
Shadiq mencoba membuka matanya, ia merasa ada sesuatu yang menimpa tubuhnya dan itu sangat berat. Saat ia tersadar, ia mendapati wajah ayahnya yang terlalu dekat.
Ia pun terkejut dan terperanjat dari posisi tidurnya, namun karena ayahnya sedang duduk di atas kakinya, ia tidak bisa bangun, pada akhirnya dahinya membentur hidung ayahnya.
Ghozali langsung menyingkir dari kaki Shadiq, ia merintih kesakitan. "Apa yang ayah lakukan? Kenapa ayah ada di kamar kami?" Shadiq benar-benar malu, ia hendak menutupi wajahnya.
"Ayah nggak ngapa-ngapain kok! Nggak nyangka aja, ternyata kamu semakin mirip dengan ayah. Kapan pertama kali mimpi hal itu?" tanya Ghozali, ia tahu kalau saat ini celana Shadiq basah.
Setelah sadar kalau celananya basah, wajah Shadiq memerah, ia langsung berlari keluar menuju kamar mandi.
Ghozali hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah anaknya itu. Ia pun mencoba menatap Hasan yang masih tidur terlelap. Wajah Hasan tampak semakin berbeda dari Shadiq, matanya menjadi lebih sipit seperti mata Aisyah.
Pipi besar anak itu cukup menggemaskan, membuat Ghozali ingin mencubitnya, ia tidak menyangka ada anak sepertinya di keluarganya, padahal ia pikir hanya Zahra satu-satunya anak yang menggemaskan.
Tanpa sadar, tangannya langsung mencubit pipi Hasan. Anak itu pun langsung bangun dengan tatapan tajamnya. Tidak seperti Shadiq yang bangun secara perlahan, anak itu mendadak membuka mata, membuat Ghozali terkejut dan terguling dari kasur hingga jatuh ke lantai.
"Ayah sedang apa di situ?" tanya Hasan keheranan. "Bu.... bukan apa-apa kok," ujar Ghozali, ia tidak berani berkata macam-macam karena tatapan tajam Hasan sangat mirip dengan Aisyah ketika marah.
"Oh! Ya ampun! Hidung ayah berdarah!" ujar Hasan terkejut. "Oh? Benarkah?" Ghozali mencoba menyeka lubang hidungnya. "I... ini bukan apa-apa kok, nggak usah khawatir! Tadi ayah membentur benda mirip besi yang sangat keras.
"Bukan itu! Ayah bikin selimutku kotor!" ujar Hasan kesal, ia mencoba memeriksa noda darah yang ada di selimutnya, namun ternyata lebih banyak dari yang ia kira. Darah itu juga menetes di kasur.
"Aish! Jadi kotor begini! Aku harus tidur di mana?" keluh Hasan. "Ka... kamu nggak khawatir dengan ayah?" tanya Ghozali. "Lah, itu kan salah ayah! Ngapain hidung dibentur-benturkan? Kamarku sudah sangat kotor gara-gara Shadiq, ayah malah bikin tambah kotor! Dah gitu bau kalian sama lagi! Mandi sana!" ujar Hasan kesal.
Ghozali tidak mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung keluar kamar dengan terpuruk. "Apakah baunya semenyengat itu sampai dia menyuruhku mandi?" tanya Ghozali keheranan, ia mencoba mencium bau badannya, namun ia pikir itu tidak terlalu bau.
Kali ini ia mencoba pergi ke kamar Shahih dan Asyraf, ia belum terlalu mengenal Asyraf dan berharap bisa akrab dengannya.
Ia membuka pintu kamar untuk membangunkan kedua anak itu. Sayangnya saat ia masuk ke dalam, dua anak itu sedang berada di tempat belajar masing-masing.
Shahih tampak tidak peduli, meskipun terdengar suara pintu berderit, bahkan ia tidak mencoba melihat siapa yang datang, ia terlalu fokus dengan buku dan bolpoinnya.
__ADS_1
Di sisi lain Asyraf langsung menoleh untuk melihat apa yang sedang dilakukan Ghozali. "Kalian nggak tidur semalaman?" tanya Ghozali, ia keheranan karena dua anak itu beraktivitas di pagi petang.
"Kami tidur kok, tapi bangun lebih awal," jawab Asyraf. Shahih masih tidak peduli. Akhirnya Ghozali mencoba mendekati mereka karena penasaran.
"Hmm! Kalian sedang belajar?" tanya Ghozali sambil memijat bahu Asyraf. Ia tidak berani menyentuh Shahih karena anak itu sedang sibuk menulis.
"Kamu serius sekali! Ada PR Kah?" tanya Ghozali pada Shahih. "Bukan apa-apa, ini cuma latihan," ujar Shahih. Ghozali tidak menyangka anak itu menulis dengan tangan kiri.
"Loh? Kamu kidal? Kok ayah baru tahu! Ayah kira cuma Hasan yang kidal," ujar Ghozali terkejut. "Itu bukan kidal, dia ambidextrous," ujar Asyraf.
"Benarkah? Ayah malah nggak tahu," ujar Ghozali, ia merasa sedikit bersalah karena tidak mengenal anaknya sendiri.
"Memang nggak banyak yang tahu, toh aku berjabat tangan, makan, dan minum dengan tangan kanan. Ini masalah adab saja," ujar Shahih.
"Lalu kenapa kamu menulis dengan tangan kiri?" tanya Ghozali. "Itu pertanyaan yang diskriminatif! Lalu ayah mau bilang kalau anak kidal kayak Hasan itu nggak beradab?" Shahih balik bertanya.
