Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Perubahan jadwal liburan


__ADS_3

"Hei! Katanya pesantren kita nggak liburan setengah tahun lagi!" seru Fashalay. "Apa maksudmu? Berarti kita bakal setahun penuh di penjara ini?" tanya Ario.


"Bukan begitu! Rumornya, setiap tiga bulan sekali kita bakal ada liburan! Kita bakal pulang setelah selesai Ujian Tengah Semester!" seru Fashalay.


"Cuma rumor saja, kalian sangat mudah sekali percaya!" ujar Renogi. "Sejak kapan dia ada di situ?" tanya Hasan keheranan.


"Hei Reno! Kamarmu di mana? Jangan bilang kalau kau sudah lupa!" ujar Shadiq, ia merasa risih karena ada anak kamar lain yang masuk seenak jidat di kamarnya.


"Aduh, pak ketua hampir murka! Sebaiknya aku pergi saja kah?" tanya Renogi pada Shahih.


"Itu terserah kau, aku nggak peduli apapun," ujar Shahih kemudian melanjutkan bacaannya.


"Kau ini aneh sekali! Kemarin tampak seperti orang yang sangat bergairah sampai bersih-bersih ke seluruh lorong kelas, bahkan nggak mau berhenti karena belum berkeringat. Pada akhirnya kau istirahat setelah terlihat kayak orang habis hujan-hujanan," ujar Renogi.


"Benar sekali! Kemarin si Shahih benar-benar jantan kayak seorang kuli bangunan. Tapi lihatlah hari ini, dia hanyalah otaku yang sangat malas-malasan," ujar Ario.


"Aku sudah mengerjakan pekerjaanku kemarin, apa salahnya beristirahat? Badanku pegal-pegal semua," ujar Shahih.


"Kamu kemarin kelihatan kekar sekali loh, kaos yang kamu pakai juga sangat ketat sampai memperlihatkan lekuk otot-ototmu," ujar Fashalay.


"Apa-apaan? Lihatlah kaos kayak karung goni begini! Bagian mananya yang ketat?" tanya Renogi sambil memegangi kaos yang sedang Shahih pakai.


"Penampilan Shahih nggak pernah konsisten! Kadang kelihatan maskulin banget, kadang juga anggun kayak perempuan. Aku nggak sabar menanti hari dia pakai gamis lagi, saat itu dia pasti sangatlah ramah sambil tersenyum manis, lalu aku tinggal minta tolong dia membantu merapikan lemariku," ujar Ario.


"Perkataanmu menjijikkan sekali, seenggaknya jangan bilang di hadapanku, besok-besok aku nggak akan membantumu lagi," ujar Shahih.


"Kalau hari ini dia amit-amit jabang bayi! Benar-benar menyebalkan," ujar Ario. "Kalian membicarakan Shahih tapi seperti membicarakan beberapa yang berbeda-beda," ujar Renogi keheranan.


"Lah, emang begitu dia orangnya," ujar Fashalay. "Hei, Shahih! Jangan-jangan.... kau memiliki kepribadian ganda?" tanya Renogi.


"Kepribadian ganda jidatmu! Habis baca novel apa kau kemarin? Memangnya aku terlihat seperti orang yang sakit jiwa?" tanya Shahih dengan wajah malasnya.


"Menurutku dia memang sakit jiwa," ujar Hasan. "Benar sekali, kalau saudaranya yang bilang begitu... pasti memang benar kalau dia sakit jiwa," ujar Ario, ia masih kesal karena Shahih mengancam tidak akan membantunya merapihkan lemari lagi.

__ADS_1


"Duh, kalian ini sangat mengganggu bacaanku," ujar Shahih, saking lemasnya ia berbicara, ia terlihat seperti orang yang hendak marah namun tidak mampu melakukannya.


"Santai saja, hari ini Shahih nggak bisa marah. Kalian bebas mengganggunya. Sekarang bukan mode serius," ujar Ario.


"Kau, aku benar-benar nggak bakal bantu rapiin lemarimu lagi loh!" ujar Shahih. "Iya! Iya! Ampun! Aku cuma bercanda, Shahih!" ujar Ario.


"Kalian nggak belajar? Besok Ujian Tengah Semester loh," ujar Asyraf keheranan. "Anak yang satu ini nggak kalah anehnya! Kalau kamu nyuruh kami belajar, kenapa kamu sendiri nggak belajar?" tanya Ario.


"Aku sudah belajar kok," ujar Asyraf. "Oh, gitu? Kalau begitu, aku juga sudah belajar! Setiap hari kita ikut ***, bukankah itu belajar?" tanya Ario, anak-anak lainnya hanya bisa tertawa.


"Kalian benar-benar nggak masuk akal, kalau nilai rendah cuma bisa merengek, saat papan peringkat diumumkan langsung kaget kayak baru denger matahari terbit dari barat saja," ujar Asyraf.


"Lah, kan! Dia datang selalu ngerusak suasana! Jadi males," ujar Fashalay, beberapa anak lainnya yang sedang mengerumuni Shahih juga ikut bubar untuk melanjutkan aktivitas lainnya.


"Kau seperti santri teladan saja sampai mengingatkan mereka untuk belajar," ujar Shahih. "Kukira akan dengar ucapan terima kasih. Aku tahu kalau kau sedang muak dengan mereka karena perkara ponsel itu," ujar Asyraf.


"Kalau saja ketahuan, mampus!" ujar Shahih. "Masalahnya kalau ketahuan, kita sekamar juga bakal kena imbasnya," ujar Asyraf.


