
Ghozali duduk di kantornya dengan lesu, pagi ini ia langsung berangkat kerja tanpa sarapan, bahkan ia juga belum makan malam hari sebelumnya.
Seperti biasa Mayang mengetuk pintu ruangannya. "Masuklah," ujar Ghozali. Mayang langsung meletakkan jurnal di meja Ghozali seperti biasa.
"Aku merasa seperti seorang sekretaris saja, tiap hari membawakan catatan ini padamu," ujar Mayang. "Lagian kenapa kamu mau bekerja di bidang ini? Kenapa nggak ambil jabatan eksekutif saja?" tanya Ghozali.
"Bukan apa-apa kok, sudah kubilang kan? Aku menyukai pekerjaan ini," ujar Mayang. Tiba-tiba perut Ghozali terdengar sangat keras, ia benar-benar malu karena Mayang mendengar suara itu.
Mayang pun sedikit tertawa sedangkan Ghozali hanya menggaruk-garuk kepala sambil membalas tawaannya.
Akhirnya Mayang pun pergi keluar, Ghozali langsung memeriksa catatan yang dibawa wanita itu. Sayangnya perutnya yang terus bunyi membuatnya kesulitan berkonsentrasi.
Tiba-tiba ia mencium bau harum dari buku jurnal itu. Parfum Mayang membekas di sudut buku itu.
Tak lama kemudian Mayang datang dengan kotak bekal, ia bahkan membukakan kotak bekal itu dan menatanya untuk Ghozali. "Makanlah, kamu nggak bakal bisa bekerja jika lapar," ujar Mayang. Ghozali yang kelaparan, mau tidak mau harus menerimanya, ia harus fokus bekerja.
"Inikan bekalmu, kenapa kamu berikan padaku?" tanya Ghozali keheranan. "Sudahlah! Makan saja! Aku kebetulan membuat banyak pagi ini," ujar Mayang.
Ghozali pun coba mencicipi sesuap dari bekal itu. "Gimana? Enak? Apakah ada yang terasa kurang? Aku minta maaf kalau itu nggak sesuai seleramu, aku biasa membuat ini untuk sendiri," ujar Mayang.
"Nggak.... nggak apa-apa kok, ini benar-benar enak!" ujar Ghozali sambil tersenyum, tanpa ragu ia langsung melanjutkan sarapannya.
Mayang terus memperhatikannya makan, ia merasa senang karena Ghozali memakan masakannya.
"Kenapa lihat aku terus? Nggak nyaman tahu," ujar Ghozali malu-malu, ia hampir tersedak. Mayang pun langsung mengambilkan minum dari dispenser dan mencoba mengusap-usap punggung leher Ghozali agar ia dapat menelan makanan itu.
"Makasih banyak, Mayang! Aku benar-benar merepotkanmu. Kamu jadi nggak bisa makan bekal yang sudah susah-susah kamu buat," ujar Ghozali meminta maaf.
"Nggak apa-apa kok, santai saja. Aku bahkan bisa membuatkanmu bekal setiap pagi, gimana? Kamu mau?" tanya Mayang. Ghozali hanya tertawa mendengar tawarannya.
Setelah selesai makan, Ghozali pun langsung kembali bekerja. Ia mengecek beberapa pasien yang kemarin ia operasi kemudian mencatat keadaannya.
Seharian itu ia berkeliling ke sana kemari memeriksa keadaan pasien, bahkan harus pergi keluar komplek untuk memeriksa keadaan di rumah sakit cabang.
Setelah selesai mencatat semua keadaan pasien, ia pun mampir di sebuah warung makan untuk memesan makan siang. Ia pun sadar kalau ia belum memberikan uang belanja pada Aisyah untuk bulan ini. Ia sempat memikirkan uang saku anak-anaknya.
Setelah selesai makan, ia pun kembali ke ruang kerjanya. Kotak bekal milik Mayang masih ada di meja kerjanya, ia pun langsung mengemasnya dan menumpuknya jadi satu.
Direktur pun datang ke ruang kerjanya. "Se... selamat datang pak, gimana keadaannya hari ini?" tanya Ghozali gagap.
"Aku cukup sedih, putriku memasakkanku bekal, namun orang lain yang memakannya," ujar direktur sambil melirik ke arah kotak bekal yang baru saja Ghozali kemas.
__ADS_1
"Oh, maaf, pak!" ujar Ghozali sambil menundukkan pandangannya. "Aku hanya bercanda! Kita tidak bisa membiarkan dokter jenius kita kelaparan di sini, kau harus diperlakukan dengan baik," ujar direktur sambil menepuk bahu Ghozali dan memijatnya.
