
Ghozali pulang tepat saat adzan Maghrib tiba, Aisyah pun langsung membukakan pintu untuknya. "Gimana anak-anak di TK tadi?" tanya Ghozali.
"Mereka sangat luar biasa! Berteriak keras setelah melihat ayah mereka pergi di depan mereka," ujar Aisyah. Ghozali pun tertawa.
"meski begitu, Shahih nggak rewel sama sekali. Aku jadi takut mas," ujar Aisyah. "Perlukah kita periksa saja? Aku nggak lihat ada yang bermasalah dari kesehatannya loh, mungkin dokter spesialis anak bisa mengetahui ini," ujar Ghozali.
Akhirnya keesokan harinya mereka berdua pun membawa ketiga anaknya untuk periksa ke dokter, namun tujuan mereka hanya satu, yaitu memeriksa keadaan Shahih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ketiga anak ini baik-baik saja kok, nggak ada masalah," ujar dokter. "Dok, dua anak kami yang lainnya memang tampak normal, tapi anak terakhir kami ini jarang berekspresi. Ia bahkan jarang tertawa ataupun menangis!" ujar Ghozali.
"Mungkin karena kurang perhatian dari kalian. Kudengar mereka bertiga kembar kan? Namun salah satunya tampak berbeda dengan dua lainnya, apakah yang pendiam itu yang wajahnya berbeda?" tanya dokter.
"Benar sekali, dok!" ujar Aisyah. "Ia pasti merasa terkucilkan. Normalnya beberapa orang memang nggak tertarik dengan kembar yang berbeda wajah. Sayangnya anak kalian kembar tiga, lalu yang dua tampak sama persis sedangkan salah satunya berbeda. Pastinya orang-orang lebih tertarik untuk memperhatikan dua anak kembar lainnya daripada anak yang satunya, kalian harus memberikan perhatian yang setara, jangan berlebihan atau malah kurang," ujar dokter.
Setelah selesai periksa, akhirnya mereka pun kembali ke rumah. Ghozali pun mendekati Shahih lalu mengangkatnya ke pangkuannya.
"Shahih, kamu baik-baik saja? Ada yang sakit?" tanya Ghozali tiba-tiba. Shahih hanya menggeleng kepala. Selanjutnya ia memangku Hasan dan menanyakan hal yang sama. Saat itulah ia merasakan adanya perbedaan pada Shahih.
Tidak seperti dua anak lainnya yang banyak bertingkah, banyak menggerakkan tangan, Shahih duduk dengan tenang di pangkuannya , bahkan meletakkan kedua tangan di paha, tanpa bergerak sama sekali.
Ghozali mencoba mengabaikan hal itu, ia mengajak ketiga anaknya berbincang-bincang. "Tadi di sekolah kalian ngapain aja?" tanya Ghozali. Kedua anaknya menjawab dengan perkataan yang tidak jelas. Mereka memang belum terlalu pandai berbicara.
__ADS_1
Meskipun begitu, Ghozali tetap senang karena mereka berusaha berinteraksi satu sama lain seperti yang orang-orang lakukan meskipun perkataan mereka masih tidak jelas. Sayangnya Shahih tidak demikian, ia malah berdiam di sofa saat kedua anak lainnya asyik bermain.
Tidak lama kemudian Syihab dan Zahra pun pulang. Syihab langsung berlari ke arah dua kembar sedangkan Zahra langsung menghampiri Shahih.
"Mas, sini sebentar!" ujar Aisyah, Ghozali pun langsung menghampirinya. "Ada apa?" tanya Ghozali.
"Ini." Aisyah memberikan struk belanja dan pengisian bensin. "Eh? Heh? Ini apa? Kok banyak sekali?" Ghozali terkejut.
"Kemarin aku nggak bisa belanja karena anak-anak rewel, akhirnya Alfa yang belanja. Sayangnya ia membeli semua barang mahal dengan uangnya sendiri. Aku merasa nggak nyaman, kita sudah merepotkannya untuk menemaniku belanja tapi malah dia yang bayar semuanya. Ia bahkan bersikeras nggak mau diganti uangnya, tapi aku tetap memaksa dan meminta struk ini," ujar Aisyah.
Ghozali sempat tertawa. "Sepertinya dia memberikan struk pengisian bensin ini dengan suka rela," ujar Ghozali. "Kok bisa tahu mas? Dia sempat kesal saat itu loh, lalu ngasih struk isi bensin juga," ujar Aisyah.
"Tentu saja, biasanya kalau masalah belanja, kamu akan minta ganti uang belanjaan saja, kan yang bermasalah di situ, tapi kok ada struk isi bensin segala, berarti dia yang minta," ujar Ghozali.
