
Ghozali terbangun dari tidurnya, ia mendapati Aisyah menjadikan dadanya sebagai bantalan untuk tidur.
"Loh? Sudah bangun? Sholat dulu mas," ujar Aisyah. Ghozali langsung memasang wajah malas, ia bahkan menutup kembali wajahnya dengan bantal.
"Loh? Kenapa mas? Ayo sholat!" ajak Aisyah. Sebenarnya Ghozali enggan menjadi imam sholat karena Aisyah selalu memintanya membaca ayat dengan keras.
"Bacaan Qur'anku masih jelek, sayang!" ujar Ghozali. "Loh, mas udah absen bertahun-tahun nggak jadi imam sholatku loh! Ayolah! Kalau nggak mau, nggak bakal bisa!" desak Aisyah. Akhirnya Ghozali menurutinya.
Setelah selesai Sholat, Aisyah langsung mendorong Ghozali ke kasur. "Sa... sayang, mau apa?" tanya Ghozali sambil memasang wajah malu-malu.
"Nggak seperti yang kamu pikirkan, mas! Aku mau denger cerita rumah ini, kok bisa kosong saat aku nggak ada," tagih Aisyah.
"Baiklah, mungkin biar kuceritakan awalnya.." ujar Ghozali sambil mencari kata yang tepat untuk memulai.
"Aku menemukan beberapa berkas yang kamu simpan tentang Asa, aku juga membaca suratmu," ujar Ghozali. Entah kenapa Aisyah langsung malu saat Ghozali membahas hal itu.
"Aku mencoba melanjutkan pencarianmu juga, tapi nggak pernah bisa ketemu karena ada beberapa keluarga yang mengadopsi Asa. Menurut keterangan beberapa keluarga, sifatnya membuat mereka khawatir. Menurutku ia sangat mirip dengan Shahih, pendiam, dan sangat misterius," ujar Ghozali.
"Kalau mereka berdua ada di rumah saat itu, kira-kira gimana yah?" tanya Aisyah penasaran.
"Entahlah, yang jelas aku masih belum bisa menemukannya. Lalu, apakah kamu ingat direktur rumah sakit tempatku bekerja?" tanya Ghozali.
"Oh, ayah wanita itu?" tanya Aisyah penuh sindiran. "Jangan begitu dong, sayang. Aku benar-benar khilaf saat itu! Aku belum terlalu dewasa," ujar Ghozali, ia sangat malu mengingat masa lalu itu.
"Ya udah, coba ceritain aja! Kenapa dengan direktur itu?" tanya Aisyah. "Sebenarnya dia seorang penjahat. Dia mengancamku dengan membawa anak-anak yang ada di rumah, lalu dari kejauhan menodongkan senapan ke arah mereka," ujar Ghozali.
"Apa? Senapan? Apa maksudmu? Mereka mengancam hendak membunuh anak-anak kita?" tanya Aisyah panik, ia benar-benar ketakutan.
"Iya, dia menyuruhku melakukan operasi untuk seorang menteri, dan aku yang harus bertanggung jawab jika terjadi kegagalan, sedangkan nyawa anak-anak yang jadi jaminannya," ujar Ghozali.
"Ini ceritamu nggak mengada-ada kan? Kejam sekali! Kok bisa ada orang seperti itu!" ujar Aisyah mengelus dada.
"Untung yang mereka jadikan sandera bukan Zahra dan Syihab, mereka berdua mungkin akan menyadari betapa mengerikannya keadaan saat itu.
"Lalu? Gimana dengan anak-anak lainnya? Mereka nggak ada yang sadar kan, kalau ada senapan yang diarahkan pada mereka?" tanya Aisyah. Ghozali menghela nafas sejenak.
"Shahih menyadarinya, aku sempat takut melanjutkan operasi saat pandangannya tertuju pada moncong senapan itu," ujar Ghozali.
__ADS_1
"Benarkah? Shahih pasti ketakutan! Kasihan dia harus mengetahui betapa mengerikannya dunia ini di usia muda," ujar Aisyah prihatin.
"Dia yang menyelamatkan kami semua," ujar Ghozali. "Apa maksudmu?" tanya Aisyah.