Ghozali semakin merasa tidak nyaman karena direktur memijat-mijat bahunya. "Ngomong-ngomong, kenapa kau datang tanpa sarapan? Tidak seperti biasanya saja. Apakah ada masalah dengan keluargamu?" tanya direktur.
"Ti... tidak ada pak, aku baik-baik saja," ujar Ghozali. "Aku tidak menanyakan keadaanmu, tapi keluargamu," ujar direktur.
"Ma... maaf," ujar Ghozali. "Kasihan sekali berangkat kerja tanpa sarapan, padahal kau berangkat pagi loh, pasti ada alasannya kan? Apakah istrimu tidak menyediakanmu makan?" tanya direktur. Ghozali menggeleng. "Bukan begitu, aku yang tidak ikut sarapan tadi," ujar Ghozali.
"Ayolah, jangan memaksakan diri! Katakan saja yang sejujurnya, istrimu tidak menghidangkanmu makanan kan?" tanya direktur sekali lagi.
Ghozali hendak menyangkal, namun merasa tidak nyaman dengan direktur, akhirnya ia diam saja.
Setelah seharian bekerja, ia pun pulang ke rumah, ia mendapati istrinya sudah menyiapkan hidangan.
"Makanlah! Mas harus kerja lagi besok," ujar Aisyah. "Aku dah makan," ujar Ghozali singkat. Ia tidak menyangka istrinya masih bisa menyiapkan makanan padahal uang belanjanya sudah habis. "Pasti si Alfa!" Ghozali menyimpulkan. Memang lebih masuk akal jika Alfa datang dan memberi Aisyah uang.
Keesokan harinya Aisyah memutuskan untuk meminta penjelasan dari Ghozali. Ia mencoba berpura-pura membersihkan bagian atas lemari, namun Ghozali tidak peduli.
"Loh mas? Ini dokumen apa?" tanya Aisyah. Ghozali tetap diam sambil terus membaca artikel di ponselnya.
Aisyah pun mencoba membuka dokumen itu, pura-pura baru pertama kali melihatnya. "Kusam sekali! Sepertinya ini sudah lama," ujarnya bersandiwara.
"Eh, mas! Ini benar-benar aneh!" ujar Aisyah, saat itu juga Ghozali pun menatapnya. Aisyah pun memberikan dokumen itu pada Ghozali. "Lihatlah! Golongan darah Assalam, kenapa O?" tanya Aisyah. Ia terus menatap raut wajah Ghozali.
Akhirnya Aisyah bisa menyimpulkan bahwa Ghozali tidak sengaja menyembunyikan dokumen itu darinya. Ia pun sudah tidak berburuk sangka lagi terhadapnya.
Sayangnya Ghozali tetap bersikap dingin, ia bahkan langsung pergi tanpa sarapan. Sesampainya di ruang kerja, Mayang satang dengan bekalnya, seperti biasa ia menata bekal itu untuk Ghozali.
Karena sudah kedua kalinya melakukan hal itu, akhirnya hubungan Mayang dan Ghozali sering menjadi perbincangan. Meskipun begitu Ghozali tetap mengabaikannya, ia pikir ia hanya menerima bekal dari wanita itu, tidak ada hal yang istimewa.
Pada akhirnya setelah lama kebiasaan Mayang membawakannya bekal, Ghozali terlupa dengan masakan. istrinya sendiri, seolah ia tidak pernah memakan hidangan istrinya.
Makanan yang selalu ia pikirkan hanyalah yang dibuatkan Mayang untuknya. Akhirnya ia pun sadar kalau wanita itu sangat peduli padanya.
Mayang bahkan membawakan beberapa barang untuknya, mulai dari dasi, parfum hingga setelan jas. Ghozali tanpa ragu menerimanya dan memakainya. Ia juga menyukai itu karena terlihat cocok dengannya.
Setelah hampir dua bulan berlalu, tiba-tiba Aisyah datang menjenguknya di rumah sakit, ia datang bersama Zahra.
"Kenapa kau satang ke sini?" tanya Ghozali keheranan. "Zahra yang bersikeras meminta," ujar Aisyah. "Ayah, aku baru saja belajar membuat bekal untuk ayah! Ini makan siang ayah!" seru Zahra.
Orang-orang menatap Aisyah dengan tatapan aneh. Mereka keheranan karena sikap Ghozali terlalu dingin padanya, tidak seperti yang dilakukannya pada Mayang.
