
"Syihab, makin lama jadi mirip ayahmu deh! Pakai kacamata hitam coba!" ujar Ifan. "Nggak lah, nggak punya," ujar Syihab, ia sebenarnya masih ragu-ragu dengan wajahnya itu.
"Kenapa sih? Kayaknya dari awal masuk kamu murung terus! Kangen ayah? Kangen ibu?" tanya Faisal.
"Nggak juga. Aku mau nanya, emangnya mukaku kayak monyet?" tanya Syihab. Seketika Ifan tertawa.
"Kok bisa kayak monyet? Dari mananya? Kalau kamu mirip monyet, lalu aku ini mirip apa? ikan koi?" tanya Ifan.
"Mungkin gara-gara godekmu, jadi disamain kayak monyet. Rambut di dekat rahang atasmu itu lurus, nggak keriting kayak kebanyakan orang," ujar Faisal.
"Jadi, emang kayak monyet?" tanya Syihab. "Ya enggak lah, kawanku! Apanya yang mirip monyet sih? Nggak ada monyet mancung kayak gitu, hidungmu lancip, keren banget pokoknya," ujar Ifan.
"Oh iya, kita kedatangan guru matematika baru kan? Bu Laura kan cuti melahirkan," ujar Faisal.
"Semoga aja perempuan gurunya, biar lebih asyik," ujar Syihab. "Pikiranmu perempuan mulu," ujar Ifan. "Apa salahnya, di sini bosan tiapa bangun pagi yang kulihat cuma laki-laki, ke kamar mandi lihat laki-laki lagi, di masjid laki-laki lagi, di dapur, di kantin, semuanya laki-laki! Hiburan kita cuma di kelas doang, itu pun cuma ketemu guru perempuan bukan gadis-gadis sebaya kita," ujar Syihab.
"Bener juga sih, kalau mau ngintip asrama sebelah, ntar kena sidang. Aku nggak mau dibangunin tengah malam cuma buat lihat muka santriwati, dah gitu yang coba kuintip malah bercadar semua," ujar Faisal.
"Kasihan banget nasibmu, makanya jangan diulangi lagi! Pokoknya guru perempuan di pesantren ini is the best!" teriak Syihab dengan suara keras.
Saat itu Alfa berlalu di hadapannya dengan tatapan tajam. "Buset serem banget! Pamanmu itu, segera kondisikan lah mukanya! Meresahkan sekali!" bisik Ifan.
"Aku juga nggak berani tahu! Ayahku juga babak belur sama dia, apalagi aku!" bisik Syihab.
"Eh serius? Ayahmu yang besar kekar itu? Kalah sama dia?" tanya Ifan keheranan. "Emangnya aku nggak pernah cerita sih?" tanya Syihab keheranan.
"Nggak leh," ujar Faisal. "Sebenarnya dia baik banget loh, belain aku. Ceritanya aku habis dipukul habis-habisan sama ayahku, terus dia datang dan membalasnya dengan pukulan, rasanya puas banget lihat itu, tapi akhirnya aku ngerasa kasihan sama ayahku, dia benar-benar babak belur," ujar Syihab.
"Waduh keren sih pamanmu," ujar Faisal. "Jelaslah! Pamannya dia kan pelatih beladiri juga di sini," ujar Ifan.
"Ayok langsung masuk kelas saja! Aku jadi penasaran sama guru baru itu," ujar Syihab semangat, ia pun langsung naik ke lantai dua, ke ruang kelas.
Mereka pun menunggu hingga beberapa menit setelah bel pelajaran dimulai. "Kenapa belum datang juga?" tanya Syihab keheranan.
"Sst! Sudah datang!" seru Ifan dari daun pintu ruangan. "Siapa? Laki-laki apa perempuan?" tanya Faisal.
"Perempuan bro! Masih muda lagi! Cantik banget!" seru Ifan. Syihab dan Faisal pun saling menepuk tangan kegirangan.
Seorang wanita berkacamata pun masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi dinginnya. Ia pun segera duduk di kursinya lalu memerhatikan seisi kelas. Saat itu suasana menjadi hening seketika karena sikap dinginnya.
Wanita itu agak terganggu dengan gerak-gerik Syihab, anak itu tampak berbisik dengan Faisal sambil sesekali cekikikan. Tentu saja wanita itu dapat memperhatikannya dengan jelas karena badan Syihab terlihat paling besar di antara anak-anak lainnya, apalagi ia duduk di kursi paling belakang.
