Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Keajaiban


__ADS_3

"Syihab, bisakah kamu jenguk ibumu duluan? Ayah sedang banyak kerjaan, nanti kami menyusul," ujar Ghozali.


"Loh? Kenapa aku?" tanya Syihab kebingungan. "Jangan suruh Syihab, ayah! Dia nggak bisa ngapa-ngapain, nggak becus!" ujar Zahra, ia tampak dengan senang hati mengajukan diri.


"Okelah! Syihab, kamu temenin adikmu jenguk ibu ya! Ayah sedang ada urusan sebentar!" ujar Ghozali, ia tampak tergesa-gesa. Zahra dan Syihab tidak bisa mengeluhkan apapun karenanya.


"Ya elah, kenapa aku harus pergi sama gorila ini?" Zahra tampak kesal, ia semakin muak melihat wajah Syihab, apalagi setelah mengetahui bahwa kakaknya itu tidak bisa berbuat apa-apa.


"Hei, Zahra! Jaga omonganmu loh! Kalau


nggak, aku nggak akan temenin kamu ke rumah sakit," ujar Syihab.


"Terserah, aku sudah biasa pergi ke sana sendiri kok! Yang ada mungkin ayah bakal marah kalau sampai nggak lihat kamu di sana," ujar Zahra. Akhirnya mau tidak mau Syihab pun mengikutinya ke rumah sakit.


Sesampainya di sana Syihab hanya menengok ke sana kemari tanpa alasan yang jelas, dan itu membuat Zahra sangat kesal. "Kamu ini benar-benar mirip ayah! Sebenarnya apa yang kalian lihat sih sampai nggak bisa berjalan dengan tenang! Risih tahu kalau dilihat!" keluh Zahra. Syihab hanya bisa tertawa sambil menggaruk-garuk kepala.


"Tuh, kan! Kebiasaan kalian sama saja! Nggak usah pakai garuk-garuk kepala segala!" ujar Zahra.


"Jangan kesal begitu dong, Zahra! Kalau ibu dengar, ntar dia jadi sedih," ujar Syihab mengingatkan. "Yang ada adalah dia sedih karena lihat anak pertamanya bodoh dan manja, bahkan nggak tahu harus berbuat apa saat ibunya terbaring di rumah sakit," sindir Zahra.


"Yeah, emangnya apa yang harus kulakukan, Zahra?" tanya Syihab. "Makanya perhatikan baik-baik! Matamu jangan jelalatan ke mana-mana!" tegur Zahra.


Akhirnya Syihab pun duduk manis di kursi sambil memerhatikan apa yang Zahra lakukan.


Sayangnya semakin lama ia menatapnya, ia malah melamun dengan pikiran kosong, ia tidak benar-benar memerhatikan Zahra.


Akhirnya Zahra pun menepuk pundaknya agar ia sadar. "Kamu memerhatikan atau sedang tidur?" tanya Zahra keheranan. "Oh, sudah selesai? Ma... maaf Zahra, aku agak bosan jadi nggak sengaja melamun," ujar Syihab.


"Makanya, lakukan sesuatu biar nggak bosan!" ujar Zahra kemudian berkemas. "Mau ke mana?" tanya Syihab. "Ada beberapa barang yang ketinggalan, aku mau ambil dulu sebelum ayah ke sini, ntar dia marah!" ujar Zahra tampak terburu-buru.

__ADS_1


"Eh, biar aku saja yang ambil," ujar Syihab. "Lah, kamu nggak tahu apa-apa! Jaga ibu saja di situ," ujar Zahra kemudian pergi.


Akhirnya suasana ruangan menjadi begitu senyap, Syihab hanya bisa memerhatikan wajah pucat ibunya yang begitu kurus, dan itu membuatnya iba.


"Bu, sudah berapa lama ibu di sini? Aku ini sudah dewasa loh bu. Bangunlah! Ibu nggak penasaran? Aku juga nggak kalah gantengnya dengan ayah. Kami semua sudah semakin besar bu, bahkan Zahra juga semakin mirip ibu," ujar Syihab sambil menempelkan tangan ibunya ke pipinya.


Ia pun mencoba memijat kaki ibunya beberapa kali seperti yang Zahra lakukan. "Maaf ya bu, kalau aku nggak bisa berbuat apa-apa. Ibu tahu sendiri kan kalau aku anak yang paling manja? Seenggaknya bangunlah, bu! Lihatlah bagaimana wajah anakmu ini!" Syihab terus memohon tanpa henti.


Ia tahu kalau semua yang ia lakukan itu sia-sia, ia hanya mencoba untuk menghibur dirinya sendiri selagi berada di sisi ibunya.


Tak lama kemudian ia pun tertidur lelap di samping dipan sambil menggenggam tangan ibunya.


Entah sudah berapa lama terlelap, Syihab merasakan sesuatu yang bergerak di genggamannya. Hal itu membuatnya bangun karena terkejut.


Setelah memeriksa, ternyata itu adalah tangan ibunya. Gerakan jemarinya tidak terkesan pasif, tidak kejang, namun memang gerakan yang disengaja.


Akhirnya Syihab mencoba mengucek mata dan mendapati ibunya sedang meliriknya. Tentu saja hal itu membuatnya tercengang, ia tidak bisa berkata-kata karena saking terkejutnya.


