Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Perangkap maut


__ADS_3

"Akhirnya kau datang juga, Hartono! Kau sudah siapkan pesananku?" tanya seorang pria. Ghozali langsung terkejut menyaksikan wajah pria itu. "Pak..... pak menteri? Kenapa ada di sini?" tanya Ghozali keheranan, ia benar-benar terkejut.


"Jadi ini pesananku yang kau bilang itu? Apakah dia meyakinkan?" tanya pria itu. "Tentu saja pak, dia adalah dokter terbaik di rumah sakitku, sayangnya aktivitasnya sangat tak terkendali," ujar direktur.


"Hei, pak direktur! Kenapa pak menteri pertahanan ada di sini? Apa yang terjadi?" tanya Ghozali. Direktur hanya diam, ia hanya menuntun Ghozali menuju ke sebuah ruangan yang tampak remang-remang. Terdapat seseorang yang terbaring di sebuah dipan, dengan berbagai selang yang terpasang di beberapa bagian tubuhnya.


"Kau harus menyelamatkannya," ujar direktur. "Siapa pasien ini? Kenapa ia terbaring di sini? Ia harus mengikuti prosedur rumah sakit! Ini ilegal!" ujar Ghozali.


"Sekarang bukan saatnya membahas ilegal atau tidaknya, nak! Kau harus paham sisi gelap pemerintahan yang tidak bisa dihindari! Kita dalam keadaan genting sekarang! Menurutmu siapa yang terbaring di sana?" tanya pak menteri.


Ghozali pun mencoba mendekat ke jendela ruangan. Ia sangat terkejut menyaksikan hal itu, ia bahkan langsung jatuh tumbang.


"Ke.... kenapa calon presiden yang baru saja dilantik menjadi presiden terbaring di sana?" Ghozali benar-benar terkejut.


"Sepertinya ada intelejen asing yang memastikan agar beliau tidak terpilih selama Pemilu, sayangnya hingga akhir, hasil pemungutan suara tetap menyatakan bahwa beliau berada di posisi teratas. Mungkin karena inilah mereka sampai bertindak jauh," ujar pak menteri.


"Saya benar-benar tidak mengerti! Mana mungkin ada orang asing yang bisa menerobos keamanan pemerintahan! Ini tidak masuk akal!" ujar Ghozali.


"Aku merendahkanmu, sepertinya kau tahu sedikit tentang keamanan negara. Baiklah, kuberitahu! Pak presiden sedang telah mengalami serangan jantung sepekan yang lalu, itu terjadi secara tiba-tiba, padahal kondisi beliau sedang prima," ujar pak menteri.


"Pantas saja selama ini pak menteri yang selalu mewakilinya untuk berbicara, itu bisa membuat kekecewaan besar pada rakyat," ujar Ghozali.


"Nah, oleh karena itu aku memintamu melakukan operasi untuknya. Menurut pak direktur, kau adalah dokter terbaik di rumah sakitnya," ujar pak menteri.


"Aku tidak bisa melakukan ini! Ini tidak sesuai prosedur! Siapa yang akan bertanggung jawab? Ini bukan rumah sakit loh! Siapa saja bisa punya niatan jahat untuk membunuhnya!" ujar Ghozali.


"Oleh karena itu kami memilihmu, yang bisa dipercaya," ujar direktur. "Tidak! Aku tidak akan mengoperasi pak presiden! Aku tidak ingin mengambil tanggungjawab ini! Sangat beresiko!" ujar Ghozali.


"Kau pikir kami akan diam saja? Kami juga akan memanfaatkan kelemahanmu, yaitu keluargamu sendiri," ujar direktur.


"Tidak! Tidak! Jangan Aisyah!" ujar Ghozali, ia semakin tumbang. "Aku tahu kok kalau kau memiliki selingkuhan, istrimu tidak akan mempan untuk mengancammu, kami lebih baik menggunakan barang yang lebih berharga," ujar pak direktur sambil menunjuk ke monitor.


Ghozali terkejut karena ketiga anaknya terlihat sedang duduk tenang di bangku, mereka tampak kebingungan.


"Kurang ajar! Berani-beraninya kalian membawa anak-anak ke sini! Jangan libatkan mereka!" teriak Ghozali.


"Tidak ada waktu lagi, segera lakukan operasi atau..... penembak yang ada di sana akan menarik pelatuknya dan membuat lubang di kepala anakmu," ujar pak menteri.


"Tenangkan dirimu, Ghozali! Kalau tidak, kau akan mengacau saat melakukan operasi," ujar direktur sambil mengusap-usap punggung Ghozali.

__ADS_1


Akhirnya mau tidak mau Ghozali pun pergi ke ruangan pembersih, ia mulai membersihkan diri di sana lalu memakai pakaian steril untuk melakukan operasi.


