
Aisyah dan anak-anak lainnya pun kembali dengan kuda mereka. "Luar biasa! Nggak nyangka kalian semua bisa mengembalikan kuda itu ke sini tanpa bantuanku," ujar pawang kuda terkesan.
"Aku memang sudah biasa melakukan ini," ujar Aisyah, ia langsung menurunkan Zahra.
"Ngomong-ngomong, gimana caranya kalian berdua bisa menunggangi kuda? Kalian tampak sudah biasa melakukannya," ujar Aisyah.
"Di pesantrenku sudah menjadi rutinitas setiap pekan. Kami berkuda, memanah, dan berenang," ujar Asyraf.
"Kalau Shahih? Gimana ceritanya kamu bisa nunggang kuda?" tanya Aisyah. "Hmm! Benar sekali! Aku nggak pernah lihat kamu nunggang kuda sebelumnya," ujar Hasan. "Sama kayak Asa," ujar Shahih singkat, ia langsung menuntun kuda menuju ke kandangnya seolah sudah biasa melakukannya. Asyraf pun demikian.
"Wah! Anak kembar ini luar biasa! Mereka benar-benar mirip seperti ibu mereka!" ujar pawang kuda itu terkesan.
"Eh, ibu! Kita foto bareng-bareng yuk! Sama kudanya! Aku pengin foto pas di atas kuda loh!" seru Zahra.
"Lah, nggak dari tadi waktu kuda itu berlari," ujar Aisyah. "Si ayah, sibuk pacaran sama Syihab! Dia nggak mau megang kameranya!" ujar Zahra.
"Okelah! Kalau gitu biar ibu foto!" ujar Aisyah kemudian menaikkan Zahra kembali ke atas kuda.
"Eh, bentar! Ini juga kesempatan!" seru Aisyah, ia mengajak Syihab dan Ghozali ke padang rumput.
"Ada apa, sayang? Si Syihab masih sakit loh ini!" ujar Ghozali. "Bentar saja! Kita foto bersama di sini!" seru Aisyah, ia meminta pawang kuda untuk memotret mereka sekeluarga.
"Hei, kalian berdua! Kenapa kalian menjaga jarak sangat jauh sekali dengan yang lainnya? Lebih dekat lagi dong!" ujar pawang kuda mengisyaratkan pada Asyraf dan Shahih.
Shahih langsung berpindah tempat, ia sengaja melakukan itu agar Asyraf tampak lebih dekat dengan yang lainnya, sedangkan dia sendiri berdiri di sisi paling pinggir.
"Ini bukan anak tangga! Kenapa posisi kalian aneh sekali?" tanya pawang kuda itu keheranan. "Wah, kayaknya pak pawang kuda ini bakal ganti profesi jadi fotografer!" ujar Ghozali bercanda.
__ADS_1
Akhirnya pawang kuda itu mengatur posisi yang sempurna untuk keluarga Ghozali. Shahih dan Asyraf pun berada paling depan, mereka berdiri di samping Aisyah.
Kebetulan sekali Ghozali bersisian dengan Shahih, ia mencoba untuk merangkul bahu anak itu agar terlihat tampak akrab.
"Hei! Emangnya ini foto berduka? Kalian berdua ada masalah apa sih?" tanya pawang kuda keheranan setelah melihat ekspresi datar pada foto Shahih dan Asyraf.
"Maaf, pak! Tunggu sebentar!" ujar Aisyah, ia mencoba memperbaiki ekspresi Shahih dan Asyraf. Pawang kuda itu semakin keheranan melihat tingkahnya.
Setelah membuat Shahih dan Asyraf tersenyum paksa, pawang kuda itu pun mulai memotret mereka.
Akhirnya foto keluarga mereka yang lengkap pun tercapai juga. "Hmm! Ini benar-benar momen yang indah!" ujar Aisyah, ia tidak bisa berhenti menatap foto itu. Apalagi setelah melihat pose Ghozali yang merangkul bahu Shahih, ia benar-benar merasa bahagia melihat pemandangan itu.
Akhirnya liburan yang hendak Aisyah dan Ghozali lakukan selama tiga hari menjadi lebih singkat karena mereka harus membawa Syihab ke rumah sakit untuk memeriksa luka di tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ghozali mendapati Shahih dan Asyraf masih beraktivitas seperti biasa, tidak seperti anak-anak lainnya yang langsung tidur terlelap setelah sampai di rumah.
