
Kelas tampak lenggang seperti biasa sedangkan Shahih tetap duduk santai sambil membaca bukunya. Sekali-kali ia mencatat hal-hal yang menarik ataupun kalimat-kalimat yang susah dimengerti olehnya.
"Hari ini Shahih sedang mode serius! Sebaiknya jangan diganggu," ujar Ario. "Mengerikan sih! Bisa-bisa kamu kena lempar bukunya yang tebal itu," ujar Fashalay.
"Menurutku kasihan Shadiq sih, padahal ia kan ketua kelas, kakaknya sendiri lagi, kenapa Shahih nggak mau menuruti perkataannya? Ia malah murka dan mendebat Shadiq," ujar Ario.
"Saat itu Shadiq benar-benar melongo, ia nggak bisa berkata-kata lagi, jadi anak serba salah," ujar Fashalay.
"Ngomong-ngomong, sejak kapan ia cukur? Kenapa gaya rambutnya jadi berubah begitu?" tanya Ario.
"Entahlah, pokoknya tiga hari yang lalu dia izin keluar asrama, pulang-pulang rambutnya sudah begitu," jawab Fashalay.
Saat mereka sibuk membicarakan Shahih, Shadiq langsung menghampiri Shahih untuk meminta maaf.
"Lihatlah! Yang salah siapa, yang minta maaf siapa," ujar Ario dengan tatapan sinis. "Shadiq benar-benar laki sih! Benar-benar orang yang bertanggung jawab. Aku jadi ingat ayahku kalau lihat sifat Shadiq," ujar Fashalay.
"Dia memang begitu orangnya, semakin lama, semakin berbeda dengan Hasan, ia kayak pria dewasa menurutku," ujar Ario. "Itu alasan kenapa wali kelas memilih Shadiq sebagai ketua kelas, kayaknya cuma dia setara dengan anak-anak SMA," ujar Fashalay.
Tak lama kemudian setelah mereka berbincang-bincang, wali kelas pun masuk ke dalam untuk mengondisikan anak-anak.
"Ada apalagi ini? Kenapa wali kelas datang ke ke sini?" bisik Fashalay. Anak-anak yang lain juga tampak kebingungan.
"Anak-anak, hari ini kalian kedatangan santri pindahan," ujar wali kelas, ia memanggil anak yang sedang berdiri di daun pintu ruangan.
Anak-anak sekelas langsung terdiam melihat anak dengan kacamata dan berbaju gamis masuk ke dalam kelas, ia tidak mengenakan seragam apapun, ia bahkan masuk ke dalam kelas dengan sandal, membuat beberapa anak merasa aneh.
"Loh? Kamu nggak ada sepatu?" tanya wali kelas. "Ada bu, tapi masih di tas, belum saya bereskan," ujar anak itu.
Mendengar suara anak itu, anak-anak lainnya mulai merasa tidak asing. "Ibu sengaja nggak beritahu kalian identitas anak pindahan ini, ibu harap kalian bisa berkenalan dengannya secara mandiri," ujar Wali kelas kemudian pergi terburu-buru.
Anak itu pun tetap berdiri di tempat, ia sudah tahu hanya ada satu kursi kosong di pojok belakang, tempat Shadiq duduk.
__ADS_1
"Perkenalan dulu loh! Kami belum tahu namamu," ujar Ario. "Assalamualaikum, namaku Asyraf, biasa dipanggil Asa, dari pesantren Al-Ghifari," ujar anak itu.
"Tempat tinggalmu di mana?" tanya Fashalay. Asyraf pun terdiam sejenak karena kebingungan, ia hanya melirik ke arah Shahih yang tampak tidak peduli dengan kehadirannya, akhirnya ia memberi jawaban lain.
"Aku tinggal di panti asuhan," ujar Asyraf. Fashalay merasa bersalah karena mengungkit tempat tinggalnya.
"Baiklah, langsung duduk aja! Nanti pegal-pegal loh kalau berdiri terus," ujar Ario kemudian menuntun Asyraf ke bangku Shadiq.
Saat itulah ia melewati bangku Shahih, ia terus menatap anak itu berharap dapat menarik perhatiannya, namun Shahih tetap tidak peduli dengan memasang ekspresi datarnya. Ia tetap sibuk membaca bukunya.
Asyraf pun duduk di samping Shadiq. "Sa... salam kenal, Asyraf... eh, Asa!" Shadiq tampak gagap saat bicara.
Anak-anak sekelas pun menertawakannya. "Dia bukan perempuan, Shadiq! Ngapain gugup begitu?" tanya Ario keheranan.
"Salam kenal juga, anu... siapa namamu?" tanya Asyraf sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan.
"Oh! Na... namaku Shadiq!" seru Shadiq sambil kembali menjabat tangan Asyraf. "Lihat! Tangan Shadiq tremor! Bisa-bisa ada gempa di sini!" ujar Fashalay bergurau.
