
Suasana dingin terus membalut asrama putra. Tidak hanya dari angkatan Shahih, namun beberapa angkatan yang lainnya mendapati beberapa ponsel mereka yang dibawa secara ilegal hilang.
Alfian selaku ketua di angkatan itu pun merasa tidak nyaman, ia kembali mengumpulkan anak-anak sebelum perpulangan tiba.
"Kumpul apa lagi ini? Kukira semuanya sudah merelakan ponsel masing-masing yang hilang," ujar Renogi.
"Hei! Mana mungkin kami merelakannya! Aku beli ponsel mahal itu!" ujar salah seorang anak dengan kesal.
"Salahmu sendiri bawa ponsel," ujar Hasan. "Apa katamu? Kenapa jadi salahku? Kau tahu kamu nggak punya ponsel, jadi nggak tahu rasanya kek gimana! Kalau kamu punya mungkin kamu juga bawa!" ujar anak itu.
"Jangan samakan aku denganmu! Kita tinggal di pesantren emang biar nggak main ponsel terus kerjaannya! Kita di sini bener-bener fokus belajar! Kalau pengin main ponsel, mending keluar aja dari pesantren!" ujar Hasan kesal.
"Kamu ngajak ribut!" ujar anak itu kesal, ia hendak memukul Hasan, namun Shadiq menghadang, ia tidak menangkis pukulan itu, ia sengaja membiarkan pukulan anak itu mengenainya agar pertengkaran itu selesai.
"Hei! Diam dulu semuanya! Aku mau bicara!" teriak Alfian.
"Gimana? Gimana? Ada apalagi? Ponselmu hilang?" tanya Renogi. "Bukan itu! Beberapa angkatan kakak kelas kita mengecam kita! Katanya suruh kondisikan di pencuri ponsel itu!" ujar Alfian.
"Begoknya kebangetan! Yang harusnya dikondisikan itu mereka yang melanggar!" ujar Renogi.
"Sipit! Diam saja kau! Kalau nggak balik saja ke China! Ngapain di sini!" ujar salah seorang anak kesal.
"Dasar murtad!" ujar salah seorang. "Bukan murtad goblok! Dia Mualaf!" ujar salah seorang lainnya.
"Lah, si pencurinya mana sih? Si Shahih kemana? Dia nggak ikut kumpul loh!" keluh salah seorang anak lagi.
"Hei, Shadiq! Hasan! Adikmu mana? Suruh ke sini!" ujar Alfian.
"Argh! Si Shahih ini bener-bener ngerepotin! Bikin orang kesel terus!" keluh Hasan, ia langsung keluar dari ruangan buat cari Shahih.
__ADS_1
Ia pun mendapati Shahih sedang mengepel lantai. "Hei! Siapa suruh kau masuk?" tanya Shahih. "Ini bukan waktunya ngepel!" teriak Hasan. "Sabar, Hasan!" ujar Shadiq.
"Justru karena sekarang lagi sepi, ini waktu yang tepat buat ngepel! Aku juga harus bersih debu-debu di jendela itu," ujar Shahih.
"Sudahlah Shahih! Hentikan semua ini! Nggak ada yang nyuruh kamu bersih-bersih! Nggak butuh! Terus nggak usah sok-sokan pakai mode serius atau mode apalah itu! Kumpul sekarang!" ujar Hasan kesal.
"Duh, ya ampun! Kenapa ada anak kayak gitu sih!" Hasan mencibir setelah selesai meneriaki Shahih.
Bahkan setelah Shahih kumpul pun, mereka tidak bisa menemukan titik terang yang jelas, Shahih tidak menjawab saat anak-anak bertanya-tanya.
Akhirnya mereka pun bubar tanpa hasil. Shahih langsung pergi ke atap kemudian menghela nafas sejenak setelah merasa jenuh dalam ruangan yang di penuhi lebih dari seratus orang.
"Mereka benar-benar aneh ya! Gimana mau ketemu pencurinya kalau yang diinterogasi cuma kamu doang," ujar Arkan.
"Sepertinya kau percaya kalau aku bukan pencurinya," ujar Shahih. "Tentu saja, aku tahu kok apa yang bakal kamu lakukan saat anak-anak itu bawa ponsel. Kamu bakal langsung hampiri dia dan membanting ponselnya di tempat.... pasti benar-benar luar biasa kalau itu benar-benar terjadi," ujar Arkan
tertawa.
"Loh? Kenapa minta maaf, aku cuma berkhayal doang kok, nggak berharap kamu melakukan itu," ujar Arkan.
