Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Silaturahmi


__ADS_3

Ghozali baru saja selesai berbelanja dengan Zahra, ia merasa senang bisa berjalan di samping anaknya yang sudah tumbuh dewasa. Ia tidak menyangka kalau putrinya tumbuh secepat itu.


"Ayah ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya Zahra, ia merasa tidak nyaman dengan sikap ayahnya. "Bukan apa-apa, kamu nggak usah pedulikan ayah," ujar Ghozali.


Senyumannya makin lebar karena Zahra tiba-tiba mengajaknya berbicara. Di sisi lain, Zahra tampak menyembunyikan wajah kesalnya. Ia memang merasa bahagia karena ayahnya masih hidup, namun semakin lama ia melihatnya, ia semakin kesal.


"Ayah, nggak kerja lagi? Kayaknya dari kemarin ayah di rumah terus," ujar Zahra keheranan.


"Loh? Kamu dah bosan lihat ayah?" tanya Ghozali. "Ih! Bukan gitu!" Zahra makin kesal. "Maaf, ayah cuma bercanda kok," ujar Ghozali, ia hanya bisa tertawa melihat raut wajah putrinya.


Selagi mereka berjalan menuju rumah, seorang pria tampak tergesa-gesa sambil membawa koper menuju rumah mereka.


"Itu siapa?" tanya Ghozali keheranan, ia hanya bisa melihat bahu lebar pria itu. "Eh? Itu..... Kak Syihab? Kenapa dia di sini? Harusnya kan lagi kuliah!" ujar Zahra terkejut.


"Pria itu Syihab? Masa?" Ghozali tidak percaya. Zahra pun melambaikan tangan ke arah pria itu sambil memanggilnya.


Pria itu pun menoleh ke arahnya, sekilas ia melihat lambaian tangan Zahra, namun perhatiannya teralihkan pada Ghozali sedang berada di sampingnya.


Ia pun langsung menjatuhkan koper yang ia bawa lalu menghampiri Ghozali dengan wajah terkejut bukan main.


Saking tidak percayanya, ia terus mendekatkan wajahnya, ia ingin memastikan kalau yang ia lihat bukanlah halusinasi.


"Ayah? Ini benar ayah kan?" tanya Syihab tidak percaya. "Benar, ini ayah nak. Kamu sudah sangat besar yah, padahal terakhir ayah lihat masih segini," ujar Ghozali sambil membandingkan dengan bahunya.


Syihab tidak terlalu peduli dengan perkataan ayahnya, karena saking bahagianya ia langsung memeluk ayahnya itu sambil menangis terharu. "Ayah dari mana aja? Kenapa nggak pulang-pulang?" tanya Syihab, ia semakin erat memeluk ayahnya.


"Iya, iya Syihab! Maafkan ayah! Bisa hentikan? Lenganmu sangat kuat sekali, ayah nggak bisa nafas," ujar Ghozali, ia tidak bisa bergerak sedikitpun dari pelukan Syihab.


Setelah pertemuan mengharukan itu, akhirnya mereka masuk ke dalam rumah. Zahra langsung menuju ke dapur untuk memasak sedangkan Syihab asyik mengobrol dengan ayahnya.


"Jadi kamu sudah kuliah sekarang?" tanya Ghozali. "Benar sekali, ayah! Aku ambil program beasiswa," ujar Syihab bangga.


Ghozali sedikit tidak setuju dengan perkataan anaknya itu. "Maafkan ayah, nak! Harusnya ayah yang biayain sekolahmu," ujar Ghozali. "Loh? Ayah nggak salah apa-apa kok! Aku dapet beasiswa karena prestasiku yah!" ujar Syihab, ia tidak bisa berhenti bangga menunjukkan prestasinya pada Ghozali.


"Jadi, kamu ambil fakultas apa?" tanya Ghozali penasaran. "Fakultas Hukum," jawab Syihab singkat. "Lah? Kamu ambil bidang Sosial dan Humanitas? Kamu ambil jurusan apa waktu SMA?" tanya Ghozali sekali lagi. "IPS, ayah," jawab Syihab. Ghozali sempat mengerutkan dahi.


"Aku memang sukanya ilmu-ilmu sosial dan politik ayah, itu lebih menarik daripada sekedar hitung-hitungan di dalam kelas! Lebih seru bisa pergi berkeliling untuk survey di masyarakat," ujar Syihab.


"Ya sudahlah, kalau itu memang keinginanmu, nggak apa-apa," ujar Ghozali pasrah meskipun ia sendiri tidak rela.


"Kenapa ayah? Aku nggak boleh ambil fakultas hukum?" tanya Syihab keheranan. "Nggak kok, kamu kan pintar. Ayah pikir kamu ingin menjadi dokter seperti ayah," ujar Ghozali.

