Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Rumah Rofiq


__ADS_3

Rofiq pun sudah kembali tenang, kepalanya benar-benar pusing. Zahra pun datang sambil menyuguhinya secangkir teh.


"Oh, makasih Zahra," ujar Rofiq sambil tersenyum ramah. Setelah bisa berpikir jernih, Rofiq langsung membodoh-bodohi diri sendiri, ia tidak menyangka mengusir semua orang dari rumah itu, ia sendiri sampai kebingungan harus berbuat apa untuk anak-anak Ghozali.


Ia merasa tidak nyaman untuk menghubungi keluarganya sendiri karena telah meneriaki mereka semua. Akhirnya ia pun membawa anak-anak Ghozali ke dalam mobil.


"Tunggu dulu! Shahih! Di mana Shahih?" tanya Zahra. "Siapa Shahih?" tanya Rofiq. "Dih! Masak lupa sih! Adik terakhir kami! Kembaran Shadiq dan Hasan! Harusnya tadi dia di sini!" ujar Zahra.


"Oh, anak yang diam itu? Lah di mana? Bukankah tadi sama kalian?" tanya Rofiq keheranan. "Kayaknya sih pergi sama paman Alfa, biasanya paman Alfa suka ngajak anak itu pergi sendirian," ujar Syihab.


Rofiq pun mencoba menghubungi Alfa, namun Alfa tidak mengangkat. Akhirnya ia mencoba untuk mengirim SMS.


Akhirnya Alfa pun menelpon Rofiq kembali. "Aku nggak bawa Shahih ke sini," ujar Alfa singkat lalu menutup kembali teleponnya. Setelah menelpon semua adik-adiknya, mereka juga mengatakan hal yang sama, bahkan mereka tidak mengenal siapa itu Shahih.


Ia pun memanggil-manggil Shahih di sekitar rumah, sayangnya tidak ada respon apapun, bahkan setelah mengecek ke seluruh ruangan yang ada di rumah itu, ia tetap tidak menemukan Shahih.


Akhirnya ia menunggu selama berjam-jam di rumah itu, berharap Shahih datang ke rumah. Sayangnya hingga larut malam pun, Shahih tak kunjung pulang ke rumah.


Tak lama kemudian Lilis menelpon. "Pak? Belum pulang sih? Masih ngurus tempat Ghozali?" tanya Lilis. "Sudah selesai, tapi ini Shahih nggak pulang-pulang juga, aku jadi khawatir," ujar Rofiq.


"Shahih? Siapa Shahih?" tanya Lilis. "Anak terakhir Ghozali," ujar Rofiq. "Aku baru denger malahan. Kirain anak terakhirnya si kembar itu, ada anak yang lebih kecil lagi kah?" tanya Lilis.


"Nggak, anak terakhir Ghozali kembar tiga," ujar Rofiq. "Eh? Kembar tiga? Kayaknya di foto cuma ada dua anak kecil loh, mana yang satunya?" tanya Lilis keheranan. "Aku juga baru tahu kemarin, ada anak satu lagi, tapi mukanya nggak mirip sama dua saudara kembarnya," ujar Rofiq.


"Lah, jam segini kok belum pulang sih ke mana? Mungkin adik-adikmu yang membawanya, atau keluarga Aisyah yang membawanya," ujar Lilis.


"Nggak, mereka nggak bawa Shahih, adik-adikku juga nggak ada yang kenal sama dia," ujar Rofiq.


"Lah gimana sih? Kok nggak ada yang kenal!" Lilis keheranan. "Aku juga baru lihat mukanya tadi, dia sangat mirip Aisyah," ujar Rofiq. "Loh? Anak perempuan?" tanya Lilis. "Bukan! Dia laki-laki," ujar Rofiq.


"Coba lapor ke polisi! Biar mereka ikut mencari," ujar Lilis. Akhirnya Rofiq pun melaporkan kehilangan anak pada kantor polisi terdekat.


Mereka pun menanyai beberapa hal terkait kepergian Shahih. Akhirnya Rofiq pun menjelaskan seadanya sedangkan polisi tidak mendapatkan petunjuk apapun.


"Duh! Bakal susah sih! Shahih kan nggak pernah ngomong!" ujar Syihab khawatir. "Nggak pernah ngomong tuh gara-gara kalian! Nggak ada yang ngajak dia ngomong! Sadar nggak sih kalian? Punya adik tapi anggap dia kayak orang asing!" tegur Zahra.


Walaupun Zahra hanya menegur saudaranya, Rofiq juga ikut merasa bersalah mewakili keluarganya, pasalnya dia dan adik-adiknya juga tidak ada satupun yang mengenal Shahih.


Zahra pun langsung menghampiri petugas kepolisian. "Paman, adikku hari ini harusnya masih pakai gamis biru, ia juga mengenakan sandal hitamnya. Dia sebaya dengan dua anak ini, terus mukanya agak mirip aku," ujar Zahra, ia mencoba menjelaskan sedetail mungkin pada petugas, ia benar-benar khawatir dengan adiknya.


Sayangnya anak-anak lainnya sudah mulai mengantuk, Rofiq bingung hendak membawa mereka ke mana.


