Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Siuman


__ADS_3

Shahih mulai membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Syihab yang kurus dan pucat. Meskipun terlihat begitu, Syihab tampak sedang tersenyum sambil menundukkan pandangannya. Ia tidak sadar kalau Shahih sejak tadi menatapnya.


"Shahih, adikku, bangunlah," ujar Syihab, entah kenapa sekali lagi ia menangis karena sudah sepekan Shahih tak kunjung sadar.


Shahih pun sadar kalau tangannya sudah basah karena air mata Syihab, ia pun langsung mengusap-usap tangannya ke selimut secara spontan.


Saat itulah Syihab terkejut. "Shahih! Shahih! Kamu bangun! Ini bukan mimpi kan? Kakak nggak lagi bermimpi kan?" tanya Syihab kegirangan.


Shahih tidak menjawab pertanyaan itu, ia sibuk memerhatikan sekelilingnya lalu melihat monitor yang menunjukkan kondisinya saat ini.


Setelah mengetahui kondisinya, ia pun langsung melepaskan semua alat-alat yang ada di tubuhnya. Sayangnya tangannya saat itu tampak gemetaran, ia tidak bisa mencabut selang dan penjepit oximeter yang ada di tangannya, Ia menggapai-gapai udara kosong karena tangannya tak berhenti bergetar.


"Shahih? Kamu baik-baik saja?" tanya Syihab sambil menatap mata Shahih. Anak itu sempat menatap mata Syihab lalu mengalihkannya dengan cepat.


"Shahih? Ada apa ini? Kamu ingat aku kan? Ini aku! Kakakmu! Kak Syihab!" ujar Syihab.


Anak-anak lainnya pun langsung masuk ke dalam ruangan untuk mengetahui keadaan Shahih.


"Shahih! Syukurlah kamu sudah bangun!" ujar Zahra sambil menangis terharu, sayangnya Shahih mengalihkan pandangannya darinya.


"Ada apa Shahih? Kamu takut?" tanya Zahra. Saat itu dokter pun masuk ke dalam ruangan. Ia tak sengaja menyenggol bahu Syihab hingga buku catatannya terjatuh.


Hard cover buku itu langsung membentur lantai dan menimbulkan suara keras. Shahih langsung terkejut hingga menutup kedua telinganya, badannya tak bisa berhenti bergetar.


Dokter ikut keheranan dengan gerak gerik Shahih. "Permisi, apakah ananda ini penyandang autisme? Sepertinya ia masih syok dan sensitif dengan suara keras seperti tadi.


"Autis dari mananya! Dia normal-normal saja sebelum kecelakaan!" ujar Rofiq. "Hmm! Saya memang bukan bidang yang ahli dalam hal ini. Kecelakaan itu seharusnya tidak sampai membuat seseorang menyandang autisme. Biasanya autisme itu muncul karena cacat mental dari lahir. Kalau dilihat dari ciri-cirinya saat ini, ia tampak seperti orang yang menyandang autisme, meskipun saya belum terlalu mengerti tentang hal itu," ujar dokter.


"Kalau belum tahu sebaiknya jaga bicaramu, paman!" tegur Asyraf. Ia langsung mencoba menurunkan Shahih dari dipan.


"Hei! Apa yang kamu lakukan?" tanya dokter. "Membawanya pulang! Ayok, paman Rofiq! Kita bawa Shahih pulang sekarang! Seharusnya dia sudah baik-baik saja, bukankah begitu, paman dokter?" tanya Asyraf. Dokter tidak menjawab karena apa yang dikatakannya benar.


"Nah, nggak ada alasan lagi untuk Shahih tidur di sini, buang-buang uang," ujar Asyraf. Rofiq sempat setuju dengan pemikirannya, namun ia masih khawatir dengan keadaannya.


"Dia nggak baik-baik saja, Asa! Lihatlah!" ujar Zahra, ia merasa iba melihat Shahih yang bahkan tidak mau mengangkat kepalanya untuk menatap wajah saudara-saudaranya.


"Bukankah dokter sudah bilang? Ini nggak ada hubungannya dengan kecelakaannya, kita pulang saja!" ujar Asyraf.


"Shahih baru siuman, Asa! Shahih masih sakit," ujar Syihab. "A.... aku... pulang.... aku mau.... mau pulang!" ujar Shahih dengan terbata-bata

__ADS_1


"Baiklah, kita pulang dulu," ujar Rofiq, ia pun membawa anak-anak pulang. Setelah membaringkan Shahih di kamar, akhirnya anak-anak pun kembali ke kamar masing-masing kecuali Syihab.


