
"Zahra, kamu tiga hari lagi ujian loh! Ini sudah masuk gelombang terakhir karena kamu daftar setelah pengumuman kelulusan. Kalau nggak keterima, nggak ada kesempatan lagi," ujar Ghozali.
"Santai aja sama aku, ayah! Zahra bakal siap-siap kok!" ujar Zahra yang sedang berbaring santai di sofa sambil menikmati camilan yang baru saja ia buat.
Ghozali sangat prihatin karena Zahra terlihat tidak bergairah untuk sekolah di pesantren, tidak seperti Syihab yang mempersiapkan dengan matang ujian pendaftaran bahkan sepekan sebelum ujian.
Keesokan harinya pun tetap demikian, Zahra malah ikut membantu Wak Lehah membereskan rumah. Ghozali semakin tidak tahan dengan aktivitasnya itu.
"Zahra, kamu nggak perlu repot-repot bersihin ruangan! Waktumu tinggal besok sebelum ujian!" Ghozali mengingatkan.
Wak Lehah merasa tidak nyaman karena Ghozali menegur Zahra, akhirnya ia pun meminta Zahra untuk tidak membantunya.
Meskipun begitu, Zahra tak kunjung belajar juga. Aktivitasnya berpindah ke dapur, kali ini ia hendak membuat camilan seperti biasanya. Ghozali hanya bisa menggeleng kepala melihat kelakuannya itu.
Esok harinya setelah pulang kerja, Ghozali tidak mendapati Zahra sedang belajar, anak itu malah sudah tertidur pulas di kamarnya.
"Kenapa dia malah tidur di kamarku?" gumam Ghozali keheranan. "Maaf, ayah, aku sudah melarangnya masuk, tapi dia sangat mengerikan, aku nggak mau kena lagi," ujar Syihab sambil menutupi selangkangannya.
"Dia belajar nggak tadi?" tanya Ghozali. "Nggak, setelah ayah pergi, ia merasa sangat bebas, ia bersihkan semua ruangan bahkan kamar ayah juga, tenaganya benar-benar luar biasa. Aku nggak mau tenaganya dipakai buat nendang tongkatku lagi," ujar Syihab.
"Dih, kamu bikin ayah takut saja!" ujar Ghozali, ia merasa resah karena tidak bisa masuk ke kamarnya, akhirnya ia pun tidur di sofa ruang keluarga.
Pada akhirnya Zahra tidak belajar sama sekali meskipun hari ujian telah tiba. Ghozali pun membawa Syihab dan Zahra untuk pergi ke pesantren. Ghozali tampak berwajah pucat karena tidak bisa tidur dengan nyaman di sofa.
"Ayah baik-baik saja?" tanya Zahra tanpa merasa bersalah sedikitpun, ia bahkan tidak gugup meskipun hendak menghadapi ujian. "Iya," ujar Ghozali singkat, ia benar-benar tidak mengerti kelakuan Zahra.
Akhirnya mereka pun tiba di pesantren, barulah Zahra merasa takut dengan keramaian itu. Ia langsung memeluk ayahnya dengan erat.
"Kenapa lagi Zahra?" tanya Ghozali. "Ramai banget! Aku benci!" ujar Zahra. "Tenang saja, cuma sebentar," ujar Ghozali, suasana hatinya mulai membaik setelah melihat wajah cemas anaknya itu.
Akhirnya Zahra pun masuk ruang ujian dengan tenang. Setelah mendengar perkataan ayahnya, ia menjadi tenang kembali, bahkan bersikap santai.
Ghozali kembali prihatin dengan tingkahnya itu. Ia dapat melihat kelakuan Zahra dari jendela ruangan. Anak itu tampak duduk santai sambil sesekali memainkan bolpoin dan mengayunkan kedua kakinya.
Penjaga pun menyuruh Ghozali kembali ke ruang tunggu. Pada akhirnya ia tidak bisa mengawasi Zahra.
