Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Persaudaraan II


__ADS_3

"Daddy! Aku minta uang boleh nggak, Daddy?" tanya Faisal. Entah kenapa hari-hari ini ia sering mengganggu Syihab. "Diamlah, aku lagi bingung mau bicara apa ke adikku," ujar Syihab.


"Daripada buang-buang waktu untuk itu, lebih baik kau nyapu lantai sekarang! Ini jadwal piketmu loh!" ujar Ifan. Syihab tampak enggan mendengarkan, ia langsung berbaring di dipannya lalu berbalik badan membelakangi Ifan sambil memeluk bantal gulingnya.


"Syihab, piket dulu! Ntar dimarahin Ifan loh!" ujar Faisal, namun Syihab tetap malas, ia enggan mendengarkan.


"Argh! Syihab! Ntar adikmu aku ambil loh! Besok habis lulus langsung aku lamar dia! Mau?" tanya Ifan.


Syihab pun langsung beranjak dari tempat tidurnya dan merebut sapu yang dipegang Ifan.


"Sikapmu mencurigakan sekali! Lagian kenapa sangat sensitif jika kami berbicara menyangkut adikmu?" tanya Faisal keheranan.


"Over protektif sekali! Kalau begitu.... aku nggak boleh ambil adikmu? Nggak boleh menikahinya? Kenapa?" tanya Ifan keheranan.


"Bu... bukan apa-apa kok, aku akan menyapu, jadi nggak usah banyak tanya," ujar Syihab. "Aneh! Jangan-jangan kau suka sama adikmu sendiri?" tanya Faisal.


"Kau gila? Bukan begitu! Menikah itu harus suka sama suka kan? Adikku belum tentu suka padamu, aku nggak bisa langsung setuju," ujar Syihab.


"Lah? Memangnya kau tahu apa yang dipikirkan adikmu? Kenapa dia nggak suka denganku?" tanya Ifan keheranan.


"Lah, mau suka gimana? Kakaknya saja seganteng ini, mana mungkin dia tertarik denganmu," ujar Syihab.


"Oh? Kau mau bilang kalau aku jelek?" tanya Ifan. "Bukan begitu! Argh! Kalian ini benar-benar mengesalkan sekali! Pokoknya aku nggak setuju kalian menikahi adikku!" ujar Syihab.


"Lah? Terus yang boleh nikah sama adikmu siapa?" tanya Ifan. "Hmm! Mungkin si Cogan," ujar Faisal.


"Cogan siapa?" tanya Ifan. "Itu loh! Si Rifan dari kelas IPA, dia terkenal paling ganteng diangkatan kita kan?" ujar Faisal.


"Nggak! Nggak boleh dia! Pokoknya nggak boleh! Adikku nggak mungkin mau sama orang bodoh kayak dia! Apalagi matanya terlalu sipit!" ujar Syihab.


"Ya elah! Perempuan sekarang sukanya yang begituan, Syihab! Mereka lebih suka yang mirip-mirip K-Pop," ujar Ifan.


"Nggak lah, adikku nggak doyan lihat begituan!" ujar Syihab. "Kalau begitu.... masih ada satu orang yang mungkin sih, yang gantengnya bisa dibilang setara sama Syihab," ujar Ifan.


"Babeh Yusuf," ujar Faisal. "Apa lagi itu? Tadi Cogan, sekarang babeh," ujar Syihab keheranan.


"Iya sih, cuma dia yang Daddy Face banget kayak Syihab, dia juga dijuluki Babeh gara-gara muka borosnya," ujar Ifan.


"Babeh Yusuf yang mana sih? Aku nggak pernah denger," ujar Syihab. "Ya elah, dulu juga sering main bola bareng kok, waktu SMP," ujar Faisal.

__ADS_1


"Tapi sekarang dia lebih kalem daripada dulu loh! Dulu julukannya buaya darat gara-gara suka pamer pacar," ujar Faisal.


"Pacarnya seksi-seksi banget! Kelihatan kayak wanita dewasa semua," ujar Ifan. "Yeah, mukanya juga tua, pasti pacarnya tua-tua juga kan? Aku nggak bisa bayangin dia pacaran sama anak SMP, kayak bapak sama anak jadinya," ujar Faisal.


"Tapi kok sekarang diam saja ya? Ia bahkan jarang ngobrol dengan kita," ujar Ifan keheranan.


"Heleh! Paling gara-gara diputusin sama pacarnya! Dia juga anak IPA kan? Akhir-akhir ini angkatan kita yang masuk jurusan IPA mulai jaga jarak! Mereka terlihat gengsi ngobrol dengan kita!" ujar Syihab kesal.


"Leh, biarkan saja! Guru-guru juga nggak nyangka kau yang pintar lebih memilih jurusan IPS, kita bisa buktikan, orang pintar itu bukan cuma yang ambil jurusan IPA doang!" ujar Faisal.


"Tapi kenapa di IPS juga ada matematika segala? Merepotkan sekali! Nggak suka aku sama pelajaran itu!" ujar Ifan.


"Aku juga, tapi Syihab tampak menikmati pelajaran itu," ujar Faisal. "Nggak usah bandingin dia dengan kita! Dia orang pintar!" ujar Ifan.


"Ish! Kalian ini bicara apa sih? Kalau nggak suka sama pelajarannya, paling tidak sukai gurunya aja! Guru matematika adalah bu Anita! Kenapa harus malas?" tanya Syihab sambil merangkul kedua temannya.


"Kau nggak takut setiap hari godain bu Anita? Kalau sampai ustadz Alfa tahu gimana?" tanya Faisal. "Bukan masalah! Oh, iya.... aku mau ketemu adikku dulu!" ujar Syihab kemudian pergi keluar kamar, ia sengaja meninggalkan tugas piketnya.


