
Anak-anak mulai menjaga jarak dari Shahih, beberapa orang membencinya karena tidak ikut membela saat mereka kehilangan ponsel mereka. Beberapa orang lainnya ikut menjauhinya karena takut dibenci anak-anak satu angkatan, termasuk Hasan dan Shadiq.
Anak yang masih berani mendekatinya hanyalah Asyraf, Renogi, dan Arkan. Mereka semua punya alasan masing-masing untuk tidak mengikuti anak-anak lainnya.
Arkan sendiri sudah tidak peduli dengan kebencian yang akan ia hadapi, kenyataannya ia sudah menjadi bahan hinaan bagi anak-anak itu, tetap mendekati Shahih tidak akan mengubah apapun.
Sedangkan Renogi, ia adalah anak yang mudah bergaul dengan kamar-kamar lainnya, orang-orang tidak mudah untuk membencinya meskipun ia masih sering mengobrol dengan Shahih.
Sedangkan Asyraf, dari awal ia tidak ada niatan untuk menjauhi Shahih, ia tidak peduli meskipun akan dibenci oleh anak-anak lainnya, tidak ada satupun yang ia anggap teman dari anak-anak itu kecuali Shahih dan Arkan.
Semakin lama tidak mendengar kabar tentang ponsel-ponsel itu dari kakak pengurus, pada akhirnya anak-anak mulai menanamkan benih kecurigaan terhadap Shahih. Karena hanya dia satu-satunya anak yang berani buka suara dan menyatakan kebenciannya terhadap anak-anak yang membawa ponsel, akhirnya mereka menduga bahwa yang mencuri ponsel adalah Shahih.
Meskipun begitu Shahih tidak ada niatan untuk menyangkal atau membenarkannya. Ia tidak peduli meskipun orang-orang menganggapnya pencuri, ia juga tidak mengatakan apapun untuk menyangkal tuduhan mereka.
Hal itu semakin ambigu, anak-anak masih dipenuhi keraguan tentang pelaku asli dari pencurian ponsel-ponsel itu.
Meskipun ini termasuk tindakan pencurian yang sangat besar, anak-anak tidak bisa melaporkannya pada Ustadz dan kakak pengurus karena jika mereka melaporkannya, sama saja mengakui bahwa mereka membawa ponsel ke pesantren.
"Hei, Shahih! Kenapa kau hanya diam saja? Sebenarnya kau yang mencuri ponsel-ponsel itu bukan?" tanya Asyraf, ia tidak tahan dengan tuduhan yang asal dilontarkan oleh anak-anak itu.
"Hei! Kamu juga mencurigai Shahih mencuri ponsel-ponsel itu?" Arkan tampak kecewa. "Bukan begitu! Kalau memang dia nggak mencuri, harusnya dia bilang! Tapi dia diam saja! Ini membingungkan!" ujar Asyraf.
"Ternyata kau nggak sepintar yang aku bayangkan. Kukira kau sudah tahu jawabannya," ujar Shahih, lagi-lagi ia hanya tersenyum.
"Mana mungkin aku tahu jawabannya! Kau benar-benar ambigu! Sangat sulit ditebak!" ujar Asyraf.
__ADS_1
"Kalau begitu ini bisa jadi PR untukmu, cari tahu sendiri apakah aku mencurinya atau nggak," ujar Shahih.
"Sudah pasti bukan! Nggak mungkin Shahih mencuri!" ujar Arkan. "Itu nggak pasti, Arkan! Kalau dia bukan pencurinya, dia mungkin bakal penasaran siapa pencurinya, harusnya dia berusaha menghapus tuduhan padanya. Kalaupun ternyata dia memang bukan pencurinya, jika dia diam seperti ini sama saja dia membantu pencuri itu," ujar Asyraf.
"Yeah lagian salah anak-anak itu membawa ponsel ke pesantren," ujar Shahih. "Tuh, kau lihat sendiri kan? Sikapnya benar-benar seperti pencuri itu sendiri," ujar Asyraf. "Shahih bukan pencuri!" ujar Arkan.
"Percuma saja cuma bilang begitu! Aku yang akan mencari buktinya sendiri, akan kupastikan kalau dia bukan pencurinya!" ujar Asyraf.
"Benarkah? Aku mungkin bisa ikut membantu!" seru Arkan. "Sebaiknya nggak usah! Mereka yang bikin masalah kenapa kau yang susah-susah menyelesaikan masalah mereka?" ujar Shahih pada Arkan.
