
Suasana rumah Ghozali menjadi semakin ramai karena anak-anaknya di rumah. Ia merasa senang dan bangga melihat pertumbuhan mereka.
"Orang-orang pasti nggak percaya kalau kita punya anak sebesar mereka," ujar Aisyah. "Benar sekali, kita masih muda juga," ujar Ghozali sambil merangkul bahu Aisyah dan sedikit memijatnya.
"Syukurlah aku memutuskan menikah muda, seenggaknya anak-anak kita sudah dewasa semua saat kita tua nanti. Aku nggak perlu khawatir jika harus meninggalkan mereka saat itu," ujar Aisyah.
"Jangan gitu dong, sayang! Kamu bikin pertemuan keluarga kita jadi renungan yang menyedihkan," keluh Ghozali.
"Ya seenggaknya bukan untuk sekarang mas, kita masih muda dan sehat kok! Ngomong-ngomong, sudah lama aku nggak melakukan rutinitas bulananku mas," ujar Aisyah sambil melekatkan dadanya pada lengan kekar Ghozali.
Ghozali tampak dipenuhi keringat. "Ha... haruskah itu dipenuhi sekarang juga? Kupikir lebih baik kapan-kapan saja, tunggu kondisimu semakin membaik," ujar Ghozali.
"Harus segera dipenuhi loh mas! Tubuhku terasa kaku semua," desak Aisyah. "Hayo! Kalian ngomongin apa?" seru Syihab yang tiba-tiba memergoki mereka berdua sedang bermesraan.
"Bu.. bukan apa-apa kok, kamu makan saja sana," ujar Ghozali. "Ayah nggak makan?" tanya Syihab.
"Ibumu yang melarang ayah makan," ujar Ghozali. "Loh? Kenapa bu? Kenapa ayah nggak boleh makan?" tanya Syihab.
"Ini bukan waktunya untuk ayahmu makan. Waktu idealnya adalah jam dua siang baru dia makan. Dan dia nggak boleh makan sembarangan!" ujar Aisyah.
"Dih, kasihan sekali!" ujar Syihab. "Nggak kok, ibumu sangat perhatian pada ayah. Ia memastikan semua makanan yang ayah makan itu menyehatkan dan menjaga berat badan ayah tetap ideal. Kamu juga penasaran kan dengan wajah ayah yang masih sangat muda ini? Bahkan orang-orang juga sering bilang kita berdua kakak beradik," ujar Ghozali.
"Hmm! Benar juga! Kukira mukaku yang cepat tua, ternyata kalau dipikir-pikir, muka ayah nggak ada yang berubah dari dulu sampai sekarang, kecuali rambutnya saja," ujar Syihab.
"Ini semua berkat ibumu," ujar Ghozali. "Wah! Ibu! Aku juga pengin kayak ayah! Gimana caranya biar bisa awet muda begitu?" tanya Syihab penasaran.
"Sst! Jangan gitu, ibumu hanya mengurusku saja. Kalau kamu mau, nikahlah dengan seorang gadis dan minta dia melakukan itu semua," ujar Ghozali sambil memeluk Aisyah erat-erat seolah tidak ingin direbut oleh siapapun.
"Dih! Pelit sekali! Kemarin Zahra aja boleh digendong ayah, harusnya aku juga boleh diurus sama ibu!" ujar Syihab kesal, karena Ghozali mengungkit masalah pernikahan, ia jadi terdiam setelahnya.
"Ada apa? Kok habis denger kata nikah kamu malah murung begitu! Kamu mau nikah kapan?" tanya Aisyah.
Syihab tampak ingin menghindari pertanyaannya. "Hei, nak! Jangan-jangan.... kamu nggak mau menikah? Atau jangan-jangan.... kamu nggak suka sama wanita?" tanya Ghozali sambil mengguncang-guncang bahu Syihab, ia menduga-duga kalau anaknya sedikit tidak normal, apalagi setelah mengetahui karakternya selama ini.
"Hei! Mana mungkin! Emangnya aku pendeta?" ujar Syihab membantah perkataan ayahnya.
"Kamu ini bicara apa sih mas?" tanya Aisyah keheranan. "Bu.. bukan apa-apa kok, aku cuma prihatin barang kali dia nggak mau menikah," ujar Ghozali.
Syihab langsung balik ke ruang makan lantaran enggan membahas masalah itu dengan kedua orangtuanya.
Beberapa menit kemudian Ghozali dan Aisyah datang ke ruang makan. "Anak-anak, ada yang ingin ayah bicarakan," ujar Ghozali.
"Kenapa ayah?" tanya Zahra penasaran. "Tiga hari ini ayah dan ibu mau pergi dulu, kalian jaga rumah ya," ujar Ghozali.
"Hayo, ngapain?" tanya Syihab dengan tatapan genitnya. Shadiq benar-benar tidak tahan dengan caranya berbicara, ia pun langsung mengetuk kepala Syihab dengan centong nasi.
"Hmm! Tiga hari yah? Boleh saja sih," ujar Zahra langsung setuju, namun Syihab memikirkan hal lain, ia berencana mengganggu suasana mesra ayah dan ibunya.
