
"Udah beberapa hari di sini, kenapa kamu masih diam saja? Nggak betah?" tanya Ario. Ia keheranan karena Asyraf terus berdiam di bangkunya tanpa banyak bicara, ia bahkan belum pernah berbicara sekali pun dengan Shahih.
"Apakah aku kelihatan kayak orang nggak betah?" tanya Asyraf. "Eh, nggak juga sih. Tapi sekali-kali ngomong dong! Jangan diam terus!" ujar Ario.
Bel istirahat pun berbunyi, Asyraf langsung beranjak dari kursinya untuk pergi ke masjid.
Saat berjalan di lorong, tiba-tiba Syihab muncul dan mulai menghampirinya. "Hei, Shahih! Gimana kabarmu? Sehat? Kenapa kamu pakai pakaian kayak begitu? Seragam sekolahmu belum dicuci?" tanya Syihab.
"Kakak siapa?" tanya Asyraf dengan ekspresi datarnya. Syihab pun terdiam kebingungan, ia sangat yakin kalau anak yang ada di hadapannya adalah Shahih, namun melihat anak itu menatapnya dengan tatapan asing, membuatnya tak berkutik.
Karena sudah tidak berbicara lagi, akhirnya Asyraf meninggalkan Syihab, ia tidak bisa menghabiskan waktu istirahatnya untuk menunggu Syihab berbicara.
"Apa-apaan anak itu? Dingin sekali! Lagian ada apa dengan cukuran rambutnya itu? Kalau kena razia bisa gawat loh," ujar Ifan.
"Ario, kau juga berpikir kalau itu adikku kan?" tanya Syihab memastikan. "Dia memang adikmu, apa lagi yang kau ragukan?" tanya Faisal keheranan.
"Bu... bukan apa-apa, aku hanya berpikir baru saja menyapa orang asing. Entah kenapa aku merasa nggak kenal dengan anak itu," ujar Syihab.
"Hei, apa yang kau bicarakan? Jangan-jangan kau marah hanya karena adikmu mengabaikanmu? Lemah sekali kau ini," ujar Ifan.
"Siapa yang mengabaikan siapa?" tanya Shahih yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Ifan dan Faisal langsung terkejut melihatnya.
"Kenapa kalian kaget begitu? Memangnya dia hantu?" tanya Syihab keheranan. "Jelas kaget lah! Siapa yang nggak kaget setelah membicarakan seseorang, sedangkan orang itu tiba-tiba berada di antara mereka," sindir Shahih.
"Yeah, kami akui kalau itu perbuatan salah! Tapi apakah kamu juga boleh berbuat begitu? Kakakmu menyapamu loh! Kenapa kamu mengabaikannya?" tanya Faisal.
"Aku? Mengabaikan kak Syihab? Kapan?" tanya Shahih keheranan. "Tadi kami lihat kamu lewat begitu saja ke arah masjid padahal Syihab sedang menyapamu," ujar Faisal.
"Omong kosong apa ini? Aku baru keluar dari kelas beberapa detik yang lalu, lalu arah datangku bukan dari masjid, tapi dari kelas loh!" ujar Shahih.
"Loh? Loh! Lalu siapa yang kakak sapa tadi?" tanya Syihab keheranan. Shahih tidak ingin membahas hal itu lebih lanjut, ia langsung menengadahkan tangannya.
"Mau apa?" tanya Syihab. "Apa lagi? Uang lah!" ujar Shahih. "Lah, kamu nggak ada uang?" tanya Syihab.
"Uang dari mana? Emangnya aku dapat uang saku dari paman Rofiq seperti kalian?" tanya Shahih.
"Oh, iya! Benar sekali! Berarti selama ini kamu nggak pegang uang saku? Duh, kasihan sekali!" ujar Syihab, tanpa pikir panjang ia langsung memberikan beberapa lembar uang kepada Shahih.
Setelah menerima uang itu, Shahih pun hendak pergi. "Hei, jangan pergi tanpa berterima kasih dong! Dia kakakmu loh!" ujar Faisal.
__ADS_1
"Kalau begitu, biar kutanya ke kalian.... Apakah kalian mengucapkan terima kasih pada orang tua kalian saat mereka memberikan kalian uang saku? Apakah kalian berterima kasih setiap kali mereka menghidangkan makanan pada kalian? Aku ragu kalian akan melakukan hal itu. Bayangkan saja berapa kali kalian diberi makan oleh orang tua kalian, tapi kalian nggak pernah mengucapkan terima kasih sekalipun. Kak Syihab baru memberiku uang sekali dua kali saja, aku yakin dia masih menyimpan lebih banyak uang dari pada yang ia berikan padaku," ujar Shahih dengan ekspresi datarnya.
