
"Shahih? Itukah kamu?" panggil Aisyah, ia mencoba menghampiri anak itu untuk memastikannya. Seperti yang ia duga, yang ia panggil itu memang benar Shahih.
"Shahih! Kamu dari mana saja selama ini? Kenapa pergi tanpa bilang-bilang?" tanya Aisyah. Sayangnya anak itu terus menatapnya dengan tatapan asing.
"Siapa?" ujar Shahih singkat dengan nada dingin khasnya. "I... ini ibumu, Shahih! Aku ibumu!" ujar Aisyah.
Sayangnya raut wajah Shahih tiba-tiba tampak murka. "Kau bukan ibuku!" ujarnya kemudian berbalik badan. Sepasang suami istri tampak menghampirinya lalu menggiringnya pergi.
"Sha... Shahih! Tunggu! Shahih! Tunggu ibu!" teriak Aisyah, sayangnya anak itu terus menjauh darinya hingga lenyap begitu saja dari pandangannya.
Semakin keras ia meneriakkan nama Shahih, ia pun langsung tersentak. Saat ini ia sedang dalam posisi duduk di atas kasurnya sedangkan Ghozali menatapnya penuh khawatir.
"Ada apa, sayang? Kamu baik-baik saja?" tanya Ghozali, ia benar-benar panik melihat wajah Aisyah yang tampak pucat dipenuhi keringat.
Aisyah pun langsung menangis setelah mengetahui bahwa yang baru saja ia alami adalah sebuah mimpi.
Ghozali pun segera memeluknya. "Aku nggak tahan lagi mas! Anakku. Di mana anakku! Kenapa dia nggak pulang-pulang! Gimana kalau terjadi sesuatu padanya?" tanya Aisyah dengan nada terisak.
"Tenang, sayang! Sabarlah! Kuyakin dia baik-baik saja di sana. Jangan berpikiran yang aneh-aneh!" ujar Ghozali sambil mengusap-usap punggung Aisyah untuk menenangkannya.
"Shahih, anakku yang malang. Nggak mungkin aku bisa lupa begitu saja mas! Tiap hari aku terus memikirkannya!" ujar Aisyah. "Insyaallah dia baik-baik saja, sayang! Kuharap ia bertemu orang-orang baik yang selalu menjaganya. Kuharap ia juga bisa tersenyum seperti Asa di sini," ujar Ghozali, ia pun ikut menangis karena memikirkan anak terakhirnya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa-apaan ini? Bukankah terlalu berlebihan? Kenapa anak SMP tiba-tiba ikut ujian sekolah di sini?" bisik salah seorang anak. "Dia ituloh! Anak yang ambil program akselerasi karena dia jenius," ujar salah seorang anak lainnya.
"Aku paling nggak suka ada orang aneh sepertinya! Sipit, kecil dan tatapannya membuatku kesal," ujar salah seorang lainnya.
"Muka Chindo emang gitu," ujar salah seorang anak. "Pasti bukan orang islam! Ngapain sih dia di sini?" ujar salah seorang.
Anak-anak SMA itu terus memandangi anak yang menggunakan name tag bertuliskan, "Gennadius" dengan tatapan kebencian.
"Bukankah ini terlalu berlebihan? Kenapa sekolah malah jadi membanding-bandingkan kita dengan china sipit itu? Benar-benar menyebalkan!" ujar salah seorang lagi.
Anak bernama Gennadius itu tak memedulikan cibiran mereka, ia duduk tenang di kursinya lalu mulai mengeluarkan peralatan tulisnya.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang melempar gulungan kertas ke arahnya sedangkan anak-anak lainnya hanya tertawa.
Gennadius pun langsung menengok ke belakang, jikalau ia mengabaikan mereka, keributan akan semakin menjadi-jadi.
"Maaf, kukira ada tempat sampah di situ," ujar seorang anak, padahal bukan ia yang melempar kertas itu. Ia sengaja berkata demikian agar Gennadius salah sangka dan menimbulkan permasalahan lain.
Sayangnya hal itu tidak sesuai dengan dugaan mereka. Ia mengambil gulungan kertas itu lalu membuat ujungnya menjadi lebih runcing.
Ia melemparkan kertas itu tepat masuk ke dalam mulut anak yang sebelumnya melemparkan kertas itu padanya. Seisi kelas pun tertawa melihat hal konyol itu.
"Oh, maaf kukira itu tempat sampah," ujar Gennadius.
"Hei, bocah! Rupanya kau punya selera humor juga. Maaf nggak mengenalmu dengan baik, tapi kau salah orang! Berani-beraninya kau melakukan hal itu pada orang yang lebih tua darimu!" ujar salah seorang.
Gennadius tampak tidak peduli, ia beranjak dari kursinya setelah menyelesaikan soal. "Sekolah ini nggak kondusif sekali, padahal lagi ujian, tapi kenapa kegaduhan dibiarkan saja?" sindirnya kemudian keluar dari ruangan kelas.
Setelah ia menyelesaikan semua ujian yang ada pada hari itu, ia pun memutuskan untuk segera pulang. Sayangnya beberapa anak SMA menghadangnya di jalan.
"Hei sipit! Muka Chindo kek kamu pasti anak orang kaya kan? boleh pinjam uang sakumu?" tanya salah seorang.
Gennadius pun mengeluarkan beberapa lembar uang, membuat anak-anak SMA itu tergiur. "Wah! Kau benar-benar mengerti sekali! Orang pintar memang beda!" seru salah seorang anak sambil hendak mengambil uang yang Gennadius sodorkan.