Akhirnya ia pun masuk ke dalam ruangan operasi sedangkan beberapa dokter dan perawat lainnya sudah ada di dalam.


Ia tidak bagaimana nasib orang-orang yang ada di dalam ruangan itu, mereka semua bertanggung jawab atas presiden, namun mereka terlihat tenang-tenang saja.


Operasi hendak dimulai, Shadiq, Hasan, dan Shahih pun di bawa masuk ke dalam. "Kita mau ke mana?" tanya Hasan kepada orang yang menggiring mereka.


"Kita akan lihat ayah kalian bekerja," ujar orang itu. "Wah! Benarkah? Asyik!" seru Shadiq, selama ini mereka memang belum pernah melihat ayah mereka bekerja.


Akhirnya mereka pun duduk di dekat jendela lantai kedua, mereka duduk di kursi pengamat operasi.


Saat itulah Ghozali menyadari bahwa mereka sedang melihatnya. Ia semakin ketakutan karena beberapa orang mengarahkan moncong senjata api ke arah anak-anaknya. Sayangnya anak-anaknya tidak sadar, mereka hanya terus menatap jendela, penasaran dengan apa yang hendak ia lakukan.


Akhirnya Ghozali memulai operasi, ia mulai mengambil pisau bedah lalu menyayat dada pasien yang terbaring.


"Apa yang sedang ayah lakukan?" tanya Hasan, ia merasa takut. "Itu namanya membedah, ayah kita adalah dokter bedah," ujar Shahih, ia terus memperhatikan jendela.


"Dih! Serem banget! Aku nggak mau lihat!" ujar Hasan, ia langsung bersembunyi di balik punggung Shadiq. "Eh! Tunggu dulu! Shahih berbicara!" seru Shadiq. "Sst! Diamlah! Jangan berisik! Perhatikan saja apa yang sedang ayah lakukan," ujar Shahih dengan ekspresi datarnya.


"Nggak mau! Ih! Darahnya keluar!" ujar Hasan, Shadiq juga sempat terkejut dan ketakutan. "Shadiq, kita pulang saja yuk," ujar Hasan, ia mengajak Shadiq untuk membalik badan, sayangnya Shahih langsung mencegat mereka.


"Kamu juga takut kan? Sudahlah nggak usah lihat! Kita pergi saja!" ujar Hasan. "Jangan! Tetap duduk di situ! Kalau memang nggak berani lihat, kalian saling pelukan saja! Tutup mata kalian!" ujar Shahih.


Mau tidak mau, akhirnya Shadiq dan Hasan memejamkan mata, mereka tetap menghadap jendela ruangan. Shahih pun merasa lega karena dua anak itu sudah tidak panik lagi, ia bisa terus menonton operasi itu dengan tenang.


Akhirnya operasi pun selesai, sedangkan Ghozali langsung pergi menuju anak-anaknya. Ia langsung memeluk mereka dengan perasaan khawatir.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Ghozali panik karena melihat Shadiq dan Hasan ketakutan. "Ayah jahat! Kenapa melukai orang itu? Darahnya sampai keluar semua loh! Ayah membunuh?" tanya Hasan sambil memukul-mukul kaki ayahnya.


"Nggak kok, ayah mengobatinya," ujar Ghozali. "Bohong! Aku tadi lihat serem banget!" ujar Hasan kemudian menangis.


"Nggak kok, kalau nggak percaya, lihat saja sendiri, orang itu masih hidup," ujar Ghozali. Akhirnya Shadiq dan Hasan mencoba melihat ke jendela ruangan tempat pasien itu dipindahkan.


"Wah! Benar! Dia masih bernafas!" seru Shadiq. "Kok bisa? Padahal sudah dilukai kayak gitu loh," ujar Hasan. "Itu namanya operasi bedah, hampir sama kayak ayah mencoba membuka bagian dalam mobil terus memperbaikinya," ujar Ghozali.


Akhirnya kedua anaknya pun tenang sedangkan Shahih masih berekspresi datar seperti biasanya.


"Selamat Ghozali! Hari ini kau benar-benar menakjubkan!" ujar direktur sambil bertepuk tangan, ia pun melempar kunci mobil ke Ghozali.

__ADS_1


"Antarkan anak-anakmu pulang lalu parkirkan mobilnya di tempat parkir rumah sakit," ujar direktur.


Akhirnya Ghozali pun menurutinya, dengan perasaan lega ia membawa anak-anak pergi ke parkiran lalu menaiki mobil direktur.


"Maafkan ayah, anak-anak! Kalian pasti takut lihat hal kayak tadi," ujar Ghozali. "Nggak apa-apa, kok! Kami bosan di rumah terus," ujar Shadiq.


