
"Asa! Akhirnya kamu kembali! Gimana? Kamu sudah sehat kan?" tanya Fashalay. "Eh, anu.. Iya ehm..." Asyraf tampak gagap karena ia tiba-tiba dikerumuni banyak orang yang tak dikenalinya.
Orang-orang pun menatapnya keheranan, baru pertama kali ini mereka melihat ekspresi Asyraf begitu payah. Padahal biasanya ia selalu menunjukkan ekspresi dinginnya.
"Apa yang kalian lakukan? Kalian menakuti Asa!" ujar Shadiq, ia langsung menjauhkan Asyraf dari keramaian.
"Ada apa sih? Tumben sekali Shadiq sedekat itu dengan Asa. Apa yang terjadi, Hasan?" tanya Ario. "Asa hilang ingatan, dia nggak kenal kalian semua," ujar Hasan singkat. Ia selalu tidak ragu-ragu saat menjawab pertanyaan teman-temannya dengan suara lantangnya.
"Heh? Hilang ingatan?" anak-anak tampak terkejut, mereka kembali mengerumuni Asyraf, bahkan Shadiq kewalahan karena tidak bisa menghadang mereka.
"Seriusan, Asa? Kamu nggak kenal aku dong?" tanya Ario. "Wah! Padahal aku cuma lihat orang hilang ingatan di film-film doang! Ternyata bisa terjadi di dunia nyata ya?" ujar Fashalay terkesan.
Mereka pun mengulang kembali perkenalan mereka dengan Asyraf layaknya anak yang baru masuk pesantren. Bahkan mereka bisa lebih mendekati Asyraf sekarang karena ia tampak polos dan gagap.
"Mo.... Mohon bantuannya, teman-teman," ujar Asyraf. "Ciye, Asa minta bantuan kita nih!" seru anak-anak.
"Kalau kamu butuh apa-apa, bilang ke kami saja. Nggak usah malu-malu, Asa!" ujar Ario sambil merangkul bahu anak itu.
"Woi! Kalian terlihat seperti hendak merundungnya!" ujar Shadiq tidak terima, ia menyingkirkan lengan Ario dari bahu Asyraf.
"Shadiq protektif sekali! Ada apa ini? Emangnya dia pacarmu?" tanya Fashalay. "Dia adikku! Kenapa? Masalah?" tanya Shadiq. Melihat wajah seriusnya, anak-anak pun terdiam.
"Nggak apa-apa kok, Shadiq. Aku baik-baik saja," ujar Asyraf, ia merasa tidak nyaman dengan anak-anak lainnya karena Shadiq tiba-tiba marah.
"Oh, be.... Begitukah? Maaf," ujar Shadiq, ia langsung berubah sikap. Nyatanya ia masih takut jikalau sifat asli Asyraf kembali, ia bisa dihujani banyak teguran olehnya.
"Nggak papa kok, nggak usah minta maaf," ujar Asyraf, ia semakin tidak nyaman dengan raut wajah Shadiq. "Eh? Begitukah? Kalau aku ada salah tinggal bilang aja," ujar Shadiq.
Asyraf terus menatapnya agak lama, tentu saja Shadiq semakin berkeringat hingga menelan ludah. "Ke... Kenapa menatapku begitu?" tanya Shadiq. Asyraf pun tertawa. "Kamu..... Mirip banget sama ayah, benar-benar sama persis," ujar Asyraf.
Anak-anak sempat terdiam melihat Asyraf tiba-tiba tersenyum ramah. "Hei, bukankah itu gawat? Kalau ada kakak kelas yang menyadarinya, bisa bahaya!" bisik salah seorang.
__ADS_1
"Benar sekali! Kasus homo itu? Menjijikkan! Aku takut Asa jadi korban seseorang, soalnya dia kayak perempuan wajahnya," ujar Ario.
"Asa, pokoknya kamu nggak boleh dekat-dekat sama kakak kelas ya! Pokoknya nggak boleh!" ujar Fashalay. "Kenapa?" tanya Asa.
"Hati-hati saja. Maaf jika membuatmu nggak betah di sini, tapi.... Kalau saja ada orang yang tiba-tiba menggerayamimu di malam hari saat kamu tidur..." Fashalay ragu untuk menjelaskan lebih detailnya.
"Oh, kalau masalah itu, tenang saja. Meskipun begini, aku masih ahli beladiri kok," ujar Asyraf sambil tersenyum menyeramkan.
"Hih! Dia kembali seperti semula? Ingatanmu kembali, Asa?" tanya Ario. "Oh? Aku nggak ingat apa-apa. Aku juga baru tahu bisa beladiri karena kak Zahra yang mengajakku latihan. Ngomong-ngomong kenapa wajah kalian tiba-tiba ketakutan begitu? Ada yang salah? Shadiq sudah nggak marah lagi loh," ujar Asyraf.
"Ehm, bu... Bukan apa-apa. Syukurlah jika kamu baik-baik saja," ujar Fashalay, ia dan beberapa anak lainnya tampak menyembunyikan sesuatu.
Tak lama kemudian Alfa pun datang ke kamar anak-anak itu, membuat suasana hening seketika.
Asyraf sempat terkejut melihat wajah pria itu, sekilas ia merasa lebih mirip dengannya dari pada Ghozali.
Pikirannya pun tiba-tiba menjadi kacau balau. Ia pikir keluarganya yang sekarang sedang mengelabuinya bahwa dirinya bukanlah anak kandung mereka, melainkan anak dari pria yang ada di hadapannya ini.
