Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Hilang ingatan


__ADS_3

Asyraf membuka matanya, Ghozali tampak berada di sampingnya sambil memegangi tangannya.


"Asa? Kamu sudah bangun? Syukurlah kamu baik-baik saja!" seru Ghozali. Meskipun begitu Asyraf tetap diam, tiba-tiba air matanya mengalir deras di pipinya tanpa alasan. Ia tidak menangis, bahkan wajahnya tampak datar kebingungan, namun air matanya terus keluar.


Saat itulah Ghozali memeluknya erat-erat, mendekapnya di dadanya. "Ayah di sini, nak! Kamu akan baik-baik saja," ujar Ghozali. Ia mencoba menghibur diri dengan sadarnya Asyraf.


"Siapa?" Asyraf tampak kebingungan sambil melihat ke sekelilingnya. Tak lama kemudian Aisyah pun datang.


"Asa! Akhirnya kamu bangun juga!" serunya dari depan pintu kemudian berlari menghampiri Asyraf lalu memeluknya.


Wajah anak itu tampak semakin kebingungan, apalagi setelah anak-anak lainnya datang. Saking bingungnya, air matanya pun kembali keluar, ia mulai terisak.


"Asa menangis?" Hasan keheranan, baru kali ini ia melihat anak itu terisak. Zahra langsung mengisyaratkannya untuk diam.


"Asa? Kamu baik-baik saja?" tanya Aisyah. "I... ini di mana? Kalian siapa!?" Anak itu benar-benar kebingungan.


Syihab tampak tidak berkedip, ia langsung menghampiri Asa dengan mata membelalak. "Ada apa ini? Dia hilang ingatan? Wah! Baru kali ini aku lihat orang amnesia di dunia nyata!" seru Syihab, ia mencoba melambaikan tangan ke arah Asyraf.


"Kamu ingat aku?" tanya Syihab, ia mencoba memastikan. Asyraf menggeleng kepala dengan lugunya. "Apa ini? Luar biasa sekali! Dia tampak benar-benar bodoh!" ujar Syihab terkesan, Zahra langsung menyikutnya.


"Jangan bercanda!" tegurnya, ia langsung menghampiri Asyraf. "Nggak perlu didengarkan, Asa! Yang penting kamu baik-baik saja," ujar Zahra.


Asyraf masih tampak asing dengan wajah-wajah baru itu, ia masih kebingungan dan ragu dengan pengakuan mereka. Akhirnya Ghozali memeluknya sekali lagi.


Asyraf pun menjadi tenang setelah wajahnya bersandar pada dada Ghozali. Setelah merasa nyaman di pelukannya, ia sudah tidak meragukan pengakuan mereka bahwa mereka adalah keluarganya. Saking leganya, ia semakin erat memeluk ayahnya itu.


Tentu saja Ghozali merasa sangat bahagia. Padahal Asyraf adalah anak yang paling sulit didekati olehnya. Ia tidak menyangka anak itu memeluknya erat-erat.


Melihat hal itu Aisyah sempat merasa iri. "Sudahlah, mas! Kamu bikin dia kesulitan bernafas," ujar Aisyah.


"Aduh! Ayah minta maaf," ujar Ghozali sambil melepaskan pelukannya. "Nggak papa kok," ujar Asyraf sambil tersenyum hangat. Hal itu benar-benar membuat Ghozali bahagia. Ia pun terharu sampai matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


"Syukurlah kamu baik-baik saja, Asa! Syukurlah kamu bisa bangun lagi!" ujarnya. "Duh, kenapa ayah menangis?" tanya Syihab keheranan.


Orang-orang di sekitarnya hanya bisa menatapnya dengan wajah masam karena selalu merusak suasana. Setelah kondisi Asyraf dipastikan baik-baik saja, akhirnya Ghozali membawanya pulang ke rumah.


"Mas, apakah kita perlu pergi ke tempat terapi untuk memulihkan ingatannya?" tanya Aisyah. "Begini saja sudah cukup. Menurutku lebih baik," ujar Ghozali, ia tampak tak ingin bicara lagi.


