Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Para gadis yang mengerikan


__ADS_3

Shadiq baru saja selesai berbelanja, ia merasa tidak nyaman karena banyak para penjual yang menyapanya hari ini.


Ia pun mencoba memastikan tidak ada yang mencolok dari penampilannya lewat cermin yang terpajang di sebuah toko.


Ia pun terkejut saat melihat jenggot dan kumisnya yang mulai tumbuh, ia lupa untuk mencukurnya. Pagi itu ia benar-benar malu, dan pulang dengan menundukkan wajahnya.


"Oh, hai Shadiq! Kebetulan sekali!" seru Zahra sambil melambaikan tangan, ia pun menghampiri Shadiq. Ia tampak sejajar dengannya, membuat Shafiq tidak perlu mengangkat wajah. "Apa-apaan?" Zahra keheranan dengan sikap Shadiq.


"Bukan apa-apa, dulu kakak sangat tinggi, bahkan berani menjadikanku samsak untuk beladiri, sepertinya sekarang nggak bisa lagi," ujar Shadiq.


"Kata siapa nggak bisa? Sekarang pun masih bisa kok!" ujar Zahra, ia hendak membanting Shadiq ke tanah.


"Ja.. jangan! Ada banyak barang yang aku bawa!" ujar Shadiq panik. Tak lama kemudian beberapa gadis pun datang menghampiri mereka berdua, mereka tampak sebaya dengan Zahra.


"Wah! Siapa ini Zahra? Pacarmu?" tanya Intan. "Iya dong!" seru Zahra kemudian menggandeng lengan Shadiq, ia juga menyandarkan kepalanya ke lengan itu seperti yang kemarin ia lakukan pada ayahnya. Ia tidak menyangka hal itu lebih nyaman karena tinggi Shadiq masih sejajar dengannya, tidak seperti Ghozali yang lebih tinggi dan besar.


"Heh? Heh! Kakak bilang apa sih?" Wajah Shadiq langsung memerah, ia sangat malu berhadapan dengan para gadis itu.


"Wah! Manis sekali! Tapi kelihatan tua deh! Sebaiknya itu kumis dan jenggotnya dicukur!" ujar Naila.


"Benar sekali! Harusnya kamu cukur ini! Sangat mengganggu!" ujar Zahra sambil meraba jenggot Shadiq, saat itu juga ia terkejut.


"Auch! Tajam sekali, bikin kaget!" ujar Zahra, ia tidak berani meraba-rabanya lagi. "Hmm! Tuh kan! Lebih baik dicukur aja deh!" ujar Intan.


"Ma... maaf, aku bukan pacar kak Zahra! Aku adiknya!" ujar Shadiq. "Lah, kenapa malah kasih tahu sih? Kan nggak asyik!" keluh Zahra. "Ma... maaf," Shadiq hanya bisa menyalahkan diri sendiri, ia tidak berani macam-macam saat berhadapan dengan para gadis.


"Heh! Jadi ini adikmu? Nggak salah nih? Kayaknya dia lebih tua loh!" ujar Naila ragu, i terus mengamati Shadiq, membuatnya ketakutan.


Para gadis itu selalu bergerak seenak jidat, membuat Shadiq terdiam, ia berusaha agar mereka tidak menyentuhnya.


"Nah, kebetulan adikku habis belanja! Ayok ke rumahku sekarang!" seru Zahra. "Eh? Ke.... ke rumah? Kakak ngajak mereka ke rumah sekarang?" Shadiq benar-benar terkejut, seolah ia tidak bisa kabur dari mereka.


"Baiklah! Ayo kita ke rumah Zahra!" seru Naila. "Adik manis, bisa tolong antarkan kami?" tanya Intan sambil menggoda Shadiq.

__ADS_1


Shadiq hanya bisa menahan rasa malunya, saat ini wajahnya terlihat sangat merah. Ia pun berusaha jalan di depan membelakangi para gadis itu agar mereka tidak melihat wajahnya.


"Hei, kenapa laki-laki berjalan di depan kami? Apakah kita sedang Sholat? Seharusnya kamu jalan di belakang untuk jaga-jaga barang kali ada orang jahat!" ujar Naila.


"Ng... nggak, biar kak Zahra aja yang jaga," ujar Shadiq, ia enggan berbalik badan. Ia juga mempercepat langkahnya agar cepat sampai di rumah.


"Hei Shadiq! Pelan-pelan dong jalannya!" ujar Zahra. "Kaki adikmu panjang sekali, jarang langkah kakinya sangat jauh," ujar Naila.


Semakin mereka membicarakan fisiknya, Shafiq semakin merasa malu, akhirnya ia pun berlari meninggalkan mereka.


"Yah, kabur deh!" ujar Zahra. "Adikmu lucu sekali!" ujar Naila, mereka bertiga pun tertawa.


Shadiq yang baru sampai di rumah pun segera meletakkan belanjaannya di dapur, setelah itu ia masuk ke dalam kamar dengan jantung yang berdebar kencang.


"Dasar para gadis itu! Mereka benar-benar nggak paham harga diri seorang pria!" ujar Shadiq sambil berusaha menenangkan diri.


"Kamu ini bicara apa? Harga diri apaan?" Hasan keheranan saat mendapati Shadiq dengan nafas terputus-putus.


"Bu.. bukan apa-apa kok," ujar Shadiq.