"Shadiq dan Hasan sempat hendak berbalik badan karena takut, namun Shahih memaksa mereka untuk tetap menghadap ke depan. Sekali mereka menoleh ke belakang, mereka mungkin akan berteriak ketakutan. Sifat Shahih yang selama ini kita anggap nggak wajar justru menolong kami semua," ujar Ghozali.
"Lalu gimana? Kalian pulang dengan selamat?" tanya Aisyah. "Aku nggak tahu gimana anak-anak bisa pulang, yang jelas karena aku mengetahui semua sisi jahat mereka, tentu saja mereka nggak mungkin biarkan aku pergi begitu saja," ujar Ghozali.
"Terus gimana mas? Apa yang terjadi?" tanya Aisyah. Ghozali terdiam, sebenarnya ia juga tidak ingin mengingat lebih dalam kejadian itu.
"Ada apa mas?" tanya Aisyah. "Kukira aku akan mati saat itu juga sayang! Kukira nggak akan bisa bertemu denganmu lagi," ujar Ghozali dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang terjadi mas? Kenapa tiba-tiba menangis?" tanya Aisyah keheranan. "Saat itu benar-benar mengerikan, sayang! Meskipun setiap hari aku memegang pisau untuk membedah bagian tubuh orang-orang, aku baru merasakan betapa menakutkannya ketika seseorang menusukkan pisau ke perutku dengan tatapan ingin membunuh. Aku kehilangan banyak darah hingga kupikir bakal mati," ujar Ghozali sambil menunjukkan luka yang membekas di perutnya.
"Ya ampun mas! Kok bisa gini sih! Aku baru sadar kalau ada luka itu! Ya Allah! Tubuhmu jadi begini mas!" Aisyah langsung menangis melihat bekas jahitan yang ada di perut Ghozali, ia sangat tidak rela tubuh sempurna suaminya kini mendapatkan jahitan yang cukup panjang.
"Lah, kok jadi kamu yang nangis sih! Mau aku lanjutin nggak ceritanya?" tanya Ghozali. Aisyah masih terus menangis. Akhirnya Ghozali pun menenangkannya.
"Terus apa yang terjadi mas? Setelah mereka menikammu, apa yang terjadi?" tanya Aisyah. "Aku langsung pingsan saat itu. Ketika sadar, aku sudah terbaring di dipan dengan luka jahitan di perutku. Mereka juga menayangkan berita kecelakaan yang sebenarnya mereka buat-buat sendiri untuk menyamarkan keberadaanku. Aku dianggap telah meninggal tanpa jasad. Mereka membuat kesimpulan bahwa jasadku hanyut terbawa air laut, jadi mereka nggak perlu melakukan pencarian. Mungkin saat itulah anak-anak mulai pindah ke rumah kak Rofiq, dia yang mengasuh anak-anak kita hingga semuanya masuk pesantren," jawab Ghozali.
"Tentu saja, dia berusia beberapa tahun sangat jauh dari kami semua, dia sangat dewasa," ujar Ghozali. "Lalu gimana dengan biaya sekolah anak-anak tiap bulannya? Mereka juga yang menanggung bayarannya?" tanya Aisyah.
"Kak Rofiq sendiri yang membayar itu semua," jawab Ghozali. "Astaghfirullah, mas! Harusnya kamu ganti uangnya! Duh! Kita sudah banyak merepotkan orang lain!" ujar Aisyah gelisah.
"Tapi kak Rofiq menolaknya, dia nggak mau nerima uang yang kuberikan! Aku harus gimana?" tanya Ghozali sambil garuk-garuk kepala.
Aisyah hanya bisa menepuk dahi. "Kamu langsung kasih dia uang secara terus terang? Mana mungkin dia mau! Dia punya harga diri loh mas! Ya ampun! Nanti dia mengira kita berpikir bahwa dia orang yang nggak mampu! Duh, gimana sih mas?" ujar Aisyah.
"Eh? Aku nggak bermaksud begitu loh! Aku cuma ingin berterima kasih dan mengembalikan uang yang ia keluarkan untuk anak-anak kita," ujar Ghozali.
"Ya nggak begitu juga caranya! Kamu bisa bantu dia dengan alasan lain kek, jangan melulu pakai uang langsung," ujar Aisyah. Ghozali hanya bisa mengernyitkan dahi.
