
Shahih pun terbaring di rumah sakit tak sadarkan diri, bahkan kepalanya harus terlilit perban untuk mengencangkan rahang bawahnya.
Syihab menunggu anak itu di rumah sakit seharian. Ia terus menangisinya dengan penuh penyesalan.
Rofiq berkali-kali memintanya untuk pulang, namun ia tetap tidak mau. Syihab tidak bisa membayangkan kalau adiknya itu akan meninggal setelah dia pulang ke rumah. Ia tidak ingin hal itu terjadi sehingga terus duduk di sampingnya.
"Ayolah, Syihab! Kamu juga harus istirahat! Jangan memaksa tetap di sini," bujuk Rofiq. Anak itu terus menggelengkan kepala sambil menggenggam tangan kanan Shahih.
"Kak Syihab, ayo pulang deh! Nanti kakak juga sakit gimana?" desak Zahra. Shadiq dan Hasan merasa iba melihat Syihab terus menangis di samping Shahih.
Asyraf tampak menguap, ia sudah mengantuk lantaran hari sudah malam. "Ini sudah malam! Ayo pulang, Syihab!" ujar Rofiq. Anak itu masih bersikeras berada di samping Shahih.
"Baiklah, paman akan datang lagi nanti," ujar Rofiq kemudian mengantarkan anak-anak pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Zahra langsung sholat isya sambil menangis, ia terus berdoa. Di sisi lain Shadiq dan Hasan juga khawatir dengan keadaan itu.
Namun Asyraf masih tetap tenang, setelah sholat isya, ia langsung kembali ke kamar untuk tidur.
Sebelum pintu terkunci, Rofiq sempat membuka pintunya. "Kayaknya cuma kamu yang masih tenang," ujar Rofiq.
"Apakah harus gelisah seperti itu? Jika aku ikut khawatir dan menangis, apakah Shahih akan bangun? Cuma buang-buang energi saja. Aku nggak melakukan hal bodoh seperti itu," ujar Asyraf.
"Tapi dia tetap saudaramu, bukankah seharusnya kamu cemas jika kehilangan dirinya?" tanya Rofiq.
"Nggak juga! Asal paman tahu, baru kali ini aku datang ke sini. Rumah ini sangat asing, begitu juga dengan paman dan anak-anak lainnya, aku belum merasa kalian keluargaku seutuhnya. Bahkan Shahih yang selama ini hidup dengan kalian aja nggak terlalu kalian perhatikan, apalagi aku. Jadi saat ini belum ada alasan bagiku untuk memerhatikan kalian juga, ataupun khawatir dengan keadaan kalian," ujar Asyraf.
"Kalau belum, berarti kamu juga bisa khawatir dengan keluargamu kan?" tanya Rofiq. "Tergantung, bisa iya, bisa nggak," ujar Asyraf dengan ekspresi datarnya, ia langsung menutup pintu kamar karena kantuknya sudah tak tertahankan.
__ADS_1
Rofiq pun langsung kembali ke rumah sakit, ia mendapati Syihab tertidur di samping dipan Shahih. Akhirnya Rofiq pun menyelimuti tubuhnya lalu pergi ke rumahnya untuk memberikan kabar pada istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak Syihab? Kak Syihab! Bangun kak!" seru Shahih. Syihab pun langsung terperanjat. "Shahih? Kamu sudah bangun?" tanya Syihab.
Akhirnya Syihab pun tersadar, ternyata itu hanyalah mimpi, Shahih masih terbaring tak sadarkan diri di dipannya, bahkan kondisinya yang seperti itu tampak tidak mungkin tersadarkan diri.
Syihab pun kembali menangisinya, ia masih terus menyesal dengan kelakuannya terhadap Shahih hingga membuatnya terbaring di rumah sakit. Ia takut adiknya itu meninggal karenanya.
Adzan subuh pun tiba, Syihab langsung menuju masjid untuk sholat. Setelah selesai sholat, Syihab langsung kembali ke tempat Shahih. Sayangnya ia tidak mendapati anak itu di sana.
Ia terus berlari ke sana kemari mencari-cari keberadaan Shahih. Ia takut kalau ternyata di saat ia sedang sholat, Shahih sudah meninggal.
Akhirnya ia bertanya-tanya kepada setiap orang yang ditemuinya, ia sangat gelisah karena tak kunjung menemukan Shahih.
"Dia baru saja dipindahkan karena kejang-kejang," ujar Rofiq. Ia menunjukkan Shahih yang berada di sebuah ruangan lewat jendela.
Syihab semakin khawatir dengan keadaan adiknya itu, apalagi sampai harus tertutupi tirai transparan di sekeliling dipannya.
"Selagi di sini, sebaiknya kamu jenguk ibumu juga," ujar Rofiq. Ia mengajak Syihab ke ruangan ibunya.