__ADS_1
"Zahra mau lihat tempat kerja ayah!" seru Zahra. "Oh, baiklah-baiklah! Ayo ikut," ujar Ghozali sambil mengajak anaknya pergi ke ruangannya. Anehnya, ia tidak sekalian mengajak Aisyah, ia membiarkan istrinya berdiri sendirian di lorong rumah sakit itu.
Tiba-tiba Mayang datang menghampiri Ghozali dan anaknya. "Wah! Siapa ini? Manis sekali!" seru Mayang. "Tentu saja! Ini anakku," ujar Ghozali sambil tertawa, ia terlihat sangat ramah di depan wanita itu.
Aisyah yang melihat hal itu dengan kedua matanya merasa sakit hati, ia langsung menghampiri Zahra.
"Zahra, ayo kita pulang, kasihan adik-adikmu," ujar Aisyah. "Kau meninggalkan anak-anak kecil di rumah?" Ghozali tampak emosi.
"Aish, nggak perlu khawatir! Mereka kan cukup besar untuk berada di rumah tanpa orang tua. Nggak masalah kan?" ujar Mayang, amarah Ghozali pun reda. Aisyah menggenggam tangan Zahra kuat-kuat, ia hampir kehilangan kesabaran.
"Nanti bu, aku mau lihat tempat ayah," ujar Zahra. Akhirnya Aisyah mencoba untuk bersabar.
Setelah masuk ke ruang kerja Ghozali, Aisyah menghirup aroma yang tidak asing, yaitu aroma wanita yang baru saja berbincang-bincang dengan Ghozali.
"Apakah wanita tadi sering ke sini?" tanya Aisyah. "Tentu saja, pekerjaannya memang di rumah sakit ini, ia juga harus melaporkan semua kondisi pasien setiap hari. Kenapa kau penasaran dengan hal itu?" tanya Ghozali dengan ekspresi dinginnya, suaminya bahkan tidak lagi memanggilnya 'sayang'.
"Bukan apa-apa kok, nggak masalah," ujar Aisyah kemudian melihat sekeliling ruangan itu. Ia mendapati beberapa barang baru seperti jas, penjepit dasi hingga parfum.
Ia paham betul kalau seorang pria tidak akan memiliki barang-barang lengkap seperti itu kecuali pasangannya yang membelikannya. Sayangnya Aisyah tidak merasa pernah membeli itu semua.
Ia merasa sakit hati melihat keadaan tempat kerja Ghozali, ia pun langsung pergi bersama Zahra.
"Bu? Kenapa sih?" tanya Zahra, ia merasa kesakitan karena Aisyah berjalan cepat sambil menarik lengannya.
"Bu! Sakit tahu!" keluh Zahra. Aisyah langsung mengusap-usap pergelangan tangan Zahra tanpa berbicara kemudian menaiki angkot untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Aisyah langsung pergi ke kamar kemudian mengunci pintu, ia langsung menangis tak henti-henti di dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Wanita tadi, istrimu?" tanya Mayang. "Yeah, begitulah," ujar Ghozali, ia merasa tidak nyaman mengungkit-ungkit istrinya di depan Mayang.
"Makasih atas nasehatnya, Mayang. Kalau kamu nggak bilang, mungkin aku sudah marah-marah tadi," ujar Ghozali.
"Sama-sama, tapi apakah istrimu sering melakukan itu? meninggalkan anak-anak di rumah sendirian?" tanya Mayang.
"Begitulah, aku juga sangat kesal padanya," ujar Ghozali. "Kalian sedang bertengkar?" tanya Mayang, ia semakin penasaran dengan kondisi keluarga Ghozali.
"Aduh! Jangan-jangan kamu nggak pernah sarapan gara-gara dia? Duh! Kasihan sekali kamu dok!" ujar Mayang sambil memijat bahu Ghozali.
"Dia nggak akan peduli meskipun aku kelaparan," ujar Ghozali. "ih! Benar-benar jahat! Kamu nggak kepikiran cerai? Tapi kasihan anak-anakmu sih," ujar Mayang.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sempat berkali-kali ingin menceraikannya, selain karena anak-anak, mertuaku juga sangat baik padaku, mereka benar-benar orang yang baik, aku tidak bisa mengecewakan mereka," ujar Ghozali.
"Ini kan masalahmu sama istrimu, bukan mertuamu. Kamu juga harus pertimbangin buat anak-anakmu juga," ujar Mayang. Ghozali hanya terdiam sambil mengerutkan dahi. Ia terus menatap Mayang, berangan-angan bahwa wanita di sampingnya itu adalah istrinya.