"Benarkah? Kalau begitu ayah akan mengajak kalian jalan-jalan besok!" ujar Ghozali. "Hore!" seru Shadiq dan Hasan. Beberapa menit kemudian tiga anak itu mulai mengantuk dan langsung terlelap.


"Halo? Shadiq? Hasan? Loh? Sudah tidur? Shahih juga?" Ghozali keheranan. "Pasti mereka kelelahan dibawa ke sini segala," ujarnya sambil tersenyum, ia pun terus melajukan mobilnya.


Akhirnya sesuatu yang mengganjal terjadi, mobilnya bergerak semakin lambat hingga akhirnya berhenti, namun ia masih berada di dalam terowongan, ia tidak tahu seberapa jauh lagi hingga sampai ke ujungnya.


"Loh? Loh! Ada apa ini? Kenapa nggak mau bergerak?" Ghozali sempat panik, ia pun segera keluar dari mobil. Sayangnya seseorang langsung memukul kepalanya, membuatnya pingsan.


Ia pun terbangun dari tidurnya, namun ia mendapati dirinya berada di ruangan yang remang-remang sedangkan seluruh tubuhnya terikat dengan tali tambang, ia benar-benar tidak bisa bergerak.


direktur tiba-tiba muncul di hadapannya. "Ada apa ini? Kenapa aku terikat seperti ini? Di mana anak-anakku?" tanya Ghozali kebingungan.


"Anak-anakmu sudah pulang dengan selamat, mereka hanya akan ingat bahwa ayah mereka mengantar mereka hingga sampai di rumah dan membaringkan mereka di kamar mereka," ujar direktur.


"Apa yang sebenarnya kau ingin dariku? Kenapa kau mengikatku seperti ini?" Ghozali semakin kesal dengan perbuatan direktur, ia tidak lagi berbicara formal dengannya.


"Tentu saja ada alasannya. Alasan yang membuatku kesal selama ini! Aku juga memilihmu untuk mengoperasi presiden karena hal itu," ujar direktur.


"Apa tujuanmu melakukan hal itu? Kenapa harus aku?" tanya Ghozali tidak mengerti. "Kau tidak mengerti apa masalahmu? Menggoda putriku hingga tergila-gila padamu. Lalu muncul rumor perselingkuhan kalian yang membuat posisiku terancam.... berani-beraninya kau bertanya!" ujar direktur.


Ghozali terdiam, ia memang merasa dirinya banyak kesalahan. "Akhirnya istrimu dapat balasannya karena tidak menjaga suaminya dengan baik, ia membiarkan binatang liar berkeliaran lalu mengincar anakku? Kau pikir aku menerima menantu yang sudah punya lima anak?" tanya direktur.


"Bukan begitu! Kau salah paham! Aku tidak berpikir untuk menikahi putrimu!" ujar Ghozali.


"Lalu apa? Kau mempermainkan perasaannya? Sekarang dia sedang menangis di kamarnya karena ditolak seorang pria, awalnya aku curiga karena putriku tiba-tiba memberikan bekal padamu, bukankah itu aneh? Kau bahkan menerimanya. Seolah memberinya harapan untuk masuk ke dalam hatimu," ujar direktur. Sekali lagi Ghozali hanya terdiam.


"Aku tahu kau memiliki paras yang bagus dan keterampilan yang baik, tapi kau tidak berhak menyentuh putriku! Kau tidak berhak membawanya ke rumahmu dan membiarkannya memasak di dapurmu!" teriak direktur.


"Kau pikir aku tidak tahu itu? Aku selalu mengawasi apa yang putriku lakukan! Kali ini dia benar-benar menjadi gila! Dia bahkan ingin bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Anak direktur rumah sakit bekerja sebagai pembantu rumah tangga? Masih waras kah? Dia tergila-gila padamu hingga rela melakukan hal itu!" ujar direktur, ia langsung mengambil pisau yang ada di meja lalu menikam perut Ghozali karena emosi.


"Aduh, sepertinya aku menikam di bagian yang salah! Kau tidak akan mati jika terus begini. Mungkin lebih baik membiarkanmu terus kesakitan hingga semua darahmu habis," ujar direktur.


Ghozali tak berdaya, ia terus merintih kesakitan karena pisau itu masih menancap di perutnya.

__ADS_1


"Oh iya, aku sengaja membiarkan pisau itu tertanam di perutmu agar pendarahannya sedikit terhambat. Pak menteri meminta untuk menyingkirkan semua orang yang ikut mengoperasi presiden, mungkin sebaiknya kubuang kalian kelaut, agar tubuh kalian tidak ditemukan. Mungkin kecelakaan kapal di tengah laut bisa jadi alasan yang bagus sebagai hilangnya kalian semua," ujar direktur.


__ADS_2