Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Kabar baik


__ADS_3

Alfa langsung berlari menuju kamar keponakannya, ia tampak tergesa-gesa. "Ada apa paman?" tanya Hasan keheranan.


"Shadiq, Hasan! Mari ikut paman! Shahih dan Asa di mana?" tanya Alfa. "Ada apa?" Shahih baru saja datang dengan jemurannya yang baru kering.


Shadiq dan Hasan langsung murung setelah melihatnya, saat ini mereka sedang menjauhi Shahih.


"Ibu kalian, ibu kalian sudah mulai pulih! Dokter bilang kalau ia akan siuman lebih cepat! Sebaiknya kalian jenguk sekarang! Paman yang antar!" seru Alfa.


"Ibu?" Asyraf masih asing dengan ibu yang Alfa maksud, ia belum pernah bertemu dengannya sekali pun, bahkan ketika mereka tinggal bersama di rumah Hamid, ia belum pernah menjenguk Aisyah.


"Benar sekali! Ibumu! Kamu belum pernah ketemu dengannya kan? Ia pasti merasa senang bertemu denganmu," ujar Alfa bersemangat.


"Sepertinya paman terlihat paling senang dengan kabar itu daripada kami berempat," ujar Shahih. Perkataannya benar-benar merusak suasana hingga membuat Alfa salah tingkah.


Akhirnya ia pun langsung mengajak anak-anak itu ke dalam mobilnya. Sayangnya ia tidak bisa mengajak Zahra karena peraturan di asrama putri terlalu rumit dan ketat.


Sesampainya di rumah sakit, akhirnya Asyraf bisa melihat orang yang sangat membuatnya penasaran, seorang ibu yang sejak dulu ia bayangkan seperti apa rupanya.


Ia pun dapat menyaksikan wanita berwajah pucat dengan tulang rahang yang terlihat begitu menonjol di pipinya. Wanita itu terlihat sangat kurus memprihatinkan. Asyraf langsung bertekuk lutut melihatnya, ia bahkan sampai menangis karena melihat betapa malangnya kondisi wanita itu.


"I... ini ibuku?" Asyraf masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Melihatnya menangis, Shadiq dan Hasan juga ikut menangis, mereka juga akhirnya sadar betapa memprihatinkannya kondisi ibu mereka.


Kamar itu dipenuhi tangisan, bahkan Alfa yang awalnya diam saja juga mulai berkaca-kaca melihat anak-anak itu mengerumuni Aisyah dengan tangisan.


Meskipun begitu, Shahih tetap tenang seperti biasa, ia hanya memperhatikan jemari-jemari Aisyah yang beberapa kali bergerak.


Tak lama setelah Alfa menenangkan ketiga anak itu, ia baru sadar kalau Shahih sudah tidak ada di antara mereka.


"Shahih di mana?" tanyanya. "Kirain tadi dia ada di sini loh," ujar Asyraf. Alfa tidak menyangka anak itu tiba-tiba menghilang dari pengawasannya.


Asyraf mendapati sebuah bolpoin tampak menggantung di sisi meja dalam keadaan masih berayun.


"Dia baru saja pergi setelah memakai bolpoin itu!" ujar Asyraf, ia pun langsung berlari keluar untuk mengejarnya.


Di sisi lain Alfa mencoba melihat apa yang baru saja Shahih tulis. "Jangan cari aku. Aku cuma pergi dalam sepekan, setelah itu aku kembali," ujar Shahih dalam tulisannya.

__ADS_1


"Sepekan? Bukankah sepekan lagi kalian ada perpulangan? Kenapa Shahih kabur lagi sekarang?" tanya Alfa keheranan.


Shadiq dan Hasan merasa tahu alasan mengapa Shahih pergi begitu saja. Mereka pikir ia sengaja menghindari sidang angkatan yang akan memaksanya berbicara mengenai pencurian ponsel itu.


"Ada apa? Kalian tahu alasannya?" tanya Alfa. Hasan hendak memberitahu, namun Shadiq mencegatnya, ia hanya berisyarat dengan menggelengkan kepala. Akhirnya Hasan pun mengurungkan niatnya untuk berbicara.


Karena mereka berdua tak kunjung bicara, akhirnya Alfa pun pergi menyusul Asyraf untuk mengejar Shahih.


"Kira-kira Shahih benar-benar balik nggak yah?" tanya Shadiq khawatir, ia terus menatap tulisan yang terlihat ditulis dengan tergesa-gesa itu.


"Semoga ibu bisa cepat bangun dan suruh dia nggak pergi-pergi lagi. Kalau ibu yang bilang, dia pasti menurut," ujar Hasan.


"Kuharap juga begitu," ujar Shadiq lalu menatap wajah ibunya sambil beberapa kali mengusap-usap tangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah sepekan berlalu, setelah Shadiq, Asyraf, dan Hasan pulang dari asrama, mereka langsung menjenguk ibu mereka sekali lagi.


Shahih tak kunjung datang, mereka hanya bisa berharap Aisyah bangun dan mengatasi masalah-masalah itu. Mereka pikir diri mereka masih terlalu kecil untuk menghadapi Shahih.


"Benarkah? Kalau gitu mari kita jemput ayah kalian, bawa dia pulang ke rumah," ujar seorang anak.


