Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Ayah kembali


__ADS_3

Alfa sempat bingung dengan keramaian yang terjadi. Ia juga tidak tahu kenapa polisi menyuruhnya ikut ke perumahan itu sedangkan ia terus menunggu di dalam mobilnya.


"Argh! Sebenarnya apa sih isi lembaran kertas itu? Kenapa aku malah menuruti kata Shahih dan melaporkannya ke polisi? Bisa kena masalah kalau begini!" ujar Alfa kesal.


"Kira-kira berapa lama lagi mereka akan membiarkanku di sini?" Alfa sangat penasaran. Tak lama kemudian keempat orang anak pun muncul dengan seorang pria di sana. Alfa langsung mengenali Shahih dari kejauhan, oleh karena itu ia membuka pintu mobilnya. "Anak itu harus ditegur!" ujarnya lalu keluar dengan berkacak pinggang.


Ia tercengang saat melihat pria yang jalan bersama keempat anak itu, pria yang selama bertahun-tahun ini tidak pernah ia lihat, pria itu adalah Ghozali, yang selalu ia musuhi.


Ia tidak ingin terlihat seperti orang yang kebingungan di hadapan Shahih, akhirnya ia bersikap dingin di hadapannya.


"Akhirnya kalian sampai juga. Silahkan masuk, biar kuantarkan," ujar Alfa. "Alfa? Ini kau?" tanya Ghozali tidak percaya, pria yang menurutnya kekanak-kanakan, saat ini lebih terlihat dewasa.


"Apa yang kau lihat? Nggak mau masuk?" tanya Alfa. "Nggak kenapa-kenapa kok, makasih, Alfa. Kau selalu membantuku," ujar Ghozali kemudian menjabat tangan Alfa.


"Ehm, ini bukan apa-apa kok, aku hanya berniat menjemput keponakanku," ujar Alfa. "Aku tahu, yang jelas aku sangat berterima kasih padamu," ujar Ghozali.


Setelah masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan, Shahih meminta Alfa untuk berhenti di sebuah halte bus.


"Mau ngapain, Shahih?" tanya Ghozali keheranan. Ghozali memang belum tahu-menahu tentang Shahih yang sering kabur dari rumah, akhirnya Shahih mengajak ketiga anak lainnya untuk ikut dengannya agar tidak menimbulkan curiga. Ia hendak menuju ke tempat Adam untuk mengembalikan peralatan yang ia pakai.


Selagi keempat anak itu pergi, Alfa pun mengantarkan Ghozali ke rumahnya.


"Mampir dulu, istirahat! Bukankah kau lelah seharian mengemudi?" tanya Ghozali. "Nggak perlu, aku lagi sibuk," ujar Alfa kemudian meninggalkan Ghozali begitu saja.


Akhirnya Ghozali pun mengetuk pintu rumah sambil mengucapkan salam, ia pun sadar kalau pintu rumah tidak terkunci. Akhirnya ia pun membuka pintu lalu masuk ke dalam.


Zahra yang sedang mengolah adonan langsung terkejut melihat seorang pria tiba-tiba masuk ke dalam rumah, ia langsung meletakkan adonan itu dan berwaspada.


Ia lebih terkejut lagi saat mengetahui bahwa pria itu adalah ayahnya. "Zahra, ayah pulang," ujar Ghozali. Zahra terdiam sambil melangkah menghampiri Ghozali, ia mencoba meraba-raba wajah kasar ayahnya itu.

__ADS_1


"Ada apa Zahra? Kamu kayak habis lihat hantu. Yeah, tapi nggak mungkin wajah setampan ini adalah wajah hantu," ujar Ghozali bercanda. Zahra masih tetap terdiam sambil menatap wajah ayahnya, ia bahkan ingin menatapnya lebih dekat. Ia berharap bisa terus mengingat wajah itu jika yang ia lihat saat ini hanyalah halusinasi.


"Ini bukan mimpi Zahra, ini benar-benar ayah! Ayah pulang," ujar Ghozali kemudian memeluk anak itu. Zahra pun bisa merasakannya, detak jantung yang selalu membuatnya tenang itu kini bisa ia rasakan kembali.


Zahra pun menangis tersedu-sedu. "Ayah dari mana aja selama ini? Dunia bahkan menganggap ayah sudah meninggal. Ayah nggak tahu kalau Zahra sangat sedih?" tanya Zahra, ia masih terus menangis.


"Ma... maafkan ayah, Zahra. Ayah juga nggak tahu harus berbuat apa. Syukurlah ayah bisa melihatmu lagi," ujar Ghozali, ia juga menangis terharu.


Karena saking bahagianya, Zahra pun mengajak ayahnya duduk di sofa, sedangkan ia segera menyiapkan makanan.


"Gimana ayah? Enak?" tanya Zahra setelah memperhatikan ayahnya yang sedang mencicipi masakannya.


"Hmm! Ini luar biasa, padahal kamu dulu sempat menangis karena masakanmu terlalu asin," ujar Ghozali tertawa.


