
Ghozali kebingungan mencari pembantu, ia tidak tahu harus pergi ke mana karena tidak memiliki tetangga, ia tidak pernah berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
Pagi itu ia berangkat kerja terlambat karena harus membelikan anak-anaknya makanan, belum ada satu hari saja ia sudah kewalahan mengurusi rumah itu. Ia tidak bisa membayangkan apa yang dialami Aisyah bertahun-tahun mengurusi rumah itu.
"Maafkan aku sayang, aku nggak nyangka mengurusi rumah akan begitu susah dan berat. Aku nggak nyangka kamu bisa setangguh ini mengurusi rumah, bahkan menghadapi suamimu yang payah ini," ujar Ghozali sambil duduk memegangi tangan Aisyah.
Daffa dan Andhika pun datang, kali ini mereka tidak seriang biasanya. Mereka juga turut prihatin dengan keadaan istri Ghozali.
"Kau baik-baik saja, Ghozali?" tanya Daffa. "Aku baik-baik saja," ujar Ghozali kemudian kembali ke ruang kerjanya.
Orang-orang hanya bisa menatapnya sinis tidak seperti sebelumnya. Rumor tentang Ghozali memiliki wanita simpanan tersebar ke seluruh pegawai rumah sakit.
"Lihatlah pria itu! Sungguh tidak bisa dipercaya aku mengangguminya! Bisa-bisanya ia berbuat hina seperti itu? Wanita simpanan? Yang benar saja! Meskipun dokter jenius, ia tetap tidak bermoral!" bisik salah seorang.
"Benar sekali! Bagaimana bisa rumah sakit ini memperkerjakan orang perusak moral seperti itu? mencemari nama baik tempat kerja kita saja," bisik orang lainnya.
Ghozali dapat mendengar jelas perkataan mereka itu, namun ia terus mencoba mengabaikannya.
Ia pun duduk kembali di ruang kerjanya, seharian ini ia jarang keluar karena tidak bisa berhadapan dengan orang lain.
Ia pun melepaskan jas dan jam tangan yang Mayang berikan padanya, ia merasa bodoh karena terus memakai itu.
Tak lama kemudian Mayang pun masuk ke ruang kerjanya. "Kamu sudah makan mas?" tanya Mayang. Ghozali tidak menyangka selama ini ia terpikat oleh wanita itu hingga membenci istrinya sendiri, bahkan sampai berniat menceraikannya.
"Aku tidak berselera makan," ujar Ghozali dengan ekspresi dinginnya. "Gimana keadaan rumahmu? Apakah anak-anakmu sudah makan?" tanya Mayang.
Ghozali benar-benar tidak mengerti mengapa Mayang selalu menanyakan keadaan rumahnya.
"Aku hari ini mau pulang gasik, aku harus mengurusi anak-anak," ujar Ghozali, ia pun segera berkemas.
Ghozali pun langsung pergi ke mobilnya untuk pulang. Saat itu Mayang langsung duduk di sampingnya.
"Apa-apaan kau ini?" tanya Ghozali semakin tidak mengerti, orang-orang jelas sedang menyaksikannya dan membisikkan sesuatu.
"Sudahlah! Jalan saja! Kamu juga bingung kan mau ngurusi anakmu kayak apa? Kamu bisa masak?" tanya Mayang. Ghozali hanya bisa menggeleng.
Akhirnya ia pun pulang ke rumah dengan wanita itu. Sesampainya di rumah Ghozali mendapati Shadiq dan Hasan sedang bermain di ruang tamu dan itu membuat kesan rumahnya tampak kotor dan berantakan.
"Kenapa kalian mainan di sini? Beresin lagi!" tegur Ghozali. Shadiq dan Hasan segera membawa mainan mereka dan lari ke dalam.
__ADS_1
"Maaf saja karena rumahku berantakan," ujar Ghozali kemudian menyuruh Mayang duduk di sofa ruang tamu.
"Aku akan membuatkan teh, kau bisa tunggu sebentar?" tanya Ghozali. "Sebentar! Mereka kayaknya belum makan siang," ujar Mayang kemudian menerobos masuk ke ruang keluarga.
Ia langsung pergi ke dapur tanpa ragu-ragu sambil memeriksa isi kulkas. "Kamu tunggu saja di sana, biar aku yang masak," ujar Mayang.
