Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Liburan


__ADS_3


Rofiq tak kunjung menemukan Shahih, selama beberapa bulan ini mencari, akhirnya ia pun menyerah. Ia bahkan tidak kenal dengan Shahih dan itu tidak membuatnya merasa kehilangan, ia bahkan berpikir bahwa sosok Shahih itu sebenarnya tidak ada.


Kepolisian juga tidak menemukan petunjuk apapun, mereka tidak bisa membantu mencarinya lagi.


Akhirnya keberadaan Shahih terlupakan begitu saja, apalagi saat ini orang tua kandungnya tidak ada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rofiq mendapati Shadiq sedang berada di kamar mandi pada malam hari, anak itu terkejut karena menyadari bahwa Rofiq sedang berada di belakangnya.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Rofiq keheranan. "Ng... nggak ngapa-ngapain kok, baru baung air besar tadi," ujar Shadiq kemudian berlari ke dalam kamar.


Rofiq sempat curiga dengan gerak-geriknya lalu mengabaikannya begitu saja. Keesokan harinya kamar tamu tampak begitu gaduh, Hasan tertawa terbahak-bahak tiada henti.


Akhirnya Rofiq memeriksa apa yang sedang terjadi. "Ada apa Hasan? Pagi-pagi kok berisik sekali!" tegur Rofiq. "Paman! Lihat deh! Sini! Sini!" seru Hasan.


"Ah, paman lagi buru-buru! Mau jemput Zahra dan Syihab," ujar Rofiq. "Sudahlah, sini sebentar!" ujar Hasan sambil menarik lengan Rofiq. Anak Ghozali yang satu ini mudah akrab dengan semua orang, tidak seperti Shadiq yang masih suka malu-malu.


Sebenarnya anak Ghozali yang masih canggung saat bertemu dengannya adalah Shadiq dan Syihab, mereka berdua selalu menghindar dari Rofiq setiap kali ada kesempatan.


Berbeda dengan Zahra dan Hasan, mereka berdua tampak begitu ramah saat bertemu dengan orang lain meskipun terkadang sangat merepotkan.


Hasan pun sama, ia sering kali memaksa Rofiq untuk melakukan sesuatu seolah pria itu adalah ayahnya sendiri.


Hasan pun memaksa Rofiq masuk ke dalam kamar sedangkan Shadiq sedang terikat di sudut ruangan.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa Shadiq ada di situ?" tanya Rofiq keheranan. "Lihat ini deh!" seru Hasan sambil menahan wajah Shadiq. Rofiq pun terkejut saat melihat kumis yang tumbuh di wajah Shadiq,padahal ia masih kecil.


"Shadiq kumisan!" seru Hasan sambil tak bisa berhenti tertawa. "Lepaskan dia, kasihan loh! Dia kakakmu, nggak baik kayak gitu!" ujar Rofiq. Akhirnya Hasan melepaskan tali rafia yang mengikat tubuh Shadiq.

__ADS_1


Shadiq sempat menyembunyikan wajahnya di sudut ruangan. "Tuh kan! Gara-gara kamu sih!" ujar Rofiq. "Lah kok nangis! Cuma gitu doang kok!" ujar Hasan kecewa. Meskipun begitu Shadiq tetap menyembunyikan wajahnya di pojok ruangan sambil terisak.


"Shadiq? Shadiq! Kamu nggak papa kan? Nggak usah nangis! Nggak papa kok!" ujar Rofiq berusaha menenangkan anak itu.


Ia pun mencoba membalik badan Shadiq dan mendapati anak itu menangis sambil menutupi mulutnya, entah kenapa hal itu membuat Hasan tertawa, bahkan Rofiq sendiri juga ikut tertawa.


"Cup! Cup! Sudah, jangan nangis!" ujar Rofiq, ia pun membawa Shadiq ke dalam kamarnya lalu mengunci pintunya.


Tangisan Shadiq pun reda, anak itu masih kebingungan karena Rofiq terus memperhatikannya dari daun pintu. Ia tidak tahu apa yang sedang pria itu nantikan.


Setelah Shadiq tenang, Rofiq pun menghampirinya dan menatap matanya. "Shadiq, jawab pertanyaan paman loh! Jangan malu-malu yah! Harus jujur!" ujar Rofiq. Shadiq hanya bisa menelan ludah karena pria itu tampak serius.


"Kamu sudah pernah mimpi basah?" tanya Rofiq. Shadiq langsung terdiam, ia bahkan tidak berani menatap Rofiq. Pria itu sudah tahu jawabannya.


"Sejak kapan?" tanya Rofiq. "Ke... kelas tiga SD," jawab Shadiq. Rofiq langsung meraup wajah dan mengerutkan dahi, akhirnya ia tahu alasan mengapa Ghozali memisahkan kamar untuk anak-anaknya sejak kecil.


Shadiq benar-benar merasa malu, ia merasa tidak nyaman berada di hadapan Rofiq. "Berarti yang tadi malam kamu lakukan itu......" Rofiq hendak menebak.


"Mencuci celana," ujar Shadiq sambil berusaha menahan rasa malunya, ia tidak menyangka akan ketahuan seperti ini, seperti orang yang kepergok sedang mencuri makanan.


