Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Arkan Fadhilah


__ADS_3

Shahih pergi ke kelas dan mendapati Arkan masih berada di sana. Kali ini ia langsung duduk berhadapan dengannya.


"Kau sedang apa?" tanya Shahih. "Bu... bukan apa-apa, cuma menggambar," ujar Arkan. "Gambar apa?" tanya Shahih penasaran, ia juga ingin melihat apa isi buku Arkan yang selalu dibawa kemana-mana itu.


"Nggak, bukan apa-apa kok. Gambarku jelek," ujar Arkan, ia langsung menutup bukunya dan hendak memasukkannya ke dalam laci, namun Shahih menahannya.


Akhirnya mereka berdua tampak saling tarik menarik buku itu hingga seorang guru datang. "Loh? Ada apa ini? Kenapa kalian berdua masih di kelas? Nggak makan?" tanya guru itu. Ia adalah Ghifari, seorang guru konseling.


Cara bicaranya yang begitu enerjik membuat Shahih merasa malas menghadapinya. Akhirnya ia melepaskan buku itu dari Arkan, ia enggan dihujani banyak pertanyaan.


Ghifari langsung duduk di sebelah Shahih dan memegang pundaknya. "Kamu.... anak baru yah? Kayaknya saya belum pernah melihatmu! Maaf kalau membuatmu tersinggung," ujar Ghifari.


"Nggak apa-apa kok, saya memang baru pindah ke pesantren ini beberapa hari kemarin," ujar Shahih.


"Oh! Pantas saja! Biasanya saya cuma lihat Arkan yang berada di kelas setelah sholat Dzuhur, kali ini ada anak lain! Apakah kamu juga sedang puasa?" tanya Ghifari.


"Nggak kok, saya ke kelas setelah makan tadi. Karena di kamar berisik, jadi saya pergi ke kelas," ujar Shahih.


Ghifari tiba-tiba melirik buku yang tergeletak di meja Shahih, ia pun berpikir untuk melihat buku itu, namun Shahih segera mengambilnya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Loh? Kenapa?" tanya Ghifari keheranan, ia sempat tertawa karena tindakan Shahih. "Kenapa harus disembunyikan? Kamu kayak habis ketahuan baca majalah pornografi saja," ujar Ghifari bercanda.


Shahih semakin kesal dengan perkataannya. Meskipun suaranya terdengar ramah, namun perkataannya sangat jauh dari kata ramah. Ia pun menarik lengan Arkan agar ia beranjak dari tempat duduknya.


Arkan sempat kebingungan dengan apa yang Shahih lakukan. "Shahih, kenapa ini?" bisik Arkan panik. Shahih tidak menjawab ia fokus menghadap Ghifari.


"Maaf ustadz, kami mau ke kamar dulu," ujar Shahih kemudian menarik paksa lengan Arkan.


Arkan pun terpaksa mengikutinya hingga turun ke lantai bawah. "Kenapa Shahih? Sakit tahu!" keluh Arkan.

__ADS_1


"Kau sering ngobrol dengannya? Besok-besok lebih baik jangan," ujar Shahih. "Ke... kenapa?" Arkan tidak mengerti. "Orang itu.... nggak sopan! Dia suka sebar rahasia orang! jangan suka cerita hal pribadi ke orang itu!" ujar Shahih.


"Heh? Orang itu? Di ustadz kita loh! Kamu harus menghormatinya!" ujar Arkan. "Aku nggak suka orang yang suka mengumbar rahasia orang lain," ujar Shahih.


Arkan langsung melepaskan tangannya dari Shahih. "Seenggaknya beliau suka mengajakku bicara. Aku nggak ada orang lain bisa kuajak bicara, bahkan orang tuaku sendiri pun jarang, apalagi saat ini mereka nggak ada di sini," ujar Arkan.


"Loh? Bukannya banyak anak di sini? Ada Hasan, Shadiq, dan Ario juga," ujar Shahih. "Kamu nggak bakal paham, Shahih! Nggak ada yang pernah mengajakku bicara di sini, mungkin mereka juga nggak kenal denganku. Aku nggak pernah dianggap di kelas ini," ujar Arkan, ia tampak sakit hati lalu pergi meninggalkan Shahih.


Shahih pun tiba-tiba teringat dengan masa kecilnya, ia terus teringat bagaimana dirinya bagaikan angin hampa. Seolah tidak ada yang peduli padanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya Shahih mendapati Arkan berada di dalam kelas, ia tampak asyik mencoret-coret bukunya.


"Apa lagi itu?" tanya Shahih penasaran. "Bukan apa-apa, aku cuma nulis cerita," ujar Arkan.