Ghozali sudah tidak peduli lagi, ia pun pergi ke kamar untuk merebahkan diri. Ia sedang berpikir untuk menyewa pembantu, dan sempat kepikiran tentang Mayang.
"Argh! Apakah aku gila? Kenapa aku mau wanita itu menjadi pembantu di rumahku?" Ghozali membodoh-bodohi dirinya sendiri.
Mayang tampak menikmatinya, ia terus meracik berbagai bahan makanan seolah dapur itu miliknya sendiri.
Ia sempat melihat Shadiq dan Hasan berlari ke sana kemari dengan riang gembira. "Ghozali kecil memang sangat menggemaskan," ujarnya. Sesekali ia mencoba untuk menjahili dua anak kembar itu. Shadiq dan Hasan hanya bisa tertawa seolah mudah akrab dengannya.
Sayangnya setelah kedua anak itu pergi dari dapur, suasana menjadi sunyi. Mayang kembali melanjutkan masakannya.
Saat itu juga ia dikejutkan dengan Shahih yang berada di atas lemari, ia sedang membaca buku di sana.
"Ya ampun! Mengagetkan saja!" ujar Mayang, ia hampir menjatuhkan mangkuk yang ia pegang.
"Kenapa kamu di situ nak?" tanya Mayang. Shahih hanya menatapnya dengan ekspresi datar.
"Tante ini siapa? Kenapa ada di sini?" tanya Zahra keheranan, ia langsung memandang sinis wanita itu karena tidak mengenakan kerudung, ia lebih heran lagi karena wanita itu ada di dapur.
"Tante sedang masak makanan buat kalian," ujar Mayang. Zahra pun melepaskan kucing yang ia pegang, tentu saja itu membuat Mayang risih, ia sangat benci kucing.
Shahih menjatuhkan buku yang ia pegang dan itu membuat kucing berlarian ke sana kemari. Mayang sempat panik karena kucing itu berlarian di sekitar kakinya, namun Zahra tidak memedulikannya. Ia terus menatap wanita itu dengan ekspresi dinginnya, ia memiliki kesan buruk terhadapnya karena tidak berkerudung.
Shahih pun beranjak dari posisi duduknya lalu langsung terjun dari atas lemari, membuat Mayang berteriak keras.
Ghozali yang terlelap di kamar pun langsung terbangun mendengar teriakan itu. Ia langsung keluar untuk memeriksa apa yang sedang terjadi.
"Kenapa Mayang? Ada yang mengejutkanmu?" tanya Ghozali, ia melirik ke arah kedua anaknya. "Apa yang terjadi Zahra?" tanyanya kepada Zahra.
Zahra tidak menjawab, setelah mengambil kucing yang sedang duduk tenang, ia dan Shahih langsung pergi dari dapur dalam diam. Mayang pun segera mempercepat pekerjaannya, ia segera menghidangkan seadanya karena merasa tidak nyaman dengan suasana rumah itu.
"Sebaiknya aku pergi sekarang mas," ujar Mayang, ia merasa ketakutan dengan tingkah kedua anak Ghozali itu seolah baru saja melihat hantu.
"Oh, baiklah! Perlukah kuantarkan?" tanya Ghozali. Ia pun berpikir sejenak. Bahkan pada istrinya sendiri pun ia tidak pernah menawarkan hal itu. Andai saja jika ia menawarkan istrinya untuk diantarkan pulang, mungkin kecelakaan tidak akan terjadi. Ia sempat merasa bersalah hingga mengurungkan niatnya untuk mengantarkan Mayang.
"Ma... maaf, sepertinya aku sedang tidak bisa menyetir, aku akan panggilkan taksi untukmu," ujar Ghozali.
__ADS_1
Ng... nggak... nggak perlu kok, aku bisa meminta pembantuku untuk menjemputku," ujar Mayang, ia sudah tidak tahan melihat tatapan dingin Zahra dan Shahih.
Akhirnya Ghozali menuntunnya keluar rumah sedangkan Mayang tampak terburu-buru ke jalanan, ia masih merinding melihat Zahra dan Shahih yang mengintip dari tirai jendela.
Ghozali sempat keheranan dengan tingkah Mayang. "Apa yang sebenarnya terjadi Zahra? Kenapa kamu diam saja?" tanya Ghozali keheranan.