Akhirnya ia pun pamit sebentar dari kantor polisi untuk memulangkan anak-anak itu. Mau tidak mau ia pun membawa anak-anak Ghozali ke rumahnya.


Saat itulah Lilis terkejut. "Apa ini? Ramai sekali!" ujar Lilis. "Mereka anak-anak Ghozali," ujar Rofiq. "Iya, aku tahu! Tapi kenapa mereka di sini? Kenapa bapak bawa mereka ke sini?" tanya Lilis semakin heran.

__ADS_1


"Mereka sudah lelah, mak! Mereka harus tidur, masih kecil-kecil," ujar Rofiq. "Lalu? Bapak mau suruh mereka tidur di rumah sempit ini?" Lilis benar-benar tidak mengerti pemikiran suaminya. Rofiq hanya terdiam.


"Bukannya rumah adik-adikmu lebih besar dan luas? Kenapa malah bapak yang menanggung semua anak-anaknya?" tanya Lilis keheranan.


"Aku nggak bisa jelasin sekarang mak! Aku mau ke kantor polisi dulu! Anak terakhir Ghozali menghilang!" ujar Rofiq.


Setelah mengatakan hal itu, ia buru-buru pergi meninggalkan Lilis dan anak-anak Ghozali. Lilis pun menghadapi keempat anak itu sambil mengerutkan dahi.


"Ayo masuk! Di luar dingin loh!" ujar Lilis. Akhirnya anak-anak itu masuk ke dalam rumah yang sempit itu.


Syihab langsung berkeringat karena ruang tamunya sangat sempit, bahkan jarak antara langit-langit ruangan dengan lantainya tidak sampai tiga meter, hanya dua meter lebih sedikit.


"Maaf karena kamar yang kosong tinggal kamar tamu ini, sementara kalian berempat tidur di sini dulu," ujar Lilis sambil menunjukkan kamar kosong itu kemudian kembali ke dalam untuk memanggil anaknya.


"Aku tidur bareng kak Syihab? Di kamar ini?" Zahra merasa kecewa, Syihab tampak diam saja, pura-pura tidak peduli.


Tak lama kemudian seorang remaja masuk ke dalam kamar. "Wahahaha! Lihat siapa ini! Syihab! Kamu sudah besar ternyata!" seru remaja itu, ia adalah Risky, anak Rofiq.


"Eh! Mas Risky! Sehat mas?" tanya Syihab. "Wah jelas sehat dong!" ujar Risky sambil memeluk Syihab. "Wah! Nggak nyangka kamu besar sekali! Tinggimu bahkan sama denganku!" ujar Risky sambil menepuk-nepuk punggung Syihab, ia memang dua tahun lebih tua dari Syihab.


Zahra merasa tidak nyaman dengan tingkah remaja itu, terlalu enerjik, bahkan mulai memeluk Shadiq dan Hasan, hanya tinggal dirinya yang belum dipeluk.


"Wah lihat ini! Adik sepupuku yang paling cantik! Siapa namanya yah? Sahar? Sarah? Eh? Siapa?" Risky tampak kebingungan. "Namanya Zahra," ujar Syihab. "Oh iya! Zahra! Benar sekali!" ujar Risky sambil membentangkan kedua tangannya, ia hendak memeluk Zahra juga.


Akhirnya Syihab langsung menghalangi Risky agar tidak memeluk Zahra. "Hahahaha benar sekali! Adikku memang cantik kan? Harusnya kamu minta adik perempuan ke bapak sama emakmu," ujar Syihab, ia berusaha agar Risky mengalihkan perhatian dari Zahra.


Akhirnya Risky pun menurunkan tangannya lalu asyik mengobrol dengan Syihab. Zahra langsung mendorong kakaknya itu agar keluar kamar bersama Risky.


Setelah mereka keluar, Zahra pun dapat menghela nafas lega. Ia pun duduk termenung di kasur, ia masih tidak bisa menerima kabar tentang ayahnya yang sudah meninggal itu, apalagi karena jasadnya belum ditemukan, ia benar-benar merasa sedih hingga menangis, akhirnya Hasan mencoba menenangkannya, ia mencoba memeluk Zahra.


Akhirnya karena kelelahan, mereka pun tertidur di kasur dalam kesedihan.


Tak lama kemudian Zahra mendapati wajah terbentur sesuatu yang keras, ia merasa kesakitan dan segera membuka matanya.


Akhirnya ia pun dapat melihat benda apa yang baru saja jatuh ke wajahnya. Benda itu adalah tangan kekar Syihab.


Zahra sempat merasakan sesuatu berdetak di telapak tangannya, ternyata tangannya sudah berada di dada Syihab. Ia pun terkejut karena Syihab tidak memakai baju, ia langsung menjerit.


"Heh? Heeeh? A... ahda apha Zahra? Kenapha khamu menjyerit?" tanya Syihab dengan wajah setengah sadar.


"Dih! Kenapa kakak nggak pakai baju sih?" Zahra langsung menjauh dari kakaknya dengan wajah malu, ia bahkan melempar selimut ke arah Syihab.