Pengawas ujian mulai membagikan lembar jawab, Zahra menerimanya dengan ekspresi biasa saja, ia bahkan ingin segera mendapatkan lembar soal.
Akhirnya setelah membagikan rata lembar soal dan lembar jawab itu, pengawas mengumumkan beberapa peraturan lalu ujian pun dimulai.
Zahra mengerjakan soal-soal itu dengan antusias, namun karena menulis dengan cepat, ia membuat bangkunya terus mengeluarkan suara nyaring.
"Harap tenang di ruang ujian," ujar pengawas yang tampak masih muda itu, ia menunjukkan kesan dingin dengan ekspresi datarnya.
Zahra pun berusaha untuk tidak membuat kegaduhan. Lima belas menit berlalu sedangkan Zahra telah menyelesaikan soalnya, ia langsung menyerahkan soal dan lembar jawabnya di hadapan pengawas.
__ADS_1
Pengawas itu tidak menggubrisnya, ia membiarkan Zahra berdiri di hadapannya selagi menulis daftar kehadiran.
Tentu saja hal itu menarik perhatian peserta lainnya. "Ehm," Zahra memberikan sinyal, akhirnya pengawas itu menatapnya.
"Kamu sedang apa?" tanya pengawas dengan ekspresi dinginnya. "Mengumpulkan lembar jawab. Saya sudah selesai mengerjakan semuanya," ujar Zahra.
"Kalau nggak niat masuk ke pesantren bilang saja ke orang tuamu, merengek atau gimana kek, jangan mengecewakan mereka! Pendaftarannya juga memerlukan biaya loh, ujian seperti ini juga mengeluarkan biaya," ujar pengawas.
Zahra merasa harga dirinya baru saja direndahkan, ia benar-benar marah dengan hal itu, apalagi ia adalah orang yang meluapkan semua amarahnya tanpa pandang waktu dan tempat.
Akhirnya Zahra meletakkan lembar jawab dan soal di meja pengawas dengan keras, membuat pengawas tersentak seketika.
"Apa salahnya kalau sudah selesai mengerjakan? Toh nggak ada peraturan menit ke berapa aku baru boleh keluar. Peraturannya hanya mengatakan bahwa aku bisa keluar setelah menyelesaikan ujian! Tapi bapak bilang aku nggak niat? Kalau aku nggak niat nggak bakal datang ke sini! Jangan lihat dari luarnya saja! Aku ngerjain ini serius loh! Kalau nggak percaya coba saja koreksi sendiri!" ujar Zahra kemudian pergi ke arah pintu keluar.
Ia berhenti di depan pintu lalu berbalik badan ke arah pengawas. "Kalau bapak nggak tahu apa-apa nggak usah ngomong seenaknya! Soal nomor 3, 27, dan 45 nggak ada jawabannya, itu bukti aku ngerjain serius!" ujar Zahra kemudian pergi keluar, ia langsung menemui ayahnya dan memeluknya.
Ghozali merasa resah karena tiada hari tanpa pelukan dari Zahra. Ia semakin resah lagi karena anak itu langsung keluar ruangan padahal belum sampai dua puluh menit sejak ujian di mulai.
"Kamu sudah selesai? Sudah ngerjain ujian? Atau cuma izin ke belakang?" tanya Ghozali. "Sudah selesai kok yah," ujar Zahra. "Ke... kenapa yang lain belum keluar?" tanya Ghozali.
"Loh?Kak Syihab di mana?" Zahra balik bertanya seolah menghindari pertanyaan Ghozali. Pria itu pun pasrah dengan sikap putrinya.
"Kak Syihab lagi mampir ke asramanya," ujar Ghozali. Mereka pun akhirnya menunggu lama hingga akhirnya pengumuman hasil ujian dikeluarkan.
Zahra hendak melihat hasil pekerjaannya, namun terlalu ramai orang. Anak kecil sepertinya tidak berani ikut berdesakan di antara orang-orang itu.