Ia pun mendapati wanita kurus sedang terbaring di dipan, namun rasa khawatirnya tidak sebesar kekhawatirannya terhadap Shahih.
"Kayaknya kamu lebih cemas dengan kondisi adikmu," ujar Rofiq. Syihab hanya terdiam, ia tidak berani menyebutkan alasannya kepada Rofiq.
Hingga sepekan lamanya, akhirnya Shahih pun bisa berbaring di tempat terbuka lagi, Syihab bisa duduk di sampingnya lagi. Ia tidak pernah pulang ke rumah sejak Shahih masuk ke dalam rumah sakit.
__ADS_1
"Shahih, kumohon! Bangunlah!" ujar Syihab, kelopak matanya sudah membengkak karena menangis terus menerus. Ia mencoba menggenggam tangan Shahih yang masih hangat sambil terisak.
"Shahih! Maafkan kakak! Kakak sangat menyesal! Jadi, tolong bangunlah! Kumohon Shahih! Jangan jadikan kakak seorang pembunuh! Kakak takut!" ujar Syihab.
"Ayolah Shahih! Bangunlah! Kakak nggak ingin apapun, kakak hanya ingin kamu bangun! Kakak hanya ingin melihatmu membuka matamu lagi!" Syihab terus memohon hingga tertidur di samping Shahih.
Setelah terbangun kembali, ia masih memohon-mohon pada Shahih hingga depresi. Tatapan matanya dipenuhi keputusasaan, wajahnya semakin pucat karena tidak pernah keluar dari rumah sakit itu. Yang ia lakukan setiap hari hanyalah menangis dan menangis.
"Shahih! Kumohon! Bangunlah! Kakak akan melakukan apa saja yang kamu inginkan! Kakak akan menuruti semua perkataanmu! Jadi, bangunlah! Shahih, kakak nggak mau jadi seorang pembunuh! Nggak mau Shahih!" ujar Syihab.
Setelah lama menatap wajah Shahih, akhirnya Syihab sadar, yang ia lakukan tidak akan berpengaruh apapun, ia hanya melakukan hal yang sia-sia.
Ia pun menyerah untuk terus memohon di hadapannya, ia pun beranjak dari kursinya lalu berbalik badan dengan wajah pucatnya. Ia terus berjalan sempoyongan ke luar ruangan.
Saat itulah sebuah suara terdengar di telinga Syihab, suara penjepit oximeter yang ada di jari Shahih tampak berbenturan dengan dipan.
Syihab pun menyadari kalau jemari Shahih mulai bergerak, hal itu membuatnya terkejut, ia langsung berlari dan memberitahu dokter akan hal itu. Dokter pun memberikan kabar gembira setelah melakukan beberapa tes pada Shahih.
"Ananda Shahih bisa bangun lebih cepat, sepertinya aktivitas di otaknya berjalan lebih cepat daripada anak normal, ia memulihkan sel-sel otaknya seperti melakukan akselerasi. Kasus seperti ini memang jarang terjadi, tapi kemungkinan ananda untuk bangun kembali bisa diprediksi dalam beberapa hari saja," ujar dokter.
Syihab pun langsung merasa lega. Ia sangat senang karena mendengar kabar bahwa adiknya dapat bangun kembali.
Semakin tidak sabar menantikannya, ia enggan untuk pulang ke rumah, ia ingin menyaksikan langsung Shahih terbangun dari tidur panjangnya.
Tiga hari pun berlalu, namun Syihab tetap tidak putus asa, ia semakin bersemangat untuk berada di samping Shahih hingga tertidur nyenyak.
Setelah terbangun, ia pun menatap wajah Shahih yang masih kaku dan pucat itu.
__ADS_1
"Shahih, terima kasih karena telah memberi kakak harapan. Selama ini kakak emang nggak pernah memerhatikanmu dengan baik. Kamu pasti nggak betah di rumah karena kakak nggak pernah mengajakmu berbicara, nggak kayak Shadiq dan Hasan. Maafkan kakak karena membiarkanmu pergi dari rumah. Tapi mulai hari ini, kakak janji! Kakak akan menuruti semua perkataanmu, kakak tahu kok kalau kamu nggak akan menyuruh hal-hal yang buruk, jadi kakak nggak akan ragu untuk menurutimu. Kamu juga harus bangun! Kakak ingin mengobrol panjang denganmu. Maaf karena baru bilang sekarang, kakak ingin tahu kehidupanmu di luar, kehidupanmu di panti asuhan, kehidupanmu saat pergi dari rumah. Maafkan kakak karena nggak khawatir dari dulu, seenggaknya mulai sekarang kakak akan dengarkan semua keluh kesahmu," ujar Syihab sambil menggenggam tangan Shahih erat-erat.