"Bentar lagi perpulangan! Aku dengar, sebelum pulang anak-anak seangkatan akan menyidangmu! Mereka mungkin akan memukulimu beberapa kali. Mereka sengaja mengambil waktu sebelum pulang agar pihak pesantren nggak ada yang menyadari kalau anak-anak menggunakan kekerasan di sini," ujar Arkan khawatir.
"Kalau begitu aku tinggal pulang sebelum mereka saja, aku bisa izin keluar pesantren kok, banyak alasan yang bisa kubuat untuk pergi keluar asrama," ujar Shahih.
"Sst! Jangan lanjutkan perkataanmu," ujar Arkan, wajahnya mulai terlihat kecewa. "Benar sekali, kalau kau menghindari mereka berarti sama saja kau mengakui bahwa kau mencu....,"
Tak lama kemudian Hasan dan Shadiq datang, mereka mengajak Shahih dan Asyraf ke atap.
"Apaan sih? Kenapa kalian berdua tergesa-gesa?" tanya Shahih keheranan. "Syukurlah hari ini kau bukan mode serius, sangat susah sekali mengajakmu pergi ke suatu tempat," ujar Hasan kesal.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Shahih. "Setelah semua keributan ini, cuma pertanyaan itu yang muncul dari mulutmu?" tanya Hasan, ia semakin kesal.
"Shahih! Aldi dan beberapa anak lainnya akan mengadakan sidang tengah malam, tanpa sepengetahuan kakak pengurus! Mereka akan memaksamu mengakui pencurian itu! Kamu harus bilang kalau kamu bukan pencurinya!" ujar Shadiq.
"Apa masalahnya? Kalian khawatir padaku? Tumben sekali! Kenapa nggak diam saja? Itu keahlian kalian, toh kalau aku dipukul, bukan kalian yang merasa sakit," ujar Shahih.
__ADS_1
"Shahih! Aku tahu kamu marah dengan masa lalu! Ini semua salah kami, kami minta maaf karena dulu selalu mengabaikanmu! Kami sadar menghilangnya dirimu selama beberapa tahun ini adalah hal yang mengerikan! Aku nggak mau kehilangan anggota keluargaku lagi," ujar Shadiq.
"Baguslah, mungkin aku bisa menghilang dari hadapan kalian lagi, agar kalian nggak perlu merasakan cemas seperti ini lagi," ujar Shahih.
"Shahih, kamu marah? Ada apa sih? Bilang saja ke kami! Kenapa kamu marah?" tanya Hasan, meskipun saat itu Shahih tidak berekspresi, ia paham betul kalau perkataannya penuh emosional.
"Aku nggak marah pada kalian, kalian nggak bersalah," ujar Shahih, ia langsung berbalik badan untuk meninggalkan mereka.
"Kumohon Shahih! Ayah pasti sedih kalau melihat kita berpecah belah begini," ujar Shadiq.
"Benarkah? Aku semakin penasaran dengan reaksinya. Perlukah kucoba menghilang dari hidup kalian? Aku ingin melihat seperti apa raut wajahnya saat aku pergi," ujar Shahih.
"Shahih, apa yang kamu bicarakan? Kenapa kamu bicara seperti itu tentang ayah? Dia sudah meninggal loh! Apakah sebegitu bencinya kamu pada ayah? Memangnya dia salah apa?" tanya Hasan. Shahih hanya tersenyum saat mendengar perkataan Hasan, tentu saja anak-anak itu ketakutan melihat ekspresinya.
"Kalau kukatakan bahwa pria itu masih hidup, kalian percaya?" tanya Shahih. "Apa maksudmu Shahih? Ayah masih hidup? Kenapa kamu sembarangan bicara?" tanya Shadiq. "Shahih, kenapa tiba-tiba membicarakan ayah? Kamu bikin takut saja," ujar Hasan.
"Kalian nggak berharap ayah kalian masih hidup? Kalian berharap ayah kalian sudah mati?" tanya Shahih.
"Bukan begitu, ayah memang sudah meninggal, Shahih! Kita semua tahu itu," ujar Hasan.
"Kalau aku tunjukkan wajah ayah kalian yang sekarang, kira-kira seperti apa tanggapan kalian?" tanya Shahih.
"Shahih! Jaga mulutmu! Jangan main-main dengan orang tua! Jangan durhaka!" ujar Shadiq.
"Durhaka? Begitu kah menurutmu? Apakah cuma seorang anak yang dianggap durhaka? Kenapa nggak ada julukan orang tua yang durhaka pada anaknya?" tanya Shahih.
__ADS_1
Mereka semua terdiam, sedangkan Shahih segera pergi meninggalkan mereka.