"Tapi kau barusan tertawa. Aku baru tahu kau bisa tertawa seperti itu," ujar Shahih, ia benar-benar antusias melihat ekspresi ceria Arkan.
Arkan pun terdiam, meskipun ia tidak suka cara Shahih berbicara dengannya, ia memilih diam kali ini karena Shahih juga mengalami cobaan berat dari tuduhan anak-anak seangkatan.
"Aku pergi dulu ya, ada banyak hal yang harus kuurus, aku belum nyuci baju," ujar Shahih. Arkan menatapnya keheranan karena anak itu tidak peduli dengan posisinya saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perpulangan tiba, Ghozali menjemput anak-anaknya ke rumah, ia merasa jenuh karena di rumah hanya ada dirinya dan Aisyah. Ia bahkan sampai pergi menjemput Syihab yang baru saja mendapatkan liburan kuliahnya.
__ADS_1
"Kenapa ayah semangat sekali? Habis jemput anak-anak lainnya, langsung nyamperin aku ke kampus. Orang-orang yang mengira kalau aku anak miskin langsung kaget lihat ayah datang menjemputku dengan mobil loh," ujar Syihab.
"Ayah nggak nyuruh kamu hidup miskin loh! Besok kamu keluar dari program beasiswa aja! Biar ayah yang bayar kuliahnya," ujar Ghozali, ia tampak gengsi membiarkan anaknya masuk program beasiswa.
"Tenang saja, ayah! Itu program beasiswa untuk mahasiswa berprestasi kok! Itu penghargaan! Bukan beasiswa karena nggak mampu," ujar Syihab meluruskan. "Nggak apa-apa, biar ayah bayarin aja! Biar kamu bisa kuliah serius, nggak perlu perhatikan beban kewajiban beasiswa," ujar Ghozali.
"Terus kok bisa ayah datang jauh-jauh ke tempatku? Aku bisa pulang naik bus loh!" ujar Syihab.
"Kelamaan, mending sekalian aja l," ujar Ghozali. "Dih, kok kayak dikejar-kejar waktu aja," ujar Syihab. "Ibumu yang minta, dia bosan di rumah karena nggak ada siapa-siapa, dia pengin cepet-cepet ketemu kalian," ujar Syihab.
"Dih, kalau emang bosan, kenapa kalian berdua nggak punya anak lagi saja?" tanya Syihab. Ghozali hampir oleng saat mengemudikan mobilnya. Ia pun langsung berhenti di pinggir jalan.
"Duh! Hampir saja! Jangan ngomongin yang aneh-aneh, Syihab!" tegur Ghozali. Syihab hanya senyum-senyum sendiri sedangkan Shadiq tampak malu mendengarkan pembicaraan mereka berdua, ia langsung merebut headset yang dikenakan Hasan agar tidak mendengar pembicaraan mereka.
Setelah beberapa jam lamanya, akhirnya mereka sampai di rumah. Zahra dan Hasan langsung menghampiri Aisyah lalu memeluknya dengan manja.
"Zahra, Hasan! Kalian semakin besar yah!"
seru Aisyah, ia berharap bisa mengangkat tubuh mereka berdua, namun tidak bisa.
"Aku juga nggak nyangka, bu! Gorila di rumah kita bertambah dua orang lagi," ujar Zahra. Aisyah pun tertawa. "Dua lagi yah? Memangnya sebelumnya siapa gorilanya?" tanya Aisyah, ia menebak kalau yang Zahra maksud adalah Ghozali.
"Tentu saja kak Syihab, dia kan badannya besar, terus rambut di depan telinganya lebat sekali! Sekarang nambah lagi, ada Shadiq dan Hasan," ujar Zahra.
"Hei! Kok cuma aku! Ayah nggak?" tanya Syihab. "Ayah bukan gorila," ujar Zahra sambil menjulurkan lidah untuk mengejek Syihab.
"Hei, kenapa aku ikut dibawa-bawa segala?" tanya Hasan nggak terima. "Badanmu juga besar, nggak usah nyangkal, Hasan!" ujar Shadiq.
"Yuk kita makan dulu! Sudahin ngobrolnya! Ibu bikin makanan kesukaan kalian semua loh," ujar Aisyah, sebenarnya ia hanya memasak makanan kesukaan anak-anaknya kecuali untuk Shahih dan Asyraf karena ia memang belum mengetahui kesukaan mereka.
__ADS_1
Shahih dan Asyraf tidak pilih-pilih soal makanan, mereka tidak peduli meskipun Aisyah tidak menghidangkan makanan favorit mereka, ia hanya menghidangkan makanan seadanya.