"Di sini sumuk tahu! Panas banget! Kalau pakai baju langsung keringatan!" ujar Syihab. "Lah! Pergi deh! Jangan tidur di sini!" ujar Zahra suaranya benar-benar membuat keributan.


"Iya-iya maaf, kakak nggak tidur di sini deh!" ujar Syihab kemudian mengambil pakaiannya, ia pun berjalan sempoyongan keluar kamar sambil memakai bajunya lalu tidur di sofa ruang tamu.

__ADS_1


Zahra sendiri masih tidak percaya sempat meraba-raba dada Syihab. Ia benar-benar malu sampai kantuknya hilang. Ia berniat menghajar kakaknya habis habisan esok harinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Adzan subuh berkumandang, Zahra langsung terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah menghajar kakaknya habis-habisan.


Ia pun segera keluar kamar dan mendapati Syihab sedang tertidur di sofa dengan posisi menyedihkan. Zahra merasa iba padanya karena harus tidur di tempat itu, akhirnya ia mengurungkan niat untuk menghajarnya.


"Kak Syihab! Hei! Bangun! Sudah Subuh!" ujar Zahra. Sekilas Syihab membuka mata dan langsung beranjak dari posisi tidurnya karena terkejut. Saat itu juga dahinya membentur dahi Zahra.


Zahra pun terjungkal ke belakang lalu merintih kesakitan. Syihab pun langsung menyadarkan diri dan mendapati adiknya itu menangis.


"Duh, Zahra! Aku minta maaf! Kamu mirip banget sama paman Alfa, bikin aku kaget!" ujar Syihab. Zahra masih ngambek dan kesal, ia terus memegangi dahinya karena kesaktian.


"Coba kakak lihat dulu," ujar Syihab, sayangnya Zahra menolak, ia benar-benar kesal lalu langsung memukuli Syihab.


Rofiq yang baru saja pulang dari urusannya langsung menyaksikan hal itu, ia langsung mengangkat tubuh Zahra dan menjauhkannya dari Syihab. Sayangnya hidung Syihab sempat berdarah karena Zahra memukulinya.


"Ada apa ini? Subuh-subuh kok sudah ribut begini!" Rofiq keheranan. Zahra masih kesal dan hendak menghampiri Syihab untuk memukulinya, namun Rofiq segera mencegatnya.


"Jangan Zahra! Masih pagi loh! Ada apa sih?" tanya Rofiq, ia pun terkejut mendapati dahi Zahra yang memar. "Ya ampun, kepalamu kenapa, Zahra?" tanya Rofiq.


"I... itu salahku paman, aku kaget dan bangun, tapi malah menabrak kepala Zahra," ujar Syihab, seketika Rofiq langsung tertawa. "Kok bisa begitu?" tanya Rofiq keheranan. Syihab hanya menggaruk-garuk kepala, ia berusaha berbaikan dengan Zahra.


Setelah sholat subuh, Syihab pun pergi mandi karena Risky mengajaknya pergi jalan-jalan. Di sisi lain, Zahra sedang asyik membereskan kamarnya bersama Hasan.


Setelah tampak bersih dan rapi, mereka berdua merasa sangat senang dan bangga. "Apa asyiknya sih? Kupikir bikin lelah saja," ujar Shadiq. "Lah alasan! Kalau main bola betah lama-lama, tapi beres-beres nggak ada semenit sudah ngeluh!" ujar Hasan.


Tak lama kemudian Syihab datang dengan selembar handuk yang hanya menutupi selangkangannya, tentu saja Zahra langsung berteriak.


"Pergi! Pergi! Dasar orang gila! Pergi!" teriak Zahra sambil melempar-lempar barang yang sudah susah-susah ia rapikan.


Sayangnya Syihab tak kunjung pergi, ia bahkan semakin dekat dengan Zahra, ia hendak menenangkan adiknya itu.


Sayangnya Zahra semakin jijik terhadapnya lalu melemparnya dengan koper kosong. Syihab pun terdorong keluar kamar sedangkan Zahra segera mengunci pintu kamar.


Rofiq keheranan melihat Syihab yang sedang telanjang di luar kamar. "Za... Zahra, bajuku!" ujar Syihab, Zahra pun membuka pintu kamar lalu melempar beberapa pakaian kemudian menutup pintu kembali.


Rofiq pun menepuk dahi. "Ya ampun Syihab! Kamu nggak boleh gitu di depan adikmu loh! Dia juga punya malu! Sudah besar!" ujar Rofiq.


"Lah kenapa? Ayah juga sering telanjang di hadapanku saat aku masih SMP, seumuran Zahra," ujar Syihab.


"Perempuan sama laki-laki beda, Syihab! Emangnya kamu pernah lihat ayahmu telanjang di depan Zahra? Nggak mungkin lah! Zahra juga sudah mulai dewasa," ujar Rofiq. Syihab pun teringat saat Zahra gelisah karena Risky hendak memeluknya.


"Hmm! Sebaiknya kamu pindah ke kamar Risky saja, kamu dan Zahra nggak boleh sekamar," ujar Rofiq.

__ADS_1


__ADS_2