Pertama, meskipun kembaran Shadiq dan Hasan, ia tidak memiliki wajah yang identik dengan mereka berdua. Kedua, kenyataan ia tidur di kamar yang berbeda dari Shadiq dan Hasan membuatnya semakin merasa tidak nyaman.
Ia hanya bisa menundukkan kepala di hadapan Alfa, ia tidak ingin menatap pria dengan wajah yang sangat mirip dengannya itu.
"Loh? Ada apa Asa? Kamu baik-baik saja?" tanya Alfa sambil memegang pundak anak itu. "Paman, dia hilang ingatan, dia nggak kenal loh," ujar Hasan.
"Oh, iya! Benar juga!" ujar Alfa, ia tiba-tiba jongkok agar bisa melihat wajahnya Asa yang tiba-tiba menunduk.
"Asa, ini paman! Adik ibumu loh! Kalau kamu nggak ingat, biar paman perkenalan lagi," ujar Alfa sambil mengulurkan tangan untuk mengajaknya bersalaman.
Seketika prasangka-prasangka buruk Asyraf pun menghilang. Ia baru sadar kalau dirinya tidak pernah membandingkan wajahnya dengan ibunya sendiri. Karena laki-laki, ia pikir seharusnya ia mirip Ghozali.
Setelah berkali-kali menatap Alfa, ia pun bisa membandingkan wajahnya dengan Aisyah bahwa mereka berdua benar-benar mirip, meskipun wajah Alfa lebih gelap dan kasar karena ia seorang pria.
__ADS_1
Asyraf pun langsung menjabat tangan pria itu sambil menyeringai lebar.
"Bagus sekali! Teruslah tersenyum seperti itu, jangan sampai lupa cara tersenyum," ujar Alfa sambil mencubit pipi Alfa, ia tidak bisa berlama-lama di kamar itu, ia langsung pergi meninggalkannya.
"Apakah tadi itu ustadz Alfa? Kenapa auranya tiba-tiba berbeda?" tanya Ario keheranan. "Mungkin sebentar lagi dia akan menikah. Kalian tahu kan? Dia ustadz tertua yang belum menikah di sini. Rata-rata mereka sudah menikah di usia 20 sampai 25 tahun, tapi dia tak kunjung menikah," ujar Fashalay.
"Kalian sudah tahu ustadz Alfa mau menikah dengan siapa?" tanya Ario pada tiga bersaudara itu. Semuanya pun menggeleng, mereka juga tidak bisa membayangkan seperti apa Alfa menikah.
"Aku nggak yakin, bahkan sama kakakku atau ustadzah lain juga masih suka adu mulut," ujar Hasan.
"Benar juga, caranya bicara nggak pandang bulu, entah laki-laki atau perempuan, " ujar Ario. "Tapi bagus kok! Dia bela-belain kita, anak-anak asrama putra saat kesulitan pinjam barang asrama putri. Dari awal emang asrama putri itu rempong dan menyebalkan!" ujar Fashalay kesal.
"Nggak bisa kebayang kalau kita jadi kakak pengurus ntar, apalagi ketika berurusan dengan peminjaman di asrama putri," ujar Ario.
"Apalagi kakak pengurus di sana bukan dipegang oleh kelas 11 loh! Tapi kelas 12," ujar Hasan. "Loh? Seriusan? Kok bisa? Berarti nanti kakak pengurus putri lebih tua dari kita dong? Kukira bakal sebaya!" ujar Fashalay kecewa.
"Aku dengar dari kak Zahra, katanya di sana komplain terkait kakak pengurus asrama, katanya mereka belum cukup siap di kelas 11, masih belum berani memegang kepengurusan asrama," ujar Shadiq.
"Egois sekali! Padahal kita di sini kakak kelas 11 biasa-biasa saja, nggak ada yang protes!" ujar Fashalay.
"Huh, namanya aja perempuan, mereka selalu hati-hati dan hanya bertindak kalau sudah cukup yakin saja, pokoknya gampang banget pesimis!" ujar Ario.
"Yah! Kalau begini bakal susah buat berdiskusi dong! Kudengar kalau perempuan lebih tua dari kita, sukanya bersikap dingin dan jutek banget!" ujar Fashalay.
"Tenang aja, kan ada kakaknya mereka bertiga. Kita suruh mereka yang ngelobi ke pengurus asrama putri," ujar Ario.
"Loh kok jadi kami sih? Jangan aku! Hasan aja yang dekat sama kak zahra," ujar Shadiq, ia juga tampak enggan menghadapi Zahra karena saat pulang selalu menganggunya, layaknya Syihab.
"Eh, masa sih? Keknya kak Zahra kemarin ngajak kamu pergi ke pasar buat belanja loh," ujar Hasan. "I.... itu cuma sekali! Kamu yang paling sering bareng kak Zahra, kamu juga yang tidur bareng sama kak Zahra waktu kita tinggal di rumah paman Rofiq," ujar Shadiq.
"Cuma gara-gara tidur doang! Kamu juga tidur dengan kami! Apa bedanya?" tanya Hasan. "Eh, nggak! Aku tidur sama kak Syihab, sama mas Risky juga," ujar Shadiq menyangkal.
__ADS_1
Asyraf tampak kebingungan dengan pembicaraan mereka. Ia tidak begitu mengerti cerita panjang kakak beradik itu karena ia sendiri hilang ingatan.