"Oh iya, kamu nanti malam tidur sama Syihab dan Risky saja, Zahra sama Syihab mau pulang nanti," ujar Rofiq. Setelah itu ia pun membawa Shadiq keluar kamar.


Hasan hanya menatap mereka dengan wajah keheranan. "Kalian habis bicara apa pak?" tanya Lilis. "Bukan apa-apa, ini rahasia negara," ujar Rofiq sambil mengusap-usap kepala Shadiq. Shadiq pun tersenyum.


"Tadi paman bicara apa?" tanya Hasan. "Sst! Anak kecil nggak boleh tahu!" bisik Rofiq pada Hasan lalu tertawa. Hasan hanya bisa menatapnya dengan wajah sebal.


Rofiq pun pergi untuk menjemput Syihab dan Zahra pulang. Shadiq dan Hasan juga tidak sabar menunggu kepulangan kedua kakak mereka itu.


Beberapa jam kemudian mobil Rofiq pun datang, Zahra langsung keluar dari mobil, ia langsung menghampiri dua anak kembar itu dan memeluk mereka dengan erat.


"Wah! Shadiq, Hasan, kalian semakin besar yah!" seru Zahra. Wajah Shadiq semakin memerah, ia ingin segera melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Zahra, sudahlah! Gantian aku yang memeluk mereka! Aku juga kangen loh!" ujar Syihab. Akhirnya giliran Syihab yang memeluk mereka berdua.


"Huh! Kak Syihab bau! Ketiaknya bau banget!" keluh Hasan sambil melepaskan pelukan Syihab.


"Dih, jahat banget! Baru pulang langsung dibilang bau," ujar Syihab. "Emang bau! Bikin aku nggak betah duduk si mobil tadi," ujar Zahra. "Kamu malah ikut-ikutan, Zahra!" ujar Syihab semakin terpuruk.


Tak lama kemudian Risky pun datang, ia langsung merangkul bahu Syihab. "Pak! Syihab curang banget! Kok bisa badannya lebih tinggi dan besar dariku!" ujar Risky.


"Makanya makan-makanan yang sehat! Tiap pagi kamu jarang makan, kalau ada makanan sukanya beli yang instan-instan! Nggak baik loh! Harusnya kamu tiru Syihab, dia nggak pilih-pilih makanan!" ujar Rofiq.


"Lah, dia kan tinggal di rumah kita, mau nggak mau dia pasti harus makan! Coba aja kalau dia di rumahnya sendiri, dia pasti nggak mau makan makan-makanan rumahan," ujar Risky.


"Ya seenggaknya kamu juga ikut makan apa yang dia makan biar tambah tinggi! Lihatlah! Kamu aja belum sampai setinggi bapak," ujar Rofiq. Risky langsung memasang wajah sebal sedangkan Syihab hanya bisa menggaruk-garuk kepala.


Setelah malam tiba, Shadiq langsung mengemasi barang-barangnya yang ada di kamar tamu. Hasan dan Zahra menatapnya keheranan, namun Shadiq tetap diam sambil terus mengemasi barang-barangnya lalu pergi ke kamar Risky.


"Loh? Kenapa kau pindah ke sana?" tanya Hasan keheranan. "Iya! Sempit loh di sana! Isinya orang-orang besar semua. Ada kak Syihab sama kak Risky," ujar Zahra.


"Bu... bukan apa-apa kok, paman Rofiq menyuruhku pindah kamar," ujar Shadiq malu-malu, ia tidak bisa menjelaskan kenapa ia pindah kamar.


"Lah! Padahal kakak ingin tidur dengan kalian berdua," keluh Zahra. "Sudahlah biarin saja! Kamar kita jadi makin luas!" seru Hasan. Akhirnya mereka semua pun masuk ke dalam kamar masing-masing untuk tidur.


Keesokan harinya Shadiq dan Hasan tidak mendapati Zahra di dalam rumah. Hasan pun pergi ke dapur untuk memeriksanya.


"Tante Lilis, kak Zahra di mana? Kok nggak kelihatan," ujar Hasan. "Tadi habis sholat subuh langsung pergi dengan baju olahraga, mungkin ke lapangan," ujar Lilis.


Hasan pun langsung mengajak Shadiq pergi ke lapangan, mereka pun mendapati Zahra sedang melakukan senam pagi.


"Kakak lagi ngapain? Kenapa pagi-pagi di sini?" tanya Hasan. "Oh, bukan apa-apa. Cuma latihan," ujar Zahra.


"Latihan apa?" tanya Hasan. "Beladiri," ujar Zahra singkat sambil mengulurkan tinjunya. "Wah keren! Beladiri kayak apa?" Shadiq tampak penasaran.

__ADS_1


"Kamu mau coba?" tanya Zahra. Shadiq pun mengangguk sedangkan Zahra langsung menghampirinya, Shadiq tidak tahu apa yang sedang kakaknya lakukan, yang jelas ia langsung terjatuh ke tanah secara tiba-tiba.


Hasan yang melihat hal itu langsung lari ketakutan, ia tidak ingin jadi bahan cobaan kakaknya itu.


__ADS_2