Family'S Labyrinth

Family'S Labyrinth
Kebetulan belaka


__ADS_3

Api telah padam meninggalkan bekas hitam di sebuah gedung asrama. Kabar baiknya kebakaran itu langsung terdeteksi dan listrik dipadamkan sehingga tidak merambat ke mana-mana, hanya membakar satu ruangan yang ada di gedung itu.


Direktur hanya bisa menggeleng kepala melihat kepulan asap sisa dari kebakaran itu. "Kok bisa ada kebakaran di pesantren! Sudah dua puluh tahun berlalu, belum pernah ada yang seperti ini!" ujar direktur.


"Sepertinya peraturan di sini kurang ketat! Siapa yang membawa pemantik api ke pesantren?" Alfa langsung menginterogasi anak-anak yang ada di tempat, mereka langsung terdiam, beberapa langsung pergi ke kamar karena tidak ingin mendengar amarahnya.


Hasan terlihat tak berdaya, Alfa pun langsung mengangkat tubuhnya dan membawanya ke UKS, setelah itu ia langsung memanggil ketiga keponakan lainnya.


"Shadiq! Kenapa kamu malah masuk seenaknya ke dalam kobaran api? Itu bahaya!" ujar Alfa.


"Hasan masih dalam bahaya di kamar! Masak aku diam saja! Orang-orang nggak ada yang mendengarkanku juga!" ujar Shadiq kesal.


"Kamu masih kecil, Shadiq! Kalau terjebak di dalam gimana? Nggak cuma Hasan yang kena imbasnya, kamu juga! Banyak orang dewasa di sini, ada paman, ada parau ustadz dan kakak pengurus lainnya, tenaga mereka lebih besar darimu! Harusnya kamu diam di tempat saja!" tegur Alfa.


"Lalu, kalian berdua! Kenapa malah ikut-ikutan?" tanya Alfa pada Shahih dan Asyraf.


"Tindakan Shadiq sudah tepat, kalau terlambat sedikit saja, Hasan mungkin sudah keracunan asap. Kami berdua cuma membantu Shadiq keluar dari kamar," ujar Asyraf. Alfa pun terdiam, ia langsung memeluk mereka bertiga. "Syukurlah kalian bertiga baik-baik! Kalian nggak tahu kalau paman sangat khawatir? Paman nggak boleh kehilangan kalian!" ujar Alfa.


Setelah berbincang-bincang ia pun membolehkan ketiga keponakannya keluar dari ruangannya.


"Pamanmu overprotektif sekali, caranya berbicara dengan kalian..... dia seperti ayah kalian sendiri," ujar Asyraf.


"Mana mungkin! Paman Alfa belum menikah, dia belum punya anak. Itu alasan dia selalu memedulikan kami, ia belum punya keluarga yang harus ia pedulikan kecuali orang tuanya," ujar Shadiq.

__ADS_1


"Kau curi perkataan itu dari mana?" tanya Asyraf keheranan. "Kayaknya dia sering baca novel," ujar Shahih. "Pantas saja, perkataanmu terlalu bagus untuk seumuran anak SMP," ujar Asyraf.


"Kalian bicara apa? Aku nggak paham!" ujar Shadiq. "Nggak perlu tahu," ujar Shahih.


"Kenapa kalian selalu melangkah di depanku? Padahal kupikir aku paling tua di antara kalian, tapi kenapa kalian memperlakukanku kayak anak kecil?" tanya Shadiq, dahinya sampai berkerut.


"Nggak kok, kami nggak pernah berpikiran kalau kau seperti anak kecil," ujar Asyraf. "Benar sekali, muka boros sepertinya siapa yang mau menganggapnya anak kecil?" tanya Asyraf.


"Pantas saja mukanya semakin berbeda dari Hasan, mukanya lebih cepat menua, dia hampir setua kak Syihab," ujar Shahih. Mereka berdua pun melangkah sambil berbincang-bincang tanpa memedulikan Shadiq.


Melihat mereka berdua melangkah jauh darinya, Shadiq pun sadar dengan perasaan Shahih selama ini, dulu sebelum Shahih pergi dari rumah juga selalu ia perlakukan seperti itu tanpa ia sadari, dulu ia sering melangkah bersama Hasan sedang Shahih tidak pernah ia pedulikan.


"Begini kah rasanya kesepian? Inikah alasanmu kabur dari rumah? Harusnya kamu tinggal bilang saja kalau mau berjalan bersama kami. Ternyata kamu sangat pendendam, nggak kusangka kamu membalas dengan memperlakukanku seperti itu juga," ujar Shadiq, sayangnya Shahih dan Asyraf sudah melangkah jauh, mereka tidak mendengarkan perkataannya.