"Apaan sih? Aku mau keluar!" ujar Hasan. "Sebaiknya jangan atau kamu bakal nyesel nanti!" ujar Shadiq memperingatkan.


"Nyesel kenapa? Ini nggak lagi milih antara emas dan perak, aku cuma mau ketemu kak Zahra," ujar Hasan singkat, ia langsung membuka pintu lalu keluar. Shadiq pun segera menutup pintu kamarnya kembali.


"Mampus kamu, Hasan! Sudah kubilang jangan keluar, tapi malah keluar!" ujar Shadiq. Ia pun membaringkan diri di kasur dengan perasaan lega.


Ia penasaran karena Hasan tak kunjung kembali ke kamar. "Kenapa dia nggak masuk lagi? Dia nggak takut sama gadis-gadis itu?" tanya Shadiq keheranan. Ia memutuskan untuk menunggu lebih lama, namun tetap tidak ada kemajuan.


Akhirnya ia keluar dari kamar dan mendapati para gadis itu sedang asyik berbincang-bincang dengan Hasan. Mereka tampak sangat akrab, sedangkan Hasan bisa menyesuaikan diri dengan mereka.


Sayangnya suara pintu terbuka membuat perhatian para gadis itu teralihkan, mereka melihat kepala Shadiq yang baru saja mengintip mereka dari daun pintu kamar.


"Itu anak yang tadi!" seru Naila. "Oh? Si jenggot tajam itu? Mana?" Intan tampak penasaran, ia sangat gemas melihat tingkah Shadiq yang malu-malu.

__ADS_1


"Shadiq, kenapa kamu diam saja di situ? Nggak sopan loh! Sapa mereka!" tegur Hasan. "Ma... maaf!" Akhirnya Shadiq terpaksa keluar kamar.


"Zahra, kamu ada pencukur kumis?" tanya Naila. "Bentar, Shadiq kayaknya punya, biar kuambilkan," ujar Hasan. Shadiq belum sempat melarang anak itu, Hasan pun langsung balik ke kamar dan mengambil alat cukur Shadiq.


"Aku nggak paham kenapa anak SMP punya benda beginian di kamar," ujar Hasan. Intan langsung merebut alat cukur itu.


"Zahra, sekarang!" seru Naila. Akhirnya Zahra pun berlari ke arah Shadiq lalu mengunci kedua lengannya. Naila pun menahan kedua kaki Shadiq agar tidak melawan.


"A... apa yang ingin kalian lakukan?" Shadiq ketakutan. "Wah! Wah! Menggemaskan sekali! Sayangnya jenggot dan kumis itu mengganggu!" ujar Intan lalu menghampiri Shadiq dan menahan wajahnya.


Nafas Shadiq tampak terputus-putus, wajahnya langsung memerah. Ini adalah pertama kalinya ia sedekat itu dengan seorang gadis yang bukan keluarganya. Ia tidak bisa melawan.


"Ma... mau apa kak?" tanya Shadiq ketakutan. "Mencukur jenggot dan kumismu, harusnya kamu berterima kasih, ini gratis loh," ujar Intan.


"Nggak... nggak usah! Ini masih pendek!" ujar Shadiq. "Kamu lihat tadi kan, Zahra bilang jenggotmu sangat tajam, lebih baik dicukur saja," desak Naila.


"Ehm, aku mau kembali ke kamar," ujar Hasan, ia merasa bersalah karena memberikan alat cukur itu pada Intan.


"Nggak! Nggak mau!" teriak Shadiq. "Suaramu besar sekali untuk seumuran anak SMP! Diam deh, nanti tetangga bisa marah!" ujar Naila.


"Nggak ada tetangga di sini!" ujar Shadiq. Ia ingin melepaskan diri, namun tangannya tidak bisa bergerak.


Pada akhirnya Intan mencukur kumis dan jenggotnya hingga habis tak tersisa. Mereka langsung bubar setelah Shadiq menangis.


Zahra pun berusaha menenangkannya. "Hayo Zahra, dia nangis loh," ujar Naila, ia dan Intan ingin menahan tawa, namun tidak bisa.


Tak lama kemudian Shahih dan Asyraf datang. "Kenapa ramai sekali di sini?" Asyraf keheranan.


"Buset! Anak kembarnya masih ada lagi?" Naila terkejut melihat Shahih dan Asyraf. "Heh, mereka sangat mirip dengan Zahra!" ujar Intan. "Eh, kamu tahu Ustadz Alfa kan? Benar sekali! Mereka berdua sangat mirip dengannya!" seru Naila.


"Kenapa Si Jagur menangis? Apa yang kakak lakukan?" tanya Shahih keheranan. "Oh, ini... ini bukan apa-apa! Jangan bilang ayah loh! Awas saja!" ancam Zahra.


"Yeah, sebenarnya aku nggak terlalu peduli," ujar Shahih kemudian pergi ke kamarnya, Asyraf pun mengikutinya.

__ADS_1


"Dua adikmu itu jutek banget, benar-benar dingin!" ujar Intan. "Oh, ya! Kamu bilang tentang ayahmu tadi kan? Bukannya dia sudah meninggal?" tanya Naila keheranan.


"Oh, itu? Itu... ceritanya panjang! Kapan-kapan aku cerita deh, di asrama," ujar Zahra. Setelah bermain seharian, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


__ADS_2