Shadiq dan Hasan masih belum tahu suara siapa itu, ia pikir itu adalah suara Asyraf. "Shahih? Sejak kapan kau di situ?" Asyraf keheranan, ia yang pertama melihat anak itu ada di antara mereka.


"Apa maksudmu Shahih? Jemput ayah ke rumah? Maksudmu menggali kuburannya? Kamu gila?" tanya Shadiq, ia semakin emosi karena perkataan Shahih.


"Kalian yang bilang kan? Kalau ayah ada di sini mungkin aku nggak akan pergi-pergi lagi. Kalau begitu, coba buktikan! Kita bawa ayah ke sini," ujar Shahih.


"Sekali bicara lagi, aku nggak akan ragu memukulmu! Dasar anak durhaka!" ujar Shadiq.


"Aku nggak bercanda kok. Aku serius ingin ajak kalian menjemput ayah," ujar Shahih. "Maksudmu, dia masih hidup?" tanya Asyraf.


"Tentu saja, aku nggak bilang kita akan menggali kuburannya lalu membawanya ke rumah. Aku sudah coba gali kuburan itu, tapi nggak ada apa-apa di sana," ujar Shahih.


"Ngga... nggali kuburan?" Shadiq tampak tercengang mendengar perkataannya. "Kamu gila? Gali kuburan? Ma... maksudmu, kamu menggali kuburan ayah?" tanya Hasan, wajahnya makin pucat.

__ADS_1


"Benar sekali, tapi nggak ada apa-apa, kosong," ujar Shahih sambil menunjukkan foto liang kubur Ghozali.


Hasan sempat memejamkan mata karena takut dengan apa yang ada di liang kubur itu. "Loh? Itu benar-benar kosong," ujar Asyraf keheranan.


"Ko.. kosong?" Shadiq mencoba memeriksa foto itu. "Kamu yakin itu kuburan ayah?" tanya Shadiq. "Kau kira aku gali kuburan siapa?" tanya Shahih.


"Kamu benar-benar psikopat, Shahih! Berani sekali menggali kuburan!" ujar Hasan. "Lah, nggak ada apa-apa di sana, apa yang perlu ditakutkan?" tanya Shahih keheranan.


"Kau ini benar-benar lugu atau nekat? Kau pikir menggali kuburan orang adalah hal yang wajar?" tanya Asyraf, ia sempat menggeleng kepala.


"Aku nggak peduli dengan kesan kalian padaku, yang jelas untuk sekarang, aku butuh bantuan kalian," ujar Shahih.


"Tunggu dulu! Kalau di kuburan ayah nggak ada apa-apanya, lalu jenazah ayah di mana?" tanya Hasan penasaran.


"Kayaknya ingatan kalian berdua sangat kacau! Dari awal memang ayah dikuburkan tanpa jenazah, cuma ada nama doang," ujar Shahih.


"Loh kok bisa?" Asyraf penasaran. "Pria itu dinyatakan hilang di lautan, nggak ada yang bisa menemukannya hanya ada pakaian yang berlumuran darah," ujar Shahih.


"Itu terlalu mencurigakan!" ujar Asyraf. Kalau saat itu kau bersama kami, mungkin kau akan mengerti satu hal.....ayah belum mati," ujar Shahih.


"Apa? Ayah belum meninggal? Apa maksudmu Shahih?" tanya Hasan keheranan. "Aku sudah curiga dari awal, bahkan sebelum berita kecelakaan itu. Kalian ingat malam hari saat ayah mengajak kita ke rumah sakit?" tanya Shahih.


"Hiih! Jangan ingat-ingat itu lagi!" ujar Hasan merinding, ia tidak ingin mengingat saat dirinya melihat langsung operasi bedah yang dilakukan oleh ayahnya.


"Kalian berdua memang benar-benar bodoh, untung saja saat itu kalian nggak berbalik badan karena takut," ujar Shahih.


"Kamu yang memaksa kami lihat operasi itu!" ujar Hasan kesal. "Tepat! Sekali kalian menengok ke belakang, mungkin kita bertiga akan mati," ujar Shahih.


"Kok bisa? Mati kenapa?" tanya Shadiq keheranan. "Kalian nggak waspada dari awal? Mereka tiba-tiba membawa kita ke dalam mobil yang tertutup rapat, tahu-tahu sudah ada di dekat ruang operasi ayah. Mereka menodongkan senapan ke arah kita bertiga!" ujar Shahih.


"Oh, jadi alasanmu panik dan berkeringat saat itu bukan karena takut lihat operasi bedah itu?" tanya Shadiq. "Ngapain aku takut sama begituan, kalian nggak sadar kalau darah yang mengalir di tubuh kalian juga berwarna merah? Kalian nggak sadar kalau jantung yang kalian lihat saat operasi itu, sama seperti jantung yang ada di dada kalian?" tanya Shahih.


"Hentikanlah! Mendengar perkataan itu membuatku lemas," ujar Hasan. "Makanya, nggak usah banyak tanya lagi! Pokoknya aku butuh bantuan kalian!" ujar Shahih.


"Bantuan buat apa?" tanya Asyraf. "Mencuri," ujar Shahih sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2