakmu masih hidup. Tapi kalau kau terus datang seperti ini dan mengusik keluarga kami, aku tidak akan segan-segan memutuskan hubungan kami dengan kalian!" ujar Rofiq tegas. Alfa langsung terdiam, ia menerima teguran keras dari Rofiq.
"Baiklah, aku mengerti sekarang. Aku akan pergi dari sini, tapi untuk masalah pencarian Shahih, biar aku yang mengatasinya," ujar Alfa, ia pun pergi dengan wajah lesu.
Rofiq pun langsung kembali ke rumahnya. "Bapak habis bicara apa tadi pak? Sama siapa?" tanya Lilis penasaran. "Bukan apa-apa, bapak baru saja menasehati anak kecil yang iseng memainkan bel rumah," ujar Rofiq.
"Ya ampun! Kok ada anak kayak gitu sih! Anak siapa pak?" tanya Lilis merasa prihatin. "Ndak tahu, bukan anak sini," ujar Rofiq. Setelah itu ia pun memanggil Shadiq dan Hasan untuk menawari mereka masuk ke pesantren.
Kedua anak itu mengangguk setuju, alasan mereka adalah agar bisa bertemu dengan Zahra dan Syihab, mereka berdua merasa bosan berada di rumah.
Meskipun Rofiq sempat sedih dengan kepergian mereka, tapi menanti kepulangan mereka adalah hal yang indah baginya. Apalagi momen saat ia menjemput mereka pulang, rasa bahagianya tak tertandingi lagi.
__ADS_1
Ia juga penasaran seperti apa pertumbuhan mereka setelah lama ia tidak melihat mereka. Itulah yang sangat ia nanti-nantikan.
Mereka juga tidak merasa kesepian karena masih ada Risky di rumah, bahkan tanpa adanya anak-anak Ghozali pun suasana rumah tetap hidup karena Risky selalu banyak ulah yang membuat Lilis dan Rofiq hanya bisa mengelus dada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya rombongan itu sampai di asrama putra. Kali ini Zahra membantu menata barang-barang milik Shadiq dan Hasan.
Meskipun ditemani kedua kakaknya, Shadiq dan Hasan tetap tidak ingin ditinggal oleh Rofiq dan Lilis, mereka sempat menyesal karena setuju mendaftar pesantren.
Sayangnya nasi telah menjadi bubur, mereka tidak bisa menarik perkataan mereka lagi. Mereka hanya bisa menunjukkan wajah sedih mereka pada Lilis dan Rofiq.
"Ya ampun, Hasan, Shadiq juga! Kalian ini manja sekali!" ujar Lilis, kedua anak itu terus menyandarkan kepala padanya, seperti seorang anak yang tidak ingin ditinggalkan oleh ibunya.
"Sebentar lagi waktunya habis loh! Kami juga harus ke tempat Zahra sebelum tutup," ujar Rofiq. Sayangnya anak-anak itu juga tidak menginginkannya pergi, Hasan dan Shadiq bahkan menahan keduanya tangannya agar tidak beranjak dari tempat duduknya.
"Duh, kalian berdua ini menggemaskan sekali! Nanti paman gelitikin loh!" ujar Rofiq, ia sempat merasa senang karena anak-anak itu bergelantungan di kedua lengannya seperti monyet.
"Duh, Shadiq, Hasan! Ntar kakak main ke sini kok! Di sini juga ada kak Syihab!" ujar Zahra. Setelah memenangkan mereka, akhirnya Shadiq dan Hasan melepaskan tangan Rofiq.
Akhirnya Rofiq pun bisa pergi ke asrama putri untuk mengantar Zahra dan barang-barangnya.
Setelah selesai mengantarkan mereka berlima, Rofiq dan Lilis kembali ke dalam mobil sambil menghela nafas panjang. "Kok rasanya agak sepi yah pak," ujar Lilis. "Iya mak, sebaiknya kita cepat-cepat pulang, si Risky kayaknya bikin masalah lagi.
"Hemmm! Benar sekali! Ayo pulang pak," ujar Lilis, akhirnya mobil pun melaju dengan cepat.
__ADS_1