
"Syihab, bisakah kamu hentikan itu? Kenapa tiap hari yang kamu lakukan selalu bercermin? Kayaknya nggak ada hari tanpa bercermin," ujar Ghozali prihatin.
"Emangnya ayah pernah seharian nggak bercermin? Bahkan aku lihat ayah sakit pun masih sempat nyari cermin," ujar Syihab, Ghozali pun tidak bisa menyangkalnya.
"Tapi ayah nggak sesering kamu, Syihab! Itu penyakit! Jangan dibiasakan!" ujar Ghozali. "Nggak papa ayah, penyakit ini nggak bikin ayah rugi kok, lihatlah. Bukankah aku sangat seksi? Besok kita pergi ke Gym yok, kita lihat siapa yang paling tahan lama di sana," ujar syihab.
"Ayah nggak punya waktu buat meladenimu, Syihab. Kamu juga perlu belajar! Kamu sudah lama nggak berangkat ke kampus loh! Gimana dengan belajarmu?" tanya Ghozali.
"Hmm, ayah mengusirku sekarang?" tanya Syihab. Ghozali berpikir sejenak, ia mencoba merangkai kata agar tidak salah bicara dan membuat Syihab salah paham.
"Ayah terlihat mengusir menurutmu? Adik-adikmu bahkan udah mulai berangkat sekolah lagi loh. Jika dibandingkan denganmu, waktu mereka bersama ayah dan ibu lebih sedikit, Syihab. Ayolah, jangan banding-bandingkan dengan adikmu lagi! Bukannya ayah pilih kasih, nyatanya kamu sudah paling lama bersama kami Syihab, jangan merasa nggak adil, kami juga begini biar kamu bisa sukses, nggak manja-manja lagi," ujar Ghozali.
Setelah perkataan panjangnya, akhirnya Syihab pun terdiam, ia berhenti menatap cermin. "Syi... syihab, maaf... ayah nggak berniat memarahimu," ujar Ghozali, ia merasa bersalah karena mengomelinya panjang lebar.
"Nggak papa kok, kalau begitu aku akan beres-beres dulu," ujar Syihab kemudian pergi berlalu dari hadapan Ghozali.
"Syi.. Syihab, tunggu sebentar," Ghozali makin merasa bersalah, ia pikir perkataannya baru saja membuat Syihab sakit hati.
Aisyah pun langsung mencegahnya. "Nggak papa, biarkan saja. Jangan dimanja lagi kalau dia sudah mulai serius," ujar Aisyah. Akhirnya Ghozali pun membiarkan anak itu.
Tak lama kemudian, makan malam pun tiba, namun suasana meja makan tampak begitu canggung.
Ghozali tampak sangat penasaran, ia memiliki banyak pertanyaan yang ingin dilontarkannya pada Syihab.
Sebagai penengah, Aisyah pun mulai bicara. "Gimana, Syihab? Barang-barangmu sudah siap? Nggak ada yang ketinggalan kan?" tanya Aisyah.
"Udah siap semua bu, besok tinggal berangkat doang kok," ujar Syihab. Ghozali tidak menyangka anaknya masih tampak ceria, ia pikir Syihab akan murung karena merasa diusir olehnya.
Setelah mereka selesai makan dan kembali ke kamar masing-masing, Ghozali pun pergi keluar sejenak untuk menghirup udara segar.
Setelah sejam lamanya, ia pun pergi mengetuk pintu kamar Syihab. Sayangnya tidak ada jawaban dan pintu kamar tampak tidak terkunci. Ghozali pun membuka pintu kamar dan mendapati Syihab sedang memainkan ponselnya.
"Ada apa ayah? Mau tidur di sini?" tanya Syihab, ia tampak begitu semangat sambil memberikan sedikit tempat di kasurnya agar Ghozali bisa berbaring di sampingnya.
"Sepertinya sia-sia saja ayah khawatir padamu," ujar Ghozali, ia hendak keluar kamar. "Lah? Udah mau pergi? Begitu saja?" Syihab tampak kecewa.
Karena merasa tidak enak, akhirnya Ghozali pun duduk di sisinya. Syihab pun langsung menempel di lengan ayahnya, ia menyandarkan kepalanya dengan rasa nyaman.
__ADS_1
"Kenapa kamu suka nempel-nempel ayah sih?" tanya Ghozali. "Bukan apa-apa, aku cuma penasaran. Gimana caranya biar tanganku bisa seperti ini?" tanya Syihab sambil memijat-mijat lengan Ghozali.
