Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Keputusan yang bijak


__ADS_3


Bel rumah berdering, Aisyah membukakan pintu dan mendapati seorang pria di depan rumah, pria itu adalah adiknya.


"Alfa, cepat sekali kamu ke sini," ujar Aisyah. "Sebaiknya hati-hati saat buka pintu rumah, kak! Periksa dulu siapa yang ada di luar, kalau pria asing kan bahaya! Jangan asal buka pintu rumah untuk pria lain, banyak orang tak bermoral zaman sekarang, mereka lebih mirip binatang!" ujar Alfa.


"Kamu masih suka berbicara kasar seperti biasanya," ujar Aisyah. "Aku hanya bicara kenyataannya saja, kenyataannya banyak pria yang seperti itu," ujar Alfa kemudian duduk di sofa.


"Jadi? Apa masalah kakak dengan mas Ghozali? Apakah ia bersikap kurang ajar seperti binatang juga? Perlukah kubalas? Sepertinya datang ke rumah ini membuat emosiku meluap-luap. Aku harus mendatangi tempat kerjanya dan memberinya pelajaran," ujar Alfa geram lalu beranjak dari sofa.


"Sudahlah, aku nggak mau menambah masalah lagi! Sudah muak!" ujar Aisyah. "Kalau begitu minta cerai saja! Cari orang lain yang lebih baik! Kalau memang nggak ada, kakak hidup sendiri saja, ntar aku bantu mengurusi anak-anak," ujar Alfa.


"Itu berlebihan! kamu juga akan menikah nanti, kalau kamu terus ngurusi kakak, ntar istrimu makan apa?" tanya Aisyah. "Kalau begitu aku nggak perlu nikah, nggak tertarik," ujar Alfa.


"Hei! Sembarangan! Kamu harus menikah loh! Jangan sampai nggak menikah!" ujar Aisyah. "Argh! Sudahlah! Abi minta kakak pulang sekarang juga, cepat beres-beres!" ujar Alfa.


"Baiklah, tunggu sebentar!" ujar Aisyah sambil beres-beres. Akhirnya ia pun pergi ke rumah orang tuanya. Ia disambut hangat oleh ayah dan ibunya, tentu saja juga karena ia membawa tiga bayi kembar yang menggemaskan.


"Abi sudah bilang ke Ghozali, ia akan datang nanti sore," ujar Hamid. "Huh, tumben sekali ia mau pulang sore, biasanya larut malam baru pulang," ujar Aisyah sebal.


"Hush! Nggak boleh begitu Aisyah! Dia itu suamimu! Nggak baik menjelek-jelekkannya di depan orang lain!" tegur Sarah.


"Tetap saja Umi! Ia pulang pergi seperti numpang tidur doang! Aku nggak tahu apa isi pikirannya, kok bisa ia pulang dengan tenang, tanpa khawatir dengan anak-anaknya, bahkan masih minta dilayani hingga tertidur lelap," ujar Aisyah, saat itu juga Sarah menamparnya.

__ADS_1


"Aisyah! Apakah Umi pernah mengajarkan seperti itu? Apakah Umi pernah membicarakan keburukan ayahmu padamu? Kapan? Berani-beraninya kamu bersikap seperti itu!" Sarah tampak marah besar. Aisyah pun menangis.


"Sudahlah Sarah, jangan terlalu keras padanya! Ia datang ke sini untuk menenangkan diri, jangan membuatnya semakin tertekan," ujar Hamid.


"Abi sama mas Ali tuh beda jauh Umi! Umi nggak tahu seperti apa rasanya karena nggak ngalamin hal ini!" ujar Aisyah. Meskipun begitu Sarah tetap geram, ia hendak menamparnya sekali lagi, namun Alfa mencegahnya, ia yang terkena tamparan Sarah. "Sudah! Umi! Sudah! Sabar," ujar Alfa kemudian menuntun Sarah ke dalam kamar.


Beberapa jam kemudian Ghozali pun datang ke rumah, Hamid langsung menyapanya. "Aduh, maaf sekali Ghozali karena memintamu datang ke sini di hari kerjamu. Kamu bahkan sampai harus berpenampilan rapi hanya untuk bertemu mertuamu ini," ujar Hamid.


"Nggak apa-apa, Abi! Aku harus menyelesaikan masalah ini. Aku minta maaf karena banyak melakukan kesalahan," ujar Ghozali.


Akhirnya mereka berlima pun duduk di ruang tamu. "Abi, Umi, sekali lagi aku minta maaf karena membuat suasana hati kalian memburuk, karena masalah pekerjaan, aku jadi nggak bisa memperhatikan Aisyah dengan baik," ujar Ghozali.


"Kalau begitu ceraikan saja!" ujar Sarah dengan wajah dinginnya. "Sarah! Apa maksudmu?" tanya Hamid tidak mengerti.