"Kalau kalian mau pinjam, seenggaknya aku harus tahu kapan kalian akan mengembalikannya," ujar Gennadius.
"Mengembalikannya? Kau bercanda?" tanya anak SMA itu. "Kalau nggak dikembalikan, namanya bukan pinjam! Kalian ini pengemis kah?" tanya Gennadius.
"A... apa? Pengemis katamu? Sepertinya kau perlu diberi pelajaran!" ujar anak SMA itu. Ia beserta teman-t3mannya pun mengepung Gennadius.
Sekilas Gennadius memeriksa jam tangannya, ia tiba-tiba berubah kesal. "Argh! Kalian ini benar-benar mengacaukan hariku!" ujarnya kesal, ia bahkan menjatuhkan tasnya ke tanah dan mulai mengumpat anak-anak SMA itu.
"Dih, apa-apaan anak itu? Apakah dia gila?" salah seorang anak SMA keheranan, umpatan gennadius terdengar keras hingga anak-anak SMA merasa tidak nyaman karena takut menarik perhatian orang-orang.
Sebelum orang-orang menyadari bahwa mereka mengepung anak kecil, mereka pun langsung berbalik badan untuk pergi.
"Woi! Kalian mau kemana? Urusanku belum selesai dengan kalian!" teriak Gennadius, ia memghampiri salah seorang lalu menendang kakinya hingga bertekuk lutut di tanah.
__ADS_1
"Dia benar-benar gila!" ujar salah seorang yang lain. Semakin jauh ia berlari, tatapan Gennadius tertuju kepadanya lalu berteriak seolah marah.
Akhirnya Gennadius menghampirinya lalu menginjak pergelangan kakinya hingga bergeser.
Ia melakukan hal yang sama pada orang-orang yang tersisa, ia memastikan kalau mereka tidak bisa kabur darinya.
Setelah mereka semua tidak bisa berdiri, Gennadius menyeret mereka ke satu tempat lalu mulai memukuli pemimpin dari gerombolan anak-anak SMA itu.
"Apakah aku terlihat seperti orang yang penyabar bagimu? Apakah aku sepecundang itu? Kau pikir aku takut dengan kalian? Kalian pikir aku tidak bisa melakukan ini?" tanya Gennadius sambil memukuli wajah anak SMA itu.
Anak itu tak berdaya, ia tidak tahan dengan pukulan Gennadius dan hendak meminta maaf, namun Gennadius terus memukulinya, membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk berbicara.
Tak lama kemudian Adam yang baru saja berbelanja melihat kejadian itu. Ia segera menjatuhkan belanjaannya dan berlari ke arah Gennadius.
"Sudahlah nak! Tenanglah! Hentikan, Gennadius! Hentikan!" ujarnya kudian mengankat lengan Gennadius. Anak itu masih sempat berteriak-teriak bahkan hampir kejang-kejang.
Anak-anak SMA itu merasa ngeri melihatnya meronta-ronta, mereka diliputi perasaan bersalah. Mereka ingin kabur, namun kaki mereka tidak mampu untuk berjalan.
"Sebaiknya kalian lupakan apa yang barusan kalian lihat! Lain kali jangan suka mengganggu orang lain!" tegur Adam kemudian menyuntikkan bius ke leher Gennadius.
Saat itulah tiba-tiba teriakan Gennadius tak terdengar lagi, tubuhnya benar-benar lemas sedangkan Adam segera membawanya pergi.
Setelah beberapa jam berlalu, Gennadius mendapati dirinya berada di dalam kamar, kepalanya masih terasa nyeri tanpa alasan yang jelas.
Adam tampak sedang tertidur di samping dipannya. Baru kali ini ia melihatnya pria itu tertidur di tempat yang tidak seharusnya.
Wajahnya yang tampak kelelahan membuat Gennadius memikirkan sosok ayah yang selama ini selalu membuatnya penasaran. Sayangnya dari awal ia terbangun dari tidurnya, Adam mengatakan bahwa ia bukanlah ayahnya.
Adam pun langsung terbangun dari tidurnya dalam keadaan bingung. Ia menengok ke sana kemari dan mendapati Gennadius sedang menatapnya.
"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Adam. Gennadius tidak menjawab, ia hanya menatap pria itu dengan tatapan kosongnya.
Setelah alarm berbunyi, Gennadius pun beranjak dari dipannya lalu duduk di depan meja belajar, ia membaca buku lalu menuliskan beberapa hal.
"Apa yang sedang kau lakukan? Istirahatlah dulu, jangan memaksakan kepalamu," ujar Adam. "Sebelum aku benar-benar lupa, aku harus mengoreksi keraguanku saat ujian tadi. Kupikir terdapat tiga soal cacat yang jawabannya tidak ditemukan. Inilah alasan aku tidak menyukai soal pilihan ganda," ujar Gennadius.
__ADS_1
"Kau sudah berusaha dengan baik, Gennadius. Tidak usah memaksakan diri," ujar Adam. "Kepalaku akan sakit jika tidak kugunakan untuk berpikir. Jika hanya tidur yang kulakukan, hal yang sama akan terjadi. Aku sudah cukup tidur selama beberapa jam tadi," ujar Gennadius sambil menyelesaikan beberapa soal.
Adam merasa bersalah karena mencuci otak anak temannya itu, namun kali ini ia membiarkannya karena Gennadius tampak ingin bertindak atas kemauannya sendiri, bukan karena paksaan.