"Shahih, bisa ke kamar ayah sebentar?" tanya Ghozali. Shahih langsung menurutinya tanpa bertanya. Sebenarnya Ghozali agak canggung dengan sikap anaknya itu, ia bahkan tidak berani menatap matanya.
Setelah masuk ke dalam kamar, Aisyah juga tampak menunggu kedatangannya di sana. Shahih langsung duduk di kursi tanpa bertanya, ia tidak penasaran kenapa mereka berdua memanggilnya.
"Shahih, kalau kamu ada banyak masalah, atau ada yang ingin kamu ceritakan... bilang aja ke ibu. Nggak perlu malu ya!" ujar Aisyah sambil membelai kepala anaknya itu.
Ia sempat prihatin karena respon anaknya saat dibelai sudah berbeda dari yang terakhir kali ia lakukan. Dahulu Shahih langsung merasa nyaman, bahkan langsung memeluk Aisyah, namun sekarang anak itu tetap bergeming.
"Gimana? Ada yang mau kamu ceritakan?" tanya Ghozali. Shahih menggeleng kepala. Meskipun tidak menjawab dengan mulutnya, Ghozali merasa senang karena anaknya itu tidak begitu mengabaikannya.
__ADS_1
"Ayah dengar dari Shadiq dan Hasan loh! Katanya kamu yang pertama sadar kalau orang-orang di underpass itu menodongkan senapan. Kamu bisa ceritakan lebih jelas lagi? Mungkin kamu juga bisa ceritakan dapat dari mana bukti terkait aktivitas ilegal di tempat itu," ujar Ghozali.
Mendengar perkataan itu, ekspresi datar Shahih perlahan lenyap, bahkan nafasnya sudah tidak teratur seperti biasanya, ia mulai bernafas dengan cepat.
"Kamu juga yang mengajak Asa ke rumah kan?" tanya Aisyah. Shahih semakin tidak tahan dengan suasana interogasi di kamar itu. Ia langsung beranjak dari posisi duduknya lalu keluar dari kamar.
"Apakah aku salah bicara? Kenapa dia tiba-tiba keluar?" tanya Ghozali keheranan. Aisyah juga tampak kebingungan melihat reaksi anaknya itu.
Mereka berdua pun tertegun sejenak. "Mas, keknya mending kamu samperin deh! Keknya dia mau nangis tadi," ujar Aisyah khawatir.
"Menangis? Kenapa? Aku nggak ngelakuin apapun loh," ujar Ghozali kebingungan. "Udah deh! Samperin aja! Kalau masalahnya nambah parah malah bikin repot!" ujar Aisyah kesal.
Shahih masih menguping pembicaraan mereka berdua, sikap ayah dan ibunya memang tidak pernah berubah dari dulu. Mereka berdua selalu bertengkar ketika membahas apapun tentang dirinya.
Karena muak mendengar keributan dari mereka berdua, Ia langsung pergi menuju kamarnya sendiri lalu mengunci pintunya sebelum Asyraf sempat masuk ke dalam.
Dengan nafas yang tersendat-sendat, ia mulai terisak. Perasaannya menjadi campur aduk antara marah dan ingin menangis. Baru kali ini ia merasakan begitu sakit hatinya.
Ia sendiri tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi padanya, ia hanya merasakan dadanya yang semakin sesak saat mengingat pertanyaan dari ayah dan ibunya itu.
Beberapa menit kemudian Ghozali datang mengetuk pintu. "Shahih, kamu di dalam kan?" tanya Ghozali.
Mendengar suara pria itu saja sudah membuat dada Shahih semakin sakit. Ia tidak tahan mendengar suara ayahnya itu hingga ingin menggila. Ia berusaha menutupi telinganya dengan apa saja yang ada di kamarnya. Sayangnya hal itu tidak berhasil.
Tubuhnya semakin gemetaran karena baru kali ini ia merasa sakit hati, merasa dikhianati. Ia pun membayangkan perasaan yang dialami oleh Arkan selama ini, dan menurutnya yang ia rasakan saat ini tidak seberapa jika dibandingkan dengannya.
Sayangnya ia belum siap untuk merasakan sakit hati yang tak terbayangkan itu. Ia merasa kehadirannya benar-benar tidak diharapkan oleh mereka berdua.
__ADS_1