"Ngapain di sini? Sana kembali ke kamarmu," ujar Asyraf. "Aku tetap di sini, akan menunggu Shahih," ujar Syihab.


"Omong kosong apa sih? Ini kamarku dan Shahih, inibukan kamar kakak!" ujar Asyraf, ia memaksa Syihab keluar dari kamarnya.


Setelah mengunci pintu, Asyraf langsung mendudukkan Shahih. "Shahih, kau masih ingat aku kan?" tanya Asyraf.


Shahih pun mengangguk. "Benarkah? Kalau begitu kau ingat kenapa kau masuk rumah sakit?" tanya Asyraf sekali lagi. Shahih mengangguk.


"Kak Syihab... lantai.... licin.... meja berdarah. Aku masih.... bisa dengar... bisa perkataan... masih dengar perkataanmu.... perkataanmu saat itu," ujar Shahih terbata-bata.


"Oh! Maksudmu kau masih bisa mendengar pembicaraan kami setelah kepalamu terbentur meja itu?" tanya Asyraf. Shahih pun mengangguk.


"Tu... tunggu sampai ..... sampai aku pulih... aku.... bisa bicara... normal lagi," ujar Shahih, ia menunjukkan beberapa bagian tubuhnya masih terus bergetar, ia masih belum bisa mengendalikannya.


"Baiklah, berarti nggak ada masalah denganmu, hanya tubuhmu saja yang kebetulan mengalami kerusakan motorik! Kau bisa mulai lagi dari awal dengan perlahan, mungkin ini hampir seperti pecandu narkoba yang sering mengalami kejang, kau bisa mengontrolnya sedikit demi sedikit!" ujar Asyraf.


"Ra... rahasia... jangan bilang... rahasia siapapun! Jangan.... bilang.... bilang siapapun," ujar Shahih. "Baiklah, aku akan tetap diam. Kau ingin berpura-pura mengalami gangguan mental?" tanya Asyraf.


"Tubuhku.... gangguan... sudah seperti.... tubuh... orang.... mental," ujar Shahih. "Aish! Bicaramu kacau sekali!" ujar Asyraf kesal.


"Su... sah mengucapkan mulut.... semua.. kata... dengan..... mengucapkan....semua kata... dengan mulut..... ini," ujar Shahih.


"Pensil! Ambilkan... buku... papan," ujar Shahih. Asyraf pun langsung mengambilkan yang ia inginkan.


Shahih mencoba memegang pensil dengan tangannya yang terus gemetaran, ia berusaha menuliskan sesuatu.


"Kau kidal?" tanya Asyraf. "Nggak, tangan kananku lebih sudah untuk bergerak karena lebih berat, aku hanya bisa leluasa dengan tangan kiriku," jawab Shahih lewat tulisan yang tampak acak-acakan itu.


"Benar juga, karena otot tangan kanan orang biasa pasti lebih besar dari tangan kiri," ujar Asyraf menyimpulkan.


Shahih pun berusaha merapikan tulisannya meskipun tangannya terus bergetar hebat. Ia terlihat sangat tekun dalam dua jam terakhir lalu menyerah karena kelelahan.


"Aku ingin membaca buku, tolong ambilkan di meja itu, yang berwarna merah," ujar Shahih lewat tulisannya lagi.


"Sebaiknya gunakan mulutmu saja untuk berbicara, kau juga harus melatih mulutmu," ujar Asyraf.


"Nggak..... tenaga.... habis... nggak ada... tenaga... lagi," ujar Shahih dengan napas terengah-engah, ia kembali menuliskan sesuatu untuk Asyraf.

__ADS_1


"Bagian belakang leherku terasa seperti kesemutan, aku nggak bisa banyak bergerak," ujar Shahih. Setelah menerima buku dari Asyraf, ia pun langsung membacanya hingga ketiduran.


Asyraf pun langsung keluar kamar untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Saat itulah tiba-tiba pintu rumah terbuka, Alfa langsung masuk ke dalam rumah dengan raut wajah cemas.


"Shahih? Kamu baik-baik saja? Paman baru dengar kalau kamu baru siuman dari kecelakaan! Mana yang sakit? Ada yang terluka?" tanya Alfa khawatir sambil memeriksa bagian tubuh Asyraf.


