
Shahih pergi ke kantor bagian keamanan, ia menunjukkan beberapa surat undangan pada seorang ustadz.
"Kamu lagi? Kenapa sering minta izin keluar asrama? Apa keperluanmu sebenarnya? Jangan-jangan ini cuma alasan? Kamu izin buat pulang ke rumah?" tanya ustadz.
"Saya nggak punya rumah, saya tinggal di panti asuhan," ujar Shahih dengan ekspresi datarnya.
"Loh? Bukannya kamu keponakan ustadz Alfa? Kenapa tinggal di panti asuhan?" tanya ustadz.
"Ustadz Alfa bukan siapa-siapa, rumah kami kosong karena ayah sudah meninggal dan ibu terbaring koma di rumah sakit," ujar Shahih, semakin banyak ia menjelaskan, semakin besar rasa bersalah ustadz itu hingga terpaksa mengizinkannya keluar, ia pun menandatangani surat izin milik Shahih.
"Oh, iya ustadz! Cuma saran aja, lain kali jangan izinin orang karena merasa iba atau merasa bersalah, itu bukan hal yang benar," ujar Shahih dengan ekspresi datarnya, ia pun pergi meninggalkan ruangan.
Ia langsung keluar dari komplek asrama dan duduk di halte bus sambil menatap brosur pendaftaran. Ia pun menaiki bus yang berhenti di hadapannya.
Setelah berhenti di pasar, Shahih pergi menuju jalanan kecil, ia memiliki satu tempat tujuan, sebuah gedung tingkat di pinggiran sawah. Itu adalah asrama pesantren Al-Ghifari.
Ia langsung menata rambutnya lalu mengenakan kacamata untuk menyamar. Ia pun langsung mengetuk pintu gerbang sedangkan seseorang langsung membukakan pintu itu untuknya.
"Hmm! Ada apa dek? Kenapa datang ke sini?" tanya orang itu keheranan, ia merasa tidak biasa melihat anak kecil dengan beraninya mengetuk gerbang asrama yang bukan tempat tinggalnya.
"Saya mau bertemu dengan direktur untuk menyerahkan proposal ini," ujar Shahih sambil menunjukkan sebuah arsip dari tasnya.
"Aduh! Siapa yang menyuruhmu membawa itu? Sepertinya sangat penting, biarkan saya berikan pada direktur," ujar orang itu, namun Shahih menolak.
"Aku mau bertemu dengan direktur secara langsung," ujar Shahih. Orang itu semakin heran padanya. Ia sangat ragu untuk membiarkan anak kecil masuk ke dalam ruang direktur.
"Maaf, adek dari mana? Kenapa minta ketemu direktur?" tanya orang itu. "Dari panti asuhan pusat," ujar Shahih terus terang, akhirnya orang itu menuntunnya ke ruang direktur.
__ADS_1
Shahih pun langsung menyapa sang direktur setelah orang tadi pergi. "Pak Salman Hakim?" Shahih mencoba memastikan kalau dirinya tidak salah memanggil nama.
"Kepanjangan, panggil saja pak Salman," ujar direktur yang bernama Salman itu dengan ramah.
"Ngomong-ngomong, kenapa adek datang ke sini? Ada perlu apa? Nggak biasa sekali ada anak kecil yang berani datang ke sini sendirian, apalagi masuk kantor direktur," ujar Salman.
"Asyraf," ujar Shahih singkat. "Itu anak angkat bapak, ada apa? Ada apa dengan Asa?" tanya Salman penasaran.
Tak lama kemudian anak yang sedang mereka bicarakan pun masuk ke ruang direktur.
"Oh! Kebetulan sekali, Asa! Sepertinya ada temenmu yang datang ke sini," ujar Salman sambil menunjukkan Shahih yang sedang duduk manis di sofa.
Tak lama kemudian setelah menatap Shahih, akhirnya Asraf duduk tenang berhadapan dengannya.
Shahih pun memberikan arsip yang sejak tadi ia pegang kepada Salman. Salman pun membuka arsip itu dan menemukan hasil data tes DNA.
Tanpa ragu Asyraf langsung melepaskan kacamata yang dikenakan Shahih dengan paksa.