Seketika anak-anak sekelas terdiam, mereka menengok ke arah Shahih dan Asyraf, mencoba membandingkannya berkali-kali. Mereka benar-benar tercengang melihat wajah yang sama persis dari kedua anak itu. Bahkan cukuran rambut mereka tampak sama.
"Heh? Apalagi ini? Kok.... kok kamu mirip Shahih! Kok bisa?" Ario tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ia sampai menengok ke arah Shahih dan Asyraf berkali-kali sambil mengedipkan mata, ia berpikir ada yang salah dengan matanya.
Meskipun kelas tampak sangat heboh dan dipenuhi tanda tanya, Shahih terlihat tidak peduli, ia masih sibuk membaca bukunya seolah membebankan semua rasa penasaran anak-anak sekelas pada Asyraf.
Asyraf terus menatap Shahih dari belakang, berharap anak itu memberikan penjelasan pada mereka.
Sayangnya Shahih bahkan tidak menengok sama sekali, ia seperti orang yang tidak bisa mendengarkan apapun.
"Aduh, kayaknya si Shahih lagi marah deh, kemarin habis lempar buku ke muka Shadiq, sekarang dia nggak mau bicara sama siapapun," ujar Ario.
Entah kenapa Shadiq menjadi semakin merasa bersalah, sekali lagi ia menghampiri Shahih untuk meminta maaf padanya, saat melangkah ia tersandung oleh kakinya sendiri karena saking cemasnya dengan sikap Shahih.
__ADS_1
Asyraf merasa miris melihat anak yang serba salah itu. Wajahnya pun berubah datar, ia terus mengamati apa yang hendak Shadiq lakukan.
Sekali lagi Shadiq meminta maaf pada Shahih sambil mencoba menyentuh bahunya dengan ragu-ragu. Sayangnya Shahih tak menggubrisnya karena ia sibuk membaca buku. Shadiq tetap diam berdiri di sampingnya, ia terus menunggu, berharap Shahih akan memaafkannya atau paling tidak merespon permintaan maafnya.
"Nggak usah kayak orang bodoh berdiri di situ, kembalilah duduk!" ujar Asyraf tiba-tiba, membuat anak-anak sekelas terdiam. Shadiq masih bingung, ia tidak tahu apakah harus kembali duduk atau tetap berdiri. Seperti biasanya, karena terjebak dalam kebingungan, akhirnya Shadiq pun menangis di tempat.
"Yah, malah nangis lagi," Hasan merasa kecewa melihat Shadiq yang tiba-tiba terisak. "Kau itu manusia, bukan patung! Sini duduk aja," ujar Asyraf.
Ario pun menuntun Shadiq kembali ke tempat duduknya sambil menepuk-nepuk bahunya untuk menenangkannya.
"Sabar, Shadiq! Besok Shahih pasti menjawabmu kok, sekarang lagi mode serius, dia nggak bisa diganggu," bisik Ario.
Akhirnya Shadiq bisa duduk dengan tenang. "Kau baik-baik saja?" tanya Asyraf dengan ekspresi datarnya. Shadiq pun mengangguk, ia berusaha mengusap-usap air matanya. Saat itulah Asyraf tersenyum, meskipun tatapan matanya tetap datar.
Setelah pelajaran selesai, Asyraf langsung membereskan barang-barangnya. Anak-anak merasa iba melihatnya kesulitan sendirian.
"Anak bernama Shahih itu di mana?" tanya Asyraf. "Kayaknya lagi di kelas," jawab Ario.
"Hmm! Kenapa Asyraf sangat mirip dengan Shahih? Cara bicaranya juga sama! Biasanya kalau orang beda daerah kan cara bicaranya beda! Kalau ini benar-benar sama!" ujar Fashalay penasaran.
"Soalnya cara bicaranya agak datar gimana gitu, nggak ada intonasi khusus. Kadang aku juga nggak bisa bedain saat Shahih marah atau senang, cara bicaranya sama, ekspresinya juga sama. Yang beda cuma gerakan tubuhnya. Kalau marah benar-benar bar-bar orangnya!" ujar Ario.
"Oh? Begitu kah?" ujar Asyraf kemudian kembali menata pakaiannya di lemari.
Fashalay dan Ario terus mengamatinya hingga sejam lamanya. "Bantuin kek! Ngapain kalian cuma lihat-lihat dia doang?" tanya Hasan keheranan.
"Hmm! Asa agak pendiam orangnya ternyata, meskipun bicaranya lancar," ujar Fashalay. "Dilihat dari manapun juga, dia benar-benar mirip Shahih! Nggak ada bedanya!" ujar Ario.
Shadiq pun menghampiri Asyraf. "Ma.... mau kubantu?" tanya Shadiq menawarkan. "Cie! Cie! Shadiq selalu di depan! Pantas saja ia jadi ketua kelas!" ujar Fashalay.
Asyraf menatap tangan Shadiq lalu berpikir sejenak. "Nggak perlu," ujar Asyraf kemudian lanjut merapikan lemarinya.
__ADS_1