Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Pengin jadi istrinya ayah saja


__ADS_3

Ghozali mendapati putrinya semakin dewasa, namun semakin melekat padanya, hal itu membuatnya sangat tidak nyaman.


Bahkan sejak hari kelulusan Zahra, ia sudah tidak berani masuk ke dalam kamarnya. Semakin lama anak itu semakin mirip dengan Aisyah.


"Zahra," panggil Ghozali. Anak itu langsung menghampirinya dengan senang hati. Ghozali merasa tidak nyaman karena Zahra langsung menyandarkan diri pada lengan kekarnya. Anak itu tidak peduli apapun meskipun ayahnya berusaha menjaga jarak darinya.


Ghozali segera menyuruh Zahra duduk di kursi. "Zahra, kamu sudah besar sekarang, kira-kira apa rencanamu setelah lulus dari sekolahmu ini?" tanya Ghozali.


Zahra memiliki prestasi yang sama seperti Syihab, meskipun perilakunya berbeda. Ia juga menduduki peringkat pertama di Ujian Nasional, bahkan peringkat pertama di angkatannya untuk seluruh ujian sekolah.


Anak pintar sepertinya Ghozali pikir sudah memiliki rencana untuk kedepannya. Akhirnya Zahra pun mengangkat wajah lalu melipat kedua tangannya di atas meja.


"Aku mau masuk ke SMP favorit yah, targetnya minimal mengikuti perlombaan sebanyak tiga kali, pas banget buat persyaratan masuk SMA favorit lewat jalur prestasi, setelah lulus SMP dan diterima di SMA, aku juga punya target ikut lomba satu kali, jangan banyak-banyak biar bisa fokus belajar. Setelah lulus SMA, aku mau ambil beasiswa kedokteran, terus ambil spesialis bedah, biar kayak ayah," ujar Zahra.


Penjelasannya yang sangat panjang itu membuat Ghozali tercengang, ia tidak menyangka anak kecil bisa merencanakan masa depannya hingga sedetail. Ia pun menemukan celah dari penjelasannya.


"Zahra, kamu sudah punya rencana lain kalau tujuanmu nggak tercapai?" tanya Ghozali. Zahra tidak mengerti apa yang ayahnya bicarakan.


"Bu guru bilangnya nggak boleh takut gagal kalau punya impian, kenapa ayah tanya begitu?" Zahra keheranan.


"Nggak gitu Zahra, kamu memang nggak boleh takut gagal, tapi kalau misalnya kegagalan itu benar-benar terjadi, kamu harus punya rencana lain," ujar Ghozali.


Zahra pun terdiam, ia memang belum memiliki rencana cadangan. "Kamu lebih baik masuk pesantren aja ya nak, ayah khawatir kalau kamu sekolah di tempat biasa," ujar Ghozali.


"Nggak mau!" ujar Zahra tiba-tiba. Baru kali ini Ghozali mendengar putrinya menolak permintaannya. "Loh? ke... kenapa Zahra?" tanya Ghozali.


"Aku kan bukan anak nakal kayak kak Syihab! Aku nggak mau ke pesantren! Aku baik-baik saja sekolah di SMP favorit! Justru lebih bagus di sana!" ujar Zahra.


"Nggak gitu Zahra! Di luar ayah nggak bisa memantaumu, ayah juga harus pergi kerja," ujar Ghozali.


"Aku nggak bakal pergi-pergi ke tempat aneh kok! Habis sekolah langsung pulang!" ujar Zahra.


"Itu nggak pasti, Zahra! Ada kalanya kamu disuruh ngerjain tugas kelompok, apalagi campur dengan lawan jenismu! Itu bahaya!" ujar Ghozali.


"Nggak yah! Aku baik-baik saja! Aku hati-hati kok! Aku juga berlatih beladiri!" ujar Zahra. "Tetap saja Zahra! Ayah nggak mau kejadian seperti ibumu terulang! Kita nggak tahu kapan musibah bisa terjadi," ujar Ghozali.