"Gimana? Sudah kelihatan?" tanya Ghozali. Zahra langsung memperbaiki kacamatanya dan mencoba melihat daftar peserta yang diterima.
Setelah menelusuri daftar itu, ia tidak menemukan apapun. "Nggak ada?" Zahra masih belum percaya dan mencoba memeriksa lagi. Ia hanya menunjukkan wajah kecewa.
"Nggak ada?" tanya Ghozali, Zahra hanya menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Ghozali langsung mencoba menenangkannya. "Nggak apa-apa Zahra, kita pulang yuk," ujar Ghozali, ia sudah menduga kalau hasilnya akan seperti ini.
Tak lama kemudian Syihab datang, ia baru saja keluar dari keramaian itu. "Kenapa ayah? Kenapa dia menangis?" tanya Syihab keheranan.
"Dia nggak keterima," ujar Ghozali. "Lah, cengeng sekali..... Eh? Nggak keterima dari mananya? Dia keterima, ayah! Peringkat pertama sendiri! Nilainya sempurna! Nggak ada yang salah!" seru Syihab.
"Be... benarkah?" tanya Ghozali, ia sungguh tidak percaya, padahal ia sudah memprediksi kegagalan Zahra dari awal hingga ia selesai mengerjakan ujian hanya dalam lima belas menit.
"Heh? Nggak mungkin! Kak Syihab salah lihat! Aku nggak jawab soal nomor 3, 27, sama 45!" ujar Zahra.
"Ish! Di papan pengumuman juga dijelaskan kalau nomor 3, 27, sama 45 tidak masuk hitungan karena soal cacat," ujar Ghozali.
"Benarkah? Berarti aku benar-benar peringkat pertama?" tanya Zahra tidak percaya, akhirnya sekali lagi Ghozali mengangkat anak itu agar bisa berdiri di pundaknya.
"Hati-hati, Zahra! Jangan sampai jatuh!" ujar Ghozali, anak itu tampak bersemangat Ia mencoba melihat daftar paling atas dari peserta yang diterima, ternyata memang benar namanya tertera di sana. Ia langsung kegirangan hingga kehilangan keseimbangan, Ghozali pun langsung menahannya agar tidak terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Duh! Hampir saja! Kamu ini bikin ayah kena serangan jantung saja!" ujar Ghozali, Zahra masih tampak kegirangan, ia bahkan sampai mencium pipi Ghozali, membuat pria itu terdiam seribu bahasa.
"Ada apa, ayah?" tanya Zahra, Ghozali pun berusaha menyadarkan diri. "Nggak papa kok," jawab Ghozali, ia merasa senang karena putrinya mencium pipinya.
Tahap pendaftaran selanjutnya adalah wawancara untuk orang tua dan anak di tempat terpisah.
Zahra pun langsung masuk ke dalam ruangan setelah dipanggil. Ia pun terkejut karena pewawancaranya adalah pria yang menjadi pengawas ujiannya tadi, pria yang ia marahi.
Zahra pun duduk dengan perasaan tidak nyaman sedangkan pria muda itu terus memperhatikannya sambil tersenyum.
"Zahra khoirotul Mumtaza, Sikapmu lebih dewasa dari yang Ustadz bayangkan," pria muda itu mendeklarasikan dirinya sebagai seorang ustadz. Zahra hanya bisa mengangguk sambil tersenyum tidak nyaman.
"Kamu masih kenal dengan ustadz kan?" tanya pria muda itu. "I... iya, Ustadz," jawab Zahra. "Soal nomor 3, 27, sama 45 nggak ada jawabannya. Bahkan anak-anak yang tidak bisa sampai seyakin itu, tapi kamu sangat percaya diri dengan penilaianmu," ujar pria muda itu. Zahra hanya mengangguk, ia mencoba menjaga sikap agar terlihat sopan.
