
Ghozali sampai di rumah dengan nafas terengah-engah. "Ada apa ayah? Kok kayak habis dikejar-kejar setan," ujar Hasan keheranan.
"Ibu kalian.... sudah siuman!" seru Ghozali. "Benarkah? Ini beneran kan?" tanya Shadiq tidak percaya.
Meskipun Shadiq dan Hasan tampak kegirangan, Shahih dan Asyraf masih tetap berekspresi datar. Bahkan Asyraf sendiri tampak enggan untuk mengetahui hal itu, ia tidak tahu menahu tentang Aisyah sedikitpun, ia masih merasa asing dengannya.
Meskipun begitu, Ghozali tetap membawa mereka berempat ke rumah sakit untuk menjenguk ibu mereka.
Sesampainya di sana, Aisyah sudah dalam posisi duduk dengan dipan yang tertekuk sehingga ia bisa menyandarkan punggungnya.
"Shadiq? Hasan? Itukah kalian?" Aisyah tidak tahu mana yang Shadiq dan mana yang Hasan, wajah mereka berdua sudah tampak berbeda jauh.
"Iya ibu! Ini aku!" seru Hasan kemudian memeluk lengan ibunya dengan manja. Akhirnya Aisyah pun tahu kalau itu adalah Hasan.
Shadiq hanya duduk di samping dipan lalu meletakkan tangan ibunya yang hangat di pipinya. "Ibu kurus sekali," ujar Shadiq.
"Iya, maaf yah nak! Besok-besok ibu makan yang banyak biar nggak kurus," ujar Aisyah. Ghozali dan Syihab pun tertawa.
Di sisi lain Shahih dan Asyraf masih di belakang, belum menyapa. Aisyah benar-benar terkejut melihat dua anak yang sama persis, bahkan dari ekspresi hingga bentuk wajah mereka.
"Wah, ternyata kalian berdua benar-benar identik. Ibu nggak bisa bedakan mana Asa dan Shahih," ujar Aisyah. Aisyah memberi isyarat agar mereka berdua mendekat.
Ghozali pun menggiring mereka agar duduk di samping dipan Aisyah. Asyraf masih bingung hendak memanggil wanita di hadapannya itu dengan sebutan apa. Ia belum pernah mendapati ibu semuda ini seumur hidupnya selama diadopsi.
"Jadi, mana yang Shahih, dan mana yang Asa?" tanya Aisyah. Shahih tampak tidak tertarik untuk menjawab. Akhirnya Asyraf terpaksa membuka mulut.
"Aku Asa, t.. tante," ujar Asyraf, ia tidak terbiasa memanggil wanita seumuran Aisyah dengan sebutan ibu.
"Tante?" Aisyah sempat tertawa. "Dia juga nggak mau panggil aku ayah, nggak tahu kenapa," keluh Ghozali.
"Gapapa kok, kalau belum terbiasa nggak udah dipaksakan ya," ujar Aisyah, ia mencoba mengangkat tangannya untuk mengusap-usap kepala Shahih dan Asyraf.
__ADS_1
"Shahih, kenapa kamu diam saja? Nggak ada yang ingin kamu katakan buat ibu?" tanya Aisyah, ia masih prihatin karena Shahih tidak berubah sedikitpun, ia tidak pernah peduli dengan suasana di sekitarnya. Bahkan saat ini perhatiannya tertuju ke tempat lain.
Untuk menjawab pertanyaan Aisyah, Shahih hanya menggelengkan kepala. Ghozali merasa senang karena keluarganya kini benar-benar terasa lengkap. Ia langsung merangkul semuanya karena saking senangnya.
"Kita semua sudah bersatu lagi, jadi harus saling menjaga. Terkhusus Syihab dan Zahra, jangan sering bertengkar lagi. Syihab harus bantu adik-adikmu, dan Zahra juga harus sabar menghadapi kakakmu," ujar Ghozali.
"Kok kesannya aku sangat buruk sih yah!" keluh Syihab. "Iya juga! Kenapa aku yang harus sabar hadapi orang itu? Harusnya dia yang tahu diri!" keluh Zahra.
"Sudah! Sudah! Kalian berdua ini!" Aisyah mencoba melerai. Ia merasa senang karena bisa bertemu dengan semua anaknya. Bahkan ia tidak menyangka akan tetap bertahan bersama Ghozali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah beberapa pekan menjalani masa rehabilitasi, akhirnya Aisyah bisa pulang ke rumah untuk melakukan aktivitas sehari-harinya meskipun hanya aktivitas ringan.
Ghozali kembali meminta Wak Lehah untuk membantu pekerjaan rumah tangga karena Zahra dan anak-anak lainnya harus berangkat ke pesantren untuk sekolah.
Hari pertama Wak Lehah datang ke rumah itu dipenuhi rasa penasaran, ia tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan istri Ghozali setelah sekian lama.
"Permisi bu, hari ini saya akan bantu-bantu pekerjaan rumah," ujar Wak Lehah tampak bersahabat. Aisyah senang bertemu dengannya, apalagi karena Wak Lehah adalah wanita paruh baya yang usianya hampir dama seperti ibunya, ia tak segan-segan untuk berbicara santai.
"Jadi, sebelumnya ibuk sudah berapa lama kerja di sini?" tanya Aisyah penasaran. Sebenarnya setelah siuman, ia belum mendengar kabar apapun selain kenyataan bahwa ia tidak sadar selama tujuh tahun.