"Argh! Aku nggak paham harus ngapain, sayang!" ujar Ghozali sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ya udah! Kita bahas itu besok-besok saja, aku masih penasaran....... kamu di mana selama beberapa tahun itu?" tanya Aisyah.
"Tempatnya ada di underpass panjang, ada ruang bawah tanah di sana, setiap beberapa hari sekali aku ditugaskan untuk merawat pasien khusus.... mereka semua adalah pejabat negara," ujar Ghozali.
__ADS_1
"Bukankah itu ilegal? Itu namanya perbudakan!" ujar Aisyah. "Nah, karena itu.... ada satu hal yang tak terduga! Adikmu, Alfa yang menyelamatkanku," ujar Ghozali.
"Tunggu dulu! Alfa? Dia? Benarkah? Menyelamatkan seperti apa lebih jelasnya?" tanya Aisyah.
"Aku nggak tahu apa yang dia lakukan selama ini, yang jelas dia yang melaporkan aktivitas mencurigakan dari underpass itu. Akhirnya polisi pun datang dan menggerebek mereka semua," ujar Ghozali.
"Wah! Itu berita besar! Anak-anak pasti sangat kebingungan saat tahu kalau mas masih hidup," ujar Aisyah. Ghozali mengerutkan dahi lagi.
"Ada apa mas?" tanya Aisyah keheranan. "Sebenarnya mereka nggak terlalu terkejut sih. Mereka malah yang mendatangiku. Justru aku yang terkejut melihat anak-anak bisa masuk ke tempat itu dan menyuruhku keluar bersama," ujar Ghozali.
"Apa? Anak-anak masuk ke sana? Siapa yang suruh mereka melakukan hal yang bahaya itu? Kalau sampai mereka tertembak gimana?" Aisyah tampak naik pitam.
"Te.... tenang dulu, sayang! Aku juga nggak tahu kenapa mereka bisa ke sana, yang jelas bukan aku yang nyuruh. Kamu mungkin bisa coba tanya ke adikmu," ujar Ghozali.
Tak lama setelah mereka berbincang-bincang, suara pintu diketuk pun terdengar beriringan dengan ucapan salam, itu adalah Alfa.
Aisyah segera pergi keluar untuk membukakan pintu. Alfa sempat berkacak pinggang menyikapi kebiasaan kakaknya itu.
"Kak, kalau buka pintu rumah pastikan dulu siapa yang datang! Paling nggak jangan buka lebar-lebar! Aku sudah peringatkan berapa kali sih? Kalau pria asing yang ada di depan gimana?" tegur Alfa.
"Lah, yang di depan rumahku bukan pria asing kok, adikku!" ujar Aisyah. Tak lama kemudian Ghozali pun datang.
"Hei, landak! Harusnya kau yang bukain pintu rumah! Jangan bikin kakakku susah payah berjalan ke sini!" tegur Alfa sekali lagi.
"Alfa, ada hal lain yang mau kakak bicarain! Sini masuk ke dalam!" ujar Aisyah sambil menarik lengan Alfa secara tiba-tiba.
Ia langsung mendudukkan adiknya itu di sofa lalu duduk berhadapan dengannya seolah hendak menginterogasi.
"Ada apa sih kak?" tanya Alfa keheranan. "Kakak denger kamu yang laporin terkait aktivitas ilegal direktur rumah sakit mas Ali, benarkah?" tanya Aisyah.
"Iya, kenapa? Kakak nggak suka? Mau kukurung lagi kah landak itu di ruangan bawah tanah? Boleh kalau kakak mau," ujar Alfa.
"Bukan itu yang ingin kakak tanyakan! Kata mas Ali, anak-anak ikut masuk ke ruangan bawah tanah itu! Bahkan menjemputnya keluar! Sebenarnya apa yang kamu perintahkan pada mereka?" tanya Aisyah dengan wajah penuh emosi.
"Be... bentar dulu kak! Sabar! Jangan tergesa-gesa! Nggak usah serius begitu!" ujar Alfa ketakutan.
"Gimana nggak serius? Mereka anak-anak loh, Alfa! Kenapa kamu biarkan mereka pergi ke tempat berbahaya? Kakak dengar mereka membawa senjata api! Mereka punya senapan! Kalau anak-anak tertembak gimana?" tanya Aisyah meminta pertanggungjawaban pada Alfa.
__ADS_1