Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Gennadius


__ADS_3

Jordan menatap ke arah jendela kamarnya, hujan deras membuat suasana kamarnya yang remang-remang itu menjadi tempat yang sangat nyaman untuk tidur.


Ia pun mulai mengantuk, bahkan sempat beberapa kali matanya terpejam. Sayangnya ia belum berniat untuk tidur karena ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Ia melihat bayangan hitam samar-samar tersandar pada tiang listrik depan rumah yang ia tinggali itu.


Awalnya ia pikir itu hanyalah keresek berisi sampah yang biasa dibuang oleh orang-orang, namun benda hitam itu tiba-tiba jatuh tersungkur di tanah.


Ia langsung terbangun dari kondisi setengah sadarnya dan mendapati penglihatannya kembali jelas. Ternyata yang baru saja jatuh tersungkur di tiang listrik itu adalah seorang anak.


Ia pun beranjak dari kasurnya laku memanggil Adam. "Ada apa? Jangan ganggu kegiatanku!" ujar Adam, ia tampak sibuk memperbaiki kuda-kuda atap rumah yang rapuh.


"Sepertinya ada anak yang tak sadarkan diri di luar!" ujar Jordan. "Hah? Anak mana? Hujan deras seperti ini tidak mungkin ada anak-anak yang berkeliaran!" ujar Adam.


"Tapi itu benar seorang anak!" ujar Jordan. "Argh! Kau benar-benar merepotkan sekali!" ujar Adam kesal.


"Kalau begitu aku akan periksa," ujar Jordan. "Nah, tinggal kau sendiri saja kan bisa! Kenapa sampai ganggu pekerjaanku segala?" tanya Adam keheranan.


"Bukan apa-apa, barang kali kau tidak mengizinkanku membawa anak itu masuk ke sini," ujar Jordan.


"Terserah kau mau berbuat apa!" ujar Adam kesal. "Baiklah! Ngomong-ngomong, aksen bahasa Indonesiamu sangat baik, orang-orang mungkin akan berpikir kalau kau orang Indonesia, tentu saja jika hidung mancungmu itu tidak terlihat," ujar Jordan, ia segera mengambil jas hujan lalu memakainya.


Ia pun langsung pergi ke seberang jalan dan memeriksa benda apa yang sebenarnya tergeletak di samping tiang listrik itu.


Seperti yang ia duga, itu adalah anak-anak. Ia sempat menengok ke kanan dan ke kiri barang kali ada seseorang yang mencarinya, namun tidak ada siapapun. Akhirnya ia bawa anak itu ke dalam rumah.


"Siapa yang meninggalkan anak kecil di tengah hujan lebat seperti ini?" tanya Adam keheranan, ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya.


"Entahlah, ini bukan anak kecil, mungkin remaja SMP," ujar Jordan. Adam mencoba mengelap wajah anak yang tampak pucat itu.


"Ini Shahih!" ujar Adam terkejut. "Loh? Kenapa dia ke sini?" tanya Jordan keheranan. "Sepertinya dia baru saja mimisan!" ujar Adam sambil memeriksa mulut Shahih yang dipenuhi genangan darah.


"Benarkah? Kukira itu muntah darah," ujar Jordan. Adam pun mulai membersihkan hidung dan mulut Shahih agar tidak tersumbat, setelah itu ia mengecek denyut nadinya.


"Sepertinya dia baik-baik saja," ujar Adam. "Baik-baik saja dari mananya? Dia sampai mimisan loh! Aku tidak lihat ada luka memar di sekitar dahi dan hidungnya, itu pasti permasalahan di dalam! Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit! Atau mungkin panggil saja orang tuanya ke sini! Bukankah ayahnya dokter?" tanya Jordan.


"Jangan! Kalau dia sempat kembali ke sini saat hujan deras, dia memang berniat pergi dari rumahnya," ujar Adam.


"Dia masih kecil, Adam! Mungkin karena masalah sedikit ia jadi bersikap tidak dewasa!" ujar Jordan.

__ADS_1


"Aku tidak peduli apakah dia bersikap dewasa atau kekanak-kanakan, kenyataan bahwa orang tuanya membiarkannya pergi dalam kondisi hujan lebat begini sudah menjadi jawaban bahwa ia kabur dari keluarganya," ujar Adam.


"Tapi...." Jordan hendak menyangkal, ia takut dengan kondisi Shahih yang sangat pucat itu.


"Sejak kapan kau jadi tidak profesional begini? Kenapa kau panik?" tanya Adam. "Bukan apa-apa, kalau sampai dia mati, itu sangat disayangkan! Dia bisa membantu misi kita berjalan dengan lancar!" ujar Jordan.


"Tenang saja! Dia baik-baik saja kok! Biarkan dia sendiri yang memutuskan, apakah akan kembali ke rumahnya atau tetap di sini setelah bangun dari tidurnya," ujar Adam.


Akhirnya mereka pun menunggu hingga Shahih terbangun dari tidurnya. Sayangnya setelah sehari berlalu, anak itu tak kunjung sadar.


"Ini sudah sehari loh! Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit!" ujar Jordan panik. "Tunggulah sebentar lagi!" ujar Adam, ia tetap santai sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Perutnya masih kosong selama sehari ini! Dia belum makan apapun! Kita harus membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan infus!" ujar Jordan.


Selagi ia berselisih dengan Adam, Shahih pun terbangun dari tidurnya, sayangnya ia belum bisa melihat sekitar dengan jelas, ia juga merintih kesakitan karena nyeri di kepalanya.


"Nak, kau baik-baik saja?" tanya Adam, ia mencoba mengecek mata dan mulut Shahih. "Baiklah, sepertinya sudah normal," ujar Adam. Jordan pun merasa lega.


