Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Tiga tahun kemudian


__ADS_3


Aisyah masih terus terbaring di rumah sakit, wajahnya semakin tirus dan pucat, bahkan lekukan di rahangnya mulai terlihat.


"Kapan kau akan sadar, sayang? Kumohon! Bangunlah! Aku selalu menunggumu di sini! Anak-anak kita sudah semakin dewasa!" ujar Ghozali. Ia terus duduk di samping Aisyah sambil mengusap-usap tangannya.


Setelah beberapa menit menjenguk istrinya itu, ia pun kembali bekerja, ia harus mengecek semua kondisi pasiennya lalu pergi menjemput Syihab. Hari ini adalah hari kelulusannya beserta acara perpisahan.


Akhirnya Ghozali bisa menuntaskan pekerjaannya lalu berpamitan dengan direktur. Ia pun segera pergi ke rumah untuk bersiap-siap.


"Mas Ghozali, ini saya sudah persiapkan bekalnya dengan Zahra! Anakmu semakin pandai memasak," ujar Wak Lehah. Zahra hanya bisa tersenyum malu mendengar pujian Wak Lehah.


"Wah, Zahra memang hebat! Panggilkan adik-adikmu, kita akan pergi ke tempat Syihab," ujar Ghozali.


"Benarkah? Kita mau ketemu kak Syihab?" tanya Shadiq bersemangat, sedangkan Hasan sudah tidak tertarik lagi untuk bertemu kakak pertamanya itu.


Semakin besar, anak-anak itu memiliki pola bermain yang berbeda-beda. Shadiq hampir mirip seperti Syihab, suka berolahraga, terlebih lagi main bola. Sedangkan Hasan, ia masih suka berada di rumah sambil sesekali mencoba memasak bersama Zahra.


Yang tidak berubah hingga sekarang adalah Shahih. Anak itu tidak pernah berbicara layaknya orang bisu. Bahkan Ghozali kesulitan untuk mendekatinya karena susah diajak bicara.


Akhirnya anak-anak itu langsung naik ke mobil dengan semangat, kecuali Shahih, ia tampak biasa saja. Jika Zahra tidak membujuknya, anak itu mungkin tidak akan ikut.


Akhirnya mobil pun melaju ke jalanan. Zahra dan Hasan sempat melambaikan tangan ke arah Wak Lehah.


"Nggak boleh gitu, Zahra, Hasan! Ntar kalau nabrak orang lain gimana?" tegur Ghozali. Zahra dan Hasan langsung berhenti melambaikan tangan lalu menggaruk-garuk kepala dengan perasaan bersalah.


Mereka tampak menikmati perjalanan itu sedangkan Shahih hanya fokus membaca buku.


"Shahih, jangan lihat buku terus! Nanti mual loh!" ujar Ghozali. Akhirnya Shahih menutup bukunya lalu mulai menatap jalanan.


Ghozali merasa senang anak itu bisa merespon perkataannya. Padahal dulu ia tampak seperti anak yang tuli dan bisu.


Setelah beberapa jam melaju, akhirnya mereka sampai di tempat Ghozali. "Ayo masuk, anak-anak!" seru Ghozali. Sayangnya Shahih merasa enggan. Ia tidak ingin masuk karena terlalu ramai.


"Shahih! Ayo masuk! Tunggu apa lagi?" Ghozali keheranan. Shahih menggelengkan kepala.


Karena acara hampir dimulai, Ghozali pun masuk dengan terburu-buru. "Eh, Shahih! Jangan pergi-pergi dari situ! Pokoknya tunggu ayah keluar," ujar Ghozali kemudian kembali masuk ke dalam.


Shahih pun duduk di kursi tunggu lalu membaca bukunya sambil mengayunkan kaki. Beberapa menit kemudian seorang remaja duduk di sampingnya. Remaja itu sibuk memainkan ponsel.

__ADS_1


"Abdullah Yusuf Al Ghifari." Shahih mencoba menyebut nama itu dengan mulutnya. suaranya masih terdengar kecil dan serak. Ini pertama kalinya ia bersuara setelah tiga tahun berlalu.


Ia tidak menyangka bahwa ia benar-benar kehilangan suaranya. "Adek mengenalku?" tanya remaja yang ada di sampingnya. "Nametag," ujar Shahih singkat, ia tidak bisa bicara banyak karena suaranya serak.