Ifan dan Faisal tidak bisa mengelak perkataannya, mereka benar-benar dibuat bisu.
"Kalau bicara seenggaknya mikir dulu kek, di luar negeri cuma gara-gara perkataan, seseorang bisa mati dengan tubuh berceceran di mana-mana," ujar Shahih, ia langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Siapa suruh menegur adikku seperti itu? Bahkan aku sendiri aja nggak berani kok," ujar Syihab.
"Hei, Syihab! Adikmu itu psikopat kah? Perkataannya benar-benar membuatku merinding!" ujar Faisal.
"Hei, nggak mungkinlah!" ujar Syihab menyangkal. "Daripada meributkan hal itu, lebih baik kita pergi ke kantin! Jam istirahat hampir usai," ujar Ifan. Akhirnya merek bertiga pun pergi ke kantin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kegiatan Belajar Mengajar telah selesai, Asyraf mulai melipat baju-bajunya yang baru saja ia cuci tadi pagi.
"Asa, bukankah kamu ini terlalu rajin? Baru beberapa hari tinggal di sini tapi kok udah nyuci baju segala," ujar Ario.
"Lalu? Aku nggak boleh nyuci baju? Sampai kapan? Setahun?" tanya Asyraf. "Dih, bukan begitu maksudku. Biasanya anak pindahan belum berani banyak beraktivitas di sini, biasanya mereka memilih laundry daripada mencuci sendiri," ujar Fashalay.
"Biasanya? Emangnya kelas kalian ini sering menerima anak pindahan?" tanya Asyraf. "Nggak juga sih, sejauh ini hanya kamu dan Shahih yang pindah ke sini di angkatan kita," jawab Ario.
"Kalian ini masih kecil sudah melakukan diskriminasi saja, aku nggak boleh melakukan apapun sedangkan Shahih bebas melakukannya?" tanya Asyraf. Ario dan Fashalay pun terdiam.
"Diskriminasi apaan? Seharusnya kau memerhatikan siapa lawan bicaramu! Mereka masih SMP, baru tahun pertama. Kau pasti nggak pernah punya teman di sekolah sebelumnya," ujar Shahih, tiba-tiba saja ia membantu Asyraf merapikan lemari.
"Wah! Shahih membantu melipat baju Asa!" seru Ario, hal itu menimbulkan kehebohan di kamar.
"Loh? Apa salahnya? Kukira kalian saling bantu membantu di sini," ujar Asyraf keheranan.
"Asal kamu tahu saja! Shahih tuh cuma mau melipat baju milik Hasan dan Shadiq saja. Ia hanya melakukan hal itu untuk saudaranya! Aku nggak nyangka kamu juga dibantu olehnya," ujar Fashalay.
"Loh, berarti wajar dong. Aku juga saudara Shahih," ujar Asyraf. Ario langsung ketawa. "Hmm! Iya! Betul! Kamu memang saudaranya! Aku juga saudaranya! Saudara seiman," ujar Ario.
"Nggak kok, Asa memang saudara kembarku," ujar Shahih. Anak-anak sekamar terdiam.
"Eh? Heh! Yang benar saja! Kenapa baru bilang? Pantas saja muka kalian berdua sama!" ujar Fashalay.
"Loh? Bukankah sangat kentara? Orang manapun yang melihat kami jelas tahu kalau kami saudara kembar," ujar Asyraf.
__ADS_1
Ario dan Fashalay langsung menepuk jidat. "Argh! Bukan main si Shahih sama Asa ini! Kalian berdua mengerjai kami?" tanya Ario.
"Benar juga yah! Mereka jelas-jelas sangat identik! Tapi kenapa kita menganggapnya bukan saudara?" Fashalay keheranan.
"Mereka berdua nggak pernah bicara satu sama lain sejauh ini! Bahkan nggak pernah mengenalkan diri dengan baik! Kalau saja aku nggak ngungkit-ngungkit masalah bantu lipat baju, mungkin mereka berdua bakal tetap bungkam!" ujar Ario.
"Hei, Shahih! Apa yang sebenarnya kalian bicarakan? Apa maksudmu kalau Asa adalah saudara kita? Saudara kandung? Yang benar saja! Dari lahir hanya ada kita bertiga!" ujar Hasan menyangkal.