__ADS_1
"Anak yang paling belakang sendiri, bisa tenang?" tanya wanita itu dengan wajah dinginnya. Akhirnya Syihab pun mencoba duduk dengan tegap.
Setelah tenang, wanita itu pun mulai berdiri di hadapan mereka. "Perkenalkan, nama saya Anita, hari ini saya datang menggantikan Bu Laura yang sedang cuti melahirkan! yak, saya langsung mulai pelajarannya," ujar Anita.
Syihab langsung mengangkat tangan. "Saya tidak membuka sesi tanya jawab," ujar Anita dengan ekspresi dinginnya. Anak-anak sekelas pun menertawakan Syihab.
"Siapa yang menyuruh kalian tertawa? Lucu?" tanya Anita. "Hahahaha! Lucu sekali!" ujar Syihab. "Wah ada yang ganas nggak sih?" sahut Faisal.
"Siapa yang bilang lucu tadi?" tanya Anita. Syihab pun mengangkat tangan. "Keluar!" ujar Anita. Suasana semakin hening sedangkan Syihab langsung beranjak dari kursinya.
"Bu, nggak boleh gitu kasihan loh! Kan baru pertama kali ngajar, perkenalan dulu lah bu," ujar Faisal.
"Kamu! Keluar juga!" ujar Anita. Akhirnya Syihab dan Faisal pun keluar dari kelas. "Duh, ngapain kamu bikin masalah segala?" tanya Faisal keheranan. "Judes banget bu gurunya jadi males," ujar Syihab.
"Ya ampun! Terserah kau lah! Anak pintar mah bebas," ujar Faisal. Beberapa menit kemudian Anita pun membukakan pintu kelas, ia pun menyuruh Syihab dan Faisal masuk.
Faisal dan Syihab pun masuk ke dalam kelas secara beriringan, namun Anita langsung menahan dada Syihab dengan bukunya.
"Besok lagi jangan main-main sama saya!" ujar Anita sambil menepuk dada Syihab dengan gulungan bukunya. Akhirnya pelajaran pun dilanjutkan.
"Saya sudah memberikan soal, siapakah yang mau maju?" tanya Anita. Sayangnya tidak ada yang mengangkat tangan, mereka hanya saling tatap, berharap ada yang mau maju.
"Duh gimana sih kalian? Katanya laki-laki! Kenapa tidak ada yang maju?" tanya Anita. Sayangnya suasana kelas tetap hening.
"Hmm! Mana yang bernama Syihab?" tanya Anita, akhirnya Syihab pun berdiri. "Eh? Kamu? Kenapa kamu lagi?" Anita semakin kesal berhadapan dengan anak itu.
"Lah mau gimana lagi bu? Namaku Syihab, masak mau bohong," ujar Syihab. Anita pun merasa kesal, akhirnya ia mencari anak yang lain. "Kalau ketua kelas? Mana ketua kelasnya?" tanya Anita.
Sekali lagi anak-anak menunjuk Syihab sambil tertawa, Anita yang sembari tadi salah sasaran jadi tidak bisa menahan tawa.
"Lihat bu guru tertawa!" ujar Syihab, pada akhirnya Anita tidak bisa menjaga sikap di hadapan mereka. Sekelas pun semakin ramai.
"Duh! bu guru kita jadi gagal fokus nih!" ujar Syihab. "Diam Syihab, ih!" Anita merasa kesal. Melihat wanita itu kesal, anak-anak semakin geli, apalagi tingkahnya tampak seperti anak kecil.
Akhirnya Anita memukulkan buku di meja, membuat suasana tenang. Syihab sempat menahan tawa.
"Kita kembali ke pelajaran! Jangan bercanda terus! Ayok Syihab kerjakan soal yang ada di depan," ujar Anita.
"Lah, saya kan belum tahu caranya bu!" ujar Syihab. "Ibu nggak mau tahu! Ayo maju!" ujar Anita. Akhirnya Syihab pun maju ke depan, ia mencoba memperhatikan soal itu.
Anita terus memandangi wajah Syihab yang tampak serius, ia menikmati hal itu. "Ayo! Kerjakan! Katanya peringkat satu!" ujar Anita dengan ekspresi menantang. Syihab sampai mengerutkan dahi selama beberapa menit.
__ADS_1
"Oh! Gitu!" Syihab segera melepaskan tutup spidol dan menulis jawabannya. Anita tidak menyangka jawabannya benar.