"Santai saja dengan ustadz, nggak perlu takut begitu," ujar pria muda itu sambil menyandarkan diri di punggung kursi.
"Baiklah, wawancaranya selesai," ujar pria itu sambil menutup buku catatannya. "Eh? Ustadz bahkan belum menanyakan apapun padaku," ujar Zahra terkejut.
"Nggak perlu kok, sampai jumpa lagi di pesantren..... itupun kalau diterima," ujar pria itu kemudian mempersilahkan Zahra keluar.
Akhirnya Zahra keluar ruangan dengan wajah murung, ia langsung kembali ke mobil. Wawancara Ghozali pun selesai, ia segera ke mobil dengan wajah keheranan.
"Kenapa lagi Zahra?" tanya Ghozali. "Kayaknya Zahra nggak keterima seh," ujar Zahra. "Apa? Kenapa memangnya apa yang terjadi saat wawancara tadi?" tanya Ghozali.
Zahra hanya diam, matanya bahkan berkaca-kaca. "Tunggu dulu! Yanga mewawancaraimu laki-laki atau perempuan?" tanya Syihab. "Laki-laki," jawab Zahra, ia hampir menangis.
"Jangan bilang kamu menghajarnya juga?" tanya Syihab. Mata Zahra berhenti berkaca-kaca. "Eh, nggak kok, aku nggak sampai menghajarnya," ujar Zahra menyangkal pertanyaan Syihab.
"Nggak sampai menghajarnya katamu? Benar-benar nggak beres!" ujar Syihab. "Apanya yang nggak beres, Syihab?" tanya Ghozali.
"Ya ampun yah! Anak ayah yang satu ini kayaknya agak nggak waras deh! Kayaknya dia habis berbuat macam-macam pada pewawancaranya," ujar Syihab.
"Aku nggak ngapa-ngapain kok," ujar Zahra. "Pasti ada yang nggak beres! Ayah nggak ngerasain sesuatu pas Zahra ujian tadi? Ada yang aneh nggak?" tanya Syihab.
"Nggak ada sih, cuma tadi dia keluar ruangan lima belas menit setelah ujian dimulai, tapi itu bukan masalah, ia sudah menyelesaikan semua soalnya," ujar Ghozali.
"Ya ampun! Nggak masalah dari mananya? Jelas-jelas nggak ada yang pengawas yang bakal biarin anak langsung keluar gitu aja! Lima belas menit loh yah! Mau sepintar apapun anaknya, si pengawas pasti bakal minta dia suruh koreksi lagi sampai benar-benar yakin! Dia pasti habis ngamuk di depan pengawas!" ujar Syihab.
"Dih! Aku nggak ngamuk!" teriak Zahra kesal, ia langsung memukul perut Syihab. Saat itu Syihab langsung kesakitan.
Ghozali pikir itu hanya sakit biasa, namun Syihab terus merintih tak henti-henti, ia sampai mencengkeram kursi di depannya kuat-kuat.
"Syihab? Syihab! Kamu baik-baik saja?" tanya Ghozali, Syihab tidak bisa menjawab, ia benar-benar kesakitan. Akhirnya Ghozali segera mengeluarkan mobil ke jalanan dan membawa Syihab ke rumah sakit terdekat.
Setelah diperiksa, dokter mendapati memar parah di perutnya, akhirnya mereka pun memberikan beberapa obat luar.
__ADS_1
Ghozali pun menghampiri Zahra dan memeriksa tangannya. Sesuai dugaannya, kulit tangan Zahra tampak kasar, bahkan otot di lengannya terlihat kencang.
"Duh! Zahra! Tanganmu itu keras, sama seperti ibumu, jadi lain kali harus hati-hati ya, bahaya loh kalau pukul perut, untung Syihab sedikit berotot jadi dia baik-baik saja," ujar Ghozali. Zahra pun mengangguk, ia merasa bersalah karena memukul kakaknya.