Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Akhir tahun yang menggelisahkan


__ADS_3

Syihab kembali ke kamarnya, ia langsung menangis dan terbaring tengkurap di kasurnya. Ia terus memukul-mukul bantal sambil sesekali membodoh-bodohi dirinya sendiri karena berbuat banyak masalah.


Setelah tangisnya reda, ia pun bertekad untuk mempergiat belajarnya, setidaknya ia ingin melakukan sesuatu yang dapat merubah pikiran orang tuanya agar tidak jadi mengirimnya ke pesantren.


Sayangnya untuk melakukan hal itu sangatlah tidak mudah. Ia sudah kecanduan untuk bermain di warung PlayStation, ia tidak bisa menghilangkan kebiasaannya itu. Setelah pulang sekolah, ia langsung meminta uang pada Aisyah dan pergi ke warung PlayStation hingga Maghrib tiba.


Sayangnya hari ini kedua orang tuanya tidak memarahinya, seolah membiarkannya berbuat seenaknya sebelum mengirimnya ke pesantren.


Tentu saja hal itu membuat Syihab gelisah. Akhirnya ia menjadi lebih serius dalam belajar meskipun masih sempat bermain di warung PlayStation.


Setelah Aisyah mengunci pintu kamar dan tidak memberikannya uang lagi, ia tidak bisa pergi ke tempat favoritnya itu.


Sayangnya hal itu tidak menyelesaikan masalah, kebiasaan pulang sorenya masih belum berubah. Meskipun tidak bisa bermain di warung PlayStation, ia sering diajak teman-temannya bermain bola hingga sore.


Pada akhirnya ia jarang berada di rumah hingga kulitnya tampak semakin gelap.


Kali ini Syihab pulang dengan baju yang dipenuhi keringat. "Ya ampun! Kamu ini dekil sekali! Dari mana sih?" tanya Aisyah. "Main bola," ujar Syihab sambil menyeringai lebar, ia mencoba menghibur diri dengan hal itu.


Aisyah juga tidak memarahinya. Begitu pula Ghozali, setelah pulang dari tempat kerjanya, ia langsung menatap Syihab yang sedang melepas baju sambil menggeleng kepala.


"Ya Allah nak! rupamu kok begini amat! Mirip siapa sih?" tanya Ghozali dengan wajah miris. "Tentu saja mirip kamu lah, mas!" ujar Aisyah. Ghozali pun terdiam, tidak bisa menyangkal.


Syihab hanya memasang wajah sebal lalu pergi ke kamar mandi. "Lain kali jangan pulang Maghrib! Nggak baik mandi malam-malam!" Aisyah mengingatkan.


"Kalau gitu berarti nggak usah mandi dong! seru Syihab. "Dih! Ya ampun ini anak! Mandilah! Besok-besok jangan pulang Maghrib biar nggak mandi malam!" tegur Aisyah. Syihab hanya tertawa kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Aisyah hanya bisa menggeleng kepala menyaksikan kelakuannya itu.


Setelah mengunci kamar mandi, Syihab berhenti ketawa, sebenarnya ia masih ingin menangis karena orang tuanya hendak mengirimnya ke pesantren.


Ia pun langsung menyiram tubuhnya bersamaan dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Setelah selesai mandi, ia langsung menuju ke pangkuan ayahnya yang baru selesai sholat. Pria itu sedang belajar membaca Al-Qur'an dengan Aisyah.


"Ada apa? Kamu mau ikut belajar juga? Biar pas di pesantren sudah mahir membaca Al-Qur'an," ujar Ghozali.

__ADS_1


Mendengar kata 'pesantren' membuat suasana hati Syihab memburuk, ia pun menggeleng kepala kemudian beranjak dari pangkuan ayahnya.


Ia hendak pergi, namun setelah melihat wajah penuh harap ayahnya yang kian sirna membuatnya mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia pun kembali ke pangkuan ayahnya. Ghozali pun tersenyum senang.


"Gimana? Mau ikut belajar?" tanya Ghozali. Syihab pun mengangguk.