__ADS_1


Setelah Ghozali menyebutkan kecelakaan ibunya, Zahra pun terdiam. "Kamu harus masuk pesantren yah, lebih aman di sana!" ujar Ghozali.


"Pokoknya nggak mau!" ujar Zahra, matanya sudah berkaca-kaca. "Kenapa lagi Zahra? Bukankah ayah sudah bilang? Nggak ada yang jaga kamu di sini!" ujar Ghozali, ia terus mendesak putrinya agar mau ke pesantren.


"Aku nggak mau jauh dari ayah!" ujar Zahra, pada akhirnya dia menangis. Ghozali pun terdiam setelah mendengar alasannya.


"Di pesantren aku nggak bisa lihat muka ayah, nggak bisa masak makanan buat ayah, nggak bisa melihat ayah pergi kerja, dan menyambut ayah pulang kerja!" ujar Zahra.


"Kenapa sampai sejauh itu Zahra? Apa yang kamu inginkan dari ayah?" tanya Ghozali. Anak itu hanya menggeleng kepala sambil menangis. "Aku sayang ayah!" ujar Zahra kemudian terus menangis.


Ghozali takut tangisannya mengganggu anak-anaknya yang lain, ia pun segera memeluknya erat-erat dan menenangkannya.


Zahra pun langsung tertidur di dekapannya sedangkan Ghozali membawanya ke kamar lalu membaringkannya.


Beberapa jam kemudian Zahra terbangun dari tidurnya, ia langsung keluar kamar dan mendapati ayahnya sedang tertidur sambil duduk di ruang makan.


Zahra pun menghampirinya dan melihat wajahnya dari dekat. Baru pertama kalinya ia melihat ayahnya sedekat ini, ia baru menyadari betapa kasarnya kulit wajah ayahnya itu. Lekukan rahangnya bahkan terlihat mulai menonjol di pipinya, sedangkan kulit di bawah matanya terlihat lebih gelap seperti orang yang kekurangan tidur.


Zahra pun mengetahui bahwa ayahnya selalu mengkhawatirkannya hingga kekurangan tidur. Ia ingin tahu lebih banyak keadaan ayahnya dengan melihatnya lebih dekat.


Pada akhirnya ia menyadari betapa kerasnya kehidupan orang tuanya, ia pun bertekad untuk tidak mengecewakan mereka berdua.


Saat itulah Ghozali terbangun dari tidurnya. "Aduh! Sepertinya ayah tertidur lagi," ujar Ghozali terkejut, ia langsung beranjak dari kursi lalu mencuci wajahnya.


Setelah itu ia pun duduk di sofa ruang keluarga dalam kesepian. Biasanya ada Aisyah yang akan menyuguhinya teh lalu bercanda bersama, namun saat ini Aisyah masih terbaring di rumah sakit.


Zahra pun langsung menghampiri ayahnya karena merasa iba. "Ayah nggak papa kan?" tanya Zahra. "Nggak papa kok," ujar Ghozali sambil tersenyum tulus. Saking tulusnya, wajah lelahnya semakin terlihat.


"Ayah, aku mau masuk pesantren," ujar Zahra, ia berusaha menghibur ayahnya dengan perkataan itu.


"Benarkah? Kamu yakin?" tanya Ghozali sekali lagi, ia tahu kalau putrinya saat ini sedang ingin menghiburnya, namun ia sendiri juga tidak ingin anaknya menderita.


"Nggak papa kok, kak Syihab juga nggak papa masuk pesantren," ujar Zahra. Ghozali pun tersenyum lega. "Syukurlah," ujar Ghozali sedangkan Zahra langsung memeluknya.


"Kamu benar-benar manja yah! Maaf saja karena ayah menyuruhmu ke pesantren. Nggak selamanya kamu akan bersama ayah, nanti ada masanya kamu tinggal sama suamimu, kamu nggak wajib mengkhawatirkan ayah lagi karena kamu sudah jadi milik suamimu, bukan milik ayahmu lagi," ujar Ghozali.