"Cerita apa? Boleh kulihat?" tanya Shahih penasaran, awalnya Arkan hendak menyerahkan buku itu dengan semangat, namun setelah melirik buku bacaan yang Shahih pegang setiap hari, ia tampak tak percaya diri.


"Terus kenapa kamu nulis kalau aku nggak boleh dibaca?" tanya Shahih keheranan. "Aku nggak harap kamu baca tulisanku, aku tahu kamu anak yang pintar. Tulisan payah milikku mungkin nggak sebanding dengan buku yang kamu pegang itu," ujar Arkan.


Ia tampak muak berhadapan dengan Shahih, ia bahkan berharap anak itu pergi dari hadapannya. Sayangnya ia tidak memiliki keberanian untuk mengusirnya, akhirnya ia memilih pergi sendiri.


Hingga malam tiba, Shahih tidak menemukan anak itu di dalam kamar, ia sempat khawatir karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, seluruh santri dilarang beraktivitas di jam malam ini.


"Eh, ada yang lihat Arkan?" tanya Shahih. "Arkan? Siapa?" tanya Shadiq. "Loh? Nggak kenal? Itu loh! Anak yang duduk di bangku paling kiri bagian tengah!" ujar Hasan.


"Oh, anak itu! Tempat tidurnya kosong terus setiap hari, kukira nggak ada orangnya," ujar Shadiq.


"Kira-kira di mana dia jam segini?" tanya Shahih. "Entahlah, malam-malam nggak ada di kamar..... mungkin pergi kabur dari asrama kah?" Hasan mencoba menebak.

__ADS_1


"Hei! Nggak mungkin lah! Arkan tuh anak alim! Dia juga rutin puasa Senin-Kamis loh! Nggak mungkin orang kayak dia kabur dari pesantren," ujar Ario.


"Tapi aku heran, dia nggak pernah ngobrol loh!" ujar Shadiq."Katanya nggak kenal! Gimana sih?" tanya Shahih."Bu.. bukan begitu! Aku nggak pernah bicara dengannya," ujar Shadiq.


"Halah! Kamunya aja yang malu-malu! Dia laki-laki kok, ngapain malu buat ajak bicara?" tanya Hasan keheranan.


"Dia emang nggak pernah bicara sih, emangnya kamu pernah ajak dia bicara?" tanya Ario. "Tentu saja, aku pernah suruh dia piket, bersihin kamar gara-gara dia tidur kelas," ujar Hasan.


"Anak itu kemana-mana selalu bawa buku, kayaknya dia anak pintar loh," ujar Ario. "Lah, cuma bawa buku doang! Aku sih bisa bawa buku ke mana-mana! Asalkan jangan ke kamar mandi," ujar Hasan.


Shahih langsung pergi keluar kamar selagi anak-anak lainnya sibuk berbincang-bincang. Ia pergi ke lantai dua, ke kelas.


Akhirnya ia menemukan Arkan sedang tidur di atas kursi-kursi yang dijajar seperti dipan.


Shahih hanya bisa melihatnya dari jendela karena pintu kelas tertutup, ia tidak ingin mengganggunya.


Setelah mengetahui bahwa anak itu belum tidur, Shahih pun kembali ke kamar untuk mengambil selimut dan bantal, ia pun kembali ke lantai atas dan membuka pintu kelas. Saat itulah Arkan beranjak dari posisi terbaringnya untuk memeriksa siapa yang datang.


"Astaghfirullah! Bikin kaget saja! Ngapain ke sini-sini?" tanya Arkan. "Aku juga mau tidur di sini," ujar Shahih.


"Kamu nggak bakal bisa tidur di sini. Kursi nggak seempuk kasur yang ada di kamar," ujar Arkan sambil berbalik badan, ia masih enggan melihat Shahih.


"Lah, kamu tahu kalau kursi ini nggak empuk, kenapa tidur di sini?" tanya Shahih. Arkan tidak menjawab.


Akhirnya Shahih pun langsung menata beberapa kursi dan tidur di atasnya, ia langsung menggunakan selimutnya.


"Ternyata nggak buruk juga," ujar Shahih, meskipun ia berkata begitu, Arkan tetap tidak menggubris.


"Hei, Arkan! Kamu sudah tidur? Kenapa kamu pilih tidur di sini?" tanya Shahih. "Aku nggak bisa tidur kalau di dalam ruanganku ada orang lain, apalagi laki-laki," ujar Arkan.

__ADS_1


"Walah, apa aku ganggu tidurmu?" tanya Shahih, ia hendak beranjak dari posisi tidurnya.


"Nggak juga," ujar Arkan, ia tetap tidak membalikkan badan, ia berusaha agar tertidur dengan nyenyak. Akhirnya Shahih pun terdiam, ia tidak ingin mengganggu anak itu dan mulai memejamkan mata.


__ADS_2