"Aku malah lebih khawatir dengan hubungan kalian daripada masalah uang ini. Kenapa kalian nggak bisa akur sih?" tanya Aisyah keheranan. "Entahlah, padahal aku nggak salah apa-apa loh. Dia yang membenciku, bahkan saat pertama kali kita bertemu," ujar Ghozali.
"Hahaha! Aku ingat mas, dia kecewa sekali karena mendengarmu membaca Al-Qur'an," ujar Aisyah. "Kalau aku nggak bisa harusnya diajarin! Bukan dibenci. Aku ingat sekali ekspresinya saat mendengarku baca Al-Qur'an. Kayak orang lagi ngunyah nasi tapi ada kerikilnya," ujar Ghozali. "Perumpamaanmu receh sekali mas! Ya ampun," ujar Aisyah sambil tak bisa berhenti tertawa.
Zahra dan Shahih pun masuk ke dalam kamar Aisyah dan Ghozali. "Ada apa, Zahra? Lain kali kalau masuk ketuk pintu dulu ya," ujar Ghozali. "Iya ayah, Zahra mau nanya," ujar Zahra.
"Ada apa Zahra?" tanya Ghozali. "Kenapa Zahra sama Shahih berbeda dengan anak-anak yang lainnya? Mereka semua mirip ayah, rambut mereka juga," ujar Zahra. Ghozali pun tertawa.
"Ya nggak perlu dipaksain mirip juga. Kamu kan perempuan, jadi lebih mirip ibu," ujar Ghozali. "Tapi, kenapa Shahih nggak mirip ayah? Dia kan laki-laki," ujar Zahra.
__ADS_1
"Kata siapa nggak mirip? Lihat baik-baik," ujar Ghozali sambil mendudukkan Shahih di atas pangkuannya. "Lihat! Kami berdua mirip kan? Sama-sama punya kepala yang besar," ujar Ghozali. Entah kenapa hal itu membuat Shahih tersenyum tipis. Aisyah bisa menyadari hal itu karena selama ini Shahih jarang tersenyum.
"Benar sekali, dibandingkan anak-anak lainnya, Shahih lebih mirip ayah tuh!" ujar Aisyah menimpali, setidaknya ia ingin Shahih terhibur.
"Shahih juga sangat mirip dengan ibu, lihatlah wajah mereka berdua," ujar Ghozali. "Benar sekali! Shahih juga mirip Zahra!" seru Zahra.
Mendengar perkataan anak-anak kecil yang terkadang tidak jelas membuat Ghozali dan Aisyah geli dan ingin terus tertawa. Zahra dan Shahih pun keluar kamar.
"Kira-kira ketika besar nanti, mereka akan ingat nggak yah kalau pernah bersikap lugu seperti ini?" tanya Aisyah. "Kayaknya nggak sih, mereka terlalu malu untuk mengingatnya. Kalaupun ingat, mungkin bakal pura-pura nggak ingat," ujar Ghozali.
Tidak lama kemudian Syihab masuk ke dalam kamar. Entah kenapa hal itu membuat Ghozali kesal. "Syihab, lain kali kalau mau masuk kamar ayah dan ibu ketuk pintu dulu! Jangan langsung masuk!" tegur Ghozali.
"Iya, yah! Maaf! Aku mau nanya," ujar Syihab, ia tidak terlalu menggubris teguran ayahnya, hal itu membuat Ghozali gemas. Ia pun langsung mengangkat tubuh Syihab dan membaringkannya di kasur.
"Kalau kamu dibilangin ayah, dengerin baik-baik! Jangan langsung bicara hal lain," ujar Ghozali kemudian menggelitik perut Syihab.
"Iya yah! Ampun! Maafkan aku! Aku nggak akan mengulagi lagi!" ujar Syihab tidak bisa berhenti tertawa karena ayahnya terus menggelitiknya.
"Hentikan ayah! Geli!" ujar Syihab. "Sudahlah mas! Nanti malah sakit perut," ujar Aisyah. "Jangan ulangi lagi loh! Ingat! Ntar ayah gelitikin sampai ngompol baru tahu rasa," ujar Ghozali.
"Iya! Iya! Aku ke sini cuma mau nanya doang kok!" ujar Syihab kesal, karena moodnya sudah buruk, ia pun langsung keluar kamar tanpa bertanya.
"Tuhkan, dia jadi ngambek mas!" ujar Aisyah. "Dia dulu yang bikin marah, mereka sudah punya kamar masing-masing harusnya tahu kalau mereka nggak perlu datang ke sini lagi," ujar Ghozali. Aisyah tidak ingin membuat suasana hati Ghozali memburuk.
__ADS_1
"Mas, berbaringlah, biar kupijat," ujar Aisyah. Ghozali pun langsung membaringkan kepalanya di pangkuan Aisyah tanpa sepatah kata pun. Aisyah juga sengaja diam agar suaminya tidak marah.