"Jadi itu alasan mereka merahasiakannya?" tanya Shahih, ia sempat berpikir sejenak, ia tidak ingin berurusan dengan kakak pengurus lagi, hal itu semakin membuatnya tidak tahan berada di pesantren.


"Kalau kamu tetap diam, nggak bakal ketahuan! Makanya jangan ember," ujar Aldi. "Kalau ketahuan, baru tahu rasa!" ujar Shahih.


"Anak-anak kamar lain juga banyak yang bawa kok, bahkan dari tahun pertama mereka datang ke sini. Nyatanya sampai sekarang nggak ketahuan," ujar Aldi.


Shahih tidak ingin mendengar lebih banyak penjelasannya, ia langsung kembali berbaring di dipan dan membaca bukunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akhirnya setelah Ujian Tengah Semester usai, liburan yang mereka nanti-nantikan datang. Mereka tidak menyangka bisa pulang ke rumah lebih cepat dari yang mereka bayangkan.


Kali ini Rofiq datang lebih awal, ia memastikan Shahih dan Asyraf tidak kabur lagi dari hadapannya. Sayangnya sesampainya di sana, anak-anak sudah mengemasi barang-barang ke dalam mobil Alfa.


"Ada apa ini? Kenapa kau membawa keponakanku?" tanya Rofiq keheranan. "Orang tuaku ingin melihat cucu-cucu mereka, bahkan beberapa tahun ini kau jarang mrngajak mereka bertemu dengan ibu mereka, bukankah itu sangat kejam? Ghozali sudah mati, tapi kakakku masih hidup! Kami lebih berhak mengasuh anak-anak ini," ujar Alfa.

__ADS_1


"Hei! Sebaiknya jangan membuat masalah! Mereka keponakanku!" ujar Rofiq. "Sekali ini saja! Apakah tidak boleh? Mereka harus tetap ingat kalau mereka masih memiliki seorang ibu," ujar Alfa.


Ia langsung membawa anak-anak itu ke dalam mobilnya. Ia langsung melaju, meninggalkan Rofiq begitu saja.


"Bukankah kasihan? Paman Rofiq jauh-jauh datang ke pesantren loh," ujar Zahra. "Kalian nggak mau ketemu sama ibu kalian?" tanya Alfa, saat itu juga Zahra terdiam.


"Lalu, Shahih! Kamu baik-baik saja kan? Sudah nggak ada yang sakit?" tanya Alfa. "Aku baik-baik saja," ujar Shahih, ia tampak terpaksa masuk ke dalam mobil itu. Sebenarnya ia enggan menemui kakek dan neneknya.


Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di depan rumah yang membuat mereka bernostalgia, Hasan dan Shadiq langsung duduk di ayunan yang terkait pada batang pohon sambil tersenyum, mereka tidak menyangka bisa merasakan udara segar perkampungan itu.


Tak lama kemudian, Hamid dan Sarah pun datang menyambut mereka. "Wah! Cucu-cucuku yang manis! Kalian datang lagi?" Sarah tampak gembira melihat mereka yang kian tumbuh besar.


Seperti biasa ia langsung memeluk Hasan. Hasan dapat menerimanya dengan senang hati, ia juga memeluk Sarah erat-erat. "Kamu semakin ganteng saja bujang!" ujar Sarah.


"Ish! Nenek tah! Aku masih kecil loh! Si Shadiq tuh, bujangan!" ujar Hasan. "Shadiq?" Sarah langsung melirik anak yang tampak malu-malu di belakang Hasan itu.


"Shadiq? Kenapa diam-diam saja?" tanya Sarah keheranan.


"Iya nek? Ada apa?" Shadiq balik bertanya. Sarah dan Hamid langsung terkejut mendengar suaranya.


"Wah! Suaramu semakin besar ternyata! Semakin mirip Ghozali!" ujar Hamid. "Mari sini! Biar nenek peluk dulu!" ujar Shadiq.


Shadiq hanya bisa terdiam di tempat, meskipun sebenarnya ia merasa tidak nyaman karena Sarah memeluknya dan mencium keningnya.


"Hei, kalian berempat! Angkat barang-barangnya dong!" ujar Zahra kesal, ia sendirian tampak menyeret-nyeret koper yang ia bawa. Setelah melihat Sarah, ia langsung mengabaikan kopernya lalu berlari ke arahnya.


"Nenek!" seru Zahra kemudian memeluk Sarah. Empat anak lainnya langsung berbalik badan untuk mengangkat barang-barang bawaan.


"Eh, tunggu dulu! Dua anak itu...." Sarah merasa ganjal karena belum menyapa semua cucu-cucunya.


"Oh, ini Shahih dan Asyraf," ujar Alfa. "Shahih? Bu... bukankah dia anak yang hilang itu? Yang mirip denganmu? Kenapa kamu nggak bilang-bilang? Shahih! Sini!" seru Sarah.


Saat itu Asyraf dan Shahih langsung berbalik badan. "Loh? Kok ada dua? Kok bisa ada dua?" Hamid benar-benar terkejut, ia bahkan beberapa kali mengucek matanya.

__ADS_1


"Ini kembaran Shahih selain Shadiq dan Hasan," ujar Alfa. "Kembaran? Aku belum pernah mendengar itu! Ghozali dan Aisyah juga nggak pernah bilang kalau ada anak lagi selain Shahih," ujar Sarah.


Asyraf sempat mengepalkan tangannya karena muak dengan reaksi orang-orang itu. Apalagi kenyataan bahwa dirinya tidak pernah dianggap ada, hal itu membuat suasana hatinya semakin buruk, bahkan untuk pura-pura tersenyum di hadapan mereka pun tidak bisa.


__ADS_2