Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Keluarga yang rumpang


__ADS_3

Aisyah tidak bisa istirahat dengan tenang, ia terus memikirkan Shahih, ia sangat khawatir kalau anak itu kenapa-kenapa.


Karena sering terbangun di malam hari hingga nafsu makannya hilang, akhirnya Aisyah jatuh sakit dan harus menjalani rawat inap.


Hanya Ghozali dan Aisyah yang sangat gelisah setelah kepergian Shahih. Mereka memang belum pernah merasakan kehilangan anak mereka dengan cara yang seperti itu.


Mereka benar-benar tidak menyangka kalau Shahih memutuskan pergi dari rumah.


Alfa pun akhirnya menjenguk Aisyah di rumah sakit, ia sangat khawatir dengan kakaknya itu. "Kak, kenapa sampai sakit begini? Kakak belum pulih sepenuhnya loh! Kok udah sakit-sakitan lagi sih!" keluh Alfa.


Aisyah tidak menjawab, wajahnya benar-benar pucat pasi. Ia merasa seolah ditinggal mati oleh anaknya. Tak lama kemudian Asyraf pun datang, ia baru saja membeli makanan untuk Aisyah.


"Lagian kenapa dih anak itu sampai pergi dari rumah segala! Benar-benar durhaka!" ujar Alfa.


Asyraf langsung menatapnya penuh benci. "Sebaiknya paman sadar diri, siapa yang membuat Shahih pergi? Itu karena kalian semua para orang dewasa yang tidak mengerti perasaan anak-anak," ujar Asyraf.


Alfa langsung menarik lengan anak itu, membawanya keluar ruangan. "Bicara apa kamu ini? Jangan bikin ribut di depan kakakku! Kamu... sama saja menyebalkannya dengan Ghozali! Kalian benar-benar mirip!" ujar Alfa geram.


"Kalau saja paman nggak membeberkan rahasianya, ia mungkin akan tetap tinggal di rumah. Kalau paman nggak mengingkari janji, dia mungkin nggak bakal pergi," ujar Asyraf.


"Rahasia ap......" Alfa hendak bertanya, namun ia teringat janji yang ia buat dengan Shahih. "Baru ingat? Paman pikir itu hal sepele?" tanya Asyraf.


"Bu... bukannya sepele! Ibu dan ayah kalian yang memaksaku bicara," ujar Alfa. "Bukankah paman orang dewasa? Paman bisa buat alasan yang logis daripada melemparkan semua beban pertanyaan itu pada Shahih. Kalau paman kasih tahu orang lain, lalu buat apa dia minta janji untuk merahasiakannya? Paman nggak pernah berpikir kalau janji itu sangat ia percayai?" tanya Asyraf.


"Paman nggak berpikir sejauh itu! Tapi ini baru pertama kali paman membeberkannya, pakan benar-benar minta maaf," ujar Alfa, ia tidak sadar kalau keputusannya membeberkan rahasia Shahih menimbulkan masalah besar.


"Paman minta maaf ke siapa? Aku bukan Shahih, paman! Anak itu sudah pergi entah ke mana," ujar Asyraf.


"Kalau kamu juga tahu rahasianya, kamu pasti tahu kan ke mana ia pergi?" tanya Alfa penuh harap.


"Mana kutahu! Paman tahu apa yang terjadi setelah Shahih menerima banyak pertanyaan dari ayah dan ibunya? Dia menangis, paman! Selama ini baru saat itu aku melihatnya menangis! Dia terisak sampai sesak nafas, namun memutuskan pergi dari rumah saat hujan lebat," ujar Asyraf.

__ADS_1


"Pa.. paman nggak tahu kalau itu menyakiti hatinya! Tapi ini baru pertama kalinya paman membeberkan rahasianya, harusnya dia mengeluhkannya pada paman dulu!" ujar Alfa.


