
Ario tidak menemukan Shahih di mana pun, bahkan ia tidak menemukannya saat sholat di masjid.
Karena heran, ia pun mendatangi Shadiq dan Hasan. "Hei, kalian berdua lihat Shahih nggak? Kok nggak ada di mana-mana yah!" ujar Ario keheranan.
"Nggak ada dimana-mana maksudnya gimana? Hilang gitu? Kau dah cari yang bener belum?" tanya Hasan.
"Nggak ketemu! Dia kayak buku yang hilang entah keselip di mana, susah banget carinya!" ujar Ario.
"Coba tanya Arkan, kayaknya Shahih sering ngobrol sama dia," ujar Shadiq. Tepat sekali saat itu Arkan masuk ke dalam kamar, ia sempat merasa tersinggung ketika mereka menyebutkan namanya, ia salah paham dan berpikir mereka baru saja menggunjingnya.
"Hayoh! Orangnya datang loh! Shadiq tanggung jawab!" ujar Hasan mengompor-ngompori. Arkan pun semakin merasa tidak nyaman, ia hanya terdiam sambil menuju ke lemarinya.
"Hei, Arkan! Kau lihat Shahih?" tanya Ario, anak itu hanya menggeleng kepala. "Duh! Kemana sih dia? Kok nggak ada di mana-mana!" ujar Ario kesal.
"Jangan-jangan dia kabur dari pesantren!" ujar Fashalay. "Siapa yang kabur dari pesantren?" Suara Alfa terdengar secara tiba-tiba dan itu benar-benar mengejutkan mereka. Anak-anak itu terdiam seribu bahasa.
"Bu... bukan apa-apa paman, nggak ada yang kabur kok," ujar Hasan, ia sempat berkeringat karena angkat bicara.
"Shahih di mana?" tanya Alfa pada anak-anak yang tampak berwajah pucat karena harus berhadapan dengannya.
Tak lama kemudian Shahih pun datang, hanya dia yang tidak takut dengan wajah Alfa. "Paman cari aku?" tanya Shahih. "Panggil paman ustadz di sini," ujar Alfa.
"Baiklah, ada perlu apa, ustadz?" tanya Shahih, ia langsung terbiasa dengan memanggilnya seperti itu.
"Besok perpulangan tinggal di rumah paman Rofiq," ujar Alfa. "Nggak!" ujar Shahih tegas, namun ia tetap mempertahankan ekspresi datarnya.
__ADS_1
Melihatnya menentang perintah Alfa, anak-anak lainnya hanya bisa menelan ludah. Alfa pun langsung menghampiri Shahih lebih dekat sedangkan anak-anak lainnya berpura-pura beraktivitas seperti biasa, mereka tidak ingin menyaksikan tindakan Alfa selanjutnya.
"Kenapa nggak?" tanya Alfa, ia tidak mengerti. "Nggak mau," ujar Shahih singkat. "Kamu harus pindah ke sana! Jangan tinggal di panti asuhan!" ujar Alfa.
"Besok aku pindah sekolah," ujar Shahih. Alfa menghela nafas kesal. "Baiklah, kamu boleh tinggal di mana pun yang kamu mau, tapi jangan pindah dari sini! Jangan menghilang lagi," ujar Alfa sambil mengguncang bahu Shahih, ia pun pergi meninggalkannya.
"Hei, Shahih! Sepertinya hanya kamu yang berani bicara seperti itu dengan ustadz Alfa, bahkan Shadiq dan Hasan pun nggak berani loh! Bahkan kakakmu, kak Syihab juga nggak berani," ujar Ario terkesan.
"Tapi kalau dilihat dari jauh Shahih sangat mirip dengan ustadz Alfa," ujar Fashalay. "Aneh sekali loh! Kenapa mukamu beda dengan Shadiq dan Hasan? Padahal mereka berdua benar-benar sama persis..... yeah, sekarang sudah nggak terlalu sih! Tapi mereka masih sama! Bentuk alis mereka, rambut mereka bahkan warna mata mereka, masih sama," ujar Ario.
Shadiq dan Hasan punya mata yang sama dengan kak Syihab, matanya benar-benar gagah berwarna coklat," ujar Fashalay.
"Karena mereka mirip dengan ayah mereka, tentu saja begitu," ujar Shahih. "Lah? Terus kamu mirip siapa? Ustadz Alfa? Dia bukan ayahmu loh!" Ario makin keheranan.
"Shahih mirip ibu kami, kulitnya putih, matanya juga berwarna hitam sempurna, selain itu bentuk matanya sipit, sama kayak ibu kami juga," ujar Shadiq.
"Benar-benar mirip! Kupikir itu memang Shahih! Kau ikut lomba beberapa bulan yang lalu kan?" tanya Hasan.