"Kaki ayah juga terlihat sangat kekar! Aku boleh lihat?" tanya Syihab sambil memeriksa paha Ghozali. Ghozali merasa geli dengan kelakuan Syihab. "Hei! Hei! Apa yang kamu lakukan?" tanya Ghozali, ia mulai merasa tidak nyaman. Ia pikir anaknya sudah tidak waras karena berani memggerayami tubuhnya.
"Pelit sekali! Ayah saja boleh pakai celana yang pas seperti ini, tapi aku kok nggak boleh. Pakai celana kebesaran membuatku terlihat kek anak kurus kurang makan," keluh Syihab.
"Kamu sangat peduli sekali dengan penampilanmu, memangnya ada yang pernah mengejekmu? Siapa yang bilang kamu kurus?" tanya Ghozali. "Nggak ada sih," ujar Syihab, ia pun kembali memegang ponselnya, ia mendiamkan Ghozali di sampingnya, membuat suasana kamar yang hening.
"Kamu kok betah sekali menatap layar ponsel berjam-jam!" ujar Ghozali sambil menggeleng kepala. Syihab hanya bisa tertawa, ekspresinya tampak seperti orang mesum.
"Kamu kenapa, Syihab?" tanya Ghozali. "Ayah, menurutmu siapa yang nggak tahan lihat lama-lama cewek seksi ini?" tanya Syihab sambil menunjukkan sebuah foto pada ponselnya.
Ghozali pun terkejut bukan main. "Syi... Syihab! Jangan lihat yang aneh-aneh! Hapus!" ujar Ghozali. "Heleh, nggak mungkin ayah nggak mau lihat! Pupil ayah terlihat membesar dari pada biasanya. Lagian laki-laki normal pasti tertarik melihat hal seperti ini! Benarkan? Jujur saja ayah! Kalau ada wanita cantik, pasti ayah tertarik kan?" tanya Syihab.
"Kalian sedang bicara apa? Siapa yang tertarik dengan siapa?" tanya Aisyah yang tiba-tiba muncul, ia sudah bersandar di daun pintu kamar.
Syihab pun segera mematikan ponselnya dan menjaga sikap. "Sa... sayang, ini bukan apa-apa. Si Syihab emang suka bergurau," ujar Ghozali.
"Mas, bisa ke kamar sebentar?" tanya Aisyah. "Ehm, malam ini aku mau tidur di kamar Syihab, besok kan dia berangkat," ujar Ghozali sambil bersembunyi di belakang punggung Syihab. "Sebentar," tegas Aisyah, akhirnya Syihab segera beranjak dari kasurnya.
"Syi... Syihab! Tunggu, jangan tinggalkan ayah!" ujar Ghozali, namun Syihab tidak mendengarkan, ia langsung keluar kamar.
"Kamu salah apa mas?" tanya Aisyah memotong perkataan Ghozali. Pria itu terdiam sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Sayang, sepertinya aku membuatmu marah, aku minta maaf," ujar Ghozali sambil mengusap-usap tangan Aisyah.
"Aku nggak marah, mas," ujar Aisyah, ia juga tidak melepaskan tangannya dari Ghozali, ia membiarkan pria itu terus emnggenggam tangannya. Ghozali pun semakin bingung harus berkata apa.
"Nggak salah kok kalau kamu tiba tertarik saat lihat wanita cantik. Aku tahu kalian nggak bisa mencegah ras apenasaran dari mata kalian, toh aku tahu kamu nggak akan berbuat macam-macam mas," ujar Aisyah.
"Lalu ada apa ini, sayang? Kenapa Syihab nggak boleh mendengar pembicaraan kita?" tanya Ghozali. Aisyah langsung duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu kekar Ghozali.
"Menurut mas, apakah aku kurang cantik?" tanya Aisyah. "Kapan aku bilang begitu, sayang?" tanya Ghozali sambil merangkul bahu Aisyah. "Kira-kira aku harus apa biar mas nggak perlu melirik wanita lain? Biar mas cukup puas dengan melihatku saja," tanya Aisyah.
"Kamu nggak perlu melakukan hal yang macam-macam kok, sayang. Aku nggak akan melirik wanita lain lagi," ujar Ghozali, ia tiba-tiba mengambil gambar Aisyah dengan ponselnya.
"Ngapain mas?" tanya Aisyah keheranan karena Ghozali tiba-tiba mengangkat ponsel. "Nah, aku akan jadikan foto ini sebagai latar belakang layar ponselku, sayang. Kalau ada wanita lain yang lewat, kupastikan aku akan langsung menatap wajahmu ini," ujar Ghozali.