"Paman cuma cari alasan biar merasa nggak bersalah! Paman masih nggak ngerti juga Shahih orangnya kayak apa? Dia itu benar-benar bertekad. Sekali dia memutuskan sesuatu, ia akan terus pada keputusannya! Sebenarnya ia sudah berniat untuk pergi dari rumah hampa itu sejak terlibat masalah di pesantren, namun ia dilema ketika ibunya sadar setelah beberapa tahun terbaring di rumah sakit. Ia juga berpikir untuk tetap di rumah, namun rasa kecewanya membuatnya sakit hati dan pergi begitu saja," ujar Asyraf.


Alfa terdiam seribu bahasa, ia tidak bisa mencari alasan lagi untuk menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah.


"Cobalah hibur kakak paman itu, Shahih pergi juga karena paman sendiri, jadi paman yang harus tanggung jawab," ujar Asyraf.


"Paman harus berbuat apa untuk menenangkan ibu kalian?" tanya Alfa. "Meskipun Shahih pergi, sebenarnya dia memang punya kehidupan di tempat lain, dia nggak terlantar begitu saja. Ada beberapa orang dewasa yang tinggal bersamanya," ujar Asyraf.


"Be... benarkah? Kamu tahu dari mana?" tanya Alfa. "Aku pernah lihat tempatnya loh, pernah tinggal semalaman di sana juga. Aku juga mencoba mencarinya di sana kemarin, tapi ternyata tempat itu sudah kosong. Mereka pasti pindah karena tempat mereka diketahui oleh orang asing," ujar Asyraf.


"Berarti dia tetap baik-baik saja kan? Dia nggak akan kelaparan atau kesusahan mencari tempat tinggal?" tanya Alfa. "Nggak," jawab Asyraf singkat, ia pun langsung pergi dari rumah sakit sedangkan Alfa dengan semangat hendak menyampaikan perkataannya itu pada Aisyah.


Disisi lain Ghozali tampak begitu frustasi, malam telah tiba, namun ia tidak bisa membaringkan dirinya untuk istirahat. Biasanya Aisyah saat ini sedang menghiburnya hingga tertidur nyenyak, namun istrinya itu sedang terbaring di rumah sakit.


Pikirannya benar-benar kacau, ia harus bekerja, memikirkan kepergian Shahih, hingga mengurusi istrinya yang sakit. Ia merasa rumah tangganya benar-benar kacau seolah ingin mengakhirinya.


"Ehm.... itu.... anu... aku boleh tidur bareng ayah?" tanya Shadiq. Ghozali mencoba mencerna perkataannya, ia tidak terlalu memerhatikan saat Shadiq berbicara tadi.


"Nggak boleh ya?" Merasa pertanyaannya tak terjawab, Shadiq pun akhirnya melangkah mundur keluar kamar ayahnya itu, ia hendak pergi ke arah ruang keluarga.


Ghozali ingat betul perkataan Asyraf yang mengkritiknya terkait orang dewasa. Sudah cukup Shahih saja yang merasa muak, ia tidak ingin anak-anak yang lainnya ikut kecewa terhadapnya.


Ia pun dengan cekatan langsung menghampiri Shadiq. "Boleh kok," ujar Ghozali sambil memeluk anak itu dari belakang.


Akhirnya Shadiq langsung masuk ke kamar dan membaringkan diri di kasur, nampaknya ia hanya berniat numpang kasur, bukannya karena ingin tidur dengan ayahnya, tidak seperti Syihab yang selalu melekat pada lengan Ghozali saat tidur.


"Kenapa tiba-tiba kamu pengin tidur bareng ayah?" tanya Ghozali, ia sempat merasa canggung karena Shadiq tidak mengajaknya bicara sedikit pun. Ia memutuskan memulai bicara seperti yang Asyraf sarankan padanya.


"Si Hasan nggak mau tidur bareng aku, katanya badanku terlalu besar dan bau," ujar Shadiq. "Bau? Bau apa?" tanya Ghozali keheranan, ia bahkan sampai mengendus-endus sekitar Shadiq.

__ADS_1


"Dih! Ayah ngapain sih? Geli tahu!" ujar Shadiq, pada akhirnya Ghozali malah menggelitiknya.