"Paman siapa?" tanya Asyraf keheranan, ia langsung menyingkirkan tangan Alfa dari tubuhnya. "Ini aku, Shahih! Pamanmu! Kamu nggak ingat? Kamu hilang ingatan?" tanya Alfa sambil bertekuk lutut di hadapan Asyraf.


"Aku bukan Shahih," ujar Asyraf. "Apa? Kamu juga nggak ingat namamu sendiri?" tanya Alfa. Asyraf semakin kesal dengan pertanyaan pria itu.


"Argh! Shahih ada di kamar! Aku bukan Shahih!" ujar Asyraf kesal. Ia langsung membukakan pintu kamarnya lalu menarik lengan Alfa untuk mengajaknya masuk ke dalam.


Alfa pun terkejut bukan main karena melihat dua Shahih ada di hadapannya. "Aku benci dengan suasana ini! Namaku Asyraf, kembaran Shahih! Kuharap paman nggak banyak tanya lagi," ujar Asyraf kemudian meninggalkan kamar itu, ia harus melakukan aktivitasnya.


Alfa pun terduduk diam di samping Shahih yang sedang tidur, ia bahkan mengusap-usap keningnya.


Shahih pun langsung terbangun, karena terkejut, ia tidak bisa mengangkat kepalanya dengan benar. Alfa pun membantunya agar bisa duduk.


Sayangnya Shahih tetap tidak bisa menatap Alfa, kepalanya terasa lebih berat sehingga terlihat seperti orang yang sedang membungkuk.


"A... ada... apa... kesini... paman?" tanya Shahih dengan terbata-bata. "Shahih? Apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini?" tanya Alfa sambil memegang kedua pundak Shahih.


Shahih terkejut sekali lagi hingga kedua tangannya bergetar hebat. Ia berusaha menahan getaran itu dengan mengaitkan jari telunjuk kanan dan kirinya.


"Ma... maaf Shahih, paman nggak bermaksud mengejutkanmu! Paman minta maaf," ujar Alfa sambil memeluk Shahih.


Sekali lagi Shahih terkejut, ia merasa otot kedua tangannya terasa kaku, ia tidak bisa menyingkirkan Alfa darinya.


"Paman... aku tidur... mau.... tidur," ujar Shahih. "Oh, baiklah! Istirahat yang cukup ya," ujar Alfa.


Pria itu merasa sedih karena sekarang tatapan Shahih tampak kosong seperti orang bodoh, padahal sebelumnya Shahih selalu menunjukkan wajahnya dengan penuh misteri, namun saat ini ia terlihat seperti pecandu narkoba yang sudah kehilangan akal.


"Ya ampun Shahih, kenapa kamu jadi begini sih?" Alfa terduduk sambil menangis. Dari belakang Syihab pun berlutut. "Maafkan aku paman, ini semua salahku! Aku yang mendorong Shahih hingga terjatuh membentur meja," ujar Syihab.


Alfa pun terdiam, wajahnya berubah murka. "Apa katamu? Mendorongnya hingga terjatuh? Kau mendorong anak kecil itu dengan tanganmu? Sekuat tenaga? Kenapa semakin besar kau malah semakin mirip Ghozali? Kenapa? Kau tahu? Paman sangat membenci ayahmu itu! Kenapa kau sama-sama arogannya dengan ayahmu?" teriak Alfa.


Shahih pun terkejut, ia hampir mengalami kejang, hampir seluruh tubuhnya terasa kaku. "Apa yang kalian lakukan di sini? Kenap kalian berteriak di hadapan Shahih? Keluar!" tegur Asyraf, ia memaksa Syihab dan Alfa keluar dari kamar.


"Sudah cukup kalian membuat Shahih terluka! Kalian ingin membunuhnya? Dia satu-satunya saudara bagiku, nggak akan kubiarkan kalian menyentuhnya lagi!" ujar Asyraf kemudian menutup pintu kamarnya lalu menguncinya.

__ADS_1


Alfa pun menarik kerah Syihab hingga seluruh tubuhnya terangkat. "Bersyukurlah kau karena kau adalah anak kakakku, kalau kau Ghozali, aku nggak akan tinggal diam!" ujar Alfa kemudian mendorong Syihab hingga jatuh ke lantai. Ia pun pergi dari rumah itu.


Syihab hanya bisa menangis merenungi perbuatannya, semakin sering Alfa menyamakan dirinya dengan keburukan ayahnya, ia semakin benci disamakan dengan ayahnya sendiri. Ia tidak terima kalau dirinya suka berbuat kasar seperti ayahnya.


__ADS_2