Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Perpulangan


__ADS_3

Anak-anak langsung berhamburan keluar dari kamar, mereka langsung berbaris rapi menurut kelas masing-masing untuk mendengarkan beberapa pengumuman.


Hari ini adalah hari para santri dipulangkan, mereka terlihat berseri-seri karena bisa kembali ke rumah mereka setelah setengah tahun lamanya.


Setelah pengumuman itu berakhir, Hasan dan Shadiq langsung berlari menuju ke ruang tamu, mereka langsung menghampiri Rofiq dan memeluknya.


"Aduh, kalian ini manja sekali! Baru ditinggal sebentar sudah besar-besar yah!" seru Rofiq sambil mengusap-usap kepala mereka berdua.


"Yo! Paman sudah datang ternyata!" ujar Syihab sambil melambaikan tangan dari kejauhan. Rofiq terdiam sejenak, melihat anak itu ia semakin teringat dengan Ghozali, adik terakhirnya.


Syihab juga tidak ingin kalah dengan kedua adiknya, ia langsung berlari ke arah Rofiq dan memeluknya.


"Ya ampun! Kenapa tiba-tiba begini? Bikin kaget saja!" ujar Rofiq sambil menepuk-nepuk punggung Syihab, ia merasa senang karena anak itu tidak menjaga jarak darinya.


"Kau makin mirip ayahmu saja," ujar Rofiq. "Benarkah? Apakah aku lebih ganteng dari ayah?" tanya Syihab.


"Nggak," jawab Hasan dengan wajah sebal. "Aku nggak nanya kamu, Hasan," ujar Syihab sambil mencubit pipi adiknya.


"Sepertinya Hasan jadi makin besar yah! Pipimu itu...." Rofiq sempat tertawa melihat Hasan yang tampak gemuk.


"Hmm! Aku benci paman!" ujar Hasan sebal. "Nggak papa kok! Kamu nggak gemuk, Hasan! Cuma pipimu saja yang tambah besar," ujar Zahra, ia juga tidak tahan melihat pipinya lalu mencubitnya.


"Loh? Shahih mana?" tanya Zahra penasaran. "Shahih? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Rofiq keheranan.


"Paman nggak tahu? Shahih sekolah di sini juga loh!" seru Zahra. "Paman belum dengar ini! Kok bisa dia ada di sini! Gimana ceritanya?" tanya Rofiq, suasananya pun menjadi serius.


"Ehm, ceritanya dia adalah anak pindahan dari sekolah lain. Dia baru datang beberapa bulan yang lalu," ujar Syihab.

__ADS_1


"Terus mana dia sekarang?" tanya Rofiq. "Dia nggak ikut pulang bareng kita, katanya dia pulang ke panti asuhan," ujar Hasan.


"Apa? Panti asuhan? Kenapa? Kenapa dia ke sana?" tanya Rofiq, suaranya menjadi semakin keras.


"Kalian ini punya saudara kok nggak dijaga! Kenapa kalian bolehkan dia pergi? Keluarganya ada di sini, kok dia pergi ke sana!" Rofiq tampak marah.


"Ma... maafkan aku paman! Aku sudah bujuk dia buat pulang bareng, tapi dia nggak mau," ujar Syihab.


"Mana Alfa? Di mana dia sekarang?" tanya Rofiq. "Di kantor... kayaknya," jawab Hasan ragu-ragu. Rofiq pun langsung bergegas pergi menuju kantor Alfa.


Anak-anak hanya saling tatap melihatnya berlalu dari hadapan mereka. "Kok bisa? Kenapa kalian biarkan adik kalian pergi lagi? Aku nggak paham! Kak Syihab ngapain aja sih? Dia adikmu loh kak! Ya Allah!" Zahra tampak kecewa, ia menjadi sangat cemas.


"A... aku nggak tahu harus gimana, Shahih nggak mau dengerin aku," ujar Syihab. "Nggak mau dengerin atau kakak yang nggak bisa ngomong sama dia? Aku heran sama kalian! Kayaknya nggak ada yang nganggap Shahih keluarga!" ujar Zahra kecewa,ia langsung mondar-mandir gelisah sambil menunggu Rofiq datang.


"Tenanglah Zahra! Kalau liburan sudah selesai, nanti kita bisa bertemu lagi saat berangkat ke pesantren," ujar Syihab.


Rofiq pun datang, ia tampak enggan berbicara dan langsung menuju ke dalam mobilnya. Anak-anak pun langsung mengikutinya tanpa bicara sedikit pun.