Akhirnya masa-masa menuju ke pesantren hampir tiba, tepat setelah menyelesaikan Ujian Nasional, Syihab pergi ke pesantren untuk melakukan ujian masuk.


Ia sudah mempersiapkannya dengan matang sehingga Ghozali dan Aisyah merasa percaya diri bahwa anak itu akan diterima di pesantren.


Setelah menyelesaikan ujian, mereka pun kembali ke rumah. "Ternyata pesantren Alfa lumayan jauh dari rumah kita, aku merasa bersalah karena sering memintanya ke sini. Pantas saja ia sangat membenciku," ujar Ghozali. Kali ini Ghozali jarang membicarakan hal yang buruk tentang Alfa setelah mendengar cerita masa kelamnya.


Tiga hari kemudian pengumuman Ujian Nasional keluar. Syihab merasa kegirangan hingga tak sabar ingin memberitahu hal itu kepada kedua orangtuanya. Ia mendapatkan peringkat pertama di angkatannya.


Setelah pulang dari sekolahnya, ia langsung disambut oleh kedua orang tuanya dengan wajah gembira. "Wah! Selamat, Syihab! Kamu memang hebat!" seru Aisyah. "Anak ayah memang pintar!" seru Ghozali.


Syihab tidak menyangka kalau ayahnya berada di rumah meskipun hari masih siang, namun ia keheranan dengan sambutan orang tuanya itu. Padahal ia sendiri belum memberitahu bahwa dirinya peringkat pertama Ujian Nasional di sekolahnya.


"Kamu hebat! Syihab! Kata Alfa kamu diterima di pesantren," seru Aisyah. Perasaan Syihab menjadi campur aduk, ia tidak mengerti perasaan apa yang ada pada dirinya itu. Rasanya ikut senang, namun di sisi lain ada sesuatu yang menyakiti hatinya.


Ini tidak sesuai dengan harapan Syihab, ia tidak mendengar pertimbangan dari orang tuanya untuk tidak mengirimnya ke pesantren.


"Anu..... ayah, ibu, tentang pesantren itu.... ehm...." Syihab bingung hendak bicara apa.


"Oh? Kalau itu tenang saja! Ayah sudah membayarkan semua biaya pendaftaranmu, bahkan SPP untuk satu semester ini. Ayah tahu kamu bersemangat masuk pesantren hingga mempersiapkan susah payah untuk ujian masuknya," ujar Ghozali.


Benar-benar tidak sesuai dengan harapan Syihab. Ia benar-benar kecewa, meskipun sudah susah payah belajar, namun nasi telah menjadi bubur. Ia tidak bisa meminta pertimbangan orang tuanya karena Ghozali sudah terlanjur membayarkan uang pendaftaran bahkan SPP nya.


Tidak lama kemudian Zahra dan tiga anak kembar pulang. "Bu! Tadi orang-orang bilang kak Syihab juara satu! Katanya dapet peringkat satu di UN!" seru Zahra.


"Wah! Kak Syihab memang hebat!" seru Shadiq. "Benar sekali! Aku cuma dapet peringkat lima, Shadiq peringkat tujuh. Shahih malah nggak masuk sepuluh besar," ujar Hasan.


Entah kenapa perkataan Hasan malah merusak suasana bahagia mereka. Kenyataan bahwa Shahih tidak memasuki peringkat sepuluh besar sangat mengganggu bagi Ghozali, padahal anak-anak lainnya tidak pernah keluar dari peringkat sepuluh besar, meskipun anak nakal seperti Syihab sekali pun, ia tidak pernah keluar dari sepuluh besar.

__ADS_1


"Ehm, jadi.... Zahra peringkat berapa?" tanya Ghozali. "Kalau aku sih pasti peringkat satu lah, yah!" ujar Zahra dengan lagaknya. Ghozali juga sudah memprediksi hal itu, ia bertanya hanya untuk menghibur dirinya.