Aisyah pun tidak berani menentangnya. "Baiklah mas, kalau itu maumu," ujar Aisyah. "Ini demi kebaikan Asa, sayang! Izinkan suamimu ini mengambil kesempatan untuk menjadi ayah yang baik," ujar Ghozali. Aisyah pun hanya mengangguk. Meskipun ia sempat merasa kasihan dengan Asa, namun ia juga berpikir bahwa keputusan itu lebih baik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Syihab membuka pintu kamar Zahra. "Zahra, bisa tolongin kakak jahitkan baju ini? Lengannya sudah robek," ujar Syihab.


Zahra tampak terkejut saat kakaknya membuka pintu kamar secara tiba-tiba. Saat itu ia tidak mengenakan kerudung dan hanya berpakaian kaus dalam.


"Kyaa! Jangan lihat!" teriak Zahra. "Biasa aja sih! Lagian sejak kecil kamu juga sering keluar-keluar rumah pakai kutang doang. Sampe orang heran kamu ini laki-laki atau bukan," ujar Syihab.


"Sekarang sama dulu beda!" ujar Zahra kemudian membungkus tubuhnya dengan selimut. "Santai aja. Aku nggak minat sama tubuh bugil adik sendiri, nggak kayak kamu yang selalu malu-malu lihat aku keluar dari kamar mandi," ujar Syihab, ia langsung meletakkan baju robek miliknya pada meja belajar Zahra


"Huh! Siapa yang malu-malu lihat makhluk aneh kayak kamu?" ujar Zahra dengan lagaknya, ia tidak mau kalah dengan perkataan Syihab.


Seketika wajah Zahra memerah, ia tidak mampu tetus memandangi dada kakaknya itu, ia pun berteriak keras. Syihab langsung lari keluar kamar sebelum Zahra melempar kursi ke arahnya.


"Dih, tenaga anak itu benar-benar kayak gorila," ujar Syihab merinding, ia tidak berani membayangkan kursi kayu itu akan menimpa tubuhnya.


"Syihab! Kamu ini suka sekali menjahili adikmu! Hentikanlah, kamu sudah besar loh!" ujar Aisyah. "I.... Iya bu," ujar Syihab malu-malu, ia langsung menutup dadanya yang terbuka.


"Hmm, akhirnya kena marah juga," ujar Ghozali sambil berkacak pinggang, ia tampak menikmati pemandangan itu. Sesekali melihat wajah Syihab yang dipenuhi perasaan bersalah membuatnya terhibur.


"Dih! Zahra duluan yang bikin kesal, ayah!" ujar Syihab. "Lalu kamu membalasnya dengan buka baju di hadapannya? Ya ampun, kamu ini tiru siapa sih?" Ghozali hanya bisa menepuk dahi sedangkan Aisyah menggelengkan kepala.


"Kak Syihab sama kak Zahra swring bertengkar begini?" tanya Asyraf dengan wajah polosnya. "Begitulah. Asa jangan ikut-ikutan ya! Nggak baik," ujar Aisyah.

__ADS_1


Syihab semakin merasa terpuruk karena tidak ada satupun orang yang membelanya. "Kak Syihab, tubuhmu keren. Kayak ayah!" ujar Asyraf sambil mengacungkan jempol, ia secara spontan melakukan hal itu untuk menghibur Syihab, ia sendiri tidak tahu alasan mengapa ia pintar mengubah suasana.


"Wah! Benarkah? Kamu yang terbaik, Asa! Kamu benar-benar adikku," ujar Syihab kemudian merangkulnya. "Jangan ajarin Asa yang aneh-aneh!" ujar Aisyah memperingatkan.


"Loh? Lengan baju kakak robek!" ujar Asyraf, ia menyadarinya saat lengan kekar itu merangkulnya.