"Kalian siapa?" tanya Shahih kebingungan. Adam dan Jordan terdiam sejenak, melihat wajah kebingungan Shahih membuat mereka keheranan.


"Eh, Adam! Menurutmu dia benar-benar Shahih? Ataukah kita salah pungut anak di jalan?" bisik Jordan ragu.


"Di sini gelap sekali!" keluhnya. Adam dan Jordan terkejut melihat ekspresi yang dibuat anak itu.


"Benarkah dia Shahih?" Adam balik bertanya pada Jordan. "Kenapa kau tanya padaku? Aku juga tidak tahu! Dia sangat aneh!" ujar Jordan.


"Menurutku dia sangat normal! Justru yang aneh itu Shahih! Mungkin dalam keadaan seperti ini, Shahih tetap menunjukkan ekspresi datarnya!" bisik Adam. "Terus kita harus gimana? Perlukah kita antar dia ke rumahnya? Tapi dia ini siapa kalau bukan Shahih?" tanya Jordan kebingungan.


"Tanyakan saja di mana rumahnya," ujar Adam.


"Ehm, jadi rumahmu di mana? Kenapa kau hujan-hujanan?" tanya Jordan. Sayangnya anak itu kurang yakin untuk menjawab.


"Hujan-hujanan? Rumahku?" Anak itu bersikeras untuk menjawab, namun ia tampak tidak tahu apa-apa.


"Sepertinya kepalanya bermasalah! Kita harus bagaimana?" tanya Jordan. Adam teringat akan sesuatu, ia mencoba memeriksa ponselnya dan mendapati salah satu foto Shahih. Kebetulan sekali pakaian yang anak itu kenakan sama seperti yang ada di foto.


"Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit! Barang kali ada orang yang mencarinya," ujar Jordan.

__ADS_1


Adam langsung menyeringai lebar. Ia mencoba merendahkan badan agar sejajar dengan anak itu. Dengan penuh harap, ia mulai bertanya, "Siapa namamu nak?" tanya Adam.


"Namaku? Nama..... " Anak itu tampak kebingungan, ia mencoba menangkap sesuatu yang ada di pikirannya, namun tidak bisa.


"Ada apa ini? Kenapa dia jadi bodoh?" tanya Jordan keheranan. "Sst!" Adam langsung membawa Jordan keluar dari kamar.


Sekali lagi Adam menatap anak yang tampak berwajah polos itu. "Kau tidak ingat namamu?" tanya Adam sekali lagi. Anak itu pun menggelengkan kepala.


"Baiklah! Namamu adalah Gennadius! Kita akan pindah rumah mulai hari ini!" ujar Adam. "Eh? Pindah rumah? Kenapa?" tanya Jordan keheranan, ia tampak menguping pembicaraan dari luar.


"Pindah rumah? Paman siapa?" tanya anak itu keheranan. "Aku? Aku pamanmu! Panggil saja paman Adam," ujar Adam.


"Ba... baik, paman," jawab anak itu. Mendengar jawaban polos dari anak itu, Adam tiba-tiba kegirangan, Jordan keheranan saat menyaksikannya.


"Kau kenapa lagi?" tanya Jordan. "Anak ini.... sebenarnya Shahih!" bisik Adam. "Eh? Serius? Tapi dia tidak mengenal kita kan?" tanya Jordan kebingungan.


"Sepertinya terjadi sesuatu! Oke, sudah kuputuskan! Aku tidak akan mengembalikan anak ini ke orang tuanya! Biarkan dia di sini dan membantu kita selamanya!" seru Adam.


"Apakah seperti ini boleh dilakukan? Kau mencuri anak orang loh! Apalagi dia hilang ingatan!" ujar Jordan.


"Aku tidak peduli lagi! Selama dia dapat melancarkan semua misi kita!" ujar Adam bertekad.


Adzan pun mulai berkumandang, anak itu langsung keluar dari kamarnya, ia langsung menarik-narik lengan baju Adam.


"Hmm? Ada apa, Gennadius?" tanya Adam. "Kau bahkan sudah memberinya nama?" Jordan tidak percaya dengan tindakannya.


"Paman, kamar mandinya di mana?" tanya anak itu. "Ada di paling ujung sana, mau apa? Kau belum makan kan? Paman mau beli makanan dulu," ujar Adam.


"Aku mau wudhu, sudah Isya," ujar anak itu. Adam dan Jordan terdiam sejenak. "Kau ingat cara Sholat?" tanya Adam. Anak itu mengangguk.


"Hei! Bukankah itu aneh? Kau nggak ingat namamu tapi ingat cara Sholat?" Jordan keheranan. Adam juga sempat mengerutkan dahi.


"Kau tahu ini apa?" tanya Adam sambil menunjukkan ponselnya. "Ponsel," jawab anak itu. "Kau sekolah di mana?" tanya Adam. Anak itu pun mulai berpikir panjang.


"Entahlah, sekolah itu ada di mana-mana, aku tidak ingat mana salah satunya tempatku belajar," ujar anak itu.


"Kasihan sekali! Sepertinya dia mengalami amnesia karena trauma, sampai dia ingin melupakan kepribadiannya sendiri," ujar Jordan sambil menggelengkan kepala, ia merasa iba dengan anak itu.

__ADS_1


Adam pun mencoba memeluknya erat-erat. "Gennadius, tenang saja! Kau akan baik-baik saja di sini, kau tidak akan merasa sedih lagi," ujar Adam. Sayangnya anak itu juga tidak mengerti maksud sedih yang Adam bicarakan, ia tidak mengingat apa yang baru saja terjadi padanya.


"Sebaiknya kita pergi hari ini, kita pindah rumah," ujar Adam, ia langsung mengajak anak itu berkemas-kemas.


__ADS_2