"Kasihan banget Shahih nggak masuk sepuluh besar," ujar Hasan, lagi-lagi anak itu mengungkit hal yang tidak mengenakkan, kali ini Aisyah yang merasa resah dengan perkataannya.


"Cuma peringkat doang, buat apa," ujar Shahih dengan ekspresi datarnya kemudian masuk kamar.


Aisyah pun langsung mengikutinya masuk ke kamar. "Jangan sedih, Shahih! Walaupun nggak masuk sepuluh besar sekarang, kmu bisa belajar lebih serius lagi, biar bisa masuk sepuluh besar," ujar Aisyah sambil mengusap-usap punggung Shahih.


"Aku nggak tertarik," ujar Shahih singkat. "Loh? Kenapa Shahih?" tanya Aisyah. "Nggak papa, nggak pengin aja," ujar Shahih, ia terlihat tidak ingin Aisyah menyentuh punggungnya, ia bahkan langsung pergi setelah merapikan semua bukunya di meja belajarnya.


Aisyah tidak mengerti apa isi pikiran anaknya yang satu itu. Ia benar-benar gelisah karena sikapnya yang tidak wajar.


Ia mencoba menatap meja belajar anak-anaknya. Hanya meja belajar Shahih yang tampak tertata rapi dan enak dipandang. Normalnya anak-anak kecil akan asal menaruh barang-barang, bahkan Syihab yang merupakan anak pertama pun masih memiliki kebiasaan itu.


Akan tetapi Shahih sudah mulai mengerti kerapihan. Bahkan Aisyah tidak menemukan sedikit pun debu di meja belajarnya. Meja yang enak dipandang ini mirip seperti meja belajar Zahra, namun lebih baik lagi karena di susun secara rapi.


Sayangnya hal ini semakin membuat Aisyah cemas. Ia takut anaknya yang satu ini memiliki kelainan. Ia pun mengajak Ghozali masuk ke dalam kamar ketiga anaknya itu.


"Ada apa, Aisyah?" tanya Ghozali keheranan. "Lihatlah mas, kira-kira ada yang aneh nggak?" tanya Aisyah sambil menunjuk meja belajar anak-anaknya.


"Yeah, sepertinya yang paling bagus punya Hasan, yang paling jelek.... loh? Ini punya Shadiq? Berantakan sekali!" ujar Ghozali.


"Salah mas, yang paling rapi ini punya Shahih," ujar Aisyah. "Benarkah? Kukira punya Hasan, biasanya dia yang paling rewel kalau lihat tempat kotor," ujar Ghozali.


"Kotor sama berantakan beda mas! Terus, aku nggak bermaksud membandingkan mereka. Aku hanya merasa risih lihat yang satu ini," ujar Aisyah sambil menunjuk meja belajar Shahih.


"Loh? Kenapa? Bukankah bagus? Walaupun nggak pintar, seenggaknya dia harus begini agar setimpal," ujar Ghozali. "Nggak gitu mas! Lihatlah caranya menata buku dan barang-barang itu," ujar Aisyah sambil menunjuk satu persatu barang yang ada di meja Shahih.


Ghozali pun menyadarinya, ia sempat terkesan karena melihat buku-buku yang ditata sesuai warna, bahkan posisi pensil yang ada di dalam tempat pensil itu dibuat serapih mungkin.


"A... apakah ini mungkin? Gimana caranya ia membuat seperti ini? Ini terlalu sempurna! Terlalu rapih bagi tangan manusia! Apalagi anak kecil!" ujar Ghozali. "Aku jadi makin takut karena kamu bilang gitu mas," ujar Aisyah khawatir.


"Perlukah kita periksakan ke klinik?" tanya Ghozali. "Jangan dulu deh mas! Kita tanyai saja apa alasannya melakukan ini," ujar Aisyah.

__ADS_1


"Lebih cepat, lebih baik, sayang! Baguslah kamu memberitahuku hal ini sekarang, kita nggak perlu cari alasan kenapa dia melakukan ini, sudah nggak wajar!" ujar Ghozali.


__ADS_2