"Hmm! Kakak nggak sadar! Kayak baju ini juga sudah nggak muat!" ujar Syihab. "Makanya, pilih baju tuh jangan yang pas di badan! Pilihlah yang lebih lebar sedikit! Kalian ini, ayah dan anak sama saja bebalnya!" ujar Aisyah.


"Kalau tubuhku memang nggak akan bertambah besar lagi, jadi kalau ukurannya terlalu pas, nggak ada masalah," ujar Ghozali.


"Ini bukan tentangmu mas! Lihatlah, anakmu ini! Dia jadi ikut-ikutan pilih baju yang serba pas. Kemejanya saja sangat ketat sekali!" ujar Aisyah prihatin.


"Lah, Syihab kan bukan perempuan, jadi nggak masalah kalau bajunya kek begini. Lagian aurat laki-laki cuma dari pusar hingga lutut. Kalau ayah saja boleh pakai baju yang pas, kenapa aku nggak boleh?" tanya Syihab.


"Boros-boros uang, Syihab! Kamu itu masih di masa pertumbuhan! Kalau bajumu kekecilan bakal cepat robek! Besok-besok kalau pergi beli baju mending sama ibu saja!" ujar Aisyah. "Iya," jawab Syihab dengan wajah lesu.


"Ini, biar kujahit saja," ujar Asyraf. "Eh, kamu bisa jahit ini?" tanya Syihab. "Kayaknya sih bisa, coba kemarikan," ujar Asyraf. Tanpa ragu Syihab langsung melepas bajunya.


"Tuh, kan? Tiru siapa lagi anak ini? Pasti ayahnya!" ujar Aisyah sambil menggelengkan kepala, ia pun pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Hei, Syihab.... Sepertinya tubuhmu terlalu besar," ujar Ghozali sambil menelan ludah, ia bahkan menvoba membandingkan lebar bahunya dengan bahu anaknya itu.


"Ayah, apa-apaan ini! Percuma saja kalau tubuhku tambah besar tapi kalau kumis dan jenggotku nggak pernah tumbuh! Kok nggak kayak Shadiq, kumis sama jenggotnya kelihatan subur banget sampe harus dicukur tiap pagi," ujar Syihab tidak terima, kebetulan Shadiq lewat sambil membawa alat cukurnya. Ia langsung menyembunyikan alat cukur itu dan berlalu di hadapan Syihab.


"Tuh, kan! Dia malah pakai alat cukurnya ayah! Curang!" ujar Syihab sambil merampas apa yang dipegang Shadiq.


"Huh, kenapa kamu selalu terobsesi dengan hal-hal yang bersangkutan dengan ayah sih? Itu juga celana yang kamu pakai! Itu punya ayah! Pantas saja ayah cari kemana-mana nggak ada!" ujar Ghozali. Sayangnya Syihab hanya menggaruk-garuk kepala.


"Baju ayah sangat pas dipakai aku soalnya," ujarnya tanpa rasa bersalah. "Syihab! Ja.... Jangan bilang kamu.... Pakai ****** ***** ayah?" Ghozali mencoba menebak, sayangnya Stihab langsung berlari menuju kamarnya.


Saat itulah Ghozali mencoba menghentikannya. "Kembalikan! Kamu sudah punya sendiri kenapa pakai punya ayah?" tanya Ghozali, ia terus menarik-narik lengan Syihab. Sayangnya mereka berdua sama-sama kuatnya sehingga tidak ada yang mau mengalah.

__ADS_1


"Apakah mereka berdua selalu akrab seperti ini? Aku malah mengira kak Syihab itu adik ayah," ujar Asyraf. "Huh, mereka berdua memang selalu begitu di rumah. Tunggu saja, pasti ada salah satu benda di rumah ini yang akan rusak karena mereka berdua," ujar Shadiq.


"Heh? Sepertinya keluarga ini benar-brnar menyenangkan, yah!" seru Asyraf. Melihatnya tersenyum bahagia membuat Shadiq merasa tenang. Ia tidak menyangka Asyraf yang setiap hari suka menegurnya kali ini tersenyum ramah padanya.


__ADS_2