"Duh! Gimana dong? baju-bajuku kebakar semua!" ujar Ario pucat. "Buku-bukuku! Catatanku hilang semua! Aku malas menuliskannya lagi!" keluh Fashalay. Selagi anak-anak yang lain berkeluh kesah, Asyraf dan Shahih tampak tenang dan biasa saja.


"Seragam sekolahku," Arkan tampak langsung terpuruk, ia tampak bingung untuk berhadapan dengan orang tuanya ketika mereka mengetahui semua barang-barangnya hangus terbakar.


"Kalian berdua ini sangat luar biasa! Ada musibah kok santai-santai saja! Semua buku dan baju hangus terbakar! Bahkan uang juga," ujar Ario sambil berkacak pinggang di hadapan Shahih dan Asyraf.


"Sayang sekali, kami nggak merasa begitu. Karena dari dulu buku kami berada di kelas, jadi kami baik-baik saja, apalagi aku dan Shahih kebetulan sedang mencuci semua baju seragam kami, bukankah mencuci di akhir pekan ada manfaatnya? Ini salah satunya," ujar Asyraf sambil menunjukkan semua baju seragamnya yang masih tertata rapi di jemuran.


"Wah! Luar biasa kalian berdua! Seolah sudah tahu kalau hal seperti ini akan terjadi! Lalu gimana dengan uang? Nggak mungkin kan kalian simpan di saku kalian setiap hari?" tanya Ario.

__ADS_1


"Untuk uang kami tabungkan di administrasi, uang besar seperti bendahara kas nggak boleh di simpan di lemari, bisa-bisa kecurian seperti lemarimu," ujar Shahih. Ario pun terdiam karena tidak bisa menyangkal kesalahannya sendiri.


"Sudahlah, Shahih! Kan Ario sudah mengganti rugi semuanya, jangan diungkit-ungkit lagi!" tegur Fashalay.


"Benar! Lagian yang salah itu bukan aku! Tapi yang mencuri," ujar Ario kesal, ia hendak mencari-cari orang yang hendak ia tatap dengan tatapan sinisnya, namun ia tidak menemukannya.


Karena kondisi kamar yang tidak memungkinkan untuk tidur, akhirnya anak satu kamar itu dipulangkan dalam sepekan.


Shahih dan Asyraf memilih tetap berada di asrama karena barang-barang mereka tidak banyak yang hangus terbakar. Akhirnya Shadiq dan Hasan pulang ke rumah Alfa, Hasan juga memerlukan perawatan karena ia sedang sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Assalamualaikum," ucap Alfa sambil mengetuk pintu rumah, Hamid pun membuka pintu untuknya dan mendapati Alfa sedang menggendong.


"Innalilahi, kenapa ini? Kenapa baju Hasan terlihat kusam begini?" tanya Sarah panik, ia menyuruh Alfa segera masuk ke dalam rumah.


"Dia hampir terjebak dalam kobaran api," ujar Alfa. "Astaghfirullah! Api? Kok bisa? Shadiq juga? Itu rambutmu bekas terbakar!" ujar Sarah. Shadiq hanya bisa menangis selagi Sarah mengkhawatirkannya. Hamid pun langsung memeluk anak itu.


"Aduh! Cucuku! Jangan nangis dong! Lihat tuh! Hasan juga nggak nangis!" ujar Hamid sambil mengusap-usap kepala Shadiq yang agak kasar karena bekas rambut terbakar.


"Nanti kakek cukur rambutmu ya, tenang saja!" Hamid menambahkan. Melihat Shadiq yang mudah menangis, Hamid jadi teringat dengan Ghozali, pria itu juga mudah menangis.


"Shadiq, mandi dulu yah, nanti sekalian ganti baju. Kita ke rumah sakit buat periksa Hasan, sekalian jenguk ibu kalian," ujar Sarah.

__ADS_1


Akhirnya Shadiq pun pergi ke kamar mandi. Setelah melepas baju, ia sempat termenung dengan teriakan Hasan, adiknya itu sampai tega memakinya hanya agar Shadiq pergi meninggalkannya di tengah kobaran api. Ia tidak menyangka adiknya sampai bersedia mati hanya agar dirinya bisa selamat, ia tidak berani membayangkan kejadian seperti itu terulang kembali. Membayangkannya saat itu juga membuatnya menangis tersedu-sedu.


__ADS_2