"Sudah lama mbak, sekitar tujuh tahun yang lalu, tapi saya cuma bekerja selama beberapa bulan, rumah ini tiba-tiba kosong nggak ada penghuninya setelah beberapa bulan saya bekerja. Mas Ghozali juga nggak bisa dikabari," ujar Wak Lehah.
"Nggak bisa dikabari?" Aisyah merasa ganjal dengan cerita Wak Lehah, ia belum tahu apapun soal rumah yang kemudian ditinggal kosong selama bertahun-tahun.
Ia semakin penasaran dan meminta Wak Lehah menceritakan semuanya. Sayangnya Wak Lehah sendiri tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi, ia hanya tahu kalau rumah itu tiba-tiba tak berpenghuni selama beberapa tahun.
Rasa gundah Aisyah semakin menjadi-jadi, bahkan saat Ghozali pulang, ia hanya menunjukkan wajah murungnya. Ia tidak berani bertanya karena takut Ghozali akan marah.
"Aku pulang, Sayang!" ujar Ghozali dengan penampilan serba rapi, ia sengaja tampil seperti itu agar istrinya lebih ceria, namun itu tidak berpengaruh.
__ADS_1
"Ya," ujar Aisyah singkat kemudian menutup pintu rumah. Ia langsung melepaskan jas yang dipakai Ghozali kemudian pergi ke kamar tanpa sepatah katapun.
"Sayang, ada apa?" tanya Ghozali sambil memeluk Aisyah dari belakang. Aisyah tampak enggan menatap wajahnya.
"Suasana hatimu sedang buruk? Bilang saja padaku, sayang," ujar Ghozali. "Ada yang mas rahasiakan dariku?" tanya Aisyah singkat.
Ghozali mengerutkan dahi. "Wak Lehah bercerita apa saja?" Ghozali balik bertanya. "Ini bukan masalah Wak Lehah mas! Dia orang luar! Dia nggak tahu apa-apa! Aku cuma ingin dengar penjelasan darimu. Tapi kalau kamu memang nggak mau menceritakannya, baiklah," ujar Aisyah kemudian melepaskan pelukan Ghozali.
Ghozali mencoba sabar menghadapi suasana hati istrinya itu. "Kamu mau kuceritakan dari mana?" tanya Ghozali sambil memeluk istrinya kembali.
"Dari awal, alasan kenapa rumah ini tiba-tiba kosong selama beberapa tahun," ujar Aisyah.
"Ba... baiklah, sebelum itu, biar kuberitahu dulu. Sebenarnya aku sendiri nggak tahu mulai kapan rumah ini kosong, saat itu juga aku nggak ada di rumah," ujar Ghozali.
"Nggak ada di rumah? Terus kamu di mana mas? Gimana dengan anak-anak?" tanya Aisyah dengan nada tinggi, emosinya semakin meningkat.
"Sebenarnya aku nggak mau ceritakan ini padamu, tapi aku juga nggak ingin membuatmu gelisah," ujar Ghozali. "Ceritakan saja," ujar Aisyah.
"Harus hari ini kah? Sudah malam loh," ujar Ghozali sambil menguap. "Aku ingin dengar sekarang," ujar Aisyah. "Besok saja, kita tidur lebih awal untuk malam yang melelahkan ini," ujar Ghozali sambil mengangkat tubuh Aisyah lalu membaringkannya di kasur.
"Hei! Aku belum mau tidur!" ujar Aisyah. "Sudah malam, sayang! Kita tidur dulu," ujar Ghozali sambil merangkul Aisyah dengan lengan besarnya agar ia tidak bisa beranjak dari posisi tidurnya.
Aisyah hanya bisa pasrah dengan permintaan suaminya. "Mas benar-benar manja!" ujar Aisyah. "Kamu lebih mengerti suamimu daripada siapapun, sayang," ujar Ghozali sambil memejamkan mata.
Aisyah mencoba memindahkan lengan Ghozali lalu meletakkan kepalanya di atasnya, namun ia merasa tidak puas, akhirnya ia mencoba menempelkan pipinya pada dada Ghozali.
"Kenapa kalian semua sangat menyukai dadaku?" tanya Ghozali keheranan. "Eh? Kalian? Memangnya ada lagi selain aku yang tidur denganmu?" Aisyah mulai bersikap curiga.
"Anak-anak yang lain juga begitu, Syihab, Zahra, dan Shadiq, mereka suka sekali menempelkan kepala mereka di dadaku," ujar Ghozali.
"Kupikir ini sangat menenangkan. Mendengar detak jantungmu..... ini seperti lagu pengantar tidur yang paling ampuh," ujar Aisyah. "Ada-ada saja," ujar Ghozali.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, kita belum pernah berfoto bersama dengan anak-anak lainnya. Selagi masih lengkap, aku ingin berfoto dengan mereka," ujar Aisyah.
"Permintaanmu itu membuatku sedih dan khawatir, Aisyah, seolah ini perpisahan..... kita bisa foto kapan-kapan kok, kalau semuanya pulang ke rumah. Tunggu saja waktu liburan," ujar Ghozali. Ia tidak sadar kalau Aisyah sudah tertidur di dekapannya. "Duh, katanya belum mau tidur," ujar Ghozali sambil mengusap-usap kepala Aisyah.