__ADS_1
"Ih! Nggak gitu mas! Masa ambil gambarnya jelek banget sih! Aku kan udah persiapan mau tidur, masa baru difoto! Harusnya dari tadi dong!" ujar Aisyah kesal, Ghozali hanya bisa tertawa.
"Kayaknya udah malam, Syihab bisa kesiangan kalau nggak tidur sekarang," ujar Ghozali. "Kamu mau tidur di sini mas?" tanya Aisyah.
"Syihab yang minta, aku pastikan ini terakhir kalinya ia tidur bersamaku," ujar Ghozali, ia merasa tidak nyaman karena membiarkan Aisyah tidur sendirian.
"Sesekali nggak papa kok mas, yang penting jangan sama Syihab aja. Kalau bisa anak-anak yang lain juga," ujar Aisyah, ia pun keluar kamar sedangkan Syihab segera masuk.
"Ayah dan ibu bicara apa saja?" tanya Syihab. Ghozali tiba-tiba menghela nafas. "Ada apa, ayah?" tanya Syihab. "Apakah ayah ini masih kurang berperan sebagai ayah?" tanya Ghozali.
"Dih, kenapa tiba-tiba tanya begitu? Aneh sekali!" ujar Syihab. "Hmm, ayah merasa perjalanan ayah menjadi suami yang baik masih cukup panjang," ujar Ghozali sambil menatap langit-langit ruangan.
"Kenapa ayah ngomongin itu? Bikin iri saja! Jangan curhat hal itu ke anak yang belom nikah!" ujar Syihab kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Makanya belajar yang serius! Jangan malas pergi ke kampus ! Jangan manja, minta tidur bareng ayah segala. Kalau begini terus siapa yang mau nikah denganmu?" tanya Ghozali sambil mengacak-acak rambut anaknya yang tampak seperti duri landak itu.
Syihab hanya menunjukkan wajah sebal. "Tuh kan, malah merajuk. Syihab, Syihab! Kapan kamu dewasa nak?" ujar Ghozali gemas, ia hampir meremas kepala Syihab. "Sakit, ayah!" keluh Syihab.
"Kamu yang aneh sih! Badan sebesar ini masih mau tidur dengan ayah. Badanmu lebih besar dari ayah loh nak," ujar Ghozali.
"Ayah dari kemarin ngomongin dewasa-dewasa mulu! Aku dah dewasa, ayah! Dah mimpi basah! Dah banyak rambutnya juga! Ayah mau lihat?" tanya Syihab.
"Nggak... nggak perlu," ujar Ghozali sambil menelan ludah. "Lihat aja ntar, ayah! Aku bakal jadi orang yang sukses!" ujar Syihab. "Ya, ya, ya!" ujar Ghozali terdengar menyepelekan.
"Dih, nggak percaya! Pokoknya lihat aja nanti. Ayah pasti kaget!" ujar Syihab. Beberapa detik kemudian anak itu sudah tertidur pulas.
Keesokan harinya Ghozali tampak terburu-buru mencari barang-barangnya. Ia tiba-tiba memiliki pasien darurat, ia pun tidak bisa mengantar Ghozali keluar kota.
"Cepat, Syihab! Cepat! Kamu harus naik bus hari ini sebelum telat keberangkatannya! Jangan ngaca terus deh!" ujar Ghozali terburu-buru, sayangnya anak itu tampak santai.
Setelah siap, Ghozali pun mengantarnya menuju ke terminal. Bus yang Syihab pesan sebentar lagi berangkat.
"Syihab, kamu sudah besar. Jangan bikin ayah malu yah. Pokoknya belajar yang sungguh-sungguh!" ujar Ghozali. "Ayah malu punya anak dengan tampang seperti ini? Ayah bercanda? Ini sama aja ayah malu pada wajah ayah sendiri," ujar Syihab.
"Aish! Sudahlah! Kamu ini ada-ada saja! Cepat naik bus!" ujar Ghozali sambil mendorong-dorong anak itu beserta kopernya ke dalam bus.
Setelah duduk di kursinya, Syihab sempat membuka jendela selagi bus itu berjalan. Ia melambaikan tanganya ke arah ayahnya sambil tersenyum narsis. "Hati-hati, ayah!" ujarnya. Ghozali pun membalas lambaian tangannya.
__ADS_1
"Ya ampun, anak itu.... dasar anak nakal! Anakku yang paling tampan sendiri," ujar Ghozali, ia merasa sedikit sedih karena berpisah dengan anak sulungnya itu.