Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Keberangkatan


__ADS_3

Asyraf masih merasa resah saat mobil yang Ghozali kendarai terus melaju menuju pesantren, ia merasa belum siap untuk pergi ke sana.


"Tenang saja, Asa, kamu akan baik-baik saja! Ada Shadiq dan Hasan! Ada Zahra juga," ujar Aisyah sambil mengusap-usap kepala Asa. Ia masih beruntung bisa mendekap anaknya karena badannya masih kecil.


Selama ini ia tidak bisa memeluk Shahih karena sifat dinginnya. Ia juga tidak bisa memeluk Shadiq dan Hasan lantaran mereka memiliki tubuh yang besar dan mereka pasti menolak untuk dipeluk, tidak seperti Syihab yang masih manja meskipun sudah tampak seperti pria dewasa.


"Kenapa sepi sekali?" ujar Asyraf khawatir, biasanya keluarganya itu tampak ceria dan ramai, namun hari ini terasa sangat canggung.


Tentu saja yang menyebabkan hal itu terjadi adalah Syihab. Karena perkataannya, saat ini Zahra dan Ghozali tidak terlalu banyak bicara, mereka seolah saling menjaga jarak satu sama lain.


Di sisi lain Hasan dan Shadiq tampak memiliki suasana hati yang buruk karena waktu tidur mereka terganggu, mereka hanya menyandarkan diri pada jendela dengan muka masam, bahkan sesekali menguap.


Mereka pun sampai di pesantren putra sedangkan Zahra ikut turun untuk membantu membereskan barang-barang ketiga adiknya.


"Kamu... Nggak bantuin beresin barang?" tanya Ghozali, ia masih berada di mobil bersama Syihab. "Nggak perlu, paling dimarahin Zahra doang," ujar Syihab, ia masih agak kesal dengan adiknya itu.


Tak lama kemudian Zahra dan Aisyah pun datang. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, mereka pun melaju ke asrama putri.


Zahra tampak kepayahan saat mengangkat kopernya dari mobil karena tangannya terluka karena gagang setrika yang ia genggam kuat-kuat.


"Syihab, bantu adikmu!" ujar Ghozali, ia merasa iba, namun ia enggan berurusan langsung dengan Zahra, ia merasa canggung berhadapan dengannya.


Meskipun begitu, ia tetap ikut keluar bersama Aisyah. Ia tidak ingin terlihat seperti seorang ayah yang tak peduli pada anaknya.


"Ayah mencurigakan sekali! Di asrama putra nggak keluar dari mobil, pas di asrama putri malah ikut ke sini. Aneh sekali!" ujar Syihab. Ghozali hanya bisa menelan ludah, ia bahkan tidak berpikir sejauh itu.


"Terserah kamu dah mau ngomong apa, ayah mau balik lagi le mobil," ujar Ghozali. "Berisik! Nggak usah dengerin Syihab!" ujar Zahra kesal.


Akhirnya Ghozali mengurungkan niatnya untuk kembali. Sayangnya setelah berjalan agak jauh, ternyata ia menjadi pusat perhatian banyak orang.


Ini bukan hari libur, dan kebetulan semua orang di asrama putri sedang beraktivitas seperti biasanya. Tatapan para gadis kecil itu tampak diliputi penasaran, tebtu saja Ghozali merasa tidak tenang.

__ADS_1


"Syihab, kau baik-baik saja?" tanya Ghozali. "Biasa saja," ujar Syihab. Tak lama kemudian satpam yang menjaga tiba-tiba mencegat mereka berdua. Kerabat laki-laki memang hanya bisa mengantar hingga batas tertentu, mereka tidak bisa mengantar Zahra hingga ke dalam kamar.


Akhirnya Ghozali dan Syihab pun duduk di ruang tamu yang di sediakan. Ghozali merasa tenang karena tidak ada yang memerhatikannya lagi di tempat tertutup itu.


"Syihab, mentalmu benar-benar kuat ya," ujar Ghozali. "Ayah kenapa?" tanya Syihab keheranan, entah kenapa ia terus memerhatikan dada Ghozali yang basah karena keringat.


"Kamu ini.... Waras nggak sih?" tqnya Ghozali, ia langsung menutupi dadanya dengan jas setelah tahu Syihab terus memerhatikannya.


"Aku waras kok," ujar Syihab, ia tiba-tiba mengambil sebotol air yang ada di tangan ayahnya lalu menenggaknya. Ia sengaja membiarkan air tumpah dari mulutnya hingga mengalir ke dada.


"Ngapain sih? Kurang kerjaan! Minum yang bener! Jangan ditenggak begitu! Nggak sopan tahu!" ujar Ghozali.


Syihab tidak mendengarkan perkataannya seperti biasa. Setelah mengetahui ada cermin di sudut ruangan, ia pun mulai memerhatikan dirinya sendiri.


"Ayah.... gimana? Aku kelihatan seksi nggak?" tanya Syihab. "Kamu ini ngomong apa sih? Nggak usah aneh-aneh deh!" ujar Ghozali, sebenarnya ia merasa malu dengan tingkah anaknya yang satu itu.