"Nggak bertiga, kupikir dari lahir cuma ada kalian berdua. Memangnya kalian pernah menganggapku saudara kalian sebelumnya? Kalian pernah mengajakku bicara dengan kalian? Bahkan saat aku pindah ke sini pun anak-anak di sini nggak ada yang tahu kalau kalian punya satu saudara lagi. Mau ada tiga atau empat anak kembar hanyalah omong kosong. Kalian nggak anggap aku keluarga kalian juga aku nggak keberatan. Toh kalian baik-baik saja selama ini tanpaku," ujar Shahih dengan wajah dinginnya. Meskipun tanpa ekspresi, perkataannya terdengar sangat emosional.
Asyraf memahami perasaan Shahih, ia tidak menyangka anak itu mengalami hal pahit yang sama dengannya. Ia bisa merasakan betapa kesepiannya anak itu. Ia pun mengerti alasan Shahih banyak beraktivitas, ia hendak menghilangkan rasa kesepiannya.
Suasana kamar pun menjadi hening seketika karena perkataan Shahih terdengar sangat serius. Meskipun dengan nada datar, anak-anak yang lain tahu kalau saat ini Shahih sedang marah.
"Assalamualaikum! Ada apa ini? Kenapa kamarnya sepi sekali?" tanya Syihab sambil mengetuk pintu kamar, ia pun masuk ke dalam untuk memeriksa.
Saat itulah Shahih dan Asyraf menoleh serentak. Syihab pun langsung berteriak karena terkejut, ia hendak melangkah mundur, namun tersandung sapu hingga jatuh ke lantai. Sapu itu langsung patah karena tertimpa lengannya.
"Sha..... Shahih? Kenapa ada dua? Si.. siapa yang Shahih? Shahih yang mana?" tanya Syihab ketakutan.
"Oh, kamu pria yang tadi menyapaku di luar kelas yah?" tanya Asyraf. "Pria? Dia ini masih remaja. Menyebutnya pria, emang dia setua apa?" tanya Shahih keheranan, ia langsung menghampiri Syihab dan memberdirikannya.
Asyraf langsung memeriksa sapu yang patah itu lalu menengadahkan tangan di hadapan Syihab, perbuatannya tampak sama persis seperti Shahih.
"A... apa?" Syihab kebingungan. "Apa lagi? Uang lah! Kau baru saja menghancurkan inventaris kelas! Hari ini aku yang bertanggungjawab semua barang milik bersama di kamar ini! Kalau kau merusak, kau harus ganti rugi! Kau pikir karena anak SMA, kami nggak berani?" tanya Asyraf tegas.
"Duh, kakak habis kaget kebingungan begini malah dipalak bocah," keluh Syihab. Nada bicaranya membuat anak-anak sekelas tertawa.
"Jadi, ngapain kakak ke sini?" tanya Shahih. Syihab hendak mengajukan banyak pertanyaan mengenai anak yang berwajah sama dengan Shahih itu, namun karena Shahih mendesaknya dengan pertanyaan, ia mengurungkan niatnya.
"Ehm, hari ini kakak mau ke asrama putri. Kalian mau ikut?" tanya Syihab. "Nggak!" ujar Hasan dengan suara keras. "Ngomongnya biasa aja, suara nyaringmu merusak telinga," ujar Shahih.
"Loh? Kenapa nggak mau? Kemarin Shadiq yang nggak mau, kenapa sekarang malah Hasan?" tanya Syihab keheranan.
"Aku benci kak Zahra!" ujar Hasan kesal. "Loh? Kenapa? Masih ingat kejadian kemarin kah? Sudahlah! Maafin saja! Kak Zahra juga pasti merasa bersalah!" ujar Syihab.
"Cih, perempuan memang selalu benar! Kenapa kakak malah belain kak Zahra? Emangnya kak Zahra bakal ngerasa bersalah? Kayaknya perempuan nggak gitu loh!" ujar Hasan kesal.
"Hei, jangan gitu dong, Hasan! Ntar nggak ada perempuan yang naksir sama kamu loh!" bisik Syihab sambil merangkul Hasan.
__ADS_1
"Pria ini terasa nggak benar perkataannya," ujar Asyraf. "Pria ini... Pria ini.... namaku Syihab, bukan pria ini," ujar Syihab, ia masih penasaran dengan anak yang sama persis dengan Shahih itu.