"Gimana bu? Bener apa salah?" tanya Syihab dengan lagaknya. Anita pun merasa kesal, ia pun menuliskan beberapa soal lagi.
"Coba kerjakan yang ini," ujar Anita. "Wah! Malah lebih gampang!" seru Syihab, ia hendak menuliskan jawabannya, namun Anita segera mengganti beberapa angka di soal.
"Lah! Curang bu! Masak diganti sih?" keluh Syihab. "Sudah, kerjakan saja! Tadi terlalu gampang!" ujar Anita sebal. Pada akhirnya Syihab tetap tersenyum lalu mencoba mengerjakan soal-soal itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Anita keheranan. "Ini sangat gampang bu," seru Syihab, ia bahkan menuliskan rentetan rumus dari hasil pengerjaannya. Sayangnya Anita mendapati sebuah kesalahan, namun ia merahasiakannya sambil tersenyum.
"Kenapa bu? Mencurigakan sekali!" ujar Syihab. "Bukan apa-apa kok, kamu sudah yakin kalau jawabannya benar?" tanya Anita.
"Hmm! Kayaknya nggak deh! Ibu senyum-senyum sendiri, bikin takut," ujar Syihab ragu-ragu, ia mencoba mengoreksi jawabannya, namun belum menyadari kesalahan yang ia tulis.
"Sudah belum? Sudahlah! Ini sudah lama loh!" ujar Anita. "Bentar bu, aku lagi koreksi ini," ujar Syihab mulai serius. Akhirnya ia pun menemukannya sedangkan Anita segera mencegatnya untuk tidak menghapus bagian yang salah itu.
"Loh? Kenapa bu?" tanya Syihab keheranan. "Ini salah, ini juga salah, terus ini salah," ujar Anita sambil melingkari bagian-bagian yang salah.
"Dih! Curang bu! Aku kan belum sempat menghapus ini! Ibu malah main coret aja! Nggak boleh gini!" ujar Syihab sambil menghapus lingkaran yang dibuat Anita.
Anita kembali melingkari bagian yang salah itu. "Nggak bisa! Sudah salah ya sudah! Silahkan kembali duduk," ujar Anita.
"Dih! Curang! Ibu curang banget!" ujar Syihab tidak terima. "Salah ya sudah, salah saja," ujar Anita sambil tertawa. "Oh, gitu ibu mainnya yah! Ntar lihat saja! Aku bakal dapat nilai seratus di ulangan," ujar Syihab.
"Oke, ntar ibu buat soal ulangan yang sangat-sangat susah!" ujar Anita. "Dih! Jangan gitu lah bu! Bikin soalnya yang gampang aja!" keluh anak-anak.
"Salahkan Syihab, dia yang nantang soal ulangan ibu," ujar Anita sambil tertawa lalu pergi keluar kelas. Sekelas pun menyoraki Syihab dengan wajah kesal.
Setelah pelajaran usai, Syihab, Ifan dan Faisal pun kembali ke kamar dan membaringkan diri di dipan yang paling dekat dengan pintu.
"Kau benar-benar hebat, Syihab! Nyalimu besar sekali! Benar-benar jantan!" ujar Faisal. "Keren banget sih! Kau tidak lihat saat bu Anita menahan dadanya dengan buku itu? Jika ini bukan pesantren, mungkin ia sudah meraba-raba dada Syihab dengan tangannya," Ifan.
"Heh? Bahaya tuh! Guru tertarik dengan siswanya? Di awal pelajaran? Apakah mungkin?" tanya Faisal.
"Mungkin saja, dia masih muda banget! Belum menikah juga!" ujar Ifan. "Syihab benar-benar populer yah! Kau bisa tunjukkan hal yang lebih menarik lagi, Syihab?" tanya Faisal.
"Tunggu saja! Dia sudah menerima tantanganku tentang ulangan matematika," ujar Syihab.
"Keren! Pastikan kau jawab itu semua dengan baik! Buat dia jatuh cinta padamu hahahaha!" ujar Faisal.
"Siap kawan! Perlukah kupacari saja dia?" tanya Syihab. "Kayaknya bagus tuh, cerita siswa berpacaran dengan gurunya," ujar Ifan.
__ADS_1
"Duh! Pikiranku jadi semakin liar! Aku mau ke kamar mandi dulu," ujar Faisal. "Hayoh mau ngapain?" tanya Syihab. "Buang air besar! Kau mau ikut?" tanya Faisal. "Nggak makasih," ujar Syihab.