"Oh, benar sekali! Kelihatan jelas ya? Kirain adek lagi baca buku tadi," ujar remaja itu. "Ponselnya bagus," ujar Shahih, ia semakin dekat dengan remaja itu.


"Sialan! Kalau sudah tanya gini, dia pasti pengin pinjam buat main Game!" pikir remaja itu dengan kesal.


"Bisa buat main game kak?" tanya Shahih. "Tuh kan! Apes banget aku duduk di sini!" ujar remaja itu dalam hati, ia berharap orang tua anak itu segera datang dan membawanya pergi.


"Nggak kok, nggak ada game nya," ujar remaja itu. "Shahih cuma tanya itu bisa dimain apa nggak," ujar Shahih. "Apaan sih ni anak?" remaja itu makin kesal.


"Kayaknya banyak banget gamenya itu! Shahih sempat lihat," ujar Shahih. "Mampus aku!" pikir remaja itu.


"Tenang saja, Shahih nggak tertarik buat main kok, ntar mata Shahih cepat rusak," ujar Shahih. "Buset dah ni anak! Kayak tukang ramal saja!" pikir remaja itu, pandangannya terhadap Shahih pun mulai berubah. Ia terus menatap pakaian yang Shahih kenakan.


"Beli baju di mana dek? Bagus sekali? Mau daftar di pesantren inikah?" tanya remaja itu. Ia terkesan karena Shahih mengenakan gamis itu dengan percaya diri, mang pakaian itu sangat cocok untuknya.


"Nggak tahu," ujar Shahih singkat. "Eh? Nggak tahunya di bagian mana tempat beli bajunya atau daftar pesantrennya?" sekilas remaja itu dibuat bingung dengan jawaban Shahih.


"Kakak punya pacar banyak yah kak?" tanya Shahih tiba-tiba. "Eh? Nggak kok! Nggak punya," ujar remaja itu.


"Tiga! Kakak punya tiga," ujar Shahih. "Tahu dari mana nih anak! Bener-bener Kayak dukun! Sepertinya harus diruqyah!" pikir remaja itu.


"Nggak baik loh kak! Mereka itu perempuan! Sama kayak ibu kakak! Kalau ibu kakak dipermainkan gitu gimana? Kalau nggak, anggap saja kakak mempermainkan ibu kakak sendiri," ujar Shahih. Perkataannya benar-benar menusuk di dada.


Mungkin saja raja itu tidak akan sadar jikalau yang mengatakan hal itu adalah orang dewasa. Sayangnya kali ini berbeda, anak kecil yang secara langsung menasehatinya, hal itu membuatnya langsung sadar bahwa dirinya lebih rendah dari anak kecil itu.


"Kakak tahu sebutannya kan? Ehm, itu loh! Buaya darat," ujar Shahih. Lagi-lagi perkataannya langsung menusuk di hatinya. Remaja itu hanya bisa melongo setelah Shahih menjulukinya dengan julukan 'buaya darat'.


"Shahih! Ayo ikut ke dalam kita mau ketemu kakak!" ujar Zahra. Ia terkejut saat melihat mulut Shahih bergerak di hadapan seorang remaja. Zahra pun langsung menghampirinya.


"Kamu.... kamu bicara?" Zahra benar-benar tidak percaya. Ia semakin terkejut melihat remaja di samping Shahih tampak terpuruk.


"Duh maafkan adekku kak, dia jarang bicara jadi mungkin bikin kakak marah," ujar Zahra. "Nggak papa kok, dia nggak bikin kakak marah," ujar remaja itu.


Sekilas melihat senyuman ramah remaja itu membuat Zahra terdiam sejenak. Entah kenapa ada sesuatu yang bergejolak di hatinya. Seperti hendak bertemu dengan ayahnya yang baru saja selesai bekerja, namun gejolak itu terasa asing baginya.


Zahra yang tampak malu-malu pun langsung menarik lengan Shahih. "Sampai jumpa lagi kak 'buaya darat'!" ujar Shahih sambil melambaikan tangan. Zahra langsung membawa Shahih ke ruang tunggu, di sana terdapat Shadiq dan Hasan yang sedang bermain dengan ponsel milik Ghozali. Shahih tidak tertarik meskipun mereka berdua tampak sangat asyik bermain.