"Aku nggak setuju! Aku mau ikut pergi bareng ayah dan ibu juga!" ujar Syihab. "Hei, Syihab! Kamu sudah besar loh! Mau ikut ayah dan ibumu terus? Sebaik nggak usah ikut deh! Ntar menyesal!" ujar Ghozali.
"Loh? Kenapa nggak boleh? Hmm! mencurigakan sekali!" ujar Syihab. Sekali lagi Shadiq mengetuk kepalanya dengan centong nasi. "Auch! Apa masalahmu?" tanya Syihab keheranan. Shadiq mencoba membungkam mulut kakaknya itu.
__ADS_1
Sayang Hasan langsung mengangkat tangan dengan semangat. "Setuju! Aku mau ikut ayah dan ibu juga! Kalau cuma kalian berdua yang liburan kan nggak adil! ya kan, Shadiq?" Hasan meminta pendapat Shadiq.
Ghozali memberikan isyarat pada Shadiq untuk mengelengkan kepala.
"Loh? Ada apa ini? Kenapa ayah kasih kode-kode ke Shadiq? Nggak boleh loh yah!" ujar Syihab.
"Nggak masalah kok! Kalau kalian semua mau ikut, nggak papa! Malah lebih menyenangkan!" seru Aisyah. Ghozali tampak kecewa, ia langsung memasang wajah lesu.
"Yes!" ujar Syihab sambil meledek ayahnya, ia pikir ia baru saja berhasil menghancurkan rencana mesra ayahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya mereka sekeluarga pun pergi meninggalkan rumah mereka. Ghozali membawa mereka ke pedesaan yang masih asri dan hijau.
"Hmm! Benar-benar menenangkan! Kira-kira sudah berapa lama aku nggak ke sini?" tanya Aisyah. "Entahlah," ujar Ghozali murung. Syihab mengelus-elus punggungnya untuk
menghiburnya.
Akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan, selagi Aisyah berlari ke sana kemari untuk menghirup udara segar, Ghozali tampak sangat lesu.
"Loh? Ini di mana? Kukira kita akan ke hotel atau vila. Ini cuma padang rumput!" ujar Syihab kecewa.
"Hotel jidatmu! Memangnya kita mau apa sekeluarga ke hotel?" tanya Ghozali. "Kita di sini mau berkuda!" seru Aisyah.
"Heh? Berkuda?" Syihab dan Hasan terkejut serentak. Zahra dan Shadiq masih mencoba mencerna perkataan Aisyah.
"Benar sekali! Berkuda! Ini rutinitas ibu setiap bulan dari SMA hingga menikah dan kalian semua lahir!" seru Aisyah.
"Heh? Aku nggak ingat!" ujar Syihab menyangkal. "Tentu saja nggak ingat! Kamu masih sangat kecil. Setiap kali dengar suara kuda kamu langsung nangis karena berpikir ibumu akan dibawa lari oleh kuda itu," ujar Ghozali.
"Kak Syihab cengeng juga ternyata! Kukira cuma Shadiq yang cengeng," ujar Hasan ketawa. "Ayahmu juga cengeng kok," ujar Aisyah. "Sst! Jangan gitu dong, sayang!" ujar Ghozali.
"Bu! Berkuda caranya kayak gimana? Aku mau coba!" seru Zahra. "Kamu kan pakai rok, Zahra! Mana bis....." Ghozali terkejut karena dibalik rok Zahra ternyata ada celana training.
"Itu rok macam apa?" tanya Syihab keheranan. "Oh, ini.... ini.... nggak tahu apa namanya! Yang jelas kalau seperti ini aku bisa bergerak bebas! Bahkan bisa melakukan beladiri!" ujar Zahra sambil memamerkan tendangannya.
"Eh, Zahra! Kamu benar-benar mirip dengan ibumu yah," ujar Ghozali sambil geleng-geleng kepala.
"Ini nggak mudah loh! Kamu harus buat kuda yang akan kamu tunggangi nggak takut padamu dulu," ujar Aisyah.
"Wah! Kayak gimana caranya?" tanya Zahra penasaran, ia benar-benar semangat. Sayangnya hal itu membuat Ghozali merasa prihatin.
Aisyah pun mengajak Zahra ke kandang kuda terdekat. "Hati-hati, sayang! Di situ kotor! Banyak lumpurnya!" ujar Ghozali.
Aisyah tidak mendengarkan perkataannya, ia langsung mengajak Zahra berlari ke kandang kuda itu.
"Sst! Mulai dari sini jangan berlari! Kita dekati perlahan-lahan! Karena kita pakai kerudung, banyak kainnya... kuda bisa takut! Jadi harus hati-hati!" ujar Aisyah.
Ia pun langsung mengelus-elus kepala kuda yang kebetulan nongol dari kandangnya. Zahra merasa gemas ingin mencobanya.
Awalnya kuda itu menoleh, membuat Zahra terkejut, namun Aisyah menuntunnya perlahan-lahan hingga akhirnya kuda itu merasa nyaman dengan keberadaan Zahra.