Syihab terus memandangi wajahnya sendiri di cermin sambil tersenyum puas, namun tak berhenti sampai di situ, ia berkali-kali merapihkan rambutnya, mencoba merubah prnampilannya dengan membuka kancing baju di dadanya.


Tak lama kemudian Zahra dan Aisyah pun datang, mereka baru saja selesai merapihkan barang bawaan Zahra.


"Monyet itu lagi ngapain sih? Malu-maluin banget!" ujar Zahra kesal, ia benar-benar muak melihat wajah Syihab.


"Oh? Kalian sudah selesai?" tanya Ghozali, ia langsung berdiri dan bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu.


Zahra merasa gundah karena pria itu tampak terburu-buru untuk segera pulang. Ia langsung murung karena melihat mereka akan segera pergi meninggalkannya.


"Loh? Kenapa anak itu? Kenapa tiba-tiba diam?" tanya Syihab keheranan. Zahra tak bisa menyangkalnya sedangkan matanya mulai berkaca-kaca. Ia hanya bisa menundukkan kepala sambil meremas roknya untuk menahan tangisannya.


Ghozali merasa iba melihat gadis kecil itu murung, akhirnya ia pun mencoba memeluknya dan mendekatkan wajah Zahra di dadanya.


"Maaf, Zahra.... Ayah keringatan jadi pakai jas," ujar Ghozali. Meskipun tidak dapat mendengar detak jantung ayahnya, Zahra masih merasa senang karena bisa menggenggam tangan ayahnya.

__ADS_1


"Tanganmu kok..... Besar sekali, Zahra," ujar Ghozali sempat terkejut. Ia pikir tangan gadis kecil itu tidak dapat menggenggam telapak tangannya yang besar.


Zahra hanya tersenyum sambil mencium pipi ayahnya itu, ia pun pergi begitu saja.


Ghozali tampak melongo, ia tidak mengerti apa yang barusan terjadi. "Zahra benar-benar menggemaskan ya. Semoga ia nggak sama kayak aku dulu waktu masih muda," ujar Aisyah sambil memandangi putrinya yang berlari cepat menuju kamar.


"Eh? Emang ibu kenapa? Kenapa Zahra nggak boleh sama kayak ibu?" tanya Syihab keheranan. "Ibumu itu sangat tomboy waktu muda," ujar Ghozali.


"Yeah, dia bahkan nggak betah tinggal di pesantren dan milih kabur buat ikut perlombaan beladiri yang nggak diizinkan pesantren," ujar Alfa yang tiba-tiba muncul di antara mereka.


"Kamu kok kayak hantu saja tiba-tiba muncul. Sering banget kayaknya begitu," ujar Ghozali.


"Aku nggak nanya pendapatmu tentangku, kita nggak seakrab itu untuk membicarakannya. Lebih baik perhatikan dirimu sendiri dari pada perhatiin orang lain," ujar Alfa.


"Alfa, kenapa perkataanmu pedas sekali sih? Jangan di sini bertengkarnya! Nanti Syihab meniru kalian berdua gimana?" tegur Aisyah.


Sayangnya meskipun ia mengkhawatirkan Syihab, anak itu tampak tidak peduli dengan obrolan mereka karena terus bercermin.


"Lihatlah anak itu, tiru siapa sih? Pasti si landak ini. Nggak mungkin tiru kakak! Bahkan meskipun perempuan, kakak malah jarang peduli sama penampilan diri sendiri kayak apa," ujar Alfa, Aisyah pun terdiam karena merasa tersindir.


"Walaupun nggak pernah memerhatikan penampilan, dia sudah cantik dari sananya. Nggak usah diapa-apain lagi," ujar Ghozali, ia mencoba terlihat romantis sambil menggandeng tangan Aisyah.


"Cih, semua perkataanmu benar-benar menyebalkan!" ujar Alfa kesal, ia langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Loh? Paman Alfa kemana? Sejak kapan dia pergi?" tanya Syihab setelah puas bercermin. "Sudahlah, lagian buat apa kamu tanya dia kemana? Nggak ada urusan dengannya juga," ujar Ghozali. Ia juga tampak kesal karena perkataan Alfa yang pedas. Syihab pun tertawa.


"Ayah kalau lagi kesal ternyata lucu juga ya!" ujar Syihab. "Kamu sangat terobsesi pada ayahmu sendiri, aneh sekali!" ujar Aisyah, ia langsung memerhatikan Ghozali.


"Mas, sebaiknya kamu jangan aneh-aneh ya! Anakmu bakal ikut-ikutan apa yang kamu lakukan!" ujar Aisyah memperingatkan.


"Lah, kenapa malah jadi aku yang dimarahi? Harusnya Syihab yang dimarahin, bukan aku," ujar Ghozali, ia hanya bisa menghela nafas pasrah saat melihat anaknya terus menyeringai lebar setelah melepaskan jas dari tubuhnya.

__ADS_1


"Ayo kita pulamg saja. Aku bisa makin malu kqlau Syihab bertingkah di sini," ujar Ghozali.


__ADS_2