__ADS_1


Di sisi lain Ghozali tengah duduk di antara banyaknya ribuan orang tua yang hendak menyaksikan acara itu. Sebenarnya tidak semua anak akan tampil di depan panggung itu.


Selain yang akan menayangkan hiburan, ada beberapa anak yang dipilih sebagai anak-anak yang berprestasi untuk mengisi sambutan.


Saat itulah Ghozali melihat anaknya yang tampak gagah dengan jas hitam maju ke depan panggung. Orang-orang langsung bertepuk tangan padanya, apalagi saat MC menyebutkan berbagai prestasinya dan peringkatnya.


Tepuk tangan pun semakin meriah, meskipun bukan yang terbaik, Ghozali merasa sangat bangga melihat anaknya berdiri di depan sana, sedangkan saat itu orang-orang juga menyaksikan.


Setelah selesai memberikan beberapa kata sambutan, orang-orang langsung bertepuk tangan. Begitu pula Ghozali, tidak sia-sia ia datang ke sini dan bisa melihat kebanggaan dari anak-anaknya, ia sangat terharu hingga matanya berkaca-kaca.


Akhirnya ia pun melepaskan kacamatanya untuk menyeka air matanya. Saat itulah Syihab yang ada di depan langsung menyadari keberadaannya. Setelah mengucapkan salam penutup, ia langsung turun dari panggung.


Ia turun melalui tengah-tengah panggung dan melangkah menuju kursi ayahnya, saat itulah orang-orang langsung melihat kemana anak itu pergi.


Ghozali sendiri sempat kebingungan, anak itu berdiri di hadapannya, Ghozali pun ikut beranjak sedang Syihab langsung memeluknya.


"Duh! Kenapa ini, Syihab?" Ghozali sempat canggung karena Syihab memeluknya di hadapan orang-orang. "Bukan apa-apa,aku sangat senang ayah bisa datang ke sini," ujar Syihab sambil memeluk ayahnya erat-erat, ia masih sedih karena tidak bisa melihat ibunya datang.


"Syi... Syihab, ayah agak malu di sini," ujar Ghozali tidak nyaman. Syihab pun tertawa, akhirnya ia mengajak ayahnya ke belakang panggung.


"Hei, Syihab! Wah.... keren banget kamu sih!" seru Ifan, saat ia menyadari keberadaan ayah Syihab, ia langsung tersenyum ramah dan menyapanya.


"Wah, bapak dan anak benar-benar terlihat sama persis begini! Sama-sama gantengnya! Perlukah saya mengambil foto?" tanya Ifan.


Ghozali hendak menolak sayangnya Syihab langsung mencegahnya melakukan itu. "Fotolah kami berdua! Bukankah ayahku ini pria yang sangat keren? Kamu bakal jarang ketemu dengannya loh," ujar Syihab.


"Wahahaha! Benar sekali! Sangat keren! Kayak bos Mafia!" seru Ifan sambil mengacungkan jempol, ia pun langsung mengambil gambar dari mereka berdua.


Setelah selesai, Ghozali pun mengajak Syihab ke ruang tunggu, untuk bertemu dengan adik-adiknya.


Shadiq pun langsung menyambutnya dengan gembira, ia langsung menghampiri Syihab, namun Zahra dan Hasan malah memberikan tatapan aneh padanya.


"Eh? Kalian berdua kenapa?" tanya Syihab keheranan. "I... ini kak Syihab? Kenapa rupanya mirip monyet?" tanya Hasan terus terang. "Mo... monyet?" Syihab langsung terpuruk setelah mendengar kesan adiknya terhadapnya.


"Monyet dari mananya? Kak Ghozali ganteng banget gini kok!" ujar Shadiq. "Nggak lah, menurut kakak emang kayak monyet kok," ujar Zahra.


"Lah, Zahra malah ikut-ikutan," Syihab semakin terpuruk. "Heh, Jangan gitu dong! Kalau Syihab kayak monyet, berarti ayah katak monyet juga dong," ujar Ghozali.


"ih! Nggak lah! Ayah sama Syihab beda banget!" ujar Zahra kesal. Ghozali dan Syihab hanya tertawa saat melihat tingkah Zahra. Karena dia satu-satunya anak perempuan di keluarga Ghozali, kelakuannya paling banyak diperhatikan.

__ADS_1


__ADS_2