__ADS_1


"Lah, kalau keluarga kita dokter semua, bukankah membosankan?" tanya Syihab. "Yeah, benar juga sih! Kalau begitu tekuni saja bidang yang kamu sukai. Ayah akan terus mendukungmu," ujar Ghozali sambil menepuk bahu Syihab.


Zahra pun datang menyuguhkan dua cangkir teh. Ghozali dan Syihab pun mulai menyeduhnya dengan santai, namun Syihab terkejut karena teh yang ia seduh terasa hambar, Zahra menyuguhinya teh tawar.


"Ada apa, Syihab?" tanya Ghozali keheranan. "Ini nggak manis!" keluh Syihab. "Masa? Punya ayah manis kok," ujar Ghozali.


"Zahra! Kamu pasti sengaja nggak kasih gula!" ujar Syihab kesal. "Lah, kayak anak kecil saja, teh harus dikasih gula! Nasib baik udah aku buatin loh," ujar Zahra.


"Kalian berdua dari dulu nggak pernah kelihatan akur! Apa masalahnya sih?" tanya Ghozali keheranan. "Aku nggak ngapa-ngapain loh, yah! dia yang mulai," ujar Syihab.


"Jadi, kenapa Zahra?" tanya Ghozali. Zahra sendiri tidak tahu alasan mengapa ia sangat membenci Syihab, itu sudah terlalu lama dan membuatnya lupa.


"Kak Syihab orangnya nyebelin banget!" ujar Zahra. Karena tidak bisa menjawab pertanyaan Ghozali dengan benar, akhirnya ia pun pergi meninggalkan mereka berdua.


"Syihab, kalau mau istirahat dulu nggak papa, ntar lagi ngobrolnya," ujar Ghozali. Akhirnya Syihab pun pergi ke kamar dengan kopernya.


Hari ini Ghozali berniat pergi ke pesantren tempat Asyraf dulu tinggal. Ia pun mengajak keempat anaknya untuk ikut dan bersilaturahmi ke pesantren itu.


Akhirnya setelah berjam-jam perjalanan, mereka pun sampai di pesantren yang tampak sepi, tidak ada seorang pun yang terlihat di dalamnya, bahkan gerbangnya pun tertutup.


"Loh? Ini sudah tutup?" Ghozali kebingungan. "Anak-anak sedang pulang ke rumah masing-masing, jadi sepi di sini," ujar Asyraf kemudian membuka gerbang itu.


"Hei! Jangan asal buka!" tegur Ghozali. "Kenapa?" tanya Asyraf keheranan, Ghozali sendiri masih bingung dengan tindakan anaknya itu.


Akhirnya mau tidak mau Ghozali dan ketiga anaknya mengikutinya. Mereka pun sampai di depan rumah dinas milik direktur sedangkan Asyraf hendak mengetuk pintu rumah itu.


"Biar ayah saja," ujar Ghozali, ia menggantikan Asyraf untuk mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


Tak lama kemudian pintu pun terbuka, Salman agak terkejut karena melihat pria mengenakan jas rapi berada di depan pintu rumahnya. Sekilas ia menatap Ghozali dari atas sampai bawah, ia tahu betul kalau pakaian yang ia kenakan adalah barang mahal.


"A... ada keperluan apa ke sini pak?" tanya Salman agak gugup, ia pikir Ghozali adalah seseorang yang sangat penting karena memakai pakaian formal.


Asyraf pun muncul dari belakang Ghozali, saat itu Salman langsung mengenalinya. "Asa? Akhirnya kamu ke sini juga!" seru Salman bahagia. Asyraf pun langsung menghampirinya untuk mencium tangannya.


Ghozali sempat iri karena Asyraf tidak pernah melakukan itu padanya. "Jadi, ini siapa Asa?" tanya Salman penasaran. "Ini ayah kandungku," jawab Asyraf.


"A... ayah kandung?" Salman mencoba membandingkan berkali-kali wajah Asyraf dan Ghozali, namun tidak ada kemiripannya sama sekali.


"Dia sangat mirip dengan ibunya, bukan ayahnya," ujar Ghozali sambil menggaruk-garuk kepala, ia paham kalau Salman sedang membanding-bandingkan wajahnya.


"Oh, begitu kah, aku nggak nyangka, kamu punya ayah yang luar biasa, Asa! Syukurlah kamu bisa pulang ke rumah aslimu, Alhamdulillah," ujar Salman.

__ADS_1


Shadiq dan Hasan langsung muncul lalu menarik-narik lengan baju ayahnya, mereka berdua merasa tidak betah berlama-lama di tempat itu karena tidak ada hal yang bisa mereka lakukan.


