Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Gorila yang jinak


__ADS_3

Aisyah langsung menghampiri Ghozali yang penuh dengan memar di wajahnya. "Kenapa nggak menghindar saja mas? Mukamu hancur begini!" ujar Aisyah sambil menangis, meskipun ia sempat marah dengannya, pria itu tetaplah suaminya, yang mencari nafkah untuknya dan anak-anaknya.


"Nggak apa-apa, aku pantas mendapatkannya," ujar Ghozali kemudian beranjak dari lantai, ia pun sempat meringis menahan rasa sakit di wajahnya.


"Ayo masuk mas! Biar aku bersihkan dan mengompresnya dengan air dingin," ujar Aisyah.


Setelah membersihkan darah yang ada di wajah Ghozali, Aisyah pun langsung mengusap-usapnya dengan kain yang direndam air es. Ghozali sempat merintih kesakitan.


"Manja sekali! Bisa diam nggak? Akunya yang kesusahan mengompres ini," ujar Aisyah, Ghozali hanya bisa tersenyum meringis sambil menahan rasa sakitnya.


Zahra yang melihat wajah ayahnya yang babak belur itu langsung menangis. "Ayah kenapa bu? Kenapa berdarah?" tanya Zahra.


"Jangan nangis, Zahra! Ayah nggak kenapa-kenapa kok," ujar Ghozali sambil memeluk gadis kecil itu.


"Kan sudah kubilang mas! Kalau kamu juga terluka, mereka yang nangis," ujar Aisyah, bahkan Shadiq dan Hasan langsung ikut menghampiri Ghozali.


"Iya, iya! Ayah nggak apa-apa kok," ujar Ghozali sambil menenangkan Shadiq dan Hasan.


Tak lama kemudian Syihab datang sambil mengeluhkan rasa sakit di mulutnya. "Bwu... Haku mwau Thidur," ujar Syihab dengan suara yang tidak jelas, ia kesusahan membuka mulutnya.


"Baiklah, ayo yang lainnya tidur dulu!" ujar Aisyah sambil menyuruh anak-anak kecil itu masuk ke dalam kamar masing-masing.


Aisyah dan Ghozali pun masuk ke dalam kamar Syihab. "Gimana nak? Masih sakit?" tanya Ghozali, Syihab mengangguk dengan wajah pucatnya, ia sudah mengantuk.


"Baiklah, ayah matikan lampunya yah," ujar Ghozali kemudian beranjak dari kasur, karrna merasa bersalah ia tidak berani menatap Syihab, ia hendak mematikan lampu lalu pergi. Sayangnya Syihab menahan lengan bajunya, namun Ghozali tidak membalikkan badan.


"Ayyyah thidur syini. Haku mhau thidur shama ayah, sama ibhu juga," ujar Syihab. Akhirnya Ghozali mengalah, ia berbalik badan dan langsung berbaring di sisi Syihab.

__ADS_1


Anak itu langsung memejamkan mata sambil tersenyum. Ia merasa nyaman tidur di antara ayah dan ibunya. "Kamu manja sekali, Syihab," ujar Ghozali sambil mengusap-usap rambut Syihab yang terus berdiri itu.


Syihab pun langsung menghadap kiri, menghadap Ghozali lalu menempelkan wajahnya di dada ayahnya itu. Ia langsung tertidur nyenyak.


"Loh? Sepertinya dia sudah tidur," ujar Ghozali. "Mungkin karena obat bius yang ia dapatkan saat pipinya dijahit," ujar Aisyah.


Ghozali terus menatap anaknya yang terlelap di dadanya itu. "Kenapa kamu masih di situ mas? Seperti ibu yang sedang menyusui anaknya saja," ujar Aisyah dengan suara lirih.


"Terus aku harus gimana?" tanya Ghozali. "Pergilah ke kamarmu! Tidur di sana," ujar Aisyah. "Eh, loh? Aku nggak boleh tidur di sini?" tanya Ghozali.


"Kamu bercanda? Kamu mau jahitan di mulut Syihab lepas? Kamu kalau tidur pasti banyak gerak, mas! Kasur ini lebih sempit daripada kasur kamar kita," ujar Aisyah.


Dengan terpaksa Ghozali pun beranjak dari kasurnya, padahal ia masih ingin berada di sisi anaknya.


"Tunggu apalagi? Cepat tidur, kamu juga harus kerja besok," ujar Aisyah. Ghozali pun langsung keluar kamar sambil menggaruk-garuk kepala.


"Kenapa kamu masih di sini mas?" tanya Aisyah keheranan. "Bu.... bukan apa-apa kok, aku nggak bisa tidur di kamarku," ujar Ghozali kemudian berdiri, ia hendak pergi ke kamarnya.