"Nggak ada yang bau kok! Bau apa sih?" tanya Ghozali keheranan. Shadiq merasa malu untuk menjawabnya. "Bilang aja, nggak papa," ujar Ghozali dengan raut wajah santai, mulai saat itu ia ingin membuat anak-anaknya bersifat terbuka.


"Ka... kata Hasan bau badanku sama kayak ayah dan kak Syihab, katanya nggak suka," ujar Shadiq.


"Bau badan ayah? Kak Syihab?" Ghozali mencoba mengendus-endus tubuhnya sendiri kemudian terdiam sejenak. "Oh, bau seperti ini! Memangnya kamu juga punya bau seperti ini?" tanya Ghozali penasaran. Shadiq hanya mengangguk sambil menutupi sebagian wajahnya karena malu.


Akhirnya Ghozali menemukan anak yang benar-benar mirip dengannya. Ia pikir selama ini Syihab adalah anak yang paling mirip dengannya, namun setelah memerhatikan Shadiq, ternyata anak itu mengalami pertumbuhan yang sama dengannya.


"Nggak papa kok! Nggak usah malu! Dulu ayah juga begitu, walaupun masih SMP, tapi kayak orang berumur dua puluh tahunan," ujar Ghozali sambil tertawa.


Sekali lagi Ghozali penasaran dengan seberapa mirip anak itu dengannya. Sayangnya tidak seperti Syihab yang wajahnya hampir sepenuhnya mirip dengannya, Shadiq memiliki rambut yang mulai turun, tidak berdiri seperti landak lagi. Seiring bertambahnya usia, ia juga semakin tampak berbeda dari Hasan yang merupakan adik kembar identiknya.


"Kalau kamu pengin tidur di sini gara-gara Hasan, kenapa nggak tidur di tempat Asa atau kak Syihab saja?" tanya Ghozali penasaran.


"Aku nggak nyaman sama Asa, dia beda banget sama Shahih," ujar Shadiq, ia masih ingat kritikan anak itu saat tidur bersamanya, bahkan marah-marah hanya karena minta maaf.


"Kalau kak Syihab gimana? Kayaknya kalian berdua sangat akrab loh!" ujar Ghozali. Lagi-lagi Shadiq menutupi setengah wajahnya dengan selimut.


"Aku takut," jawab Shadiq. "Loh? Takut kenapa? Kamu lebih takut sama kak Syihab daripada ayah?" tanya Ghozali. "Bu... bukan itu! Kak Syihab sangat aneh dan...... dan...." Shadiq tampak enggan menjelaskan lebih detailnya. Ghozali pun mengangguk dengan wajah prihatin, ia paham kata 'aneh' yang Shadiq maksudkan.


"Benar juga! Kakakmu benar-benar aneh! Ayah juga takut," ujar Ghozali. "Curang!" Suara besar tiba-tiba muncul dan menggema hingga ke seluruh isi rumah. Syihab tampak seperti seseorang yang memergoki kekasihnya sedang selingkuh.


Ia langsung menghampiri Shadiq lalu mencubit pipinya. "Kenapa kamu tidur di sini?" tanya Syihab. "Kak, lah! Lagi ngapain sih?" keluh Shadiq.


"Ayah tampak enggan kalau tidur denganku, tapi tidur sama Shadiq kok malah asyik ngobrol!" Syihab tidak terima. Ia segera berbaring di kasur agar ayahnya tidak bisa mengusirnya begitu saja.


"Syihab! Sempit loh! Tidur di kamarmu sendiri! Jangan di sini!" ujar Ghozali. Syihab tetap bergeming, ia langsung menarik selimut yang dipakai Shadiq.


Akhirnya Ghozali pun membaringkan diri dengan pasrah. "Ayah di tengah aja!" ujar Shadiq, ia tidak ingin tidur bersampingan dengan Syihab. "Iya-iya," ujar Ghozali. Kedatangan Syihab ke kamar itu membuat mereka memutuskan untuk langsung tidur.

__ADS_1


__ADS_2