"Walah, siapa remaja-remaja ini? Kakaknya Asa? Bukankah mereka berdua juga kembar?" tanya Salman terkejut, Ghozali pun tertawa.


"Benar sekali, saya punya dua pasang anak kembar, sebenarnya mereka adalah kembar berempat," ujar Ghozali.


"Kembar empat? Jadi mereka juga sebaya dengan Asa?" tanya Salman, Ghozali mengangguk.


"Masyaallah! Rezeki bapak benar-benar luar biasa!" ujar Salman, ia mempersilahkan Ghozali masuk ke dalam untuk berbincang-bincang, mereka berdua banyak mengobrol tentang Asa.


Sembari mereka berbincang-bincang, keempat anak lainnya hanya menunggu di depan. Shadiq dan Hasan sesekali mengambil kerikil kecil lalu melemparnya ke arah halaman, mereka merasa bosan. Di sisi lain Asyraf memeriksa beberapa tempat di pesantren itu mulai dari pintu, gerbang, dan tanaman-tanaman yang ada di sana, sedangkan Shahih tampak tenang sambil menikmati buku bacaannya.


Istri Salman pun datang untuk memanggil mereka berempat, ia membawa beberapa camilan.


Ini adalah pertama kalinya ia melihat Shahih, ia benar-benar terkejut karena wajah Shahih dan Asyraf sangat mirip, ia sendiri dapat mengetahui perbedaan keduanya karena aktivitas yang mereka lakukan. Asyraf memang sudah biasa berkeliling koridor pesantren untuk memeriksa apakah ada barang-barang yang rusak.


Anak-anak mulai memakan apa yang dibawakan istri Salman kecuali Shahih, ia masih sibuk membaca bukunya.


"Nak, mari sini! Makan bareng-bareng," ujar istri Salman, namun Shahih meresponnya dengan menggelengkan kepala.


"Shahih nggak pernah makan camilan seperti ini bu," ujar Asyraf menjelaskan. "Loh? Kenapa? Ini kan jajanan pasar, bukankah lebih sehat?" tanya istri Salman keheranan, ia sekilas menatap Ghozali yang sedang berbicara dengan Salman, setelah menilai pakaiannya, ia pikir Shahih hanya mau makanan mahal.


"Oh, kalau begitu biar ibu belikan sesuatu! Apa yang dia suka?" tanya istri Salman. "Bukan begitu bu, dia memang nggak makan camilan," ujar Asyraf.


"Dia sudah kenyang dengan buku bacaannya," ujar Hasan. "Aku dengar suaramu loh, pagi-pagi sudah nggosipin orang," ujar Shahih.


"Seenggaknya sopan dikit lah! Sini!" ujar Asyraf kesal. "Shahih sedang dalam mode menyebalkan, dia nggak bakal nurut meskipun kamu menegurnya," ujar Hasan.


"Sudah, nggak apa-apa, ternyata dia lucu juga ya," ujar istri Salman.


Setelah beberapa jam berlalu, Shahih pun memeriksa jam dinding yang terpasang di depan rumah. Ia langsung menutup bukunya lalu masuk ke dalam rumah, Ghozali dan Salman masih asyik berbicara.


"Ayah, dah sore," ujar Shahih. "Iya, bentar lagi," ujar Ghozali. "Shahih benar-benar anak yang hebat yah! Dia berani ke sini sendirian sambil menyerahkan dokumen tes DNA, dia berbicara terus terang kalau Asa adalah saudara kembarnya. Saya nggak nyangka wajahnya bisa sama persis seperti Asa," ujar Salman.


"Shahih? Dia ke sini sendirian?" Tampaknya Ghozali terkejut dengan hal itu, akhirnya banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya. Mulai dari bagaimana Shahih


tahu tentang Asyraf hingga bisa menemukannya di sini, semua pertanyaan itu sudah siap ia lontarkan.


"Ayah, pulang," ujar Shahih. "Sebentar," ujar Ghozali. "Pulang," desak Shahih, ekspresi datarnya membuat Salman merasa tidak nyaman.


"Ehm, Sepertinya anak-anak sudah kelelahan, biar kuantarkan mereka ke tempat istirahat," ujar Salman.

__ADS_1


"Pulang, kak Zahra sendirian di rumah," ujar Shahih. "Lah, kan ada Syihab," ujar Ghozali. "Kak Syihab nggak mungkin di rumah jam segini," ujar Shahih.


Akhirnya Ghozali terdesak untuk pulang, ia tidak bisa membantah Shahih yang dari tadi menyuruhnya pulang.


__ADS_2