Ghozali sudah tidak tahan berada di kamar itu, serasa mulutnya tersumbat kritikan mereka berdua yang bertubi-tubi.
Shahih pun berhenti menulis, ia langsung beranjak dari kursinya. "Kenapa ayah merasa begitu?" tanya Shahih. "Ehm.... maaf," ujar Ghozali kemudian keluar kamar, ia tidak bisa menghadapi dua anak itu.
Setelah menutup pintu, ia menyandarkan punggungnya pada pintu itu sambil tertegun. "Aisyah, aku harus gimana?" Ghozali tidak tahan menghadapi anak-anaknya yang selalu bersikap dingin itu, ia merasa sakit hati setelah keluar dari kamar, meskipun sebenarnya ia keluar dengan keinginannya sendiri, bukan karena anak-anak itu mengusirnya.
Pada akhirnya ia terduduk lalu menangis merindukan Aisyah. Ia pikir hanya Aisyah yang bisa menghadapi mereka.
Karena menangis di sembarang tempat, Shahih membuka pintu kamar, ia sempat heran melihat Ghozali terisak di depan pintu.
"Ayah, apa aku anak durhaka?" tanya Shahih tiba-tiba. "Du... durhaka? Apa maksudmu? Memangnya kamu melakukan apa?" tanya Ghozali sambil menyeka air mata, ia tidak ingin terlihat baru saja menangis.
"Lalu, kenapa ayah menangis? Apakah aku aneh? Ayah kasihan padaku? Atau ayah takut padaku?" tanya Shahih penasaran. Ekspresi datarnya membuat Ghozali tidak berani menatapnya. Sikapnya itu sudah memberikan jawaban yang jelas untuk pertanyaan Shahih.
"Nggak kok! Kenapa ayah takut sama anak ayah sendiri? Ayah cuma kangen sama Syihab, sudah bertahun-tahun ayah nggak lihat anak itu," ujar Ghozali.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu," ujar Shahih, Ghozali bisa menyadari kalau Shahih baru saja merasa lega, akhirnya ia paham ekspresi samar-samar yang terlihat dari wajah anaknya itu.
Shahih pun langsung mengambil gagang telepon rumah, ia menghubungi nomor seseorang.
"Assalamualaikum," ujarnya. "Waalaikum salam, ada apa ini, Shahih? Atau Asyraf?" suara Syihab terdengar samar-samar, ia masih setengah tertidur.
"Kakak, pulanglah besok," ujar Shahih singkat. "Eh? Loh? Kenapa?" tanya Syihab kebingungan. "Ayah masih hidup," ujar Shahih. "Kamu ngomong apa sih? Pagi-pagi sudah bikin kesal aja!" ujar Syihab.
Akhirnya Shahih memberikan gagang telepon itu pada Ghozali. "Halo, nak! Kamu masih di sana?" tanya Ghozali. "Ayah? Ini suara ayah kan? Kenapa tiba-tiba ada suara ayah?" tanya Syihab kebingungan.
"Benar nak, ini ayah," ujar Ghozali. "Ayah? Ayah masih hidup?" tanya Syihab. "Tentu saja, nak! Ayah masih..... " belum selesai bicara tiba-tiba listrik padam.
"Halo? Halo! Syihab! Syihab!" Ghozali tampak panik dan emosional. "Listriknya mati, yah!" ujar Shahih. "Kenapa di saat-saat seperti ini?" Ghozali tampak kecewa.
"Ntar kak Syihab juga pulang kok," ujar Shahih. "Be... benarkah?" tanya Ghozali. "Tentu saja, paman. Kak Syihab pasti menuruti perkataan Shahih," ujar Asyraf.
"Pasti menuruti Shahih? Sebenarnya apa saja yang terjadi selama ayah pergi? Ayah kira kalian nggak begitu akrab," ujar Ghozali keheranan. Asyraf hendak menjawab pertanyaannya, namun Shahih mencegatnya.
"Lalu, Asa! Aku ini ayahmu! Jangan panggil aku paman," ujar Ghozali. "Selama ini satu-satunya orang yang kupanggil ayah hanyalah ayahku yang ada di pesantren," ujar Asyraf, ia tampak ingin bertemu dengan pria yang mengasuhnya selama ini.
"Be.. benarkah begitu? Kamu punya ayah di sana? Sepertinya aku harus bertemu dengannya dan mengucapkan banyak terima kasih!" seru Ghozali.
"Nggak perlu," ujar Asyraf. "Loh? Kenapa? Ini keinginan ayah kok! Kamu juga bisa bertemu dengannya lagi loh!" ujar Ghozali.
Shahih langsung memberikan secarik kertas pada Ghozali. "Shahih! Kenapa kau berikan itu padanya?" Asyraf tidak terima, ia tahu kalau secarik kertas itu berisi alamat pesantren Asyraf.
"Kau harus tahu siapa ayah aslimu! Tidak usah membohongi diri sendiri, direktur pesantren itu cuma orang yang mengasuhmu," ujar Shahih.
"Cuma katamu?" Asyraf tampak emosional. Shahih hanya terus menatapnya dengan diam. Beberapa menit kemudian ia pun mulai membuka mulutnya. "Kukira kau punya cara pikir yang sama denganku," ujar Shahih.
"Mimpi apa kau? Nggak ada orang yang punya pola pikir aneh sepertimu," ujar Asyraf kemudian pergi meninggalkan Shahih.
__ADS_1