__ADS_1
"Nah, ini kesempatanmu!" seru Aisyah. Zahra pun mencoba mengelus-elus kepala kuda itu.
"Heleh! Gitu doang mah gampang!" ujar Syihab. Ia langsung menghampiri mereka berdua. "Woi! Bocah! Hati-hati!" ujar Ghozali memperingatkan, namun Syihab mengabaikannya.
Dengan percaya diri ia menghampiri kuda itu untuk mengelusnya. Sayangnya kuda itu langsung menolehkan kepalanya, ia menolak untuk dielus.
Syihab tidak menyerah, ia mencoba mengulurkan tangannya agar mencapai kepala kuda itu. Saat itulah pergelangan tangannya digigit.
Syihab langsung berteriak keras, membuat pawang kuda segera menghampirinya. "Duh, mas! Kalau belum pernah pegang kuda biasa jangan asal pegang!" tegurnya.
Syihab langsung merintih kesakitan lantaran bekas gigi kuda itu mengecap jelas di pergelangan tangannya.
"Argh! Sakit banget! Ayah, tolong! Tanganku patah! Kayaknya mau putus!" ujar Syihab sambil meronta-ronta, ia tidak bisa menahan rasa sakitnya.
"Duh! Kamu mengulangi kesalahan yang sama seperti yang ayahmu lakukan dulu! Ada-ada saja!" ujar Aisyah menepuk dahi.
Shahih dan Asyraf langsung menghampiri kuda yang baru saja dibawa oleh pawang kuda itu. Mereka mengelus-elusnya tanpa rasa takut. Bahkan pawang kuda itu sendiri terkesan.
"Wah! Mereka berdua lumayan hebat juga! Mau menungganginya?" tanya pawang kuda. Shahih mengangguk, karena merasa sudah diizinkan, ia langsung menaiki kuda itu tanpa arahan dari pawang kuda.
Asyraf juga tidak mau kalah, ia mencoba mengecek keadaan kuda yang ada di dalam kandang.
"Kamu juga mau menungganginya? Kenapa nggak berdua saja dengan satu kuda? Kalian berdua kelihatannya anak kembar!" ujar pawang kuda. Asyraf menggelengkan kepala, ia ingin menunggangi kudanya sendirian.
"Baiklah! Paman suka semangat kalian berdua!" ujar pawang kuda kemudian mengeluarkan salah satu kuda dari kandangnya.
Asyraf langsung menungganginya. "Hei! Hati-hati! Kamu bisa bikin kaget!" ujar pawang kuda, namun Asyraf mengabaikannya. Ia langsung memacu kuda itu hingga berlari di padang rumput. Shahih pun menyusulnya dengan cepat.
Aisyah yang sembari tadi tampak semangat pun tidak mau kalah, ia mencoba menunggangi salah satu kuda.
"Zahra, kamu mau naik bareng ibu?" tanya Aisyah. "Mau!" seru Zahra. Akhirnya Ghozali membantunya untuk naik ke atas kuda yang sama dengan Aisyah.
Di sisi lain, Shadiq dan Hasan merasa iri dengan mereka berempat yang sudah berlarian di padang rumput dengan kuda-kuda itu.
"Kalian berdua juga mau?" tanya pawang kuda. Shadiq terlihat malu-malu untuk menganggukkan kepalanya sedangkan Hasan agak takut setelah melihat gigitan yang membekas pada tangan Syihab.
"Tenang saja, biar paman tuntun! Tapi nggak bisa berlari seperti mereka ya, seenggaknya kalian bisa menungganginya dulu," ujar pawang kuda.
Akhirnya Shadiq dan Hasan pun ikut menunggangi kuda, namun karena hanya ada satu pawang kuda, mereka harus menunggangi kuda yang sama.
Pawang kuda juga menawarkan pada Ghozali, namun ia tampak tidak tertarik. Ia lebih memilih mengurusi luka pada lengan Syihab.
"Kan kemarin ayah dah bilang, mending nggak usah ikut daripada menyesal. Nggak nyangka yang ayah pikirkan benar-benar terjadi," ujar Ghozali sambil membungkus lengan Syihab dengan perban.
Syihab hanya terdiam sambil mendengarkan beberapa nasehat dari ayahnya. Tak lama setelahnya ia pun menangis.
"Loh? Kenapa nangis?" tanya Ghozali keheranan. Syihab tidak mengatakan apapun, ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada ayahnya sambil menahan rasa sakit dari lengannya.
Tak lama kemudian Shadiq dan Hasan pun datang, mereka sudah merasa bosan berada di atas kuda.
"Kak Syihab kenapa?" tanya Shadiq keheranan. "Nangis? Kak Syihab nangis?" Hasan mencoba memerhatikan wajah kakaknya itu. Syihab langsung menyembunyikan wajahnya pada dada Ghozali, namun ia tidak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa ia sedang terisak, bahkan nafasnya tersendat-sendat.
__ADS_1
"Apa-apaan, ternyata kak Syihab sama aja kayak Shadiq!" ujar Hasan kemudian tertawa. "Jangan gitu, Hasan! Kakakmu sedang kesakitan loh," ujar Ghozali.