Ia langsung pergi ke kamar Shadiq dan Hasan, saat itu kamar tampak sepi. Hasan sedang merapihkan lemari sedang Shadiq sedang berbaring di dipan sambil melamun.


Melihat adiknya yang termenung itu, Syihab pun langsung menghampirinya dan tidur dengan kepala di atas perut Shadiq.


"Ka... kakak ngapain tidur di situ?" tanya Shadiq dengan wajah tidak nyaman. "Loh? Kenapa? Nggak boleh? Kakak sering lihat Hasan jadiin perutmu sebagai bantal loh!" ujar Syihab.


"Lah! Kepala kakak berat! Besar banget! Bikin sesak nafas tahu!" keluh Shadiq. "Iya-iya maaf!" ujar Syihab kemudian menggeser kepalanya agak ke bawah sedikit.


Seketika Shadiq tersentak, ia benar-benar tegang karena Syihab tidur di bagian bawah perutnya. "Ka... kak! Ja... jangan di situ," ujar Shadiq, ia benar-benar malu hendak mengatakan apa.


"Ada apa Shadiq?" Syihab keheranan, sayangnya anak itu tampak malu sambil menutupi wajahnya.


"Whoa! Punyamu besar sekali, Shadiq!" ujar Syihab. "Kak! jangan gitulah! Ntar Hasan dengar!" ujar Shadiq.


Akhirnya Syihab pun beranjak dari posisi tidurnya, ia hendak menjentikkan jarinya ke ************ Shadiq.


"Kalian berdua lagi ngapain?" tanya Hasan keheranan. Shadiq langsung duduk lalu menggelengkan kepala, wajahnya masih merah karena malu.


"Kakak ngapain ke sini?" tanya Hasan. "Shahih mana?" Syihab balik bertanya. "Ntah, mungkin di kelas," jawab Hasan.


"Hari libur gini ngapain ke kelas?" Syihab keheranan. "Mungkin dia cari tempat sepi, di kamar ini sering berisik," ujar Shadiq.

__ADS_1


"Kalau begitu bisa panggilkan Shahih? Kakak mau ajak kalian pergi ke tempat Zahra," ujar Syihab. "Wah! Benarkah?" Hasan tampak bersemangat, namun Shadiq langsung terbaring lemas, ia tampak enggan.


Hasan pun langsung berlari ke luar kamar untuk mencari Shahih. Belum ada lima menit ia sudah kembali dengan Shahih. "Cepat sekali!" ujar Syihab.


"Aku belum ketemu kak Zahra loh! Udah berapa bulan ini?" Hasan semakin bersemangat. Akhirnya Syihab mengajak mereka keluar dari asrama untuk menemui Zahra.


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka pun melihat Zahra sedang duduk di tepian sungai irigasi.


Zahra langsung berdiri saat melihat wajah yang sudah lama tidak ia lihat. Ia langsung berlari menghampiri mereka. Ia langsung memeluk Shahih.


"Syukurlah Shahih! Syukurlah kamu baik-baik saja!" ujar Zahra sambil meneteskan air mata. "Kak! Sesak nafas tahu! Dada kakak terlalu besar!" keluh Shahih. Perkataannya membuat Shadiq dan Syihab terdiam seribu kata.


"Dadanya terlalu besar katanya!" Hasan langsung tertawa terbahak-bahak, Zahra pun melepaskan pelukannya dari Shahih dan menghadap Hasan sambil berkacak pinggang.


"Oh, kamu Hasan? Kamu kok jadi imut sekali! Pipimu sangat besar!" seru Zahra gemas sambil mencubit pipi Hasan.


"Shadiq kenapa diam saja? Bukankah kamu yang paling ingin bertemu kak Zahra?" tanya Syihab.


"Eh? Heh? A... aku? Aku nggak kok! Aku nggak pengin!" ujar Shafiq malu-malu, wajahnya benar-benar memerah.


"Si Shadiq benar-benar lucu seperti biasanya! Kalau nggak pengin ketemu kakak, berarti kamu nggak kangen dong?" tanya Zahra.


"Eh? Bu... bukan begitu! Maksudku.... ehm eh..." Shadiq tampak terlalu gagap untuk bicara. "Bercanda kok," ujar Zahra sambil merangkul bahu Shadiq, ia sempat terkejut karena Shadiq lebih tinggi dari terakhir kali ia mencoba merangkulnya.


"Padahal cuma beberapa bulan tapi kamu makin tinggi saja!" ujar Zahra, Shadiq hanya menundukkan kepala sambil tersenyum.


"Ngomong apa kek! Diam terus! Kok kamu malah yang jadi mirip kayak Shahih dulu! Padahal sekarang Shahih juga banyak bicara loh!" ujar Hasan.


Saking canggungnya, kali ini Shadiq tidak gagap lagi, namun terisak. "Heh? Shadiq kenapa? Kenapa nangis?" tanya Zahra keheranan.


Shadiq tidak bisa bicara karena terus terisak, ia benar-benar bingung dengan suasana itu hingga menangis tanpa sadar.


"Dih kok nangis! Apanya yang bikin kamu sedih? Ada apa sih?" Hasan juga tidak mengerti apa yang ada di pikirannya hingga menangis.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan dari dalam gerbang, akhirnya Zahra berubah murung. "Sepertinya waktunya sudah habis, aku kembali dulu," ujar Zahra sambil berbalik badan, ia hendak masuk kembali ke asrama.


Karena khawatir, Syihab langsung menahan lengannya. "Zahra kamu baik-baik saja kan? Kamu nggak papa kan?" tanya Syihab dengan wajah cemas.


Zahra tampak tidak ingin menunjukkan wajahnya, ia hanya mengangguk lalu masuk ke dalam asrama.

__ADS_1


__ADS_2