Saat itulah Salman terkejut hingga menjatuhkan cangkir yang hendak ia suguhkan pada Shahih.
"Ka... kalian.... Kenapa wajah kalian sama persis?" Salman tampak tercengang. "Sudah kuduga akan seperti ini, kau yang waktu itu kan? Saat kecelakaan pak penjual kaki lima," tebak Asraf.
"Sepertinya ingatanmu sangat jelas sekali," ujar Shahih dengan ekspresi datarnya, meskipun begitu Asyraf juga menunjukkan ekspresi datarnya pula. Salman tak bisa berkata-kata saat melihat mereka berdua saling tatap waspada.
"Nggak mungkin aku lupa dengan anak yang wajahnya sama denganku, apalagi ia diam-diam mencabut rambutku lalu melakukan tes DNA tanpa izin," ujar Asyraf. Suasana semakin tegang, Salman tidak menyangka ada anak yang bisa menghadapi sifat dingin anak angkatnya itu.
"Sepertinya kau sudah paham arah pembicaraan ini," ujar Shahih kemudian memberikan beberapa berkas pada Asyraf.
__ADS_1
"Adek bahkan paham bahasa orang dewasa, sama seperti Asa?" tanya Salman terkesan. "Mau gimana lagi? Kami saudara kembar, pak," jawab Shahih, perkataannya membuat Salman terkejut.
"Sa.... saudara kembar?" tanya Salman kebingungan. "Tes DNA tadi, itu milik ayahku dan Asyraf. Saya datang ke sini untuk memberitahu hal ini dan..... brosur ini," ujar Shahih sambil menunjukkan sebuah brosur pendaftaran pesantrennya.
"Saudara kami semuanya sedang bersekolah di sini," ujar Shahih.
Sayangnya Asyraf langsung menyobek brosur itu. "Aku nggak pergi dari sini," ujar Asyraf dengan ekspresi dinginnya.
"Begitu kah? Aku nggak memaksa, kalau begitu aku mau kembali ke asramaku," ujar Shahih sambil tersenyum ramah, ia meninggalkan arsip yang ia bawa di ruang direktur, ia pergi dengan tangan kosong.
Salman hanya bisa menyaksikan bagaimana anak dengan wajah sama seperti anak angkatnya itu pergi dari hadapannya. Ia mencoba memeriksa hasil tes DNA itu.
"Jadi, kamu juga tahu kalau anak itu melakukan tes DNA dengan rambutmu?" tanya Salman.
"Tentu saja, entah karena sengaja apa nggak, tiba-tiba dia berpapasan denganku di pasar," ujar Asyraf.
"Lalu kenapa kamu menolaknya? Ia mengajakmu kembali ke keluargamu loh!" ujar Salman. "Apakah Abi mau mengusirku juga dari sini? Seperti yang dilakukan orang tua angkatku sebelumnya?" tanya Asyraf.
"Bu... bukan begitu, Asa! Abi hanya ingin kamu bahagia, bahkan keluargamu sendiri yang mendatangimu ke sini, apalagi dia saudara kembarmu, sudah nggak diragukan lagi," ujar Salman.
Asyraf sempat terdiam sejenak. "Baiklah, aku akan mulai berkemas," ujar Asyraf kemudian berpaling dari Salman.
"Abi nggak mengusirmu, Asa! Abi nggak bermaksud begitu," ujar Salman, ia tidak ingin anaknya salah paham, ia langsung memeluknya dari belakang.
"Aku tahu kok, yah. Nggak mungkin Abi berniat mengusirku," ujar Asyraf sambil tersenyum.
"Temuilah keluargamu dulu, kalau kamu mau tetap tinggal bersama Abi, kamu bisa datang kapanpun ke sini, Abi nggak melarang. Biarkan keluargamu melihatmu dulu, biarkan mereka memastikan bahwa kamu baik-baik saja di sini," ujar Salman.
__ADS_1
"Baik, Abi," ujar Asyraf. "Nah, nanti biar Abi yang mengurusi semua dokumen kepindahanmu. Kamu cukup bawa barang-barang yang perlu untuk dibawa ke sana," ujar Salman. Asyraf pun mengangguk.