__ADS_1


Zahra hanya bisa menangis mengetahui kenyataan itu. Memikirkan dirinya berpisah dengan ayahnya saja sudah membuatnya sakit hati.


"Zahra takut! Zahra nggak mau menikah saja. Zahra mau sama ayah saja, jadi istri ayah," ujar Zahra. Ghozali langsung tertawa.


"Ya nggak bolehlah! Makanya kamu belajar yang baik, jadi anak baik di pesantren, biar bisa mandiri. Biar nanti bisa milih orang yang ingin kamu nikahi, biar bisa milih orang yang mirip ayah," ujar Ghozali.


"Memangnya Zahra bisa milih gitu?" tanya Zahra penasaran. "Bisa aja! Makanya harus jadi anak yang baik dan pintar! Milih orang yang gantengnya kayak ayah susah loh," ujar Ghozali.


"Enak banget perempuan tinggal milih-milih doang! Laki-laki malah harus susah payah cari ke sana kemari, itu juga belum tentu diterima," ujar Syihab kesal, ia tiba-tiba menimbrung pembicaraan mereka berdua. Zahra hanya bisa mengejeknya dengan menjulurkan lidah.


"Hati-hati loh! Kalau kamu bilang kayak gitu di depan ibumu bisa bahaya loh!" ujar Ghozali. Akhirnya Syihab terdiam dengan menyesal. "Bercanda kok," ujar Ghozali, ia hanya menjahilinya.


"Hih," Syihab sempat menunjukkan wajah sebal. "Kamu kok semakin tinggi saja! Kayaknya lebih tinggi dari ayah," ujar Ghozali sambil mencoba berdiri.


"Nggak lah, tinggi ayah!" ujar Zahra. "Tapi kan lebih ganteng aku," ujar Syihab. "Nggak, ganteng ayah kok, mukamu kayak monyet," ujar Zahra. Syihab jadi semakin kesal dengan anak gadis kecil itu.


Akhirnya mereka berdua saling memberikan tatapan penuh benci. "Oh, sepertinya kamu cepat tinggi juga," ujar Syihab. Hal itu semakin membuat Zahra kesal, ia langsung menendang ************ Syihab.


Syihab pun langsung jatuh tersungkur tak berdaya, Ghozali merasa ngilu melihat hal itu. "Za.... Zahra! Nggak boleh gitu sama kakakmu! Nggak boleh!" ujar Ghozali.


"Kata guru beladiri, kalau ketemu laki-laki jahat, langsung tendang bagian itu!" Zahra menjelaskan.


"Iya! Iya! Ayah tahu! Tapi kakakmu bukan orang jahat, dia kakakmu Zahra," ujar Ghozali. Syihab terkapar di bawah, ia tidak bisa marah meskipun Zahra menyakitinya karena dahulu ia juga pernah memukul dahi Zahra dengan keras.


"Kenapa nggak jahat! Dia bikin aku marah! Dia bikin Zahra marah! Ayah orang jahat juga?" tanya Zahra sambil mengambil sikap kuda-kuda.


"Nggak! Nggak! Ayah orang baik kok! Kamu benar, Syihab orang jahat," ujar Ghozali, secara spontan ia langsung melindungi selangkangannya.


Zahra pun pergi meninggalkan mereka berdua.


Setelah memastikan anak itu benar-benar pergi, Ghozali pun langsung menghela nafas lega. Ia menatap Syihab yang masih terkapar di lantai dengan wajah prihatin.


"A.... ah! A.... yah curang! Ke...napa malah belain Zahra?" ujar Syihab sambil berusaha menahan rasa sakit dari selangkangannya.


"Makanya, jadi pria itu jangan bicara seenaknya! Tahu adikmu sensitif tapi tetap keras kepala! Aduh! Pasti sakit sekali! Ayah juga pernah ngalamin kayak gitu," ujar Ghozali kemudian meninggalkan Syihab.

__ADS_1


__ADS_2