Aisyah pun langsung menahan bahunya dan menariknya. "Sholat dulu mas! Jangan niat tidur lagi! Udah Subuh loh!" ujar Aisyah. "Oh, Iya! Iya," ujar Ghozali kemudian pergi ke tempat wudhu.


Ia pun menggelar sajadahnya di tempat Sholat. Aisyah pun datang dengan mukenanya. "Ada apa Sayang?" tanya Ghozali. "Apa lagi? Aku juga mau sholat! Kita berjama'ah. Kupikir aneh juga kota punya tempat Sholat seperti ini tapi nggak pernah sholat bareng," ujar Aisyah.


"Eh? Kamu mau ikut sholat denganku? Ma..... maksudmu aku yang jadi imam?" Ghozali tampak gagap, Aisyah semakin keheranan.


"Tentu saja lah! Nggak mungkin aku yang jadi imamnya kan?" ujar Aisyah. "Be... bentar sayang! Aku mau wudhu lagi," ujar Ghozali gugup lalu buru-buru keluar tempat sholat.


Setelah beberapa menit pergi, akhirnya Ghozali kembali ke tempat sholat, kantuk di wajahnya benar-benar sudah hilang.

__ADS_1


"Aku baca suratnya nggak keras ya," ujar Ghozali. "Loh? Jangan gitu mas, aku mau denger suaramu!" ujar Aisyah. Akhirnya Ghozali terpaksa membaca surat dengan Jahr, dengan suara keras.


Setelah selesai salam, Ghozali tidak berbalik badan, ia merasa malu untuk menghadap Aisyah. "Nggak boleh gitu loh mas! Kamu haru balik badan, menghadap jama'ahmu setelah sholat sebagai bentuk tanggung jawab," ujar Aisyah.


Ghozali menundukkan kepala, ia tetap enggan melakukannya, akhirnya Aisyah pun mendekatinya agar ia mau berbalik badan.


"Kalau sama istri aja nggak berani balik badan gimana kalau berhadapan dengan orang lain?" tanya Aisyah, Ghozali hanya menundukkan kepala.


Setelah berzikir, Aisyah pun langsung menggelantungkan kedua tangannya di bahu Ghozali, ia menyandarkan tubuhnya pada punggung kekar suaminya.


"Sangat nyaman sekali di sini, aku bahkan bisa merasakan detak jantungmu mas," ujar Aisyah. Ghozali hanya terdiam sambil duduk tegak selagi istrinya memeluknya dari belakang dan terlelap begitu saja.


Tak lama kemudian Aisyah terbangun sedangkan air liurnya sudah membasahi punggung Ghozali. "Aduh! Sepertinya aku terlalu nyenyak," ujar Aisyah berusaha membersihkan baju Ghozali. Ghozali pun tertawa.


"Benar sekali! Kamu tidur sangat nyenyak sampai punggungku kehujanan," ujar Ghozali. "Hih, aku nggak gitu kok mas! Ini cuma beberapa tetes saja," ujar Aisyah malu.


"Nggak apa-apa kok, kamu bisa terlambat memasak loh," ujar Ghozali. Aisyah pun melihat jendela dan terkejut.


"Astaghfirullah mas! Kenapa nggak bangunin aku dari tadi? Ini sudah terlalu siang!" ujar Aisyah. "Soalnya kamu tidur nyenyak, aku nggak berani bangunin. Lagian ini juga masih pagi, santai saja," ujar Ghozali.


"Ibwu! ibhu!" Suara Syihab terdengar dari luar, ia berjalan ke sana kemari mencari ibunya. "Kenapa kamu jalan-jalan ke sini, Syihab? Kamu bisa diam di kamar saja, biar ibu yang ambilkan sesuatu yang kamu mau," ujar Aisyah.


"Aku mau mandi, mau berangkat sekolah," ujar Syihab, suaranya mulai terdengar lebih jelas. "Jangan memaksa, ntar tambah sakit loh!" ujar Aisyah. "Aku harus berangkat! Hari ini ada ulangan," ujar Syihab.


"Nggak apa-apa, di rumah saja. Ntar ayah yang minta izin biar kamu nggak perlu berangkat," ujar Ghozali. "Nggak mau! Aku mau berangkat!" ujar Syihab memaksa.


Meskipun sifatnya nakal, Syihab sudah mengerti betapa pentingnya pelajaran, bahkan ia sudah memahami sistematis penilaian di sekolahnya. Selama ini ia selalu masuk peringkat sepuluh besar karena mengikuti pelajaran dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2