"Kalau ayah ingin makan, biar aku saja yang masak! Jangan suruh orang lain!" ujar Zahra agak kesal, bahkan kucing yang ada di tangannya langsung melompat pergi karena takut padanya. "Iya-iya maaf! Nanti ayah mau coba masakan Zahra yak," ujar Ghozali kemudian mengangkat tubuh Zahra.
Akhirnya Zahra pun mulai pergi ke dapur, ia sempat kecewa karena Mayang sudah menghidangkan makanan.
"Ayah! Jangan makan ini!" ujar Zahra, ia memberi perintah keras sambil menodongkan centong nasi ke arah Ghozali, anaknya yang satu itu memang sangat galak.
"Ba.... baiklah," ujar Ghozali. Ia pun menunggu anaknya yang mulai memasak. Ia terus memandangi anak itu yang bersenandung sambil bolak balik mengambil bahan makanan.
Melihatnya tersenyum mengingatkan Ghozali pada istrinya, hal itu dikarenakan Zahra sangat mirip dengan Aisyah. Ghozali langsung menghapus angan-angannya, ia berusaha menyadarkan diri.
"Ayah, sudah selesai!" seru Zahra. "Kak Syihab! Waktunya makan!" ujar Zahra, Syihab pun datang sempoyongan, ia baru bangun tidur.
Ghozali bingung dengan anaknya yang tidak mau berangkat ke pesantren itu. "Mau berangkat kapan nak?" tanya Ghozali, Syihab langsung membuang muka, ia hendak kembali ke kamar.
"Baiklah! Baiklah! Ayah minta maaf, sekarang makan dulu, nanti baru ke kamar," ujar Ghozali.
Akhirnya Syihab pun duduk di tempat, ia dan Ghozali pun mencoba mencicipi masakan Zahra.
Ghozali hanya terdiam lalu kembali memakan masakan itu sesuap demi sesuap. "Ini nggak enak! Asin banget!" ujar Syihab.
"Eh, benarkah?" tanya Zahra, ia mencoba mencicipi makanan itu. Ternyata memang terlalu asin. "Nggak kok, ini enak," ujar Ghozali sambil terus memakan makanan itu. Sayangnya ia langsung tersedak dan segera mengambil minum.
Di sisi lain Shadiq dan Hasan sedang menikmati makanan yang dibuat Mayang. "Dih! Jangan makan itu!" tegur Zahra, ia langsung merebut makanan yang dibawa Shadiq dan Hasan.
Syihab pun lebih tertarik dengan makanan yang Zahra rebut. Ia pun merebutnya lagi dari Zahra lalu memakannya. "Kenapa nggak boleh makan ini? Ini lebih enak loh!" ujar Syihab.
Pada akhirnya Zahra malah menangis dan memukuli Syihab. "Aduh! Sakit tahu!" ujar Syihab kemudian berlari ke kamar sambil membawa makanan itu. Zahra masih menangis di sana sedangkan Ghozali segera menghampirinya.
"Cup! Cup! Nggak papa Zahra! Jangan nangis, masakanmu enak kok, nih biar ayah habiskan," ujar Ghozali sambil memeluk Zahra.
"Nggak! Itu nggak enak!" ujar Zahra sambil terus menangis. "Nggak apa-apa Zahra, namanya juga latihan. Kamu hebat kok, ayah sama kak Syihab juga nggak bisa masak, tapi kamu bisa," ujar Ghozali menenangkan. Akhirnya Zahra pun tenang. Ghozali langsung menggendongnya dan kembali ke ruang makan. Ia mendapati Shahih baru saja melakukan sesuatu di tempat makannya.
Shahih pun langsung pergi setelah menyadari ayahnya kembali ke ruang makan. Ghozali pun duduk di kursinya penuh keheranan. Sendok di mejanya juga sudah berubah tempat.
Akhirnya Ghozali mencoba memakan kembali masakan Zahra dengan terpaksa. "Loh? Ini sangat enak!" ujar Ghozali keheranan. "Zahra, cobain deh," ujar Ghozali. Zahra pun mencoba mencicipinya, ternyata memang enak, tidak keasinan lagi. Ia pun kembali ke tempat duduknya, makanan yang ada di mejanya juga sudah berubah rasa. Ghozali sempat curiga dengan apa yang dilakukan Shahih barusan.
__ADS_1