Aisyah perlahan membuka matanya, dan itu masih sangat samar. Ia hanya melihat seorang pria yang sedang duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Ia pun mencoba melepaskan genggaman dari tangan pria itu.


"Mas Ali?" ucapnya dengan suara lirih, mulutnya masih tampak miring karena sudah lama tidak digerakkan.


"Mas Ali? Itukah kamu? Sepertinya kamu baik-baik saja yah!" ujar Aisyah dengan suara yang kacau balau.


"Gimana keadaan keluargamu sekarang bersama istri barumu? Kuharap kalian bahagia," ujar Aisyah dengan mata berkaca-kaca, ia sebenarnya tidak rela karena dirinya terbaring di rumah sakit sedangkan pria yang berada di sampingnya tampak baik-baik saja, bahkan segar bugar.


"Dih, ibu bilang apa sih? Istri baru? Aku belum menikah loh, ibu!" ujar pria yang ada di sampingnya itu dengan wajah kebingungan.


"Kamu... kamu..." Aisyah merasa rahang mulutnya kaku hingga kesulitan untuk berbicara. "Ini aku loh bu! Syihab!" ujar pria itu.

__ADS_1


Aisyah pun terkejut mendengar perkataan pria itu, ia mencoba melihat dengan jelas, ternyata ia salah mengira kalau Syihab adalah Ghozali.


"Syihab?" Aisyah mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. "Iya bu! Benar sekali! Ini aku! Syihab! Ibu masih ingat aku kan bu?" tanya Syihab penuh semangat, ia benar-benar kegirangan melihat ibunya membuka mata, ia sangat terharu hingga menangis tersedu-sedu.


Tak lama kemudian Ghozali pun datang, ia tidak mengerti kenapa Syihab menangis, ia pikir sesuatu yang buruk terjadi pada Aisyah. Akhirnya ia langsung menjatuhkan barang bawaannya dan berlari ke arah dipan untuk memeriksa.


Ia benar-benar terkejut melihat Aisyah yang baru saja membuka mata. "Sayang? Kamu sudah bangun? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Ghozali, saking tidak percayanya, ia mendekatkan wajahnya pada Aisyah.


Melihat wajah Ghozali yang tampak pucat dan semakin menua, mata Aisyah kembali berkaca-kaca. "I... ini kamu mas?" Aisyah tidak percaya, suaminya yang dulu segar bugar kini sudah mulai beruban dengan wajah yang pucat pula.


"Sudah berapa lama sampai kamu setua ini?" tanya Aisyah, ia berusaha menyentuh wajah suaminya itu, namun ia tidak mampu mengangkat tangannya. Akhirnya Ghozali pun menempelkan telapak tangan Aisyah pada wajahnya.


"Benar sekali, sayang! Aku sudah mulai menua," ujar Ghozali terharu, ia tidak bisa berhenti menangis di hadapan istrinya.


Aisyah terus memandangi wajah Syihab, ia tidak menyangka anak kecil ingusan itu sekarang sama gagahnya seperti Ghozali.


"Gimana dengan anak-anak lainnya?" tanya Aisyah penasaran. Ia merasa sedih melewatkan masa pertumbuhan anak-anaknya.


Tak lama kemudian Zahra pun datang, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga ayah terlihat menangis tersedu-sedu di samping dipan. Saat itu juga dadanya terasa sesak, ia pikir ada kabar buruk yang menimpa ibunya.


Akhirnya ia mencoba melangkah perlahan menghampiri mereka dengan ragu-ragu. Detak jantungnya masih berdebar cepat, ia sangat takut kalau-kalau sesuatu yang buruk menimpa ibunya.


Ia pun langsung merasa lega setelah melihat ibunya yang mulai membuka mata, bahkan bisa berbicara. Perasaan leganya langsung membuatnya terduduk lemas, ia langsung memeluk ibunya yang sedang terbaring itu.


"Ibu! Kenapa lama sekali bangunnya!" ujarnya sambil menangis tersedu-sedu. Aisyah terkejut melihat putrinya begitu mirip dengannya, di sisi lain ia merasa senang, ia juga khawatir karena tangan Zahra yang tampak kasar itu.


"Maafkan ibu, nak! Kamu pasti sangat lelah hidup seperti ini tanpa ibu," ujar Aisyah, ia terus mengusap-usap telapak tangan Zahra yang besar dan kasar.


Tak lama kemudian dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Aisyah. Setelah memastikan kondisinya, dokter memberikan saran rehabilitasi untuk memulihkan tubuh Aisyah agar bisa beraktivitas kembali.

__ADS_1


"Anak-anak yang lain di mana?" tanya Aisyah penasaran. "Mereka berempat masih di rumah," ujar Zahra. "Berempat? Maksudmu Asa juga ada di rumah?" tanya Aisyah.


"Benar sekali, sayang. Asa sudah ditemukan, dia sekarang berada di rumah," ujar Ghozali. "Benarkah? Aku ingin lihat seperti apa rupanya! Bisakah kamu membawanya ke sini, mas?" pinta Aisyah. Akhirnya Ghozali pun kembali ke rumah untuk membawa keempat anak kembarnya.


__ADS_2