
Zahra langsung berlari ke arah Hamid, sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengannya. "Kakek!" seru Zahra dengan semangat di lorong rumah sakit.
Hamid dan Sarah langsung terdiam saat melihat gadis itu berlari ke arah mereka. Gadis kecil itu mengingatkan mereka pada Aisyah.
Hamid pun langsung membentangkan kedua tangannya untuk memeluk cucunya itu. Setelah memeluknya, ia mencoba mengangkatnya ke atas.
"Aduh! Aduh! Cucuku sudah semakin besar saja!" ujar Hamid, ia merasa tubuh Zahra sangat berat. Beberapa anak lainnya juga datang menghampiri.
"Ghozali?" secara spontan Hamid memanggil nama itu, ia bahkan sampai mengucek mata. "Itu Syihab, bukan ayah," ujar Zahra.
"Benarkah? Kamu sudah tumbuh dewasa rupanya! Kakek benar-benar nggak nyangka!" ujar Hamid, ia bahkan harus mengangkat wajahnya agar bisa menatap Syihab.
"Tinggi sekali bujangan ini!" ujar Sarah sambil memeluk Syihab dan mencium pipinya. Syihab merasa tidak nyaman dengan perlakuannya itu, ia merasa malu dan hanya tersenyum.
Setelah memeluk Syihab, perhatian Sarah tertuju pada anak dengan pipi chubby yang menggemaskan.
"Wah! Wah! Siapa ini?" seru Sarah sambil mencubit pipi Hasan. "Jangan ditarik-tarik nek! Ntar tambah besar!" keluh Hasan.
"Nggak papa, biar tambah besar sekalian! Kamu imut banget! Cucu nenek yang paling imut!" ujar Sarah sambil menempelkan pipi Hasan ke pipinya, ia benar-benar gemas dengan anak itu.
"Aduh, ternyata masih ada satu bujangan lagi selain Syihab! Siapa ini? Kok kamu lebih besar daripada Hasan!" tanya Sarah, ia juga hendak memeluk Shadiq. Anak itu benar-benar ketakutan, ia tidak ingin mendapatkan perlakuan yang sama seperti Syihab.
Pada akhirnya Sarah tetap melakukannya, ia memeluk anak itu dan menciumi pipinya beberapa kali.
Wajah Shadiq langsung memerah, telinganya juga ikut memerah. "Walah manis sekali!" ujar Sarah. Shadiq hanya bisa menahan rasa malunya dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan gitu nek, dia bakal nangis kalau lagi malu atau kebingungan," ujar Zahra. Bahkan sebelum Zahra mengatakan hal itu, Shadiq sudah terisak.
"Lah, nangis!" ujar Hasan kecewa. "Aduh! Aduh! Kenapa cucu kakek menangis? Ayo sini sama kakek saja, sepertinya nenekmu sangat nakal," ujar Hamid sambil memeluk Shadiq, ia berpikir untuk mengangkat tubuhnya, namun tidak kuat.
__ADS_1
"Eh? Sepertinya kamu lebih besar daripada Zahra," ujar Hamid. Ia pun mengajak cucu-cucunya menuju ke ruangan Aisyah. Zahra sempat menangis melihat tubuh ibunya yang kian kurus hingga tulang rahangnya tampak menonjol di pipinya.
"Gimana keadaan ibu sekarang, kek?" tanya Syihab. "Alhamdulillah, kata dokter dia sudah mulai pulih sedikit demi sedikit, katanya dia bisa bangun lagi," ujar Hamid.
"Benarkah?" tanya Zahra tidak percaya, sedangkan Shadiq dan Hasan tampak kegirangan. Sayangnya Hamid dan Sarah tampak murung.
"Kenapa kek?" tanya Syihab keheranan. "Yeah, Aisyah nggak bisa lihat Shahih lagi walaupun sudah bangun. Kakek nggak tahu harus bilang apa," ujar Hamid.
"Tenang saja, Shahih sudah ditemukan," ujar Rofiq yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. "Be... benarkah?" tanya Hamid tidak percaya.
"Loh? Paman Alfa nggak kasih tahu? Padahal dia sering ketemu di pesantren loh," ujar Hasan. "Alfa! Dasar anak itu!" Sarah tampak kesal.
"Baiklah, kami akan pergi dulu. Hari ini anak-anak akan kembali ke pesantren," ujar Rofiq sambil menggiring anak-anak itu ke mobilnya.
Mereka pun berhenti di asrama putri terlebih dahulu untuk mengantar barang-barang Zahra.
Gadis itu tampak murung setelah turun dari mobil, ia enggan menatap gerbang asrama yang hendak ia masuki.
Syihab pun langsung memeluknya. "Kakak nggak tahu ini berpengaruh apa nggak, kakak sering lihat ayah memelukmu seperti ini agar kamu tenang," ujar Syihab. Zahra yang awalnya terkejut karena kakaknya memeluknya pun akhirnya mulai tenang.
Ia pun langsung melepaskan pelukan kakaknya itu sambil tersenyum. "Aku baik-baik saja kak," ujar Zahra. Ia pun memberanikan diri masuk ke dalam gerbang lalu melambaikan tangan untuk kakaknya itu.
Setelah Zahra masuk ke asrama, Rofiq pun membawa mobilnya ke asrama putra untuk mengantar ketiga anak lainnya.