Ghozali hanya menggeleng kepala, ia bahkan sampai berlutut di hadapan mereka berempat, membuat Aisyah semakin merasa tidak nyaman.


"Maafkan aku, Umi! Aku akan instrospeksi diri, aku benar-benar nggak tahu perasaan Aisyah selama ini, aku akan memperbaiki hubungan kami! Aku nggak ingin cerai! Aku benar-benar nggak ada niatan untuk membencinya," ujar Ghozali.


Melihat suaminya sampai bertekuk lutut dan memohon-mohon seperti itu membuat Aisyah menangis, Sarah pun menenangkannya. Setelah perbincangan selesai, Hamid menyuruh mereka pulang karena Syihab dan Zahra di rumah hanya berdua saja.


"Ghozali, kamu harus sabar menghadapi istrimu yak, jangan terlalu tegang saat bertemu denganku. Anggap saja ayah sendiri, pasti berat karena nggak ada yang membelamu ketika ada masalah seperti ini. Jangan sungkan-sungkan untuk berbicara denganku, jangan terlalu formal," ujar Hamid sambil memijat-mijat lengan Ghozali.


Ghozali merasakan kehangatan dari pria itu, bahkan rasa tertekannya menghilang seketika, ia pun langsung menangis. "Baik, Abi! Kapan-kapan kita bicara lagi," ujar Ghozali.

__ADS_1


"Sst! Baiklah! Baiklah! Jangan menangis di sini, orang-orang akan melihat," ujar Hamid. Akhirnya Ghozali membawa Aisyah dan anak-anaknya kembali ke rumahnya. Saat itu suasananya agak canggung.


Sesampainya di rumah, mereka berdua mendapati Syihab dan Zahra tertidur di sofa bersama. Pemandangan anak-anak kecil yang tidur seperti itu sangatlah menggemaskan, membuat suasana canggung pun hilang.


"Aisyah, kalau kamu ada yang nggak suka dari ku, bilang saja yak! Jangan diam. Kita cari solusi bersama," ujar Ghozali. Aisyah mengangguk.


"Untuk masalah nongkrong-nongkrong di kafe juga aku akan segera menyelesaikannya, aku nggak mau kita bertengkar hanya karena masalah ini," ujar Ghozali, sekali lagi Aisyah mengangguk.


"Pertama, kira-kira apa yang nggak kamu suka dariku? Bisa katakan? Ada yang kamu inginkan Aisyah?" tanya Ghozali. Aisyah berbalik badan, ia tidak sanggup berhadapan dengan Ghozali. "Panggil aku sayang, jangan Aisyah," ujar Aisyah malu-malu. Ghozali pun memeluknya dari belakang.


"Baiklah, sayang! Dengan begini cukup kan?" tanya Ghozali. Aisyah hanya mengangguk tersenyum, Ghozali pun mencium pipinya.


"Lalu apa lagi, Aisyah... Eh, sayang!" Ghozali keceplosan. Hal itu membuat Aisyah tertawa. "Maaf, sayang! Sepertinya karena kejadian kemarin aku nggak terbiasa memanggilmu seperti ini. Jadi apalagi yang kamu inginkan dariku? Karena sudah berbaikan, perlukah kita lakukan malam ini? Syihab dan Zahra sedang tidur loh," ujar Ghozali, pelukannya menjadi semakin erat.


"Sholat mas! Sholat! Tadi kita belum sholat Maghrib dan Isya!" ujar Aisyah. "Baiklah, kita lakukan setelah sholat?" tanya Ghozali. "Habis sholat, aku ingin mendengarmu membaca Al-Qur'an," ujar Aisyah.


"Lah? Kamu sedang mengejekku, Sayang? Bukankah kamu yang paling tahu kalau aku nggak bisa baca Al-Qur'an dengan benar? aku sendiri bahkan nggak menyadarinya," ujar Ghozali.


"Makanya, malam ini kita belajar membaca Al-Qur'an, bukankah ini PR dari Abi bahkan sebelum kita menikah?" tanya Aisyah. "Benar sekali, aku harus cepat-cepat menunjukan pada Abi kalau aku sudah bisa membaca Al-Qur'an, ia pasti sangat senang," ujar Ghozali.


"Makanya, ayo sholat lalu belajar membaca Al-Qur'an," ajak Aisyah. "Baiklah, Aisyah...... Eh, sayang, maksudku!" Ghozali keceplosan lagi. Kali ini Aisyah tertawa terbahak-bahak. "Nggak usah tegang juga mas! Biasa aja," ujar Aisyah.


"Lah, kamu kan yang paling tahu kalau aku punya kebiasaan tegang. Apalagi di bagian bawahku sekarang ini," ujar Ghozali. "Ah, mas genit sekali!" ujar Aisyah kemudian menarik lengan Ghozali untuk segera berwudhu.

__ADS_1


__ADS_2