Zahra tidak tahu harus berbuat apa lagi, ia benar-benar bahagia dan penuh semangat karena bisa melihat ayahnya. Ia tidak sabar ingin memberitahu dunia bahwa ayahnya masih hidup.


"Ada apa Zahra? Kamu kelihatan gelisah," ujar Ghozali, ia tidak bisa mengabaikan kaki Zahra yang terus bergerak-gerak tanpa alasan.


"Maaf, saat itu ayah kira ia sudah meninggal. Gimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja setelah bertemu kalian?" tanya Ghozali.


"Sebenarnya.... anak itu hampir sama persis seperti Shahih, bahkan kelakuannya juga. Ia masih belum bisa beradaptasi, ia bahkan selalu jaga jarak dari Zahra," jawab Zahra.


Ghozali pun paham apa yang ia katakan, ia teringat saat Asyraf memanggilnya paman, bukan ayah.


"Lalu gimana dengan Shahih? Dia baik-baik saja kan?" tanya Ghozali. "Hmm! Asal ayah tahu saja, Shahih lebih banyak bicara sekarang loh! Nggak kayak dulu," seru Zahra. Ghozali juga teringat bagaimana Shahih bisa menghadapi para orang dewasa itu dengan tenang.


"Syukurlah jika mereka baik-baik saja saat ayah nggak ada. Lalu gimana keadaan Aisyah, ibu kalian?" tanya Ghozali. "Kata dokter kondisinya juga semakin baik, katanya kemungkinan ia bisa bangun kembali semakin meningkat," ujar Zahra.


Setelah beberapa pertanyaan, tiba-tiba suasana menjadi sangat hening. Ghozali tidak tahu harus berbuat apa karena anaknya itu masih tampak gelisah.

__ADS_1


"Ada apa Zahra?" tanya Ghozali keheranan. "Nggak kenapa-kenapa, hari ini aku terus berada di rumah, kakiku jarang bergerak," ujar Zahra.


"Kalau begitu.... mau jalan-jalan dengan ayah?" tanya Ghozali, Zahra tampak bersemangat setelah mendengarnya.


"Ayah sudah lama nggak pernah pergi ke sungai sekitar sini," ujar Ghozali. Zahra pun langsung mengangguk bersemangat. Akhirnya mereka berdua pun berjalan bersama.


Sayangnya Zahra semakin risih ketika orang-orang mulai memperhatikan mereka berdua.


Ghozali terus berjalan di belakangnya sambil senyum-senyum sendiri, pria itu tampak begitu bersemangat.


"Ayah! Jangan jalan di belakangku!" ujar Zahra. "Ke... kenapa Zahra?" tanya Ghozali keheranan. Zahra pun langsung mundur beberapa langkah lalu menggandeng lengan ayahnya. "Aku lebih suka begini," ujar Zahra. Ia bahkan menyandarkan kepalanya di lengan kekar itu.


Ghozali hanya bisa tertawa mengingat anaknya terlalu pendek untuk bisa menggandeng lengannya. Zahra pun merasa tersindir, ia langsung memukul lengan ayahnya.


"Tanganmu kok keras sekali, Zahra," ujar Ghozali, ia terkejut saat melihat telapak tangan Zahra yang besar, bahkan lebih besar daripada milik Aisyah.


"Ya ampun nak, kenapa jadi begini?" Ghozali merasa prihatin karena tangan Zahra sangat kasar.


"Lah, mau gimana lagi? Di rumah nggak ada siapa-siapa yang bisa bantu Zahra kecuali Shahih dan Asa, yang lainnya benar-benar payah," ujar Zahra.


"Mulai besok biar Wak Lehah saja yang urus rumah tangga yak," ujar Ghozali. "Lah, lagian rumah kita bakal kosong, anak-anak bakal berangkat ke pesantren," ujar Zahra.


Ghozali tidak pernah memikirkan hal itu, ia pun sadar kalau rumahnya akan sepi saat ini karena anak-anak harus bersekolah, bahkan Aisyah pun sekarang masih terbaring di rumah sakit.


"Aduh, ayah bakal kesepian dong," ujar Ghozali murung. "Tenang saja yah, aku akan pastikan berkabar sepekan sekali kok!" seru Zahra.


"Benarkah? Kamu benar-benar putri ayah yang paling perhatian," ujar Ghozali bahagia. "Ya, lagian masih ada sisa dua pekan untuk liburan, kita bisa berjalan-jalan seperti ini sesering mungkin," seru Zahra.


"Baiklah, jika kamu mau ayah akan jalan-jalan," ujar Ghozali. "Tapi, gimana ayah sekarang? Nggak kerja lagi?" tanya Zahra.

__ADS_1


"Oh, kalau masalah itu, tenang saja! Ayah yang urus, kamu nggak usah khawatir," ujar Ghozali sambil mengusap-usap kepala Zahra.


"Oh, iya! Yah, besok temen-temenku mau main ke rumah! Boleh?" tanya Zahra. "Silahkan! Apa sih yang nggak boleh buat putriku?" tanya Ghozali. "Ayah ada-ada aja!" ujar Zahra sambil mencubit lengan Ghozali.


__ADS_2