"Oh! Itu Shahih!" seru Hasan. Tepat saat Rofiq memarkirkan mobilnya, Shahih berlalu di hadapan mereka.
"Mana? Anak yang putih itu?" tanya Rofiq. Hasan mengangguk. Akhirnya Rofiq segera keluar dari mobilnya untuk menghampiri anak itu.
"Shahih?" panggil Rofiq untuk memastikan. Shahih pun menengok ke arahnya dengan ekspresi datarnya, ia tidak terkejut sama sekali.
__ADS_1
"Wah! Ternyata kamu sangat mirip dengan Zahra!" ujar Rofiq. "Ada apa?" tanya Shahih seolah Rofiq hanyalah orang asing baginya.
"Paman ingin bicara denganmu sebentar," ujar Rofiq. Shahih pun menunjukkan betapa beratnya barang-barang yang sedang ia bawa. Akhirnya Rofiq mempersilahkannya menaruh barang-barang itu di lemarinya.
Setelah selesai menata lemari, akhirnya Shahih masuk ke dalam mobil untuk berbicara empat mata dengan Rofiq.
"Di mana kamu selama ini? Kenapa nggak pulang?" tanya Rofiq. "Rumahku kosong, nggak ada orang," ujar Shahih.
"Tentu saja! Kakak-kakakmu sudah pindah ke rumah paman! Harusnya kamu lapor polisi dan lain sebagainya! Kami susah patah mencarimu ke mana-mana!" ujar Rofiq.
"Buat apa cari aku? Aku ada di rumah apa nggak sama saja. Lihatlah, mereka baik-baik saja walaupun nggak ada aku di rumah. Dari awal juga aku nggak pernah dianggap ada di rumah itu," ujar Rofiq.
"Kata siapa? Ayah dan ibumu sangat menyayangimu loh! Ayahmu bahkan menuliskan beberapa diary untukmu," ujar Rofiq.
"Itu cuma alasan! Alasan agar mereka nggak lupa kalau aku ada di rumah. Mereka nggak punya alasan lain untuk menganggapku ada di rumah itu, bahkan saudara kembarku nggak peduli meskipun aku tidur seranjang dengan mereka," ujar Shahih.
"Kamu nggak boleh bicara gitu Shahih! Mereka keluargamu!" ujar Rofiq. "Keluarga macam apa? Aku selalu dianggap aneh dan berbeda dari mereka semua, bahkan setelah kecelakaan mengerikan itu..... ayah dan ibu nggak pernah mendukungku agar bisa pulih," ujar Shahih.
"Kecelakaan? Kecelakaan apa? Kamu pernah mengalami kecelakaan?" tanya Rofiq. "Paman nggak tahu? Sepertinya ayah dan ibu orang yang sangat luar biasa, bahkan bisa merahasiakan cacat mental anak mereka dari kerabat mereka sendiri. Kupikir mereka akan malu mengakui keberadaanku, bahkan terakhir kali paman Rava menyebutku anak bisu dan bodoh, yang ia katakan memang benar adanya," ujar Shahih.
"Shahih! Ayah dan ibumu nggak pernah melakukan hal itu!" ujar Rofiq tegas. "Paman nggak tahu apa-apa, paman bukan keluargaku, cuma kebetulan jadi kakak ayahku saja," ujar Shahih dengan ekspresi datarnya.
"Kamu berani memburuk-burukkan ayahmu yang sudah meninggal? Siapa yang mengajarimu hal itu? Dia yang memberimu makan! Dia yang memberimu tempat tinggal, tapi ini balasan yang kamu berikan?" tanya Rofiq, ia benar-benar murka.
"Semua orang bisa melakukan hal itu, memberi makan, memberi tempat tinggal. Hewan ternak pun juga diberi makan dan diberi tempat tinggal," ujar Shahih.
"Astaghfirullah Shahih! Berani-beraninya kamu bilang kayak begitu!" Rofiq benar-benar sakit hati mendengar perkataannya.
"Mereka selalu bertengkar setiap kali memiliki kesempatan berbicara tentangku, mereka membuat posisiku seperti pembawa masalah yang bahkan lebih buruk dari pada kak Syihab! Asalkan paman tahu saja, aku di rumah nggak pernah melakukan hal aneh-aneh, aku benar-benar diam, tenang, nggak pernah berbuat masalah, tapi mereka yang membuat-buat pertikaian seolah aku ini bencana besar. Sebuah kecelakaan mengerikan baru saja terjadi, paman! Bahkan bajuku sampai basah kuyup berlumuran darah, kira-kira gimana rasanya anak kecil melihat organ dalam manusia berceceran di depan matanya? Ayah dan ibu nggak peduli hal itu, mereka malah bertengkar karenaku, padahal aku nggak ngapa-ngapain," ujar Shahih.
__ADS_1
"Shahih, kamu punya masalah, kenapa nggak bilang saja? Kenapa hanya diam?" tanya Rofiq. "Jangan melantur! Yang bermasalah itu bukan aku! Tapi ayah dan ibu!" teriak Shahih, wajah datarnya berubah menjadi emosional.
Setelah melihat wajahnya sendiri dari kaca spion mobil, ekspresinya kembali datar. "Luka dalam hati itu nggak mudah sembuhnya, paman! Aku nggak akan tinggal di tempat paman, aku nggak mau pergi ke rumah itu," ujar Shahih kemudian keluar dari mobil. Ia membuat Rofiq terdiam seribu bahasa.