"Nggak? Lomba di mana? Aku nggak pernah ikut perlombaan beladiri," ujar Shahih. "Benarkah? Lalu kamu pindahan dari mana?" tanya Shadiq.
"Aku dari pesantren Al Irsyad," jawab Shahih. "Oh, pantes! Berarti memang beda orang!" ujar Shadiq. Shahih tiba-tiba terdiam lama ia sempat mengerutkan dahi.
"Loh? Kenapa Shahih?" tanya Hasan. "Bukan apa-apa, siapa nama anak yang kau lawan di final itu?" tanya Shahih. "Namanya? Hmm! Siapa yah? Aku lupa!" ujar Hasan. "Pokoknya depannya huruf A," ujar Shadiq.
"Oh iya! Arsyad!" seru Hasan. "Hei! Bukan! Namanya Asyraf!" ujar Shadiq. "Wah! Benar sekali! Namanya Asyraf!" seru Hasan. Alis Shahih tiba-tiba naik, ia tampak tertarik dengan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Seperti apa anak itu?" tanya Shahih. "Sama persis sepertimu! Shadiq bahkan sampai memanggilnya Shahih," ujar Hasan.
"Hei! Yang memanggilnya Shahih itu kamu! Bukan aku!" ujar Shadiq, mereka langsung adu mulut. "Oh? Begitu kah? Jadi ada anak yang mirip denganku juga?" Shahih sempat tersenyum lalu pergi ke luar kamar.
"Oh, ya! Dia dari pesantren mana?" tanya Shahih sekali lagi sebelum benar-benar keluar dari kamar. "Pesantren apa yah? Al-Ghazali kayaknya," ujar Shadiq. "Al-Ghazali jidatmu! Itu nama ayah! Yang benar pesantren Al-Ghifari," ujar Hasan.
"Wah, kalian berdua ini benar-benar serasi sekali, saling melengkapi! Yang satu salah, yang lain membetulkannya," ujar Ario sambil tepuk tangan.
"Ciye! Ciye! Serasi nih ya!" goda Fashalay. "Serasi jidatmu! Kau pikir jodoh apa?" tanya Hasan kesal. Ia langsung menjaga jarak dari Shadiq.
"Aduh! Shahih malah menghilang lagi! Baru saja mau tak suruh bantuin beresin lemari!" ujar Ario kesal. "Loh? Niatmu sudah berubah? Kemarin bilangnya mau minta ajarin rapiin lemari, kok sekarang malah minta bantuin beresin?" tanya Fashalay keheranan.
"Pantas saja dia langsung menghilang! Kau pikir dia budak yang mau disuruh-suruh?" tanya Hasan.
Tak lama kemudian Shahih pun datang kembali. "Shahih! Ario dan Fashalay membicarakanmu tadi," ujar Hasan. "Mulut Hasan ember banget! Padahal dia juga ngomongin Shahih," ujar Fashalay kesal.
"Shadiq, Hasan! Ikut aku!" ujar Shahih. "Mau ngapain?" tanya Shadiq penasaran. "Sudahlah! Ikut saja!" ujar Shahih.
Akhirnya mereka pun menurutinya, Shahih membawa mereka ke kantor bagian keamanan. "Eh buset! Kamu minta izin keluar pesantren?" tanya Hasan. "Ada keperluan, jadi sekalian kuajak kalian," ujar Shahih.
"Wah! Kau baik banget, Shahih!" seru Hasan sambil memeluk Shahih erat-erat. "Tunggu dulu yak! Aku mau mandi sebentar! Mau siap-siap dulu," ujar Hasan kemudian berlari ke kamarnya.
"Kamu nggak siap-siap juga?" tanya Shahih pada Shadiq. "Ka... kamu sudah mandi?" Shadiq balik bertanya. "Sudahlah," ujar Shahih. Akhirnya Shadiq juga ikut kembali ke kamar untuk bersiap-siap.
Setelah mereka berdua tampak bersih dan rapi, Shahih pun mengajak mereka pergi keluar gerbang. "Kita mau ke mana, Shahih?" tanya Hasan.
__ADS_1
"Pesantren Al-Ghifari," jawab Shahih singkat. "Mau ngapain ke sana?" tanya Shadiq. "Kalian nggak perlu tahu," ujar Shahih sambil tersenyum.
"Hmm! Mencurigakan sekali! Jangan-jangan kau benar-benar anak pindahan dari pesantren itu? Kau yang melawanku di final sparring kemarin kan?" tanya Hasan. Shahih tetap diam sambil memberhentikan bus. Akhirnya Shadiq dan Hasan terpaksa mengikutinya.