Akhirnya perjalanan pulang mereka yang seharusnya bahagia menjadi hancur dan canggung penuh kekecewaan.


Setelah sampai di rumah, mereka disambut hangat oleh Lilis. Rofiq yang sedang marah pun mulai tenang karena istrinya. Lilis memang satu-satunya orang yang bisa meredakan amarahnya dalam situasi apapun.


Akhirnya anak-anak yang lain bisa bernafas dengan lega meskipun Zahra masih tampak gelisah.


Ia dan Hasan langsung masuk ke dalam kamar, Shadiq juga mengikuti keduanya. Setelah Zahra melepaskan kerudungnya,Shafiq pun langsung teringat kalau kamarnya bukan di situ lagi, ia pun buru-buru sambil membawa barang bawaannya menuju kamar Risky, ia pun langsung membaringkan diri di sana karena sempat panik.


Ia langsung terkejut saat melihat Syihab tiba-tiba muncul dengan telanjang bulat, ia sedang sibuk mencari pakaiannya di koper.

__ADS_1


"Ke... kenapa kakak telanjang sih?" tanya Shadiq keheranan, ia bahkan menutupi wajahnya dengan bantal.


"Aku yang telanjang tapi kenapa kau yang malu?" Syihab keheranan, ia tampak tidak peduli apakah Shadiq melihatnya atau tidak.


"Pakai daleman apa gimana kek! tongkatmu kelihatan! Masak kakak nggak malu sih!" ujar Shadiq sambil terus menutup wajahnya.


"Lah ngapain sih? Kamu kan laki-laki, ngapain kakak malu telanjang di depanmu? Kita juga saudara kan? Memangnya kamu nggak pernah lihat laki-laki telanjang? Ayah juga sering ajak kamu mandi bareng kan?" tanya Syihab.


"Itu kan waktu kecil! terakhir mandi sama ayah itu kelas dua SD!" ujar Shadiq. "Hmm! Pantesan! Sejak ibu kecelakaan, kayaknya ayah jarang ada waktu luang di rumah gara-gara harus temani ibu di rumah sakit, nggak mungkin sempat ajak mandi. Padahal kakak masih sering mandi bareng ayah waktu lulus SD loh!" ujar Syihab.


Ia tiba-tiba menghampiri Shadiq yang ada di kasur. "A... apa? Pakai baju dulu sana!" ujar Shadiq ia berusaha membelakangi Syihab, ia tidak ingin melihatnya.


"Hei! Ayolah! Kenapa malu-malu begitu? Kamu nggak penasaran?" tanya Syihab, ia memaksa Shafiq agar terus menatapnya, sayangnya Shadiq melirikkan matanya ke langit-langit ruangan agar tidak melihatnya.


Semakin aneh tingkah Shadiq, semakin membuat Syihab tertawa. "Kamu pasti penasaran kan?" tanya Syihab. "Penasaran apanya? aku nggak penasaran!" ujar Shadiq keheranan.


"Jujur saja! Kamu pasti penasaran sama ukuran tongkat milik ayah. Besarnya segini tahu," ujar Syihab sambil memperagakan dengan tangannya. Shadiq benar-benar malu hingga urat di dahinya menonjol.


"Argh! Kakak ini bicara apa sih? Jorok!" ujar Shadiq kesal, ia tidak peduli apa-apa lagi, ia langsung memukuli kakaknya dengan bantal sambil menyuruhnya memakai baju.


Risky pun datang, setelah tahu Syihab sedang telanjang, ia langsung masuk dan menutup pintu rapat-rapat.


"Kau gila? Kalau orang tuaku masuk ke sini gimana? Dijamin kau enggan tinggal di rumah ini lagi!" ujar Risky.


"Santai aja, aku cuma lagi jahilin adikku kok," ujar Syihab. "Hmm! Kayaknya Shadiq dan Hasan jadi sedikit berbeda sekarang! Apa gara-gara tempat tidurnya beda? Si Shadiq jadi lebih tinggi, tapi Hasan juga tambah besar..... pipinya," ujar Risky.


"Yeah, pipinya doang. Dia jadi sangat menggemaskan. Gara-gara pipinya gembul itu, matanya juga jadi lebih sipit, tapi alisnya masih sama kayak aku dan Shadiq," ujar Syihab.

__ADS_1


"Rupa-rupa keluargamu kayaknya bagus-bagus semua yah! Aku jadi penasaran sama muka adik terakhirmu yang katanya hilang itu. Kira-kira kayak apa wajahnya yah?" tanya Risky penasaran.


__ADS_2